Masyarakat di Perbukitan Prambanan Diminta Waspadai Longsor‬

Sleman – Masyarakat yang tinggal  di kawasan perbukitan Prambanan, Kabupaten Sleman dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman tanah longsor karena curah hujan yang mulai tinggi pada beberapa hari terakhir ini.‬

‪”Tercatat ada 289 Kepala Keluarga atau 867 jiwa tinggal di kawasan rawan longsor di kawasan perbukitan  Kecamatan Prambanan. Karena itu kami menghimbau masyarakat setempat untuk mengintensifkan ‘jaga warga’ saat malam hari dengan tingginya curah hujan beberapa hari terakhir ini,” kata Camat Prambanan, Drs Abu Bakar, Kamis (29/9).

‪Menurut Abu Bakar, jumlah jiwa yang berada di daerah bahaya tersebut tersebar di beberapa dusun, yakni Dusun Gayam, Watugudeg, Kalinongko Kidul, Lemahbang, Klumprit 1 dan Klumprit 2, Watukangsi, Kikis, Gedang, Pereng, Sengir, Gamparan, Dayakan, Dawung, Sembir, dan Nglengko.‬

‪Curah hujan tinggi ketika malam hari, beberapa hari belakangan ini. Ancaman tanah longsor dirasa lebih berisiko dibandingkan siang hari.‬ ‪Untuk itu Abu Bakar meminta  masyarakat  terus melakukan kesiapsiagaannya, serta mengintensifkan “jagawarga”, dan melakukan pemantauan di titik-titik rawan longsor.‬

Ketika ada potensi ancaman, mereka pun akan melakukan koordinasi memberikan peringatan kepada warga. Selain itu juga komunitas relawan setempat, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) telah siaga. ‬

‪”FPRB Bandung Bondowoso siap siaga terus memantau setiap perkembangan, terutama saat turun hujan deras,” kata Abu Bakar.‬

‪Abu Bakar menambahkan, ketika nantinya ada bencana, kegiatan evakuasi juga sudah ada prosedurnya. Mereka yang terkena dampak akan diungsikan terlebih dahulu di lokasi aman, balai desa, atau sekolah terdekat.‬

‪”Bencana longsor memang menjadi ancaman tahunan di Kecamatan Prambanan. Hampir setiap tahunnya selalu terjadi, karena letak geografisnya lebih banyak perbukitan,” tutur Abu Bakar.‬

Sementara ‪Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Makwan mengatakan curah hujan akhir-akhir ini dirasa cukup tinggi.‬

‪”Sampai saat ini masih nihil kejadian. Alat peringatan dini, telah diaktifkan di Prambanan untuk memberikan fasilitas kepada masyarakat akan ancaman bencana longsor. Bencana longsor tetap kami waspadai. Semua bencana, ancamannya sama,” kata Makwan.‬




Masyarakat Perbukitan Prambanan Dibekali Mitigasi Bencana Longsor‬

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Kabupaten Sleman terus membekali masyarakat di kawasan perbukitan Kecamatan Prambanan dengan kemampuan dalam mitigasi bencana tanah longsor.‬

‪”Sejumlah titik di kawasan perbukitan Prambanan berpotensi terjadi bencana longsor, terutama di Desa Madurejo, Desa Wukirharjo dan Desa Sumberharjo. Ketiga lokasi yang berbukit-bukit tersebut rawan terjadinya longsor,” kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman,  Ir Kunto Riyadi, kemarin.

‪Menurut Kunto, melihat besarnya dampak yang ditimbulkan dari bencana tanah longsor, masyarakat dituntut untuk memiliki pengetahuan dalam melakukan mitigasi bencana terutama bencana tanah longsor, bagi warga Desa yang rawan bencana tanah longsor.

‪”Pengenalan mitigasi bencana ini kami lakukan melalui gladi lapangan penanggulangan bencana longsor di tiga Desa di Kecamatan Prambanan tersebut.

Dalam waktu satu minggu lalu telah dilakukan gladi lapang penanggulangan bencana longsor di desa Wukirharjo, Madurejo dan Sumberharjo.

“Gladi lapang merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan kesiapsiagaan. Dengan kegiatan ini, diharapkan jatuhnya korban jiwa dapat diantisipasi. Masyarakat telah maengetahui tindakan apa yang harus dilakukan pada saat kondisi darurat,” kata Kunto.‬

‪Ia mengatakan, dengan bekal yang sudah dimiliki seluruh warga masyarakat tidak akan panik bila terjadi bencana.‬

‪”Saat bencana terjadi, masyarakat sudah mengetahui kemana harus menyelamatkan diri. Apalagi sejumlah titik di kawasan Pramaban memang memiliki potensi longsor cukup besar,” katanya.‬

‪Kunto mengatakan, tidak hanya masyarakat dan BPBD, penanganan bencana juga melibatkan instasi seperti kepolisian. Sebab dalam situasi yang hiruk pikuk kerap kali dijadikan sasaran pencurian.‬

‪”Selain pemerintah yang bertanggung jawab dalam penanganan bencana, mesyarakat desa juga punya kapasitas dalam membantu menanggulangi bencana,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, gladi lapang menjadi momen startegis bagi masyarakat Sleman untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat, terkait bencana longsor.‬

‪”Di kawasan rawan bencana, masyarakat harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa,” tambah Kunto.

Sementara gladi lapang yang berlangsung di Desa Sumberhajo Prambanan, Jumat (5/8) lalu menggambarkan bencana tanah longsor yang terjadi di lereng bukit Desa Sumberharjo mengakibatkan beberpa orang mengalami luka berat dan ringan, bahkan satu orang yang mengalami patah tulang kaki dan harus dirujuk ke RSUD Prambanan.

Kejadian tersebut akibat hujan yang terus menerus mengguyur Desa Sumberharjo Prambanan Jumat (5/8). Atas kejadian tersebut beberapa orang terpaksa diungsikan ke Barak pengungsian desa setempat yang jaraknya memaang tidak terlalu jauh hanya disekitar Rumah Dome.

Namun demikian karena jalan menuju titik lokasi longsor   hanya jalan setapak mengakibatkan evakuasi mengalami kelambataan meskipun sudah menurunkan beberapa armada baik dari RSUD Prambanan, Puskesmas Prambanan, BPBD Sleman dan relawan.

Setelah semua berhasil dievakuasi berdasarkan data korban luka berat baik berupa patah kaki , patah tulang  sebanyak 5 orang, luka ringan 7 orang semuanya sudah mendapat penanganan oleh tim kesehatan. Para korban tersebut diakibatkan terkena tanah longsong tertimbun bebatuan dan tanah. Dan ada yang tertimpa pohon tumbang. Sementara rumah yang kena pohon tumbang sebanyak 5 rumah dengan kondisi rusak sedang dan ringan.

Disamping itu ditengah hiruk pikuknya masyarakat yang menyelamatkan diri masih saja dijumpai  penjahat yang memanfaatkan situasi untuk mencuri, namun berkat kesigapan aparat dan masyarakat pencuri tersebut berhasil ditangkap dan dibawa ke Polsek Prambanan untuk diproses lebih lanjut.

Hadir pada kesempatan tersebut Kepala pelaksana BPBD DIY Drs Krido Suprayitno SE MSiMuspika kecamatan Prambanan dan masyarakat setempat.