Tetap Jaga Budaya dan Tradisi Kenduri Supaya Lestari

Turi – Rabu (24/1), masyarakat Dusun Wonosari Bangunkerto Turi mengadakan tradisi kenduri dalam rangka hajatan salah satu warga. Acara kenduri ini selalu dilakukan dan diikuti oleh semua warga setiap ada hajatan seperti pernikahan, sunatan, merti dusun, dan peringatan hari besar agama Islam.

Adapun keunikan dari tradisi kenduri di Dusun Wonosari yang masih dilakukan seperti sejak zaman dahulu ini yaitu semua warga yang hadir harus membawa wadah atau tempat sendiri dari rumah.

Sebelum warga datang pihak yang punya hajat sudah mempersiapkan berbagai macam perlengkapan yang diperlukan untuk kenduri seperti jenang merah dan putih, nasi tumpeng, nasi ambeng, nasi gurih, iwak/ayam ingkung.

Sedangkan sayur, gudangan, tempe, telur, krupuk, peyek kacang, peyek keper, kolak apem, dan jajanan pasar sudah siap terbungkus rapi.

Setelah semuanya hadir baru tuan rumah menyerahkan kepada tokoh agama sekaligus mengutarakan maksud dan tujuannya.

Setelah itu, baru didoakan oleh tokoh agama dan diamini oleh semua yang hadir. Selesai didoakan baru tumpeng dipotong dan dibagi rata ke semua yang hadir.

Acara ini biasa dilaksanakan pada pukul WIB. Adapun tujuan kenduri adalah suatu bentuk berbagi rezeki atau sedekah yang diberikan ke tetangga dan wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberi rezeki, kesehatan, kelancaran, dan keselamatan dalam pelaksanaan hajatan tersebut. (Harman)




Gamping Gunakan Metode Tes Sebelum Bimbingan Pernikahan

Gamping – Selasa (5/12) pukul WIB, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Gamping menyelenggarakan bimbingan pernikahan bagi calon pengantin yang diikuti oleh 40 pasang pengantin yang akan melangsungkan pernikahan di wilayah Kecamatan Gamping.

Materi bimbingan disampaikan oleh beberapa narasumber yaitu Kasubag Tata Usaha Kementerian Agama Kabupaten Sleman, Sidik Pramono, Kasi, Nurhuda, Kepala Kemenag Sleman, Sa’ban Nuroni, Kepala KUA Gamping, Jaenudin, Penghulu, Aris Daryanto, dengan Fasilitator Kasi Bimas Abduna’im, serta Sri Munanto, dari Puskesmas Gamping I.

Adapun materi yang diberikan antara lain mengelola dinamika perkawinan dan keluarga, mempersiapkan perkawinan yang kokoh menuju keluarga sakinah, memenuhi kebutuhan keluarga, menjaga kesehatan reproduksi keluarga, mempersiapkan generasi berkualitas, mengelola konflik, dan membangun ketahanan keluarga.

Metode yang digunakan kali ini berbeda dengan yang dulu yaitu sebelum menerima materi bimbingan para peserta menjalani pretest untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan calon pengantin mengenai pernikahan. Selain itu penyampaian bimbingan dilakukan secara interaktif (permainan yang melibatkan peserta), sehingga komunikasi berjalan dua arah dan lebih mudah diterima peserta. Sebagai penutup di penghujung acara calon pengantin harus menjalani posttest. (Adnan Nurtjahjo)