Satgas PPA Kader Perlindungan Anak dari Kasus Kekerasan

Ngemplak – Pemerintah Desa Wedomartani menggelar acara Penguatan Pengarusutamaan Gender bagi Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Desa, Selasa (20/3) di Aula Kantor Desa Wedomartani, Ngemplak.

Acara yang dimulai pukul WIB ini dibuka oleh Kepala Desa Wedomartani, Teguh Budianto dan dinarasumberi oleh Camat Ngemplak, Siti Wahyu Purwaningsih dan Staf Pengajar UTY, Poppy Andriyansari.

Acara ini didampingi oleh Staf Seksi Perlindungan Perempuan Dinas P3AP2KB Ari Nirwani, dan Babinkamtibmas Polsek Ngemplak Eko Sulsilo serta Jumali.

Satgas PPA ini diharapkan bisa meminimalisir tindak kekerasan dalam rumah tangga dan menjadi kader perlindungan anak sebab akhir-akhir ini banyak kasus kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dan masyarakat.

Internet dan media sosial sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Kader atau satgas PPA ini diharapkan bisa memberikan pendampingan dan solusi bagaimana mengontrol dan memonitor pemakaian smartphone pada anak.

Setelah Satgas PPA terbentuk di Desa Wedomartani, Ngemplak, Kepala Desa Wedomartani, Teguh Budianto menyampaikan hendaknya Satgas PPA dapat menjadikan wilayah Desa Wedomartani bebas dan terhindar dari kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan dini, pengaruh buruk internet, dan media sosial yang sedang marak di masyarakat, terutama bagi anak usia sekolah. (Bibit Babe Widayoko)




Forum Anak Upaya Lindungi Hak Anak

Turi – Desa Bangunkerto melaksanakan pembentukan Forum Anak tingkat Desa, Rabu (20/12) bertempat di Agrowisata Bangunkerto. Acara ini diikuti oleh 30 anak perwakilan dari seluruh dusun yang ada di Desa Bangunkerto.

Adapun yang dimaksud anak adalah yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih di dalam kandungan.

Anggota forum anak terdiri dari anak sekolah mulai anak SMP hingga SMA. Hadir dalam pembentukan forum anak tersebut, Kasi Kesejahteraan Kecamatan Turi, Supriharjo, Pengurus Forum Anak Kecamatan, Kasi Pelayanan Masyarakat Desa Bangunkerto, Reni Kusumastuti, Polmas Bangunkerto, Sumarwadi, serta narasumber dari Perlindungn Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) Kabupaten Sleman, Sunyadi.

Tujuan didirikannya Forum Anak Desa Bangunkerto adalah untuk melindungi anak yang ada di Desa Bangunkerto dengan cara memberikan informasi, menggali permasalahan yang ada, dan melaporkan kejadian-kejadian yang menyangkut dengan perlindungan terhadap anak.

Forum anak harus mempunyai data tentang jumlah anak yang ada di Desa Bangunkerto. Datanya pun beragam seperti anak yang belum punya akte kelahiran, anak yang belum sekolah, dan lain sebagainya. Data ini nantinya dilaporkan ke Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak Desa dan ke Forum Anak tingkat Kecamatan. Dengan ini, diharapkan semua anak yang ada di Desa Bangunkerto bisa terlindungi semua hak-haknya sebagai anak yaitu hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan, dan partisipasi. (Harman)




Pentas Kethoprak Beri Anjuran Berantas Penyakit Masyarakat

Gamping – Sabtu (9/12) pukul WIB, Karang Taruna (KT) Taruna Bhakti Desa Trihanggo, Gamping mengadakan Pentas Kethoprak.

Pementasan ini hasil kerjasama antara KT Taruna Bhakti dengan Komunitas Gerakan Anti Napza Trihanggo (Ganatri) dan Sanggar Cahyo Jinggo Blambangan dengan Komunitas Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).

Dalam acara ini hadir Kepala Desa Trihanggo Herman Budi Pramono, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman HY. Aji Wulantara, Ketua Komisi B DPRD DIY, H. Koeswanto, Ketua DPRD Sleman Haris Sugiharta, Anggota Komisi D DPRD Sleman, Y. Gustan Ganda, Kapolsek Gamping Kompol Herwinedi, Perwakilan Koramil 17 Gamping, Kepala Dusun se-Desa Trihanggo, serta ratusan warga Desa Trihanggo.

Pertunjukan Kethoprak dibuka dengan penampilan Sanggar Cahyo Jinggo Blambangan dengan lakon “Kepilut Endahing Kadonyan”. Pelajaran yang bisa diambil yakni perlindungan anak terpadu merupakan kewajiban kita semua dan pemberantasan penyakit masyarakat sangatlah diperlukan.

Sebagai bintang tamu hadir Dalijo Angkringan cs. Penata artistik pementasan kethoprak uni adalah Gubug Art dengan penata gending Gaung Kyan.

Adapun Lakon Kethoprak yang kedua adalah Lintang Kemukus ing Wilwatikta. Awal cerita dimulai dengan terlihatnya lintang kemukus yang melintas di langit Majapahit, yang merupakan peristiwa alam yang menggemparkan. Kejadian ini diramalkan oleh Ratu Kahuripan sebagai pertanda buruk bahwa kerajaan majapahit akan mengalami kejadian yang luar biasa. Kejadian ini bukan saja akan berdampak pada rakyat, tetapi juga pada kedudukan sang Prabu Jayanegara. (Adnan Nurtjahjo)




Tingkatkan Perlindungan Pada Anak, Pemkab Gelar Festival Berlian

Sleman – Meningkatnya kasus kekerasan pada anak dari waktu ke waktu salah satunya timbul karena  peran aktif masyarakat dalam perlindungan anak masih kurang.

Menyadari hal tersebut Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Badan KBPMPP Kabupaten Sleman berdasarkan inisiasi dari Kementerian PPPA RI melaksanakan kampanye bersama di  Desa Percontohan Pengembangan PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat) seluruh wilayah Indonesia termasuk salah satunya di Desa Mororejo, Tempel, Sleman yang menggelar ‘Festival Berlian(Bersama Lindungi Anak) Mororejo Colourflash 2016’, Minggu  (20/11).

Eko Yulianto selaku Ketua Pelaksana mengatakan bahwa Kampanye Berlian PATBM di Mororejo bertujuan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan perlindungan anak.

Menurutnya peran masyarakat dalam perlindungan anak dapat dilakukan diantaranya melalui sosialisasi perlindungan anak pada masyarakat, memberikan masukan pada perumusan kebijakan yang terkait perlindungan anak, menyediakan sarana prasarana dan ruang serta suasana kondusif untuk tumbuh kembang anak.

Dikatakan Eko berbagai kegiatan telah dilakukan aktivis PATBM Desa Mororejo, yaitu mengikuti pelatihan yang diselenggarakan PPPA RI, menyusun peta potensi dan masalah anak, menyusun data pilah anak, menyusun rencana kerja PATBM, dan melaksanakan sosialisasi PATBM di seluruh padukuhan, kelompok PKK, dan sekolah di Desa Mororejo.

“Tema Kampanye Berlian yang kami laksanakan adalah melalui PATBM kita wujudkan Desa Mororejo SIGRAK atau Siap Menjadi Penggerak Perlindungan Anak,” kata Eko.

Sementara Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes yang hadir dalam kampanye tersebut menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman merupakan wilayah dengan tingkat pertumbuhan migrasi yang tinggi serta merupakan kawasan yang strategis dalam dalam sektor pendidikan dan ekonomi, sehingga dinamika dan perubahan-perubahan sosialnya menjadi sangat tinggi.

Di sisi lain kondisi tersebut menurutnya juga menimbulkan tekanan dan permasalahan baru yang lazimnya terjadi pada kota-kota besar lainnya di Indonesia.

“Anak berusia 0-18 tahun rentan memiliki masalah sosial dan menghadapi resiko kekerasan baik di lingkungan rumah, di lingkungan sekolah, maupun ditempat-tempat umum. Resiko-resiko yang sangat mungkin terjadi pada anak antara lain kekerasan dalam pola asuh, tontonan komersial yang kurang mendidik, kasus kekerasan fisik dan psikis pada anak secara, trafficking, eksploitasi anak, pelecehan seksual, Anak Bermasalah dengan Hukum, hingga kasus anak terjerat narkoba,” jelas Sri Muslimatun.

Sri Muslimatun berharap agar agar Desa Ramah Anak sebagai bagian dari Kabupaten Layak Anak tidak hanya sekedar menjadi label, dan jangan sampai ada kesenjangan antara kebijakan dengan realita yang ada di lapangan.

“Untuk itu saya mengharapkan kita semua baik warga masyarakat, aktivis PATBM, seluruh stakeholder dapat bersinergi secara nyata untuk mewujudkan lingkungan dimanapun anak-anak berada yang ramah bagi mereka,” tambah Sri Muslimatun.

Dalam acara yang diikuti oleh lebih dari 1000 orang yang terdiri dari anak-anak, warga masyarakat, dan stakeholder tersebut  dilakukan deklarasi akhiri kekerasan pada anak, flashmob, dan pengobatan gratis.