Masyarakat Diminta Waspada Cuaca Ekstrim Masa Pancaroba

IMG-20160921-WA0004Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi angin kencang pada musim pancaroba seperti saat ini.‬ Selama peralihan musim kemarau ke musim hujan  ini, potensi terjadinya angin kencang masih cukup tinggi.

“Masyarakat harus waspada terhadap potensi dampak kejadian akibat cuaca ekstrim masa pancaroba, yaitu banjir, tanah longsor, angin kencang, puting beliung yang bisa menimbulkan pohon tumbang, baleho baik yang di pohon perindang jalan maupun yang di permukiman,” kata Makwan  MT, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Rabu (21/9).

Ketika ditanya dampak hujan deras yang terjadi Selasa (20/9) malam, Makwan mengatakan hujan semalam hanya mengakibatkan pohon beringin sempal dan menimpa kabel listrik di makam Dusun Klangkapan Desa Margoluwih Seyegan.

“Pada Rabu pagi tim relawan dari BPBD Sleman dan masyarakat langsung membersihkan rantin pohon beringin yang sempal tersebut. Tidak ada rumah yang rusak,” kata Makwan.

Karena itu ‪menurut Makwa, masyarakat harus tetap waspada terhadap kondisi peralihan cuaca yang ekstrim.‬

‪”Perubahan dari panas ke mendung dapat menyebabkan angin kencang. Karena itu, di masa pancaroba ini masyarakat tetap perlu berhati-hati apalagi kejadiannya mendadak,” katanya.‬

‪Potensi angin kencang. Lanjutnya biasanya ditandai kondisi cerah dan panas pada pagi hari, namun tiba-tiba siangnya berubah menjadi mendung pekat.‬ Perbedaan tekanan udara secara mendadak ini yang berpotensi menimbulkan angin kencang. Bahkan jika suhu udara berubah dingin dapat memunculkan kejadian hujan es.‬

‪Makwan mengatakan, mengingat potensi angin kencang masih relatif tinggi, pihaknya menyarankan warga untuk memangkas pohon di lingkungan sekitar tempat tinggal yang dirasa terlalu rimbun atau rawan roboh.‬

Diingatkan Makwan, bila situasi hujan disertai angin jangan berteduh di bawah pohon atau baleho, cari tempat yang lebih aman dari kekuatan angin.

“Mencegah genangan akibat hujan deras, jangan membuang sampah di saluran air, pastikan sumur resapan dan biofori berfungsi, hujan saatnya panen air,” tutur Makwan.‬

Semua ini dilakukan sebagai langkah antisipasi agar saat terjadi peristiwa angin kencang, tidak ada kerugian materiil maupun korban jiwa akibat pohon tumbang.‬ ‪Ia mengatakan, dalam hal ini butuh kesadaran masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan.‬ Perlu diingat bahwa bencana tidak mungkin bisa dihindari tapi setidaknya ancaman dapat diminimalisir.‬

‪Selama musim pancaroba ini, wilayah Sleman terutama  Mlati, Depok, Kalasan dan Seyegan sangat rawan terjadi munculnya bencana angin kencang. Meski demikian, kewaspadaan perlu dilakukan seluruh masyarakat Sleman. Karena berdasar kondisi geografis, seluruh Kecamatan di Sleman pada masa pancaroba potensial bagi terjadinya bencana angin kencang.‬ Sedang untuk rawan longsor masih berada diperbukitan Prambanan.




Pancaroba, Angin Kencang Masih Mengancam‬

Sleman – Selama peralihan musim penghujan ke musim kemarau ini, potensi terjadinya angin kencang masih cukup tinggi. Bahkan pekan lalu, musibah angin kencang mengakibatkan pohon tumbang di wilayah Sendangrejo, Kecamatan Minggir.‬ ‪Karenanya, masyarakat dihimbau agar waspada terhadap kondisi peralihan cuaca yang ekstrim. 

“Perubahan dari panas ke mendung dapat menyebabkan angin kencang. Karena itu, di masa pancaroba ini masyarakat tetap perlu berhati-hati apalagi kejadiannya mendadak,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Drs Julisetiono Dwi Wasito SH, Jumat (20/5).‬

‪Menurut Julisetiono, potensi angin kencang biasanya ditandai kondisi cerah dan panas pada pagi hari, namun tiba-tiba siangnya berubah menjadi mendung pekat. Perbedaan tekanan udara secara mendadak ini yang berpotensi menimbulkan angin kencang. Bahkan jika suhu udara berubah dingin dapat memunculkan kejadian hujan es.‬

‪Mengingat potensi angin kencang masih relatif tinggi, pihaknya menyarankan warga untuk memangkas pohon di lingkungan sekitar tempat tinggal yang dirasa terlalu rimbun atau rawan roboh. Ini untuk langkah antisipasi agar saat terjadi peristiwa angin kencang, tidak ada kerugian materiil maupun korban jiwa akibat pohon tumbang.‬

‪“Dalam hal ini butuh kesadaran masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan. Perlu diingat bahwa bencana tidak mungkin bisa dihindari tapi setidaknya ancaman dapat diminimalisir,” kata Julisetiono.‬




Waspadai Penyakit Pada Saat Pancaroba

Sleman – Musim pancaroba yang terjadi secara tidak menentu menimbulkan berbagai penyakit, mulai dari yang ringat hingga yang berat. Ketika pancaroba banyak masyarakaat yang terserang berbagai penyakit. Tidak jarang penyakit tersebut  berakibat kematian  bila tidak ditangani dengan baik.

Seandainya tidak menimbulkan kematian, penyakit tersebut bisa mengganggu aktivitas kesehatan. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes saat dijumpai di ruang kerjanya, Jumat (15/1).

Disampaikan Linda panggilan Mafilindati, bahwa beberapa penyakit yang perlu diwaspadai di musim pancaroba tersebut  antara lain Diare, dimana gejalanya biasanya buang air besar terus menerus disertai dengan rasa mulas yang berkepanjangan, dehidrasi, mual dan muntah. Diare tersebut biasanya disebabkan oleh virus tetapi juga seringkali akibat dari acun bakteri.

Sedang untuk ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) gejalanya badan pegal-pegal (Myalgia), beringus (rhinorrhea), batuk, sakit kepala, sakit pada tenggorokkan. Penyebab terjadinya ISPA adalah virus, bakteri dan jamur.

“Sementara penyakit yang lain disaat pancaroba adalah Demam  Berdarah Dengue (DBD), yaitu penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang masuk peredaraan manusia dan melalui gigitan nyamuk  Aedes Aegypti,” kata Linda.

Termasuk penyakit Chikungunya, biasanya terjdi pada musim pancaroba yang disebabkan oleh virus alphavirus yang disebarkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti. Gejala utama terkena penyakit chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa demam diikuti dengan linu dipersendian. Bahkan karena salah satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga rasa sakit pada tulang-tulang.

Yang jelas, tambah Linda penyakit yang lain di saat pancaroba tersebut Leptospirosis, Typhoid dan Hepatitis A. Karena itu diharapkan masyarakat  selalu waspada pada saat pancaroba seperti saat ini, karena penyakit pada musim pancaroba tersebut dapat berulang seiring dengan perubahan musim.

Upaya yang bisa dilakukan oleh masyarakat dalam mengantisipasi meningkatnya penyakit saat pancaroba tersebut dengan meningkatkan edukasi kepada masyarakat melalui perilaku hidup bersih daan sehat (PHBS) diantaranya dengan mencuci tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun, menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, melakukan aktivitas fisik setiap hari dan yang lebih penting adalah memberantas jentik secara rutin.

Disamping itu memperkuat daya tahan tubuh dengan cara mengkomsumsi makanan yang sehat dan bergisi. Sedangkan kasus DBD pada tahun 2015  ada 520 kasus, dengan 9 diantaranya meninggal dunia, untuk tahun 2016 sampai dengan tanggal 15 Januari 2016 terjadi 7 kasus dengan meninggal 1 anak berusia 6 tahun dari Seyegan.




Masyarakat Diminta Waspadai Cuaca Pancaroba

Sleman – Bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo berpesan kepada masyarakat Sleman agar waspada terhadap cuaca yang saat ini sedang mengalami masa pancaroba. Sri Purnomo, juga berpesan  bahwa masyarakat diharapkan agar menahan diri terhadap hasil Pilpres, karena hasil resmi akan diumumkan pada tanggal 22 Juli 2014.

“Untuk itu masyarakat diharapkan untuk mengawal perhitungan suara, dan juga memelihara ketentraman dan ketertiban. Masyarakat dihimbau untuk melaporkan permasalahan yang ada dilapangan kepada aparat pemerintah,” kata Sri Purnomo ketika menghadiri tarling kelompok putaran ke 12 kelompok 3 ei masjid Babussalam Maredan Sendangtirto Berbah Sleman, Minggu (13/7) malam.

Disisi lain Sri Purnomo juga menghimbau masyarakat agar mendukung siapapun nantinya yang menjadi Pimpinan untuk 5 tahun kedepan, dan harus legowo dalam menyikapi hal tersebut. Sementara itu Camat Berbah, Tina Hastani melaporkan bahwa Pilpres pada tanggal 9 Juli 2014 berjalan lancar, dengan tingkat partisipasi 85%.  Muspika dan pemuka agama telah berkomitmen untuk saling menjaga kekhusukan dalam menjalankankan ibadah masing-masing.  Pada tanggal 17 Juli 2014 PT Angkasa Pura, akan menyalurkan bantuan 460 paket sembako untuk Rumah Tangga Miskin senilai Rp 55 juta. Total dana yang terkumpul pada kegiatan tarling tersebut adalah Rp 14,48 juta yang berasal dari berbagai donatur.

Dalam kesempatan tersebut Ketua Takmir Supriono menyampaikan bahwa masjid Babussalam ini berdiri diatas lahan seluas 194 M2, yang diwakafkan oleh keluarga H. Suwardi Tumulyo.  Peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan oleh GBPH Mangkubumi pada tahun 1984 yang saat ini menjabat sebagai Gubernur DIY.

Namun karena keterbatasan anggaran kemudian pembangunan sempat terhenti, dan kemudian pada tahun 1987 pembangunan masjid dimulai lagi hingga selesai, dan kemudian pada tahun 1991 pembangunan masjid diresmikan penggunaannya oleh GKR Hemas dengan prasasti tertanggal 4 Desember 1991. Masjid Babusalam telah mengalami rehabilitasi pada tahun 2012, dan rencananya masjid Babussalam akan membangun menara yang ketinggiannya 15 M untuk memancarkan suara yang lebih bersih dan lebih jauh.  Untuk merealisasikan hal tersebut, dibutuhkan anggaran sekitar Rp 50 juta, kas masjid saat ini Rp 8 juta sehingga kurang Rp 42 juta.