UN SD, Bupati Sleman Imbau Kemandirian Siswa

Sleman – Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Tingkat Sekolah Dasar (SD) hari pertama di Kabupaten Sleman diselenggarakan pada Kamis (3/5), secara umum UN berjalan lancar tanpa hambatan dan masalah yang berarti, baik dari segi disitribusi soal-soal, sampai dengan pelaksanaan.  Hal tersebut disampaikan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI usai mengadakan pemantauan UN di SD Muhammadiyah Sleman.

Lebih lanjut ia mengatakan pada hari pertama, Kamis (3/5) ini, mata pelajaran yang diujikan adalah bahasa Indonesia. Sedangkan Pada UN Tahun 2018 di Kabupaten Sleman diikuti oleh siswa yang akan  berlangsung selama tiga hari, yakni dari tanggal 3 hingga 5 Mei 2018.

Pantauan UN SD diawali dari SD muhammadiyah Sleman yang diikuti oleh 104 murid terdiri dari 45 siswa dan 59 siswi. Kemudian dilanjutkan ke SD Kadisobo di Dusun Jogokerten yang diikuti oleh 30 murid. Dalam pantauan tersebut Sri Purnomo didampingi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Sumadi dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Sri Wantini.

Sri Purnomo menghimbau kemandirian siswa dalam mengerjakan soal, Ia berharap siswa dapat mengerjakan soal dengan kejujuran dan mandapatkan nilai yang baik.

Sementara itu pantauan UN Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun bersama dengan Kemenag dan Pengawas dari Kecamatan Sayegan diawali dari SD Negri Susukan Kecamatan Sayegan dan dilanjutkan ke SD Balangan I Kecamatan Minggir.

“Pelaksanaan UN tingkat SD pada hari pertama ini terpantau kondusif, dan mudah-mudahan semuanya berjalan lancar,” ujar Sri Muslimatun.

Kepala Sekolah SD Negri Susukan Endi Sudarmi mengatakan UN SDN Susukan tahun ini diikuti oleh 53 murid yang terdiri dari 20 siswa dan 33 siswi. Sudarmi mangatakan dalam pelaksanaan UN kali ini pihaknya sudah memberikan persiapan yang maksimal kepada murid – murid SDN Susukan.

“Pukul pagi anak sudah harus hadir di sekolah kemudian Sholat Dhuna dan dilanjutkan dengan sarapan bersama,” kata Sudarmi.




Gamping Prioritaskan 9 Perencanaan Pembangunan

Gamping – Selasa (30/1) pukul WIB digelar Musrenbang RKPD Kabupaten Sleman di Ruang Rapat Lantai 2 Kantor Kecamatan Gamping. Musrenbang tahun ini mengambil tema “Mengembangkan Potensi Ekonomi Lokal Daerah Menuju Kemandirian dan Kesejahteraan Masyarakat Sleman yang Berbudaya”.

Acara ini dihadiri oleh Camat Gamping Abu Bakar, Sekcam Rasyid Ratnadi, Kabid Fisik dan Prasarana Bappeda Sleman Yustina, Kapolsek Gamping Kompol Herwinedi,  perwakilan Koramil 17 Pelda Sumarjo,  3 anggota DPRD Sleman Hasto Pariyantono, Vika,  Gustan Ganda,  Kades Ambarketawang Sumaryanto,  Kades Banyuraden Sudarisman,  sejumlah SKPD terkait di lingkungan Pemda Sleman antara lain Dinas PU,  Tata Ruang,  Kebudayaan, Dukcapil,  Perhubungan, Kesehatan,  serta P3AP2KB.  Perwakilan dari HIMPAUDI, FKDM, dan KIM Gamping juga hadir bersama para tamu undangan yang berjumlah 90 orang.

Dalam paparannya, anggota DPRD Sleman Hasto Pariyantono berharap adanya program persiapan mentalitas bagi masyarakat Gamping. Hal ini diperlukan agar pesatnya perkembangan fisik/teknis di Gamping bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan kemajuannya menjadi milik masyarakat Gamping bukan milik investor.

Di sesi selanjutnya, Kabid Fisik dan Prasarana Bappeda Sleman Yustina menyarankan agar desa bisa mengakses program Bantuan Keuangan Khusus (BKK) melalui pengajuan proposal pembangunan fisik masing-masing desa di wilayah Gamping. Pengajuan proposal paling lambat pada bulan Maret 2018. Proposal yang sudah diketahui oleh Kepala Desa kemudian diserahkan ke BAPPEDA Sleman yang dilanjutkan kepada dinas yang dirujuk.

Adapun BKK Kecamatan Gamping tahun 2018 sebesar Rp ,00 yang diperuntukkan bagi 5 desa di Gamping. Selain itu dipaparkan juga prioritas 9 perencanaan yaitu pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskinan, infrastruktur, pengembangan potensi lokal, lingkungan hidup,  peningkatan pendapatan masyarakat berpenghasilan rendah,  tata kelola pemerintah serta budaya. Sedangkan tema spesifiknya adalah isu kemiskinan, daya saing ekonomi lokal dan persoalan ketimpangan sosial yang terjadi. (Adnan Nurtjahjo)




Monolit Yogyakarta, Gunung Gamping dari Kesultanan Menuju Konservasi

Gamping – Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Yogyakarta mengadakan kegiatan Bedah Buku Monolit Yogyakarta Sabtu (4/11) pukul WIB di Petilasan Gunung Gamping Tlogo Ambarketawang.

Sebagai narasumber yaitu Didit dan Miranda Harlan dari BKSDA. Acara ini dihadiri Kepala BKSDA Yogyakarta Ir. Junita Parjanti, para pegiat sejarah, serta masyarakat umum termasuk KIM Kecamatan Gamping.

Potensi sejarah dimiliki Cagar Alam (CA)/Taman Wisata Alam (TWA) Batu Gamping karena lokasinya berdekatan dengan situs Petilasan Kraton Ambarketawang sebagai tempat “mesanggrah” Sultan Hamengku Buwono I selama pembangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755.

Begitu juga sumbangsih kapur dari Gunung Gamping dalam pembangunan Keraton Yogyakarta dan berbagai bangunan sejarah lainnya. Selain itu, tidak dapat dimungkiri bahwa peranan kapur dari Gunung Gamping sebagai pemurni dalam proses produksi gula pada masa itu turut berpengaruh terhadap kejayaan perekonomian di Yogyakarta.

Peranan CA/TWA Batu Gamping sangat melekat dan mengejawantah dalam budaya masyarakat melalui tradisi bekakak yang diselenggarakan setiap bulan sapar, di mana puncak acara yakni penyembelihan boneka pengantin (bekakak) dilaksanakan di Altar Cagar Alam Batu Gamping. Upacara adat ini, serta berbagai ritual dan mitos yang mengiringinya menjadi daya tarik tersendiri untuk mengunjungi CA/TWA Batu Gamping.

Sebagai warisan geologi, bongkahan batu kapur setinggi kurang lebih 10 meter tersebut merupakan monumen geologi yang menggambarkan jejak biota awal pulau Jawa. Sehingga CA Batu Gamping merupakan rekaman sejarah lingkungan sebagian awal 40 juta tahun lalu, yang patut dilestarikan.

Buku Monolit Yogyakarta ini juga berisi gambaran sejarah dan budaya Gunung Gamping, yang diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat untuk berkunjung dan belajar lebih banyak dari warisan alam yang sangat berharga ini dapat meningkat. (Adnan Nurtjahjo)




Macapat, Sumber Budaya dan Pendidikan

Turi – Pada Senin (16/10) malam di Aula Kecamatan Turi berlangsung apresiasi macapat. Kegiatan macapat di Kecamatan Turi ini sudah berjalan selama 10 tahun.

Kegiatan yang dihadiri oleh 15 peserta ini dibuka oleh Agus Maryono dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Agus mengajak agar macapat selalu kita lestarikan sebab macapat merupakan sumber budaya dan pendidikan.

Kegiatan ini baik diikuti oleh tak hanya orang tua tetapi anak muda juga perlu diajak dan dibina sebab isinya macapat mengandung nasehat.

Agus menambahkan bahwa di Turi terdapat desa wisata dan 3 desa budaya. Karenanya, diminta para pendamping untuk betul-betul mendampingi.

Selain pelatihan macapat rutin oleh Pelatih, Panggih, apresiasi macapat juga dilakukan untuk mengajari anak-anak sekolah yang akan mengikuti lomba, seperti lomba macapat di Rumah Dinas Bupati untuk tingkat SD, SMP, SMA/SMK, dan Guru. Hasilnya pun tidak mengecewakan karena beberapa kali pernah menjadi juara. (Suharno)




Turi Cegah Pelajar yang Ingin Bolos Sekolah

Turi – Senin (16/10) di wilayah Kecamatan Turi diadakan operasi anak sekolah yang membolos dan tidak mengikuti pelajaran. Para petugas terdiri dari Satpol PP Kabupaten Sleman dan Kecamatan Turi, Polsek Turi, serta Koramil Turi.

Adapun lokasi yang di sasar di Embung Turi, pertigaan ke Pakem dan tempat yang lain. Jumlah personil kurang lebih ada 15 petugas. Suwandi, Sekretaris Kecamatan Turi mengatakan, acara ini dalam rangka tindakan preventif. (Suharno)