Makrab Serah Terima Kepengurusan Pemuda Dusun Wonosari

Turi – Sabtu (24/3) bertempat di Wisata Kaliurang, Pemuda Dusun Wonosari Desa Bangunkerto Turi mengadakan acara Makrab (Malam Keakraban) dalam rangka serah terima kepengurusan pemuda.

Pengurus sebelumnya telah menduduki masa jabatannya selama tiga tahun dan berakhir pada bulan Januari 2018. Ketua pemuda yang lama dijabat oleh Fajar Indriarto sedangkan ketua yang baru terpilih adalah Arif Wibowo dengan masa bakti 2018-2021.

Acara ini diikuti oleh 60 pemuda pemudi Dusun Wonosari. Hadir juga dalam kesempatan tersebut Ketua RT serta Dukuh Wonosari Tarminanto.

Dalam sambutannya Tarminanto berpesan kepada semua pemuda di Dusun Wonosari untuk selalu menjaga kebersamaan, persahabatan, dan persatuan pun saling menghormati dan menghargai. Selain itu, Tarminanto juga berharap kepada semua pemuda untuk selalu menjaga nama baik dusun karena pemuda merupakan calon penerus pembangunan.

“Untuk itu sebagai pemuda harus lebih giat dan semangat dalam menatap masa depan,” tutur Tarminanto.

Adapun tujuan diadakannya acara Makrab ini selain untuk serah terima kepengurusan juga sebagai alat untuk lebih menjalin keakraban bagi pemuda-pemudi Dusun Wonosari. “Dengan acara ini banyak hikmah yang bisa kita ambil, selain kebersamaan menjalin persatuan dan kesatuan juga sebagai ajang refreshing,” lanjut Tarminanto.

Acara dimulai dengan makan bersama pada pukul WIB dilanjutkan outbound dan diakhiri api unggun. (Harman)




Karang Taruna Wadah Pengembangan Masyarakat di Bidang Kesejahteraan Sosial

Gamping – Pemerintah Desa Trihanggo mengadakan Malam Pelantikan Pengurus Karang Taruna “Taruna Bhakti” periode 2018-2020 Jumat (23/3) pukul WIB di Aula Balai Desa Trihanggo.

Kegiatan ini dihadiri oleh Camat Gamping Abu Bakar, Kabid Kelembagaan Dinas Sosial Kabupaten Sleman Suparmono, Anggota DPRD Sleman Gustan Ganda, Kepala Desa Trihanggo Herman Budi Pramono, Wakil Ketua Karang Taruna DIY Sunu Triwidodo, Ketua Karang Taruna Kabupaten Sleman Junaedi, Ketua FPKT Nandar Martolo, Bhabinkamtibmas Trihanggo Aiptu Rusmanto, para Dukuh dan perangkat Desa Trihanggo beserta orang tua pengurus Karang Taruna yang dilantik.

Dengan mengucap semboyan “Adhitya Karya Mahatva Yodha”, Ketua Karang Taruna periode 2015-2018 Haritanto menyampaikan laporan pertanggungjawaban selama memimpin KT Taruna Bhakti. Dilanjutkan dengan pembacaan SK Pengangkatan pengurus periode 2018-2020 oleh Kepala Desa Trihanggo. Prosesi selanjutnya adalah serah terima Pataka dan penyematan PIN kepada pengurus yang dilantik.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Trihanggo, Herman Budi Pramono berpesan, sebagai anggota karang taruna harus bisa berdiri sendiri. Karang Taruna merupakan organisasi sosial kemasyarakatan sebagai wadah dan sarana pengembangan setiap anggota masyarakat yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh, dan untuk masyarakat dan generasi muda di wilayah desa terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial.

Adapun dana bantuan dari Desa Trihanggo untuk karang taruna “Taruna Bhakti” meningkat jumlahnya yakni Rp 84 juta pada tahun 2016 menjadi Rp 136 juta pada tahun 2017. (Adnan Nurtjahjo)




Pemkab Sleman Bangun Karakter Pemuda

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mulai merintis dilakukannya pembangunan karakter generasi muda Jogja yang istimewa untuk Indonesia. Hal itu dilakukan karena terus terjadinya disorientasi karakter dan kepemimpinan generasi muda. 

Menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman, dr Sunartono MKes  pembangunan karakter generasi muda tersebut kini sudah dimulai pada proses belajar mengajar di sekolah dengan memasukkan ajaran budaya Jawa.

Karena itu  lanjut Sunartono dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2015 ini diharapkan program tersebut dapat lebih diaktualisasikan, sehingga ke depan dari Kabupaten Sleman dapat dimunculkan figur generasi muda yang tangguh dengan disertai  budi pekerti Jawa yang adiluhung.

”Mulai kita lakukan untuk membangun karakter itu dari tingkat sekolah yang bermuatan lokal yang benar-benar lokal ada di wilayah kita dan kita terapkan adalah budaya Jawa. Tetapi bukan Jawaisme, tetapi di sana terkandung makna budi pekerti yang sangat adiluhung”, kata Sunartono, Kamis (29/10).

Langkah yang ditempuh Pemkab Sleman tersebut, dijelaskan Sunartono, bukan merupakan program Jawanisasi, namun justru dengan basis budaya Jawa,  Jogja siap diperuntukkan bagi perekat kesatuan dan persatuan bangsa.

Program ini meski diyakini Sunartono belum akan terlihat dalam waktu dekat, akan tetapi harus dilakukan. Apalagi jika melihat kondisi generasi muda saat ini banyak yang tidak lagi peduli dengan karakter dan identitas bangsa sendiri.



Kemenpora RI dan Jusuf Kalla Bersinergi Bentuk Pemuda Relawan Tanggap Bencana

Jusuf Kalla

Sleman, InfoPublik – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mendeklarasikan Pemuda Relawan Tanggap Bencana, yang dituangkan dalam bentuk kerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Acara dipusatkan di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (18/5) lalu. Memorandum of Understanding (MoU) ditandatangani Menpora Roy Suryo, Ketua PMI Jusuf Kalla, Sekretaris Utama BNPB Fathul Hadi, dan Wakil Gubernur DIY Sri Paduka Paku Alam IX.“Kerjasama kami lakukan dalam bentuk sinergi dengan beberapa program PMI dan BNPB. Di sini kami lebih sebagai fasilitator,” kata Menpora Roy Suryo.

Pelatihan tanggap bencana akan difokuskan pada daerah yang dinilai memiliki potensi bencana cukup besar. Di antaranya Sumatera Barat, Yogyakarta, Manado, dan Ambon. “Kami berharap MoU bisa ditindaklanjuti oleh BPBD dan PMI di masing-masing daerah,” ujar Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, Al Fitra Salam.

Sekretaris Utama BNPB Fathul Hadi menyatakan rasa optimismenya bahwa kegiatan ini bisa merekatkan benang merah antar lembaga yang selama ini sudah terjalin dengan baik. Melalui forum ini, kapasitas kemampuan relawan diharapkan dapat ditingkatkan.

“Terlebih di DIY terdapat 193 organisasi masyarakat yang bergerak di bidang forum relawan. Kami sudah keluarkan sertifikasi bagi relawan, yang dimaksudkan untuk mendukung kemampuan mereka,” katanya.

Ketua PMI Jusuf Kalla meminta agar upaya pelatihan ditekankan pada langkah penanggulangan bencana. Secara teori ada empat tahapan yang dipelajari, yakni cara pencegahan, masa tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Wagub DIY Sri Paduka Paku Alam IX menyebut, penguatan kapasitas lokal merupakan faktor penting dalam pengurangan resiko bencana. Sebab, masyarakat sendirilah yang berpotensi menjadi korban sehingga diperlukan konsep living harmony with disaster. (hidup selaras bersama bencana).

Konsep itu hanya bisa terwujud jika warga memiliki pengetahuan tentang bencana. “Kami menyambut baik adanya MoU ini. Setinggi apa pun potensi bencana suatu daerah, jika masyarakat punya pengetahuan memadai, resikonya dapat diminimalisir,” kata Wagub.