Tour de Prambanan, Kenalkan Spot Wisata Sembari Balap Sepeda

Sleman – Dinas   Pariwisata    Kabupaten Sleman bekerjasama dengan komunitas sepeda balap yang dimotori oleh Lovina Tour and Travel siap menggelar Tour de Prambanan (TOP) 2017 pada Minggu (29/10). Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih menyampaikan bahwa penyelenggaraan Tour de Prambanan  dengan menempuh jarak 100 km adalah pertama kalinya.    

Sebelumnya, pada tahun 2017 ini Sleman telah mengadakan beberapa event sport tourism, yakni kegiatan  wisata yang dipadukan dengan keglatan olahraga,  atau berolahraga  sambil berwisata atau sebaliknya. Tour de Prambanan ini dinilai Sudarningsih adalah salah satu sport tourism sebab para wisatawan dapat berwisata sambil mengikuti event balap sepeda atau dapat berwisata sambil menonton balap sepeda Tour de Prambanan.

Start event ini, disampaikan Sudarningsih akan mengambil tempat di Lapangan Siwa Candi Prambanan dan finish di Lapangan Selatan Kompleks Candi Prambanan. “100 km ini nantinya akan mengelilingi 12 kecamatan di Sleman dengan 2 pitstop,” terang Sudarningsih.

Selain balap sepeda 100 km, event ini juga akan dimeriahkan dengan balap sepeda 10 km untuk memilih king and queen of the mountain. Ratih selaku EO dari Lovina Tour and Travel menuturkan bahwa tidak harus semua pendaftar Tour de Prambanan mengikuti pemilihan king and queen of the mountain ini melainkan hanya mereka yang bersedia saja. Para peserta yang bersedia ini nantinya akan start dari Balai Desa Kepuharjo dan finish di Gua Jepang. Rute ini memiliki kesulitan tersendiri karena marupakan daerah menanjak dengan ketinggian hingga 950 mdpl dan kemiringan 22 derajat.

Sejak pendaftaran dibuka secara resmi pada bulan Agustus 2017 lalu, tercatat sudah ada 340 pendaftar dari target 500 peserta. “Kategori lomba ada umum putra putri, atlet putra putri, TNI Polri putra putri, kelas di bawah umur 31 tahun, kelas umur 31-45 tahun, dan kelas di atas umur 46 tahun. Mereka bakal ikut berlomba di event yang berhadiah total senilai 30 juta rupiah,” jelas Sudarningsih.

Sudarningsih berharap event ini akan menjadi sebuah promosi   bagi spot-spot menarik yang dilalui oleh para peserta maupun penonton. Selain itu, harapannya tentu akan bermunculan klub bersepeda di Sleman, baik berupa klub yang menekuni balap sepeda, fun bike, maupun mountain bike. “Diharapkan jumlah mereka terus bertambah seiring dengan munculnya berbagai event sepeda,” ungkap Sudarningsih.

Bagi yang berminat mendaftar bisa kunjungi laman berikut.




Hujan Deras Akibatkan Longsor Di Prambanan

IMG-20161129-WA0007 (1)Sleman – Hujan deras yang mengguyur wilayah perbukitan  Kecamatan Prambanan pada hari Senin (28/11) sore mengakibatkan tebing perbukitan longsor disejumlah titik di wilayah Desa Wukirharjo dan Gayamharjo.

“Ada 18 titik yang terjadi longsor di Desa Gayamharjo Prambanan dan mengakibatkan 11 rumah warga terkena dampak longsor tersebut,” kata Makwan, Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Sleman, Selasa (29/11).

Menurut Makwan, tebing longsor di  18 dusun di Gayamharjo tersebut mengakibatkan rumah 11 warga rusak dan juga mengakibatkan menutup jalan Kabupaten dan jalan kampung.

Adapun rumah yang terdampak longsor tersebut adalah milik Hardi Jiman (warga dusun Lemahbang), Wagimin (Klumprit 1), Witodimejo (Candisari), Wagiran (Losari), Parman (Pakel), Sagimin (Dayakan), Lasiyo (Kalingongko Kidul), Wagiman (Kalinongko Kidul), Arjo Sugito (Kalinongko Lor), Yatno Miharjo (Kalinongko Lor) dan Adirejo (Kalinongko Kidul).

Sementara longsor yang mengakibatkan akses jalan kabupaten tertutup terjadi di dusun Kalinongko Lor, longsor di dusun Jali mengakibatkan akses jalan kampung tertutup. Selain itu ada longsong yang menutup badan jalan dan menutup jalan di dusun yaotu di Jalan Wukirharjo dan Kalinongko Lor.

Dikatakan Makwan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini dan warga juga tidak ada yang diungsikan. Pada Selasa (29/11) pagi masyarakat dibantu relawan dan aparat di Prambanan melakukan gotong royong membersihkan tanah longsor yang menutup jalan.

“Karena diperkirakan intensitas hujan masih tinggi masyarakat yang tinggal di perbukitan Prambanan diminta terus meningkatkan kewaspadaannya bila terjadi hujan deras dalam waktu yang cukup lama,” kata Makwan.

Ditambahkan Makwan, dalam mengantisipasi longsor di Prambanan ini Pemerintah Kabupaten sudah melakukan beberapa tindakan dengan memasang sedikitnya 30 Early Warning Sitem (EWS) di sejumlah titik. Selain itu juga telah melakukan mitigasi bencana pada masyarakat di Perbukitan Prambanan.

Diungkapkan Makwan, berdasarkan surat dari BMKG DIY kondisi dinamika atmosfir laut beberapa hari ke depan meliputi peningkatan suhu permukaan laut diperairan Selatan Jawa 1-2 derajat Celcius dari kondisi normalnya. Kandungan uap air diatan wilayah Jogja relatif lembab, adanya belokan dan pertemuan angin disekitar pulau Jawa akibat munculnya pusat tekanan rendah disekitar ekuator Indonesia.

Kondisi tersebut dijelaskan Makwan dapat menyebabkan peningkatan potensi hujan lebat di wilayah DIY dengan curah hujan diatas 50 mm/hari disertai petir dan angin kencang dan dapat berpotensi menyebabkan terjadinya banjir dan tanah longsor.

Prediksi curah hujan 1 minggu ke depan 29 November hingga 5 Desember 2016, kategori tinggi dan berpotensi terjadi di Sleman (Turi, Pakem, Cangkringan, Tempel, Sleman, Ngaglik, Ngemplak, Kalasan, Depok, Berbah dan Prambanan.




Masyarakat di Perbukitan Prambanan Diminta Waspadai Longsor‬

Sleman – Masyarakat yang tinggal  di kawasan perbukitan Prambanan, Kabupaten Sleman dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman tanah longsor karena curah hujan yang mulai tinggi pada beberapa hari terakhir ini.‬

‪”Tercatat ada 289 Kepala Keluarga atau 867 jiwa tinggal di kawasan rawan longsor di kawasan perbukitan  Kecamatan Prambanan. Karena itu kami menghimbau masyarakat setempat untuk mengintensifkan ‘jaga warga’ saat malam hari dengan tingginya curah hujan beberapa hari terakhir ini,” kata Camat Prambanan, Drs Abu Bakar, Kamis (29/9).

‪Menurut Abu Bakar, jumlah jiwa yang berada di daerah bahaya tersebut tersebar di beberapa dusun, yakni Dusun Gayam, Watugudeg, Kalinongko Kidul, Lemahbang, Klumprit 1 dan Klumprit 2, Watukangsi, Kikis, Gedang, Pereng, Sengir, Gamparan, Dayakan, Dawung, Sembir, dan Nglengko.‬

‪Curah hujan tinggi ketika malam hari, beberapa hari belakangan ini. Ancaman tanah longsor dirasa lebih berisiko dibandingkan siang hari.‬ ‪Untuk itu Abu Bakar meminta  masyarakat  terus melakukan kesiapsiagaannya, serta mengintensifkan “jagawarga”, dan melakukan pemantauan di titik-titik rawan longsor.‬

Ketika ada potensi ancaman, mereka pun akan melakukan koordinasi memberikan peringatan kepada warga. Selain itu juga komunitas relawan setempat, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) telah siaga. ‬

‪”FPRB Bandung Bondowoso siap siaga terus memantau setiap perkembangan, terutama saat turun hujan deras,” kata Abu Bakar.‬

‪Abu Bakar menambahkan, ketika nantinya ada bencana, kegiatan evakuasi juga sudah ada prosedurnya. Mereka yang terkena dampak akan diungsikan terlebih dahulu di lokasi aman, balai desa, atau sekolah terdekat.‬

‪”Bencana longsor memang menjadi ancaman tahunan di Kecamatan Prambanan. Hampir setiap tahunnya selalu terjadi, karena letak geografisnya lebih banyak perbukitan,” tutur Abu Bakar.‬

Sementara ‪Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Makwan mengatakan curah hujan akhir-akhir ini dirasa cukup tinggi.‬

‪”Sampai saat ini masih nihil kejadian. Alat peringatan dini, telah diaktifkan di Prambanan untuk memberikan fasilitas kepada masyarakat akan ancaman bencana longsor. Bencana longsor tetap kami waspadai. Semua bencana, ancamannya sama,” kata Makwan.‬




Sleman Temple Run Menyusuri Tebing Breksi Prambanan

Pj Sekda Berikan Hadiah Sleman Temple RunSleman – Sleman Temple Run dilangsungkan Minggu (28/8) pagi. Lomba lari yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman ini menarik karena menggabungkan olahraga dengan wisata sekaligus dan berhadiah total jutaan rupiah. Sejak pagi buta peserta dari berbagai daerah sudah berdatangan ke lokasi start di kawasan wisata Tebing Breksi, Prambanan.

Plt Sekda Sleman, Drs Iswoyo Hadiwarno sebelum lomba dimulai mengatakan bahwa Sleman memiliki beberapa candi yang letaknya berdekatan. Karena itu even ini sekaligus menggabungkan olahraga dengan wisata dan sepanjang trek pelari akan melintasi kawasan Candi Barong, Candi Ijo dan Kraton Ratu Boko.

Sleman Temple Run diikuti hampir 600 pelari, beberapa di antaranya adalah pelari dari luar kota seperti Magelang dan Kudus serta tampak beberapa pelari yang merupakan wisatawan asing dari Belanda dan Jerman.

Mengambil start dan finish di kawasan wisata Tebing Breksi, segera setelah  Iswoyo Hadiwarno mengibarkan bendera start ratusan pelari tersebut segera menghambur mengitari Tebing Breksi untuk seterusnya melahap trek yang ditentukan.

Trek sejauh 8 kilometer ini juga sangat menantang karena dipenuhi tanjakan dan turunan di areal perbukitan. Dari kelompok pria tampil sebagai juara pertama adalah Nugroho dengan waktu kurang dari 1 jam disusul oleh Risqi (kedua) dan Wahyu Gunawan (ketiga).

Sedangkan dari kelompok putri tampil sebagai juara pertama adalah Iriyanti diikuti oleh Miftahul Janah (kedua) dan Linda Noviana (ketiga) Semua pemenang berhak mendapatkan medali, tropi, dan hadiah uang tunai Rp 1 juta untuk kategori pertama. Sedangkan untuk kategori kedua adalah yang masuk peringkat 20 besar berhak mendapatkan Rp 500 ribu.




Masyarakat Perbukitan Prambanan Dibekali Mitigasi Bencana Longsor‬

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Kabupaten Sleman terus membekali masyarakat di kawasan perbukitan Kecamatan Prambanan dengan kemampuan dalam mitigasi bencana tanah longsor.‬

‪”Sejumlah titik di kawasan perbukitan Prambanan berpotensi terjadi bencana longsor, terutama di Desa Madurejo, Desa Wukirharjo dan Desa Sumberharjo. Ketiga lokasi yang berbukit-bukit tersebut rawan terjadinya longsor,” kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman,  Ir Kunto Riyadi, kemarin.

‪Menurut Kunto, melihat besarnya dampak yang ditimbulkan dari bencana tanah longsor, masyarakat dituntut untuk memiliki pengetahuan dalam melakukan mitigasi bencana terutama bencana tanah longsor, bagi warga Desa yang rawan bencana tanah longsor.

‪”Pengenalan mitigasi bencana ini kami lakukan melalui gladi lapangan penanggulangan bencana longsor di tiga Desa di Kecamatan Prambanan tersebut.

Dalam waktu satu minggu lalu telah dilakukan gladi lapang penanggulangan bencana longsor di desa Wukirharjo, Madurejo dan Sumberharjo.

“Gladi lapang merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan kesiapsiagaan. Dengan kegiatan ini, diharapkan jatuhnya korban jiwa dapat diantisipasi. Masyarakat telah maengetahui tindakan apa yang harus dilakukan pada saat kondisi darurat,” kata Kunto.‬

‪Ia mengatakan, dengan bekal yang sudah dimiliki seluruh warga masyarakat tidak akan panik bila terjadi bencana.‬

‪”Saat bencana terjadi, masyarakat sudah mengetahui kemana harus menyelamatkan diri. Apalagi sejumlah titik di kawasan Pramaban memang memiliki potensi longsor cukup besar,” katanya.‬

‪Kunto mengatakan, tidak hanya masyarakat dan BPBD, penanganan bencana juga melibatkan instasi seperti kepolisian. Sebab dalam situasi yang hiruk pikuk kerap kali dijadikan sasaran pencurian.‬

‪”Selain pemerintah yang bertanggung jawab dalam penanganan bencana, mesyarakat desa juga punya kapasitas dalam membantu menanggulangi bencana,” katanya.‬

‪Ia mengatakan, gladi lapang menjadi momen startegis bagi masyarakat Sleman untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat, terkait bencana longsor.‬

‪”Di kawasan rawan bencana, masyarakat harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa,” tambah Kunto.

Sementara gladi lapang yang berlangsung di Desa Sumberhajo Prambanan, Jumat (5/8) lalu menggambarkan bencana tanah longsor yang terjadi di lereng bukit Desa Sumberharjo mengakibatkan beberpa orang mengalami luka berat dan ringan, bahkan satu orang yang mengalami patah tulang kaki dan harus dirujuk ke RSUD Prambanan.

Kejadian tersebut akibat hujan yang terus menerus mengguyur Desa Sumberharjo Prambanan Jumat (5/8). Atas kejadian tersebut beberapa orang terpaksa diungsikan ke Barak pengungsian desa setempat yang jaraknya memaang tidak terlalu jauh hanya disekitar Rumah Dome.

Namun demikian karena jalan menuju titik lokasi longsor   hanya jalan setapak mengakibatkan evakuasi mengalami kelambataan meskipun sudah menurunkan beberapa armada baik dari RSUD Prambanan, Puskesmas Prambanan, BPBD Sleman dan relawan.

Setelah semua berhasil dievakuasi berdasarkan data korban luka berat baik berupa patah kaki , patah tulang  sebanyak 5 orang, luka ringan 7 orang semuanya sudah mendapat penanganan oleh tim kesehatan. Para korban tersebut diakibatkan terkena tanah longsong tertimbun bebatuan dan tanah. Dan ada yang tertimpa pohon tumbang. Sementara rumah yang kena pohon tumbang sebanyak 5 rumah dengan kondisi rusak sedang dan ringan.

Disamping itu ditengah hiruk pikuknya masyarakat yang menyelamatkan diri masih saja dijumpai  penjahat yang memanfaatkan situasi untuk mencuri, namun berkat kesigapan aparat dan masyarakat pencuri tersebut berhasil ditangkap dan dibawa ke Polsek Prambanan untuk diproses lebih lanjut.

Hadir pada kesempatan tersebut Kepala pelaksana BPBD DIY Drs Krido Suprayitno SE MSiMuspika kecamatan Prambanan dan masyarakat setempat.