KWT Sembung Berhasil Terapkan Pertanian Rumah Tangga

Kelompok Wanita Tani (KWT) Bumi Lestari Sembung berhasil terapkan pertanian rumah tangga di Desa Sembung, Pekem, Sleman. Kelompok tani tersebut berhasil terapkan program pemanfaatan lahan kosong pekarangan sebagai Lahan Tanam Sayur dan Buah.

Suprapto selaku Pembina KWT Sembung menjelaskan, sistem yang digunakan dalam penanamannya ialah hidroponik. “Kita ketahui bersama, metode tersebut merupakan menanam tanaman tanpa menggunakan lahan yang luas sebagai media tanamnya. Akan tetapi, menggunakan media air dan pipa PVC dengan memaksimalkan ruang kosong sekitar rumah. Selain itu, selama masa tumbuh tanaman diberi pupuk organik,” tutur Suprapto.

KWT Sembung yang beranggotakan 20 orang tersebut sudah berhasil membudidayakan sayur dan buah, di antaranya Kubis, Sawi, dan Cabe. Ketua KWT Sembung Bumi Lestari Margiyati mengatakan saat ini sudah hampir 90 persen warga Padukuhan Sembung sudah menerapkan program binaan dari Badan Ketahanan Pangan & Penyuluhan DIY tersebut.

Keberhasilan KWT Sembung tersebut ditandai dengan Panen Perdanan Lumbung Mataraman bersama Gusti Kanjeng Ratu Hemas bertempat di Padukuhan Sembung, Pakem, Sleman pada Rabu (25/7/2018). Pada kesempatan tersebut GKR Hemas didampingi Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Pakualaman, Kepala BKPP DIY Arofah Nur Indriani, dan Asisten Sekretaris Daerah Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Sleman Suyono.

Kepala BKPP DIY Arofah Nur Indriani mengatakan ketahanan pangan dimulai dari sektor kecil individu, keluarga, hingga tingkat daerah. Program yang diinisiasi oleh GKR Hemas tersebut pada awal pembentukannya terdapat 5 KWT tiap kabupaten yang diuji coba. Melihat keberhasilan tersebut ke depannya pada 2018 akan ada 20 desa yang akan mengikuti pembinaan program tersebut.

GKH Hemas mengatakan Kegiatan Panen Perdana Sayur dan Buah tersebut merupakan langkah kongkrit dari upaya untuk membangun ketahanan pangan. Kegiatan tersebut juga dikatakannya menjadi tempat pemberdayaan perempuan dalam membantu kesejahteraan dengan penyediaan sumber pangan bergizi melalui pertanian rumah tangga yang mandiri.  Ia berharap program tersebut terus dijalankan oleh rakyat pedesaan sehingga mampu terwujudnya ketahanan pangan di DIY.

Sementara itu, Asisten Sekretaris Daerah Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Sleman Suyono mengatakan keberadaan kelompok tani atau yang disebut kelompok agribisnis terbukti telah mampu meningkatkan kesejahteraan anggota dan keluarga. Ia berharap keberadaan KWT tentunya dapat mendukung gerakan Lumbung Matraman sebagai Wujud kedaulatan.




Launching Pengembangan Produk Kelompok Wanita Tani Sleman

Turi – Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikananan Kabupaten Sleman mengadakan kegiatan launching pengembangan produk Kelompok Wanita Tani (KWT), Senin (5/3) pukul WIB di Wisata Gardu Pandang Kaliurang.

Adapun tujuan diadakan acara launching produk KWT adalah untuk membantu Kelompok Wanita Tani di Kabupaten Sleman dalam memasarkan produknya sehingga diharapkan dengan disediakanya tempat oleh Pemkab Sleman di Wisata Gardu Pandang Kaliurang akan semakin laris dalam penjualan produk yang dihasilkan dari KWT.
Selain produk, juga dilaunching lagu wajib atau mars KWT Kabupaten Sleman untuk pertama kalinya.

Acara ini dihadiri oleh pengurus KWT se-Kabupaten Sleman, Ketua Pokdarwis Kaliurang, Kepala Dukuh Kaliurang, Kepala Desa Hargobinagun, Camat Pakem, Camat Turi, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman Heru Saptono.

Dalam sambutannya, Heru berharap dengan disediakanya tempat berjualan yang permanen di Wisata Gardu Pandang oleh pemerintah nantinya KWT di Kabupaten Sleman bisa lebih maju dan lebih semangat lagi untuk membuat produk. Sebab, sudah ada tempat untuk memasarkannya sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota KWT. Selain itu, dengan diresmikannya mars KWT diharapkan akan membuat semangat dan bangga menjadi pengurus dan anggota KWT. “Ini semua adalah wujud kepedulian pemerintah terhadap kelompok wanita tani yang semakin berkembang di Kabupaten Sleman,” tutur Heru. (Harman)

 




Kelompok Ternak Sidomulyo Terima Kunjungan dari Dinas Pertanian dan Pertanian Sleman

Ngaglik – Sudah lebih dari 5 tahun Kelompok Ternak Sidomulyo Dusun Karanglo berdiri dan sudah telah mendapatkan bantuan sapi sebanyak 18 betina putih untuk dikembangkan dan 5 pejantan untuk penggemukan. Selama kurun waktu 5 tahun tersebut, sapi bantuan telah berkembang menjadi 85 ekor.

Dinas Pertanian dan Pertanian Kabupaten Sleman mengunjungi Kelompok Ternak Sidomulyo Dusun Karanglo, pada Selasa (20/2). Dalam kesempatan ini, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sleman memperkenalkan PPL Pertanian dan Peternakan yang baru, yakni Iwan Setyawan. Iwan yang sebelumnya merupakan PPL Pertanian dan Peternakan dari Desa Sardonoharjo ini menyampaikan permohonan kerjasama dalam mengembangkan peternakan di Dusun Karanglo ini dan berkomitmen akan melanjutkan apa yang telah diprogramkan PPL yang lama.

Di samping itu, hadir dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sleman, Dokter Hewan Nanang yang memberikan pembinaan kepada Kelompok Ternak Sidomulyo Dusun Karanglo sekaligus monitoring dan evaluasi perkembangan populasi peternakan yang ada di Sleman yang dirasa semakin menurun jumlah ternaknya.

Untuk itu drh Nanang berharap terus ditingkatkan populasi jumlah dan cara serta kualitas pemeliharaan ternaknya, mulai masalah pakan ternaknya, kebersihan lingkungan, dan hal lain terkait pengelolaan ternak.

Dalam sesi diskusi, muncul pertanyaan terkait dengan tindak lanjut bantuan ternak, sarana dan prasarana pengembangan kelompok, drh Nanang menjelaskan bisa dengan membuat proposal untuk tingkat Provinsi dan Pusat melalui APBD I dan APBN yang mungkin masih ada peluang bantuan, tetapi untuk hibah harus kelompok yang sudah berbadan hukum.

Untuk itu apabila ada masalah IB yang sudah lebih 3 kali disarankan untuk diperiksa sapinya secara menyeluruh sehingga mengetahui masalahnya supaya bisa disimpulkan permasalahan sapi yang lebih 3 kali suntik, karena terkait biaya, tenaga dan waktu maka perlu konsultasi dengan Puskeswan di Bantarjo.

Selain itu drh Nanang juga menghimbau untuk memperhatikan virus penyakit gomen karena mempunyai risiko tinggi apabila ada percikan air kena pernapasan bisa membahayakan sapi. (Suripto).




Seni Tradisi, Aspek Penting Gali Potensi

Gamping – GKR Hemas didampingi GKR Mangkubumi melakukan sosialisasi lembaga DPD RI dan penyerapan aspirasi masyarakat, Sabtu (4/11) pukul WIB di Dusun Salakan, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Sleman.

Para undangan yang hadir, antara lain Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Eko Suryo Maharsono, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Aris Riyanta, Camat Gamping, Abu Bakar, Kapolsek Gamping, Kompol Herwinedi, Wadanramil 17/Gamping Kapten Chb. Suwardi, Kepala Desa Trihanggo, Herman Budi Pramono, Dukuh Salakan, Suyana, beserta tokoh masyarakat Padukuhan Salakan.

Masyarakat sangat antusias menyambut kehadiran anggota DPD RI perwakilan DIY ini. Terbukti dengan adanya Bregada Kyai Surengpati dan pemasangan spanduk selamat datang beserta umbul-umbul di sepanjang jalan masuk padukuhan.

Dari gapura utama Salakan GKR Hemas menaiki kereta kuda menuju Masjid Al Mukharom. Dilanjutkan penyerapan aspirasi atau sambung aspirasi oleh GKR Hemas didampingi para kepala dinas terkait.

Menurut GKR Hemas, sektor pertanian perlu digarap secara maksimal dan budaya adiluhung melalui seni tradisi menjadi aspek penting untuk menggali potensi di Dusun Salakan sehingga tercipta masyarakat yang mandiri dan berbudaya.

Pada kesempatan ini juga, Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, meresmikan talud Sungai Bedog di Keditan Rt 01 Rw 26 Trihanggo.

Di akhir perbincangan GKR Hemas menyampaikan bahwa diperlukan sinergi antara masyarakat dengan pemerintah DIY dan Kabupaten Sleman agar masyarakat yang sejahtera, mandiri, dan berbudaya benar-benar dapat terwujud. (Adnan Nurtjahjo)




Burung Hantu Serak Jawa Cegah Hama Tikus

Cangkringan – Kawasan studi dan konservasi Burung Hantu Serak Jawa ini terletak di Dusun Cancangan Wukirsari Cangkringan Sleman. Kawasan ini dibangun untuk mempelajari bersama tentang Burung Hantu Serak Jawa (Tyto Alba) yang berfungsi untuk pengendalian hama tikus di sawah.

Dusun Cancangan menggunakan Burung Hantu Tyto Alba untuk pengendalian hama tikus sejak tahun 2013. Saat itu banyak petani di Dusun Cancangan yang mengeluhkan tanaman padinya diserang hama tikus. Ini berakibat pada hasil panen yang hanya berkisar 15-20 % saja.

Setelah 2 tahun menggunakan Burung hantu Serak Jawa sebagai pengendali hama, petani dapat menikmati hasil panen padinya meningkat yakni mencapai kisaran 80-90 %.

Dusun Cancangan dengan Kelompok Tani Margo Mulyo yang diketuai Bavit Margo Utomo mulai banyak dikunjungi dari beberapa daerah dan perguruan tinggi guna belajar dan ikut mengamati keberadaan dan manfaat Burung Hantu Tyto Alba. Bahkan dari Thailand dan Singapura juga pernah melakukan penelitian mengenai pengendalian hama tikus di Dusun Cancangan ini. (Bavit M U)