Olahan Wingko Kembangkan Potensi Lokal

Sleman –  Mengolah bahan dasar menjadi suatu produk olahan makanan lebih diminati oleh banyak UMKM dewasa ini. Hal ini karena produk olahan makanan memiliki daya jual yang lebih tinggi ketimbang bahan dasar itu sendiri.

Kelapa, siapa yang menyangka jika diolah dengan cara yang lebih kreatif dan dicampur dengan bahan-bahan tambahan unggulan bisa menghasilkan olahan wingko yang lezat? Dengan bantuan pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar yang diketuai oleh Siswanti memutuskan untuk memulai usaha wingko kelapa pada tahun 2014.

Bernama Wingko Ayu, KWT Mekar memulai usaha wingko dengan 8 anggota di dalamnya. Olahan wingko ini dipilih karena kelapa sendiri dinilai oleh para anggota sebagai bahan dasar yang familiar dan memiliki ketersediaan sangat tinggi.

“Karena di sini banyak kelapa dan untuk wingko di sini belum ada kalau ada kan juga jauh belinya,” ujar Siswanti.

Siswanti mengatakan bahwa wingko dari KWT Mekar punya kelebihan dibandingkan wingko-wingko yang ada di pasaran.

“Tanpa pengawet, manis dari gula asli, semuanya asli tanpa tambahan bahan lainnya,” bocor wanita 49 tahun ini.

Meski begitu, dituturkan Siswanti wingko KWT Mekar ini hanya tersedia dalam satu varian rasa, yakni original. Siswati mengakui bahwa anggotanya masih menilai bahwa penggunaan bahan tambahan lain seperti pewarna dan perasa justru dapat mengurangi cita rasa wingko itu sendiri.

“Selain itu kan, pewarna itu enggak bagus untuk kesehatan,” tambahnya.

Dengan bahan dasar 2 kg kelapa, tepung ketan, margarin, dan gula, setiap dua hari KWT Mekar bisa memproduksi 100 buah wingko. Siswati menuturkan bahwa dirinya dan para anggota memproduksi rutin wingko setiap hari hanya jika ada pesanan.

“Kalau ada pesanan itu tiap hari kalau enggak ada pesanan ya nanti setor saja ke warung,” ungkap Siswanti.

Pun, Siswanti berpikir wingko hanya layak konsumsi hingga tiga hari sehingga lebih baik diproduksi saat akan dijual saja.

“Kira-kira yang di warung menipis baru tambah produksi tanpa nyetok, ada pesanan langsung bikin saja jadi fresh,” tambahnya.

Selama tiga tahun memproduksi wingko, KWT Mekar memasarkan wingkonya sekadar melalui mulut ke mulut. Sebab, para anggota belum paham benar mengenai media sosial. Hal ini tentu berimbas pada jumlah penjualan yang jika dihitung per minggu hanya berkisar antara 600 hingga 700 buah wingko.

Dengan harga per buah wingko Rp ,00, per bulan untung bersih yang didapat KWT yang beralamatkan di Desa Balong Rt 09 Pakembinangun Sleman ini kurang lebih Rp 500 ribu.

Ke depannya, Siswanti dan para anggota berharap dapat memperluas pasarnya. Cara termudah yang disebut Siswanti adalah dengan mengikutsertakan ibu-ibu muda di daerahnya dalam kegiatan kelompoknya ini, utamanya dalam hal pemasaran.

“Ingin mengajak ibu-ibu muda untuk meneruskan dan membantu pemasaran lewat online kan mereka lebih mengerti,” kata Siswanti.




Boneka Lukis Berbahan Kayu Lereng Merapi

Sleman – Sejak tahun 2002, Ahmad Barokah telah menggeluti seni kerajinan boneka kayu lukis. Boneka kayu handmade produksinya mengangkat tema tradisi jawa, seperti wayang yang dipadukan dengan motif modern, misalnya motif bunga, alam, bahkan motif kesebelasan sepak bola.

Mengusung nama Gangsar Barokah Art & Craft, Ahmad ditemani 9 karyawannya, memanfaatkan kayu-kayu dari sekitaran lereng Merapi untuk diubah menjadi karya seni bernilai.

“Kayu Mahoni, Kayu Wadang, kadang ada Jati juga tapi sedikit,” ujar pria berusia 45 tahun ini.

Ahmad menuturkan untuk memproduksi satu buah boneka, kayu harus melewati proses yang cukup panjang.

“Digergaji lalu dibentuk pakai mesin bubut, dioven, diamplas, didempul untuk menutup pori-pori kayu, diamplas lagi baru dilukis kemudian finishing,” jelas Ahmad.

Meski proses terbilang cukup panjang Ahmad mengungkap dengan bantuan seluruh karyawannya, ia bisa menghasilkan 150-200 boneka dengan ukuran kecil setiap minggunya. Sementara itu, setiap bulannya ia memerlukan tiga kubik kayu agar jadi 600 buah boneka per bulannya.

Untuk boneka kecil, Ahmad mematok harga 30 ribu hingga 50 ribu per buahnya. Para pembeli boleh langsung memilih boneka yang sudah jadi ataupun memesan dengan desain sendiri.

Tak perlu khawatir boneka pesanan jadi lebih lama karena Ahmad mengakui bahwa proses pembuatan boneka akan diprioritaskan bagi para pemesan.

“Jadi kalau tidak ada pemesanan kita juga ada inovasi desain baru, yang penting prioritas pertama kita harus menangani pesanan dulu,” terang lelaki yang tinggal di Dusun Ngipiksari Kaliurang Selatan, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Kamis (4/10).

Selain melalui pemesanan, Ahmad mengatakan bahwa ia memasarkan produknya melalui para pengusaha yang kulak dari produk boneka kayu buatannya. Jadi, ia tak perlu repot memasarkan sendiri produknya.

“Jadi ini tempat untuk kulakan kemudian mereka jual sendiri sendiri. Kadang ada desain dari mereka juga, ada desain yang dari kami. Jadi mereka penjualannya menggunakan bendera mereka sendiri-sendiri kita hanya urusan dapur, hanya tempat kulakan,” tambah Ahmad.

Produk buatannya ini sudah tersebar hampir ke seluruh kota-kota besar di Indonesia.

“Selain ke Jakarta, ke Bali juga, di kota-kota besar,” kata Ahmad.

Meski demikian, ia masih menghadapi beberapa kendala, terutama pada pencarian tenaga kerja yang mumpuni.

“Itu paling sulit mencari tenaga kerja, jadi dari sektor lain sama-sama berjuang. Dari sektor kerajinan, sektor pariwisata, itu programnya sama, mencari tenaga kerja sama-sama semakin sulit,” ungkap Ahmad.

Padahal menurutnya, ia bersedia memberikan pelatihan bagi tenaga kerja yang mau bergabung.  Selain tenaga kerja, Ahmad juga terkendala masalah daya beli masyarakat yang menurun.

“Waktu setelah kenaikan bbm itu drop sekali, hingga saat ini,” tutur Ahmad.

Karenanya, Ahmad selalu berupaya untuk melakukan inovasi pada desain sehingga desainnya dapat selalu memenuhi permintaan pasar.

“Kita kembali ke desain, desainnya itu kita berusaha untuk inovasi terus, memperbaiki terus yang bisa diterima pasaran,” imbuhnya.




Budidaya Beras Organik Pakem Terkendala Luas Lahan

Sleman – Permintaan terhadap beras organik dari Kabupaten Sleman semakin meningkat. Namun demikian petani pembudidaya beras organik di wilayah Kecamatan Pakem Sleman masih merasa kesulitan dan belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar. Tingkat produksi belum bisa optimal karena luasan lahan yang terbatas.‬

“Ada permintaan memenuhi kebutuhan beras organik hitam untuk kosmetik dari Jakarta, tapi belum bisa kami penuhi,” tutur Wakil Ketua Kelompok Tani Rukun Padasan, Pakem, Marzuki saat ditemui di rumahnya, Rabu (3/8). Menurut Marzuki, jumlah permintaan yang tidak mampu dipenuhi sebesar satu ton perminggu.

Pasalnya luas lahan petani pembudidaya beras tersebut masih terbatas. Sehingga produksi beras organik masih di bawah permintaan pasar. Saat ini terdapat 9,95 hektar lahan di Padasan yang digunakan untuk menanam tiga jenis beras organik. Dengan kapasitas beras hitam dua ton, merah tiga ton, dan mentik susu tiga ton per bulan.

Sementara, Kelompok Tani Rukun telah menyuplai kebutuhan beras organik di wilayah lokal dan luar daerah. Di antaranya 500 kg beras hitam organik per minggu untuk wilayah Semarang, mentik susu 500 kg per minggu untuk Jakarta, dan wilayah Jogja satu ton per dua minggu dengan jenis beras merah dan hitam.

Guna mengurangi keterbatasan lahan, Kelompok Tani Rukun sengaja menggunakan sistem blok dalam menanam beras organik. Setidaknya saat ini lahan di Padasan dibagi menjadi tiga blok, yang disesuaikan dengan masa tanam beras.

“Selain keterbatasan lahan, penanaman beras organik memang tidak mudah seperti beras konvensional,” kata Marzuki. Pasalnya air yang digunakan untuk mengairi sawah harus dikelola lebih dulu agar terbebas dari pertisida dan campuran kimiawi lainnya.

Bahkan tanah yang digunakan untuk menanam padi juga harus memenuhi standar tertentu. Untuk itu saat ini Marzuki dan kawannya tengah mengajak petani lain untuk menanam beras organik. Sebab ke depannya permintaan beras organik akan semakin meningkat.

Sementara Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Sleman, Edy Sri Harmanta menuturkan, pihaknya juga akan terus mendorong petani untuk menanam beras organik. Bahkan selain beras, DPPK mendorong agar petani menanam buah, sayur, dan tanaman organik lainnya.

“Tahun ini ada delapan kelompok yang kami biayai untuk menanam sayuran, tumbuhan, dan beras organik,” kata Edy.

Menurutnya, pembudidayaan beras organik juga dilakukan di Dusun Klawisan, Desa Margokaton, Kecamatan Seyegan seluas lima hektar.




Panen Ciherang di Pakem Sleman Capai 8,7 ton Per Hektare

Sleman, Media Center – Panen raya padi varietas ciherang di Bulak Pelem Harjobinangun Pakem, belum lama ini, mencapai 8,7 ton rata-rata per hektare. Hasil panen perdana ini cukup menggembirakan berkat sistem tanam dan pemupukan yang benar sesuai dengan anjuran dari Dinas Pertanian, dan Perikanan. Kelompok tani Mulyo Mukti, dusun Pelem, menanam padi varietas ciherang  dengan sistim tanam Tajarwo 2:1, tajarwo 3:1, tajarwo 4:1. tajarwo 5:1 dan tajarwo 6:1 di atas  lahan seluas 1 hektar yang merupakan Demplot SLPTT.

Dengan sistem tersebut ternyata memudahkan perawatan, misalnya dalam pemupukan tidak harus menginjak tanaman karena bisa lewat gol/kalenan. Di samping itu dengan sistim pemupukan yang benar, misalnya dengan pupuk organik, pupuk urea dan phonska dengan perbandingan sesuai dengan ketentuan yang dianjurkan. Sebelum pelaksaan panen raya padi ciherang tersebut didahului dengan upacara adat wiwit dan kirab budaya yang dipimpin oleh ketua kelompok Mulyo Mukti dan potong tumpeng sebagai rasa syukur ataas hasil panen yang baik.

Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain kepala dinas Pertanian, Perikanan dan Khutanan kabupaten sleman Ir. S. Riyadi Martoyo, MM, Sekcam Pakem Edy Harmana, SH, Kapolsek dan Danramil Pakem. Dalam kesempatan tersebut kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman Ir. S. Riyadi Martoyo, MM antara lain menyampaikan bahwa dengan hasil yang bagus tersebut petani patut bersyukur. “Dengan hasil panen yang cukup baik tersebut ke depan perlu ditingkatkan labih baik dengan sistem penanaman dan pemupukannya sesuai dengan anjuran,” katanya.

Menurutnya,  tidak benar anggapan yang mengatakan selama ini bahwa tanaman padi adalah tanaman air,  tetapi yang benar tanaman memang butuh air tetapi tidak harus selamanya direndam/dilep. “Yang perlu diketahui juga oleh petani bahwa biasanya petani kalau tanam terlalu dalam dengan anggapan akan lebih kuat. Hal tersebut sebenarnya tidak benar, tanam yang baik dan dianjurkan justru tanam jangan terlalu dalam cukup 2 sentinan,” katanya.

Dikatakan,  dengan penanaman yang tidak terlalu dalam justru anaknya akan banyak dan akarnya kuat dan tidak mudah roboh.  Yang juga perlu diperhatikan, menurut Riyadi, adanya parit/got sangat dibutuhkan  karena tanaman padi juga perlu dikeringkan dan biasanya pemupukan tidak memerlukan air. “Di samping itu, dengan pola tanam tajarwo paka dalam perawataan akan lebih mudah baik dalam pemupukan maupun penyemprotan.

Sementara itu ketua kelompok tani Mulyo Mukti Muhammad Sukardi pada kesempatan tersebut melaporkan bahwa kelompok tani Mulyo Mukti memiliki anggota aktif  28 orang dan anggota pasif 25 orang. dengan luas wilayah lahan sawah 16 ha dan pekarangan 3 ha. Pola tanam yang digunakan padi-padi-padi seluas 5 ha, padi-padi-polowijo 6 ha, padi-padi-sayuran 4 ha dan padi-sayuran-sayuran seluas 1 ha. Sedang komoditas unggulan padi-jagung, kacang, cabai dan sayuran.

Disampaikan pula bahwa sistem pembibitan dengan pola bersama, artinya dalam membuat bibit dalam satu tempat secara bersama-sama, dimana petani tidak membuat sendiri-sendiri, tetapi dibuat dalam satu tempat dengan bibit yang sesuai anjuran dinas dan Kehutanan Kabupaten Sleman.