Angkat Kekayaan Budaya untuk Pengembangan Pariwisata

Kalasan – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno melepas ribuan pelari peserta Mandiri Jogja Marathon 2018 di kawasan Candi Prambanan, Sleman, Minggu (15/4).

Mandiri Jogja Marathon sendiri adalah event lari maraton dengan beberapa kategori, seperti  full marathon dengan jarak tempuh 42,195 km serta half marathon dengan jarak 21 km, 10 km, dan 5 km. Ajang Mandiri Jogja Marathon 2018 ini diikuti 8 ribu pelari baik dari dalam maupun luar negeri.

Memilih lokasi start dan finish di kawasan Candi Prambanan, lomba bertaraf internasional ini menempuh rute-rute yang memperlihatkan keindahan alam dan kekayaan budaya lokal dengan melewati puluhan desa dan 3 tujuan wisata utama di Yogyakarta, yakni Candi Prambanan, Candi Plaosan dan Monumen Taruna Plataran.

Mandiri Jogja Marathon diharapkan dapat mengangkat dan mempromosikan kekayaan budaya dan produk lokal sehingga memacu pengembangan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya. (Damar Aji Seto)




Jadi Diajeng Caranya Berkontribusi pada Lingkungan

Tidak semua generasi muda mengetahui pentingnya menjaga lingkungan. Karenanya, saat ada generasi muda yang peduli dan berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan bisa dianggap sebagai aset berharga bagi sebuah negara.

Adultvine Prita Wijayanti, gadis berusia 25 tahun ini, sudah hampir dua tahun mendedikasikan hidupnya pada kelestarian lingkungan lewat perannya sebagai Diajeng Terpilih Sleman 2016.  Ajang Dimas Diajeng Sleman diakui gadis yang akrab disapa Vivin adalah wadah khususnya bagi pemuda-pemudi untuk berkontribusi nyata.

“Saya memberikan dampak positif dengan value yang saya punya terkait dengan background saya yang dari teknik sipil, bersama teman-teman yang lain untuk berkontribusi di Sleman khususnya di lingkungan, kebudayaan, dan pariwisata,” terang Vivin.

Vivin bercerita keinginannya mengikuti ajang Dimas Diajeng Sleman sebenarnya sudah terbesit sejak tahun 2014 akan tetapi ia baru memiliki kesempatan bergabung pada tahun 2016 lalu. Menurutnya, melalui ajang ini, ia bisa secara langsung terjun mengajak para pemuda-pemudi untuk peduli terhadap lingkungan.

“Di daerah Sleman ini kanwilayah konservasi air di DIY, jadi kalau misalnya Sleman sudah rusak, kemudian bagaimana wilayah lain?” ucap dara kelahiran Pati, Jawa Tengah ini.

Upaya menjaga kelestarian lingkungan yang dijalankan Vivin selaras dengan upaya memperkuat branding Sleman, yakni Sleman the Living Culture. Ini diwujudkan melalui pariwisata yang berkelanjutan lewat desa-desa wisata yang ada di Sleman.

“Terbentuk sustainable tourism sehingga akan ada wisata keberlanjutan, di situ kan bukan hanya kerajinan saja, tetapi ada alamnya makanya perlu dijaga,” terang Vivin.

Untuk memaksimalkan kontribusinya, Vivin mengajak teman-teman finalis Dimas Diajeng Sleman lain yang berasal dari berbagai disiplin ilmu.

“Ada teman saya yang dibagian pariwisata, dia membantu teman-teman di desa wisata, bagaimana cara untuk menerima tamu, hospitality di desa wisata seperti apa,” ungkapnya.

Tak hanya itu, warga juga dibantu dalam hal pemahaman materi terkait pengelolaan desa wisata yang seharusnya.

Dara kelahiran 25 Juni 1992 ini menyadari dengan berbagai pembekalan yang diterimanya sebagai Diajeng Sleman, ia berharap bisa menularkan ilmunya.

“Kemudian mengajak teman-teman yang lain untuk mempromosikan wisata,” tutur Vivin.




Giri Festival, Kesempatan Girikerto Promosikan Pariwisata

Turi – Dalam rangka Hari Jadi Desa Girikerto, Pemerintah Desa Girikerto bekerja sama dengan pengurus desa budaya, karang taruna, dan masyarakat mengadakan acara Giri Festival setiap tahunnya.

Adapun tujuan Giri Festival adalah untuk memupuk dan melestarikan kebudayaan serta tradisi turun temurun yang hingga sekarang masih dilakukan oleh masyarakat di Desa Girikerto. Pun, untuk mempromosikan dan memasarkan berbagai macam produk UMKM dan pariwisata Desa Girikerto.

Giri Festival dimulai dari Kamis (16/11) sampai Minggu (19/11) bertempat di Gedung Serbaguna Desa Girikerto. Pada pembukaannya dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, Aji Wulantoro, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih, Camat Turi, Siti Angraeni Susila Prapti, Kapolsek Turi AKBP, Rusdianto, Danramil Turi CPL, Dariswan, Perangkat Desa Girikerto, karang taruna, pengurus Desa Budaya Girikerto, dan masyarakat.

Bermacam-macam acara digelar, antara lain pentas kesenian. ketoprak, wayang kulit, kobro, jathilan, campursari, karawitan, dan lain-lain. Selain itu, dijual juga berbagai produk dari UMKM seperti kerajinan dari sampah, susu kambing etawa, tanaman hias, berbagai macam produk olahan dari salak, dan lain sebagainya.

Puncak acara yang sedianya berlangsung Minggu (19/11) akan ditutup dengan Upacara Adat Ngrowot. (Harman)




Rapat Koordinasi Prosesi Upacara Adat Bekakak Gamping

Gamping – Selasa, (31/10) berlangsung rapat koordinasi (rakor) pelaksanaan Upacara Adat Saparan Bekakak Gunung Gamping. Rakor yang bertempat di Balai Desa Ambarketawang ini dihadiri oleh seluruh panitia dan Muspika Gamping terdiri dari Camat Gamping Abu Bakar, Kapolsek Gamping, Kompil Herwinedi, Danramil 17/Gamping Mayor Inf, Sri Wiyanto.

Rapat yang dipimpin oleh Kepala Desa Ambarketawang Sumaryanto membahas tentang proses pelaksanaan upacara adat bekakak serta pengalihan lalu lintas.

Upacara adat saparan bekakak dimulai pada Kamis (2/11) pukul WIB dengan pembuatan bekakak, kenduri penyembelihan bekakak, dan pengambilan Tirto Dono Jati oleh Ki Lurah Magersari dari Umbul Tlogosari Gunung Gamping untuk pelengkap sesaji bekakak, yang selanjutnya akan dibawa dan disemayamkan di Kademangan (Balai Desa Ambarketawang-red).

Puncak acara upacara adat penyembelihan bekakak akan dilangsungkan pada Jumat, (3/11) pukul WIB. Acara dimulai dengan penyampaian laporan panitia pelaksana dilanjutkan sambutan Bupati Sleman, Sri Purnomo dan kirab budaya menuju lokasi penyembelihan bekakak di Gunung Gamping. (Adnan Nurtjahjo)




Pentas Pelangi Budaya Bumi Merapi Kembali Digelar

Turi – Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, mengadakan rapat persiapan Pentas Budaya Bumi Merapi 2017, Rabu (18/10).

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada hari Sabtu (21/10) dan Minggu (22/10) dengan difokuskan di tiga titik Sleman, yaitu Jogja City Mall (JCM,) Lapangan Denggung, dan Lapangan Pemda Sleman.

Untuk acara yang dimulai hari Sabtu pukul WIB di Lapangan Denggung, dibuka dengan kesenian Jathilan Ngesti Turonggo Budoyo dari Sinduadi Melati kemudian dilanjutkan dengan kesenian lainnya sampai pukul WIB. Acara selanjutnya adalah kegiatan yang berlangsung di area JCM.

Sedangkan pada hari Minggu (22/10) acara difokuskan di dua titik yaitu di Lapangan Denggung dan Lapangan Pemda Sleman, dimulai dari pukul WIB sampai selesai dan diakhiri dengan Kirab Budaya

Rencananya Kirab akan dimulai dari Lapangan Denggung ke utara lewat jalan raya sampai lampu merah belok kiri menuju finish di Lapangan Pemda Sleman.

Pengisi acara dimeriahkan oleh berbagai macam kesenian yang ada di Kabupaten Sleman, salah satu pengisi acara ialah Kesenian Topeng Ireng dari Dusun Wonosari Bangunkerto, Turi.

Kegiatan ini diikuti oleh 16 kesenian yang ada di Kabupaten Sleman, selanjutnya acara ini diakhiri dengan pengumuman pemenang Lomba Desa Budaya Kabupaten Sleman. (Harman)