Bupati Sleman Himbau Petani Tidak Terjebak Pengepul

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menghimbau petani yang mengembangkan minapadi di Sleman tidak terjebak akal-akalan pengepul yang mempermainkan harga.‬

‪“Seringkali hasil panen beras minapadi dibeli rendah oleh pengepul. Pengepul beralasan beras minapadi tidak sesedap dibandingkan dengan beras hasil panen di lahan konvensional,” kata Sri Purnomo, Kamis (11/8).‬

‪Menurut Sri Purnomo, apa yang dinyatakan para pengepul tersebut hanya sebagai senjata untuk mendapatkan harga hasil panen yang paling rendah.‬

‪“Kalau ada yang bilang nasi dari hasil minapadi ‘anyep’, itu hanya akal-akalan pembeli saja,” katanya.‬

‪Dikatakan Sri Purnomo  beras yang dihasilkan dari lahan minapadi jauh lebih sehat dan bebas dari bahan kimia.‬ Sehingga seharusnya, harga beras minapadi tidak sama dengan beras-beras biasanya di pasaran.

‪“Kalau dilihat dari prosesnya beras minapadi merupakan beras organik, sehingga seharusnya harganya lebih tinggi. Dan petani harus melabeli beras hasil panennya dengan nama beras organik,” katanya.‬

‪Mengelola lahan minapadi memang tidak murah, terutama pada awal pembuatan. Sebab sisi lahan harus diperdalam untuk penampungan air yang lebih banyak, sehingga ikan dapat hidup.‬

‪“Modal besar di awal akan memunculkan banyak keuntungan pada masa tanam selanjutnya. Selain mengurangi penggunaan pupuk kimia dan serangan hama, jumlah hasil panen padi di lahan minapadi selalu lebih tinggi di banding lahan biasanya,” kata Sri Purnomo.‬

‪Sedangkan pada sisi lain, hasil panen ikan dari lahan minapadi dapat menjadi sumber pemasukan baru bagi petani.‬

‪“Oleh karena itu petani minapadi harus melanjutkan pertanian minapadi di masa-masa berikutnya,” katanya.‬

Sebagai contoh seperti diungkapkan ‪Ketua Kelompok Tani Mina Rukun Kuton, Tegaltirto, Kecamatan Berbah Edi Sutanto pekan lalu, untuk modal awal pengelolaan minapadi kelompoknya terbilang mahal, yakni Rp 93,84 juta. Kelompoknya masih tetap diuntungkan, sebab bibit ikan sebanyak 1,2 kuintal diprediksi dapat menghasilkan tujuh kuintal ikan saat panen.‬

‪“Dari hasil panen ikan kami memperkirakan akan dapat keuntungan Rp116 juta. Karena harga satu kilo ikan nila sekitar Rp23 ribu,” katanya.‬

‪Belum lagi ditambah hasil panen padi yang meningkat menjadi 6,8 ton per hektare, dari sebelumnya hanya 6,5 ton per hektare.‬

‪“Sehingga jika dikalkulasikan petani akan memperoleh laba sekitar Rp 52 juta dari hasil minapadi,” katanya.‬

‪Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman, Ir Widi Sutikno MSi mengatakan, saat ini budi daya minapadi telah dilakukan di beberapa kecamatan seperti Seyegan, Godean, dan Berbah.‬




Asuransi Usaha Tani Belum Direspon Petani

Sleman – Asuransi Usaha Tani di Kabupaten Sleman belum banyak mendapat tanggapan dari para petani, terkait sangat singkatnya waktu sosialisasi serta  masih terbatasnya pemahaman petani akan program asuransi.‬

‪Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Ir Widi Sutikno MSi mengatakan, dari alokasi asuransi lahan pertanian di DIY seluas 20 ribu hektar, di Kabupaten Sleman mampu mencapai luasan asuransi hampir 400 hektar khusus untuk  musim tanam padi Oktober hingga Maret.‬

‪Kendati jumlah tersebut belum menggembirakan, namun merupakan lahan terluas usaha tani yang  diasuransikan di Provinsi DIY.‬

‪”Kenapa tidak terserap dengan baik karena waktunya sangat mepet dan itu digunakan untuk tanaman bulan Oktober hingga Maret, sedangkan programnya baru dimunculkan pertengahan Oktober,” jelas Widi Sutikno, Kamis (14/1).

‪Menurut Widi Sutikno, selain mepetnya waktu sosialisasi juga termasuk adanya ketentuan klaim gagal panen baru dapat dibayarkan jika kerusakan lahan padi mencapai 75 persen. Karena itu meski pemerintah menanggung biaya asuransi hingga 80 persen dari jumlah pertanggungan Rp 180 ribu, para petani tetap merasa berat, padahal untuk lahan padi satu hektar petani tinggal membayar biaya pertanggungan Rp 30 ribu.‬

‪”Untuk kriteria gagal panen usaha pertanian padi, bisa diakibatkan serangan hama mulai hama wereng, walang sangit atau serangan hama tikus,” papar Widi.




Musim Kemarau, Petani Dihimbau Tak Tanam Padi

Sleman – Pada musim kemarau seperti sekarang ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tidak merekomendasikan para petani di Sleman untuk menanam padi, namun petani dihimbau untuk menanam palawija. Selain karena sulitnya air irigasi, menanam palawija juga bisa untuk mengganti tanaman agar tanahnya lebih baik dan memutuskan hama.

“Debit air saluran irigasi pada musim kemarau memang terus menurun, bahkan lima sungai besar di Sleman dalam kondisi kering di hulunya. Karena itu puluhan pompa air disediakan untuk memberikan daya dukung irigasi pertanian,” kata Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman, Edy Sriharmanto di Sleman, Kamis (6/8).

Karena itu lanjut Edy pihaknya menghimbau para petani di Sleman mengerti kondisi alam ini dan tidak memaksakan menanam padi dimusim kemarau saat ini. Jika lahan pertanian memungkinkan untuk ditanami padi karena ketersediaan air, hal itu harus sudah diatur oleh tiap kelompok tani untuk bergantian menggunakan air.

Sehingga lanjut Edy sudah ada persetujuan antar kelompok tani dalam penggunaan air irigasi. Misalnya tahun lalu kelompok A sudah menanam padi maka tahun ini menanam palawija, gantian kelompok lain yang menanam.

Ditambahkan Edy masih banyak wilayah di Sleman yang tetap menanam padi di musim kemarau, seperti sebagian wilayah Kecamatan Berbah, Prambanan, Gamping, Mlati, Moyudan, Minggir dan Seyegan.

Tahun 2015 ini dikatakan Edy melalui koordinasi dengan dinas terkait, telah memberikan bantuan sekitar 30 pompa air portabel melalui kelompok tani di wilayah Sleman. Pompa tersebut bisa dipinjam sewaktu-waktu oleh para petani jika membutuhkan, terutama untuk mengangkat air dari sungai menuju permukaan atau lahan pertanian.

“Peminjaman dikoordinir oleh kelompok tani, dan poma bisa dipinjam secara gratis. Tapi mungkin ada beberapa kelompok tani yang misalnya sesuai kesepakatan ada biaya operasional untuk bahan bakar pompa,” tuturnya.

Musim kemarau in juga sudah ada beberapa lahan pertanian di Sleman yang mengalami kekeringan. Dan diperkirakan jumlah lahan pertanian yang mengalami kekeringan bisa bertambah sebab musim kemarau diperkirakan hingga November 2015 mendatang.




Petani Minta Distribusi Pupuk Diperhatikan

Sleman – Menjelang musim tanam kedua tahun ini, petani di Sleman minta agar distribusi pupuk tidak bermasalah. Petani mendesak pemerintah memperhatikan distribusi pupuk secara tepat dan tidak terlambat. Hal tersebut diungkapkan anggota FPKB DPRD Sleman H Wawan Prasetia kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (11/5), usai acara penyerapan aspirasi warga di tiga kecamatan. Di antaranya di Dusun Balong Mantaran Trimulyo Sleman, Dusun Kadirojo Margorejo Tempel dan Dusun Knaruhan Donokerto Turi.

Menurut Wawan, pada musim tanam pertama kemarin para petani di daerah tersebut sempat mengalami kesulitan mendapatkan pupuk. Tak mau pengalaman serupa terulang di musim tanam kedua ini, petani mendesak Pemkab Sleman agar memperhatikan soal distribusi pupuk tersebut.

“Permintaan petani cukup sederhana yakni tak ada keterlambatan pengadaan pupuk. Distribusi pupuk harus tepat agar induk padi saat musim tanam tidak mengalami keterlambatan pemupukan. Harapannya bisa menghasilkan panen yang maksimal,” kata Wawan.

Selain menyoroti soal pupuk, petani juga berharap ada bantuan alat pembajak sawah. Mengingat saat musim tanam tiba, petani kesulitan untuk menyewa traktor.

“Kalau pun harus menyewa, biaya sewanya mahal,” tambah Wawan.***




Petani Wajib Terapkan Pola Jajar Legowo

TanamSleman – Guna mendukung Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT), Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman mewajibkan semua petani menerapkan pola tanam padi ‘Jajar Legowo’. Hal ini sebagai upaya mendukung swasembada pangan nasional yang tengah digalakkan pemerintah pusat.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura DPPK Sleman, Eddy Sri Harmanta mengatakan pola tanam itu hanya untuk petani yang menerima bantuan sosial (bansos) sarana produksi dan biaya tanam GPPTT padi seluas hektar di Kecamatan Kalasan, Prambanan dan Berbah.

Dijelaskan, jajar legowo ialah pola tanam dengan jarak tanam 2-1 atau 3-1 atau bisa juga 4-1. Jika pola 2-1, jarak bibit padi satu dengan satunya 20 cm dan selanjutnya ada jeda 40 cm.

“Jarak 40 cm itulah yang dinamakan legowo atau diperlebar. Keunggulannya antara lain populasi tanaman, ruang sirkulasi udara dan pencahayaan jadi lebih banyak sehingga tanaman menjadi lebih baik. Tak hanya itu, hama penyakit juga dapat mudah terkendali,” jelas Eddy.