UKM Belajar Kembangkan Usaha Lewat Kelas Managemen Keuangan

Gamping – Kecerdasan finansial atau FinQ merupakan ukuran kemampuan seseorang dalam memahami pentingnya perencanaan dan tata kelola keuangan yang baik. Hal ini disampaikan oleh Direktur akses perbankan Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Restog Krisna Kusuma, SH, , Ak., dalam kegiatan bertajuk Kelas Manajemen Keuangan Usaha bagi UKM Kreatif di Yogyakarta.

Acara ini terselenggara atas kerjasama Bekraf Indonesia dengan DPR RI Komisi X di Hotel Grand Mercure Yogyakarta Selasa (17/10) pukul WIB. Peserta pelatihan ini sebanyak 120 orang pengusaha UKM kreatif yang telah terseleksi dari 600 orang pendaftar.

Sebagai narasumber Bekraf menghadirkan CEO Financial Wisdom, R. Adjie Wicaksana, Bank BRI, Sigit, dan Head of Community Manager Bukalapak Muhammad Fikri.

KIM Kecamatan Gamping mengikuti kegiatan ini dimaksudkan agar bisa mengembangkan usaha dengan menaikkan omset penjualan dan membuat laporan keuangan usaha sebagai persyaratan   pengajuan kapitalisasi.

Lebih lanjut Bekraf menghimbau kepada seluruh peserta untuk mendaftarkan usahanya di Bekraf Information System on Mobile Application (BISMA). Dengan bergabung di BISMA, pengusaha UKM kreatif akan mendapatkan bimbingan dari Bekraf baik berupa bimtek, workshop, pameran, maupun fasilitasi permodalan. (Adnan Nurtjahjo)




Pengembangan Usaha Perikanan Fokus 3 Pola

Sleman – Sektor perikanan kini menjadi usaha pokok bagi sebagian masyarakat Kabupaten Sleman. Banyak orang yang tertarik karena keuntungannya dinilai cukup menjanjikan.

“Luasan budidaya perikanan terus bertambah. Pada 2010, luasannya hanya 629,13 hektare dan tahun kemarin meningkat menjadi hektare dengan kapasitas produksi mencapai ,5 ton,” kata Kabag Humas Sleman, Dra Sri Winarti, Jumat (8/4).

Dalam pengembangan usaha perikanan ini, Pemkab mengorientasikan pada tiga pola yang dibagi dalam zona barat, timur dan tengah, serta minapadi. Untuk wilayah Sleman barat, dominan untuk pembesaran ikan jenis lele, gurami, dan udang galah karena kondisi tanahnya berlumpur.

Wilayah ini menjadi penghasil utama ikan konsumsi untuk Kabupaten Sleman. Sedangkan zona tengah dan timur yang memiliki karakteristik air jernih dan jumlah melimpah, berpotensi untuk dikembangkan banyak variasi seperti karper, grass carp, nila, bahkan ikan hias semisal jenis koi.

Selain itu, Sleman juga mengembangkan metode budidaya ikan air tawar di sawah pertanian padi atau minapadi. Bahkan atas keberhasilan penerapan minapadi ini, Kabupaten Sleman ditunjuk oleh FAO sebagai salah satu wilayah percontohan. Sistem minapadi dominan dikembangkan di Desa Margodadi, Cibuk Kidul, dan Margoluwih dengan luas lahan sekitar 25 hektare pada akhir 2015.

“Kelebihan metode ini tidak perlu penyiangan gulma, tahan serangan hama, dan penyakit. Ini karena telur hama sebelum menetas sudah dimakan ikan sehingga tidak sempat tumbuh,” kata Sri Winarti.

Seiring perkembangan sektor pertanian, produksi ikan per tahun juga mengalami kenaikan yang signifikan. Pada 2010, produksi ikan konsumsi hanya ,68 ton. Empat tahun kemudian meningkat pesat menjadi ,50 ton.

Selain ikan konsumsi, produksi benih juga mengalami peningkatan sebesar 26,98 persen. Ini ditunjukan dari pencapaian pada tahun 2010 sebanyak 785,8 juta ekor menjadi 997,8 juta ekor di akhir 2014. Ketersediaan ikan perkapita selama periode 2010-2014 juga bertambah dari 26,73 kg per kapita per tahun ke angka 30,41.