Warga Desa Wukirsari Sleman Kelola Distribusi Raskin Secara Mandiri

Sleman – Kepala Bulog Divisi Regional Jogja, Sugit Tedjo Mulyono  memantau langsung distribusi beras miskin (raskin)di Balai Desa Wukirsari Cangkringan Kabupaten Sleman, Rabu. (24/2). Di desa tersebut, rumah tangga sasaran penerima raskin mencapai lebih dari seribu kepala keluarga, dengan total beras yang dialokasikan lebih dari 15 ribu kilogram.

Di sela kegiatan pemantauan, Sugit mengapresiasi upaya masyarakat sekitar yang mampu mengelola distribusi raskin secara mandiri dengan membentuk kelompok, bahkan pola tersebut merupakan satu-satunya di DIY.

”Ini ada namanya pokmas (kelompok masyarakat, red), satu-satunya di Jogja yang dikelola masyarakat, harusnya dilakukan aparat desa, disinilah masyarakat bisa komplain soal kualitas beras,” kata Sugit.

Selain itu lanjut Sugit, untuk menjaga kualitas beras sejahtera yang didistribusikan bagi rumah tangga sasaran, masa simpan beras di gudang paling lama empat bulan, sehingga ketika diterima masyarakat masih layak konsumsi.

”Tahun-tahun lalu masih ada kualitas beras bulog yang kurang baik, karena dulu waktu simpan beras di gudang sampai satu tahun, sekarang paling lama empat bulan,” terangnya.

Salah satu warga penerima manfaat bernama Sri Hartuti warga Dusun Sempon Wukirsari mengatakan, kualitas beras yang diterima saat ini sangat baik.

”Untuk akhir-akhir ini kualitas raskin bagus, kalau tahun-tahun sebelumnya warnanya kuning, tapi masih enak dikonsumsi jika mencucinya bersih,” kata dia.

Sementara itu, untuk distribusi raskin pada bulan Februari 2016, Bulog Divisi Regional Jogja mengalokasikan lebih dari 327 ribu kilogram beras, bagi 21 ribu lebih rumah tangga penerima sasaran se-DIY.




Raskin Bisa Ditukarkan Bila Tak Layak Konsumsi

Sleman – Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos) Kabupaten Sleman, Surono mengungkapkan masyarakat bisa menukarkan beras miskin (raskin) langsung pada saat pembagian jika memang menerima beras berkualitas buruk atau tak layak konsumsi. Hal itu juga sudah disepakati oleh Bulog. Oleh karena itu penerima raskin disarankan segera mengecek dan memastikan apakah beras yang diterima layak konsumsi atau tidak.

“Kalau kualitasnya memang kurang bagus, misalnya bau apek, warna beras tidak putih, atau ada kutunya, bisa langsung ditukar dengan beras baru. Warga tidak perlu khawatir karena itu memang sudah jadi kesepakatan bersama dengan Bulog,” kata Surono, Senin (9/3).

Menurut Surono, distribusi raskin di wilayah Kabupaten Sleman telah dilaksanakan mulai tanggal 23 Februari 2015 hingga 2 Maret 2015. Total penerimanya mencapai Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTSPM). Masing-masing RTSPM berhak atas 15 kilogram (kg) raskin seharga Rp per kg.

Surono mengaku belum menerima laporan warga yang mengeluhkan kualitas raskin yang dibagikan. Tetapi dulu pernah ada warga yang mendapat raskin dengan warna agak kecoklatan. Padahal seharusnya berwarna putih. Waktu itu ada sekitar dua sak beras yang langsung ditukar.