PMI Tanggap Bencana Erupsi Merapi

Ngemplak – Minggu (3/6) pukul WIB, PMI Kecamatan Ngemplak mendapat kunjungan dari pengurus PMI DIY yang dipimpin langsung oleh Ketua PMI DIY yaitu Gusti Bendoro Pangeran Hariyo Prabukusumo dan 4 pengurus yang didampingi pengurus PMI Kabupaten Sleman. Adapun pengurus PMI Sleman yang mendampingi antara lain Sunartono selaku Ketua, Sarijan sebagai Sekretaris, Trijoko Saptono dan Untung selaku Kepala Markas.

Kunjungan diterima oleh Sugeng Raharjo selaku Ketua PMI Kecamatan Ngemplak dan pengurus lainnya sebanyak 7 orang dan anggota TSR Kecamatan Ngemplak sebanyak 32 personel.

Dalam kesempatan itu, hadir pula perwakilan dari Muspika Kecamatan Ngemplak dan Kepala Desa Sindumartani, Midiono,

Ketua PMI DIY dalam kunjungan ini berpesan agar sebagai petugas PMI harus tanggap di segala bidang terutama ketika Gunung Merapi ada aktivitas erupsi.

“Sewaktu-waktu ada kejadian yang perlu penanganan lebih serius yaitu penyelamatan masyarakat atau evakuasi, semua diawali dari Markas PMI Kabupaten Sleman, Kecamatan Pakem, Desa Pakembinangun,” tutur Hariyo.

Sementara itu, Ketua PMI Kecamatan Ngemplak melaporkan bahwa telah melakukan beberapa kegiatan terkait erupsi Gunung Merapi, yakni membuka piket Posko di Balai Desa Widodomartani sejak erupsi Merapi bulan Mei lalu dan melengkapi identitas PMI Kecamatan Ngemplak dengan menyiapkan rompi, topi, kaos, jaket, pun melengkapi ketersediaan obat-obatan.

“Semuanya menghabiskan dana Rp ,00,” beber Sugeng.

Dalam kesempatan ini, Ketua PMI DIY juga berkenan memberikan bantuan berupa 7 setel rompi merah untuk pengurus kecamatan dan bingkisan untuk Posko PMI. (Sugeng Raharjo)




PMI Targetkan 1,2 Persen Penduduk Sleman Jadi Pendonor Tetap

Sleman – Kalangan pegawai institusi pemerintah dan perusahaan besar diincar pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Sleman untuk menjadi pendonor tetap. Hal itu diharapkan bisa mendorong tercapainya target jumlah pendonor tetap sebanyak 1,2 persen dari jumlah penduduk Sleman.

Ketua PMI Sleman, dr Sunartono MKes mengakui target tersebut belum bisa dicapai. Jumlah pendonor tetap di Sleman saat ini baru mencapai 0,8 persen dari jumlah penduduk Sleman yang sebanyak 1,1 juta penduduk.‬

‪Oleh karena itu, pihaknya merasa perlu menggandeng pihak-pihak dari institusi pemerintahan maupun perusahaan swasta yang statusnya sudah settle (mapan) untuk menggalang kegiatan ke-palangmerah-an di masyarakat. Di antaranya para anggota Polri, TNI, pegawai negeri sipil, dan lainnya.

“Contohnya, sewaktu mereka menggelar event, akan lebih baik bila ada kegiatan donor darah. Ini di antaranya yang terus kami gencarkan. Kami terus melakukan promosi dan pendekatan supaya kesadaran masyarakat untuk menjadi pendonor terus meningkat,” kata Sunartono, Minggu (14/8).

Sunartono juga berharap, dengan menggandeng masyarakat secara lebih luas lagi sebagai pendonor, target jumlah pendonor tetap itu bisa tercapai. Selanjutnya, pemenuhan jumlah stok darah harian yang ada di Sleman juga bisa terjamin.

Rata-rata permintaan darah secara bulanan di Sleman saat ini disebutnya mencapai 800-1000 kantong darah. Dari permintaan tersebut, tidak semua golongan darah bisa dipenuhi karena sifatnya yang langka. Untuk mengatasinya, sambungnya, PMI Sleman terkadang bekerjasama dengan unit pelayanan lain untuk meminta stok yang dibutuhkan.

“Stok darah Sleman sekarang ini masih relatif aman. Jejaring pun sudah mulai lancar. Bila satu wilayah kekurangan, bisa ambil wilayah lain,” jelasnya.