Pasar Tradisional Rawan Jadi Tempat Penyebaran Makanan Berbahaya

Sleman – Pasar tradisional di Kabupaten Sleman rawan menjadi tempat penyebaran makan yang mengandung bahan berbahaya. Kondisi tersebut berdasarkan pantuan yang dilakukan oleh tim gabungan selama Ramadan.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pasar Kabupaten Sleman, Dra Tri Endah Yitnani, kemarin. Menurut Tri Endah  pemantauan yang dilakukan bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DIY meyasar sebelas pasar tradisional di wilayah setempat. Hasilnya, di setiap pasar ditemukan makanan yang mengandung bahan berbahaya.

“Rata-rata yang ditemukan oleh tim adalah makanan yang mengandung rodhamin, formalin, dan boraks,” kata Tri Endah.

Tentang titik rawan peredarannya, Tri Endah mengatakan hal tersebut hampir merata, baik di perbatasan maupun pasar-pasar di tengah wilayah.

Dengan demikian, pihaknya mengaku prihatin lantaran peredaran makanan mengandung bahan berbahaya tersebut semakin luas.

“Hal ini sangat memprihatinkan mengingat makanan yang mengandung bahan berbahaya sudah menyebar di pasar-pasar hingga wilayah pelosok, tidak hanya diperbatasan,” ungkapnya.

Dikatakan Tri Endah  kebanyakan makanan dengan bahan berbahaya itu datang dari luar wilayah Sleman. Hal tersebut berdasarkan keterangan pedagang yang mendapatkan barang dagangan itu dari produsen luar wilayah.

“Ada yang berasal dari Magelang, Klaten, dan beberapa daerah lain,” tuturnya.




45 Persen Pasar Tradisional Rusak

Sleman – Sekitar 45 persen pasar tradisional di Kabupaten Sleman mengalami rusak. Hal itu dikarenakan faktor usia sehingga kebanyakan kerusakan terjadi pada atap. Secara bertahap, Dinas Pasar Sleman melakukan renovasi pasar yang rusak.

Kepala Dinas Pasar Dra Tri Endah Yitnani MSi mengatakan, total pasar di Sleman ada sekitar 40 pasar dengan kategori pasar besar 6, sedangkan sisanya pasar sedang dan kecil. Kondisi saat ini, sekitar 45 persen yang ada di Sleman mengalami rusak pada atap dan drainase.

“Tiga tahun lalu, pasar yang rusak justru 70 persen dari total pasar yang ada. Sekarang tinggal 45 persen yang rusak karena tiap tahun ada renovasi dan perawatan untuk pasar-pasar,” kata Endah, Kamis (26/2).

Adapun pasar kategori besar, yaitu Pasar Prambanan, Pasar Sleman, Pasar Gamping, Pasar Tempe, Pasar Godean dan Pasar Pakem. Pasar sedang diantaranya, Pasar Cebongan, Condongcatur, Sambilegi, Denggung, Gentan, Ngijon, Kebonagung, Minggir, Balangan dan lainnya. Sedangkan pasar kecil diantaranya, Tegalsari, Potrojayan, Gendol, Kemlongko dan lainnya.

Pasar yang rusak ini hanya dikategorikan rusak ringan karena hanya rusak pada atap dan saluran drainase. Kebanyakan pasar di Sleman dibangun pada tahun 1980 dan 1986 sehingga sudah selayaknya dilakukan renovasi.




Pasar Tradisional di Sleman Butuh Penataan Ulang

Sleman – Saat ini, keberadaan pasar tradisional di Sleman semakin terdesak dengan menjamurnya pasar modern, seperti super market dan mal. Agar mampu bersaing dan tidak ditinggalkan masyarakat, pasar tradisional membutuhkan penataan ulang. Kepala Dinas Pasar Kabupaten Sleman, Dra Tri Endah Yitnani, kemarin mengakui, penataan pasar tradisional menjadi fokus perhatiannya.

Saat ini ada 41 pasar kabupaten dan 36 pasar desa di Kabupaten Sleman. Namun, pembenahan dan penataan ulang tidak bisa bisa dilakukan serentak, salah satunya karena keterbatasan anggaran. Endah mengatakan, proses dilakukan bertahap dengan menerapkan skala prioritas.

Berdasarkan hasil kajian Dinas Pasar Sleman, terdapat enam pasar besar dan potensial yang diprioritaskan segera dibenahi. “Tujuannya tentu agar pasar tersebut dapat ikut mengangkat perekonomian wilayah,” kata Endah. Enam pasar tradisional yang dimaksud adalah Pasar Godean, Tempel, Pakem, Gamping, Sleman, dan Prambanan.

“Secara bertahap akan dibenahi sesuai kondisi yang ada. Misalnya, apabila tanahnya sudah jadi milik Pemda, itu yang dibangun dulu,” kata Endah. Sebagai tahap awal, Dinas Pasar Sleman saat ini tengah membenahi Pasar Prambanan dan Pasar Sleman. Tahun ini merupakan tahun kedua pembangunan Pasar Prambanan, sedangkan Pasar Sleman memang dimulai tahun ini.

“Ada pedagang di Pasar Prambanan dan pedagang di Pasar Sleman. Selama proses pembangunan, pedagang Pasar Prambanan direlokasi ke Pasar Darurat Pelemsari,” kata Endah.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI juga sempat meninjau pembangunan di Pasar Sleman beberapa waktu lalu. “Pembangunan gedung dua lantai ini akan memberikan tempat bagi pedagang tumpahan Pasar Induk Sleman. Jumlahnya mencapai 400 pedagang, belum termasuk klitikan dan unggas,” ujarnya.