Dinas Lingkungan Hidup Sleman Sosialisasikan Lomba Proklim Tingkat Nasional

Turi – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman mengadakan rapat sosialisasi lomba Program Kampung Iklim (Proklim) tingkat nasional, Senin (12/2) di Ruang Rapat Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman.

Rapat dihadiri oleh Tutik dari DLH dan sejumlah perwakilan dari kampung yang ditunjuk oleh DLH untuk mewakili Kabupaten Sleman maju dalam lomba Proklim tingkat nasional.

Adapun kampung yang ditunjuk antara lain Kampung Wonosari Bangunkerto Turi, Kampung Widomartani Ngaglik, Kampung Nologaten Depok, Kampung Karangtanjung Pendowoharjo Sleman, Kampung Ngaglik Moyudan. Kampung-kampung ini dipilih oleh DLH Kabupaten Sleman karena memenuhi berbagai syarat untuk maju lomba Proklim yakni kampung mengedepankan kegiatan masyarakat kampung yang mampu melakukan adaptasi dan mitigasi tentang perubahan iklim dan pemanasan global.

Dalam acara sosialisasi Tutik memberikan contoh cara mendaftar dan mengisi data lomba Proklim dan cara mengirimkan berkas ke Kementerian Lingkungan Hidup lewat email. Tutik berharap semua peserta dapat segera mempersiapkan segala persyaratan karena data harus dikirim paling lambat tanggal 30 Maret 2018 dan lomba akan diverifikasi bulan September 2018

“Semua kampung yang maju lomba untuk mempersiapkan lingkungannya sehingga nantinya semua bisa meraih nilai yang baik karena sistem lomba Proklim tidak ada juara satu tapi berdasarkan jumlah nilai, yaitu semua yang mendapat nilai 92 ke atas akan mendapatkan hadiah,” beber Tutik. (Harman)




Musim Penghujan Mundur Akibat Pemanasan Global

Sleman – Pemanasan global yang terus menerus terjadi selama bertahun-tahun belakangan mulai dirasakan efeknya oleh masyarakat di Indonesia. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogja, Tony Agus Wijaya mengatakan bahwa musim penghujan di Indonesia di akhir tahun 2015 ini, khususnya Sleman baru akan hadir di minggu ketiga bulan November mendatang.

Hal tersebut menurut Tony mengindikasikan adanya perubahan siklus cuaca, di mana biasanya musim penghujan hadir mulai bulan Oktober.

“Fenomena perubahan iklim tersebut dirasakan oleh semua masyarakat di seluruh dunia. Iklim sekarang seperti jadwal kereta api, ada terlambatnya. Semua ini karena ulah kita sendiri karena banyak memakai kendaraan bermotor ke sana kemari. Fenomena ini tak bisa dielakkan,” kata Tony, Jumat (9/10).

Tony sendiri menjelaskan bahwa walaupun musim penghujan baru dimulai bulan November, namun pihaknya memprediksi akan ada turun hujan pada minggu depan meski hujan ringan. Hal tersebut lanjut Tony merupakan petunjuk bahwa Sleman telah memasuki musim pancaroba yang perlu diwaspadai.

“Musim pancaroba yang akan terjadi di bulan Oktober ini adalah musim peralihan dari kemarau ke penghujan atau sebaliknya. Anomali cuaca berubah drastis di musim pancaroba seperti seringnya terjadi angin kencang yang kecepatannya mencapai 45-60 km per jam, hujan deras ekstrim dalam waktu singkat, dan fenomena petir. Jika hal tersebut terjadi masyarakat diminta berlindung, hindari pohon-pohon tinggi yang rawan tumbang dan rawan tersambar petir serta tebing tinggi yang rawan longsor,” pungkasnya.