Donokerto Terapkan Sistem Sedekah Sampah

Turi -Pemerintah Desa Donokerto dan Puskesmas Turi sangat peduli dengan permasalahan sampah rumah tangga karena itu Pemerintah Desa Donokerto sangat gencar mensosialisasikan cara pengelolaan sampah. Sosialisasi tentang pengelolaan sampah hasil kerjasama Puskesmas Turi dengan Pemerintah Desa Donokerto ini berlangsung, Selasa (31/10) di Dusun Turi Lor.

Sebagai narasuumber dalam sosialisasi tersebut, Suharman, penggiat lingkungan dari Wonosari Bangunkerto Turi, dan Kepala Dukuh setempat.

Di Desa Donokerto sendiri, sudah ada dusun yang mengelola sampanya dengan baik dan ada pula yang belum mengelolanya. Selain itu, ada yang mengelola dengan sistem sedekah sampah, yaitu pemuda di dusun tersebut mengambil dan mengelola sampah kemudian hasilnya untuk kegiatan pemuda.

Tak hanya itu, ada pula model bank sampah di mana sampah dipilah sendiri dan diantar sendiri ke pengumpul sampah di dusun setempat lalu hasilnya sebagian untuk pengurus sampah dan sebagian untuk pemilik sampah. Kegiatan ini telah berlangsung di Dusun Gabugan, Turi Lor, dan Perumahan Gamasri, yang semua padukuhan tersebut masuk di dalam Desa Donokerto.

Kegiatan ini melibatkan ibu-ibu setempat dan kader-kader kesehatan. Adapun kendala yang dihadapi, pemasaran hasil kerajinan dan pembuangan residu (sampah yang tidak terpakai-red).

Dalam program Desa Donokerto ke depannya akan membuatkan Tempat Penampungan Sampah (TPS) di tingkat RW dan akan membuat TPS yang besar untuk menampung sampah se-Desa Donokerto. (Harman)




Pemkab Miliki Keterbatasan Dalam Pengelolaan Sampah

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam upaya pengelolaan sampah di Kabupaten Sleman sementara sebagai daerah padat pemukiman, Sleman dihadapkan pada tantangan untuk mengelola persampahan dengan baik.

“Persampahan dapat menjadi potensi jika dikelola secara professional namun sebaliknya jika persampahan tidak ditanggulangi sejak dini maka dapat menjadi masalah,” kata Sri Purnomo ketika memberikan pengarahan pada jejaring pengelola sampah mandiri di Dusun Panggung Sariharjo Ngaglik Sleman, Senin (25/5).

Sri Purnomo juga menyatakan keprihatinannya dengan lemahnya kesadaran masyarakat dalam pemilahan sampah. Sementara pemilahan sampah merupakan langkah awal untuk memperpanjang usia hidup sampah. Kondisi ini memicu penurunan kualitas lingkungan yang memperburuk kesehatan masyarakat.

“Dengan adanya bank sampah, masalah sampah dapat ditangani tidak hanya karena dapat mewujudkan lingkungan yang sehat, rapi dan bersih namun juga sekaligus memberikan nilai tambah pada sampah yang selama ini hanya dibuang. Sampah organik diolah kembali menjadi kompos sedangkan sampah anorganik dapat diolah menjadi berbagai benda kerajinan yang memiliki nilai jual sehingga dapat meningkatkan perekonomian kerluarga” kata Sri Purnomo.

Karena itu melalui forum jejaring pengelola sampah diharapkan agar setiap bank sampah di Kabupaten Sleman tidak bosan-bosannya mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya meminimalisir penggunaan sampah plastik yang sulit diurai.

Setiap individu memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengelola sampah rumah tangganya masing-masing. Karena itu Sri Purnomo berharap sampah yang disetor ke bank sampah telah melalui proses pemilahan untuk memudahkan petugas bank sampah dalam mengelola sampah.

Sri Purnomo juga menghimbau kepada para ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang untuk bergabung dalam pengelolaan bank sampah. Berbagai kegiatan industri kerajinan berbahan dasar sampah merupakan kesempatan untuk memperkuat perekonomian keluarga.

“Saya mengingatkan bahwa sampah tetap memiliki nilai ekonomis jika kita mampu mengolahnya dengan benar. Tantangan ini harus menjadi motivasi bagi kita untuk lebih kreatif dan berinovasi. Masalah sampah dan limbah selalu ada terkait dengan peningkatan jumlah penduduk dan berkurangnya lahan terbuka akibat perluasan area pemukiman,” tambah Sri Purnomo.

Pengelolaan masalah sampah dan limbah juga sangat berkaitan dengan pembiasaan cara hidup yang sehat kepada masyarakat sebagai upaya preventif bagi penanganan masalah sampah dan limbah. Oleh karena itu, sangat diharapkan adanya peran serta aktif dari berbagai tokoh masyarakat dan LSM atau NGO untuk membantu upaya pembiasaan pola hidup bersih dan sehat kepada masyarakat.