Pertanian Topang Perekonomian di Cangkringan

Sleman – Kondisi perekonomian di Kecamatan Cangkringan cukup baik, dengan dominasi sektor pertanian dengan persentase 28,56% merupakan penopang perekonomian yang dominan di Kecamatan Cangkringan. Sementara produksi Padi dari Kecamatan Cangkringan memberikan kontribusi besar dalam eksistensi Sleman sebagai lumbung padi DIY.

“Untuk peningkatan pendapatan petani, inovasi dalam budidaya, seperti halnya produksi padi dikolaborasikan dengan produksi ikan menjadi Minapadi ataupun dengan udang menjadi Ugadi perlu dilakukan,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI disela-sela tarawih keliling putaran 6 di Masjid Mujahidin Banjarsari Glagaharjo Cangkringan, Senin (13/6) malam.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa kondisi perekonomian masyarakat Cangkringan tahun demi tahun mengalami peningkatan yang cukup baik, yang terlihat perputaran dari sektor Keuangan, persewewaan dan jasa perusahaan cukup besar mencapai 16,03%.

Hal tersebut merupakan peluang yang harus ditangkap oleh masyarakat Cangkringan sebagai penambah alternatif lapangan kerja. Angka persen dari sektor Keuangan, persewewaan dan jasa perusahaan Kecamatan Cangkringan menempati posisi tertinggi ketiga setelah Prambanan dan Gamping.

Pada tahun 2015 di Kabupaten Sleman masih terdapat KK miskin sejumlah KK (11,76%) dari KK. Dibandingkan dengan tahun 2014 terjadi penurunan sebanyak 0,09%. Sedangkan angka kemiskinan tingkat Provinsi DIY tahun 2015 pada persentase 14,91%.

Angka kemiskinan Kecamatan Cangkringan dari tahun 2013 sampai dengan 2015 telah mengalami penurunan dari angka kk menjadi KK miskin, atau terdapat pengurangan KK miskin sebanyak 202KK dengan angka persentase17,81%.

“Walaupun demikian secara rata-rata di Kabupaten Sleman, angka kemiskinan di Kecamatan Cangkringan masih relatif tinggi dibanding angka persentase Kabupaten yaitu 11,76%,” kata Sri Purnomo.

Untuk itu lanjutnya diperlukan upaya yang lebih keras lagi untuk menurunkan angka kemiskinan di Kecamatan Cangkringan, dan upaya tersebut perlu peran aktif masyarakat yang sinergis dengan pemerintah, tambah bupati wilayah Kecamatan Cangkringan 47,99 km, dengan jumlah penduduk jiwa.

Dari jumlah penduduk tersebut, pada tahun 2014 untuk penduduk dengan usia sekolah 7-12 tahun sejumlah dan usia 13-15 tahun sejumlah sehingga total jumlah penduduk dengan usia sekolah sebanyak anak.

Menyinggung pendaftaran peserta didik baru yang akan dilaksanakan pada bulan Juni ini, Kecamatan Cangkringan termasuk yang menggunakan metode Penerimaan Peserta Didik Baru secara Real Time Online (PPDB RTO), Sri Purnomo berharap di Kecamatan Cangkringan seluruh anak usia sekolah harus bersekolah sesuai dengan usiannya. Semua anak di Kabupaten Sleman harus bersekolah minimal sampai jenjang SMA/SMK.

“Bila mana ada kendala mengenai biaya sekolah harap melapor ke aparat pemerintah setempat untuk segera dicarikan solusinya,” tutur Sri Purnomo.

Sedang penyalahgunaan narkoba dan bahayanya miras saat ini dikatakan Sri Purnomo tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan saja, tetapi juga telah merambah di wilayah perdesaan.

Oleh karena itu Sri Purnomo minta kewaspadaan bersama antara pemerintah dan masyarakat perlu ditingkatkan untuk bersama-sama  memerangi peredaran miras illegal dan oplosan serta peredaran narkotika illegal. Karena keduanya nyata telah meningkatkan angka kriminalitas dan menjadi perusak bagi generasi muda.

“Kenakalan remaja yang sudah cenderung berperilaku kriminal, pada awal bulan ramadan  membuat prihatin kita semua. Hal tersebut merupakan tanggungjawab kita bersama untuk melakukan penanganan dan juga pencegahan agar kejadian seperti yang terjadi di Pakem – Turi pada hari Senin dini hari yang lalu, tidak terulang kembali,” tambah Sri Purnomo.

Beberapa kasus kenakalan remaja yang telah cenderung berlaku kriminal tersebut tidak hanya terjadi di Sleman saja, tetapi juga terjadi di wilayah-wilayah lain. Komunikasi internal keluarga sangat penting untuk pencegahan agar kejadian seperti itu tidak terulang kembali.




Untuk Tingkatkan Perekonomian Pemkab Permudah Peluang Investasi

Sleman – Asisten Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih mengatakan  pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sleman selama tahun 2014 sebesar 5,81% meningkat 0,11% dibanding tahun sebelumnya.

“Perekonomian di Sleman selama ini masih didominasi sektor pertanian, industri pengolahn serta perdagangan, hotel dan restoran,” kata Suyamsih ketika menghadiri perayaan  Hari jadi ke 14  Paguyuban Keluarga  Sleman Manunggal Sembada yang berada di Jabotabek. Peringatan HUT ke 14 tersbut dipusatkan di Gedung Sudirman Taman Bunga Wiladatika Cibubur Jakarta Timur, Minggu (10/1).

Dikatakan Suyamsih,  untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Pemkab Sleman berupaya mempermudah peluang investasi di  Kabupaten Sleman dengan memberikan layanan perizinan satu atap sejak tahun 2015 lalu dengan didirikannya Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu.

Sementara itu untuk menarik wisatawan yang berkunjung di Kabupaten Sleman terus diupayakan penataan beberapa obyek wisata, agar memberi kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung di obyek wisata yang ada di Kabupaten Sleman.

“Yang jelas saat ini Sleman telah memiliki 15 desa wisata berkategori tumbuh, 11 desa wisata kategori berkembang dan 11 desa wisata berkategori mandiri,” kata Suyamsih.

Karena itu diharapkan dengan banyaknya desa wisata yang ada di Kabupaten Sleman , maka masyarakat yang berada di Jakarta bila berlibur dan mudik bisa memanfaatkan beberapa obyek wisata yang ada di Kabupaten Sleman. Disamping itu diharapkan pula masyarakat Sleman yang berada di Jakarta bisa bersama-sama ikut merumuskan pembangunan Sleman yang lebih baik.

Untuk itu diharapkan agar keluarga besar paguyuban Sleman Manunggal Sembada mampu menjaga kebersamaan dan kekompakan , saling bahu- membahu dan tolong menolong terhadap kesulitan dan persoalan lainnya.

Sedangkan  Ketua umum  Paguyuban Keluarga Sleman Manunggal Sembada, Dr Drs H Tukiman Ws SH MM MH berharap agar kedepan masyarakat Sleman yang berada di Jakarta lebih kompak dan bersatu meningkatkan kerjasama dan mampu memberi kontribusi pembangunan di Sleman.

Dalam memeriahkan ulang tahun Paguyuban Sleman Sembada ke 14 tersebut dimeriahkan berbagai kegiatan, antara lain jalan santai dan senam sehat, bakti sosial berupa penyerahan santunan bagi anak-anak yatim/piatu dan hiburan campursari.

Dalam bhakti sosial tersebut telah dibagikan uang santunan bagi 30 anak yatim/piatu masing-masing sebesar Rp. . Dalam gerak jalan santai dan senam tersebut diikuti sekitar 300 an peserta masyarakat yang berada di Jabotabek. Disamping senam dan jalan santai pada kesempatan tersebut juga dilakukan potong tumpeng yang dilakukan oleh Muhdi Pr dan diserahkan salah satu pengurus paguyuban.




Sleman Mantapkan Perekonomian Daerah

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dalam perencanaan  pembangunan 2015 menitikberatkan pemantapan perekonomian daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Memantapkan perekonomian daerah yang meliputi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan, serta peningkatan daya saing daerah,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman dr Sunartono MKes, kemarin.

Selain itu, menurut Sunartono, juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang meliputi menurunkan persentase keluarga miskin, menurunkan angka pengangguran, meningkatkan daya beli masyarakat, meningkatkan  kualitas sumber daya manusia, meningkatkan perlindungan terhadap masyarakat, baik sosial, keamanan, dan terhadap bencana.

“Peningkatan kesejahteraan masyarakat merupakan upaya untuk menurunkan persentase keluarga miskin, yang pada 2013 menjadi 13,89 persen, menurun dibanding tahun sebelumnya yaitu 15,85 persen,” katanya.

Sedangkan tingkat pengangguran terbuka pada 2013, menurut dia, masih tinggi yaitu 6,47 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 6,25 persen.

Sunartono menambahkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sleman masih rendah yaitu 5,45 persen, masih lebih rendah jika dibandingkan rata-rata nasional yaitu 6,23 persen.

“Melihat kenyataan tersebut perencanaan dan kegiatan pembangunan dengan lebih cermat di segala aspek. Tidak hanya pada aspek fisik sematan namun juga perlu memperhatikan aspek sosial mengingat aspek sosial ini seringkali terlewatkan,” katanya.

Sunartono mengatakan, dalam memformulasikan kegiatan pembangunan pada 2015 harus bertumpu pada pencapaian target yang telah ditetapkan untuk pencapaian visi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2010-2015.

“RPJMD tersebut menetapkan indikator capaian IPM 79,63, untuk kondisi masyarakat yang berdaya saing, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,98 persen, untuk daya saing dan indeks gender 74 untuk keadilan gender,” katanya.

Selain perencanaan yang lebih cermat, dalam menyusun rencana pembangun juga dituntut untuk melihat “outcome” dari RPJM Sleman selama ini.

“Jika `outcome` tersebut masih kurang, hal ini berarti sinergi dan keterpaduan semua pihak, pemerintah secara lintas sektor, swasta dan masyarakat masih harus terus ditingkatkan,” katanya.