Sebagian Saluran Irigasi di Sleman mengalami Kerusakan

Sleman – Sebagian saluran irigasi di wilayah Kabupaten Sleman mengalami kerusakan. Tercatat panjang saluran irigasi yang mengalami kerusakan tersebut mencapai meter.‬

‪Menurut Kepala Dinas Sumber Daya Energi Air dan Mineral (SDEAM), Ir Sapto Winarno, di Kabupaten  panjang saluran irigasi keseluruhan nya mencapai sekitar meter yaitu berupa saluran primer, dan meter saluran sekunder. Dari total itu, hanya meter dalam kondisi baik, dan meter masuk kategori sedang.

“Saluran irigasi sepanjang meter atau enam kilometer lebih mengalami kerusakan,” kata Sapto, Minggu (25/9).‬

Dikatakan Sapto, keberadaan fasilitas irigasi tersebut sangat dibutuhkan masyarakat. Sepanjang 2015, lanjutnya, total lahan pertanian yang memanfaatkan saluran irigasi sebesar ,10 hektar. Ketersediaan air irigasi untuk pertanian tersebut baru mencakup 81,74 % dari total lahan pertanian.

“Jadi belum 100 persen lahan pertanian yang memanfaatkan saluran irigasi,” kata Sapto.‬

‪Berdasarkan Permen PUPR tentang kriteria dan penetapan status daerah irigasi, Pemkab Sleman berwenang mengelola 853 daerah irigasi dari total daerah irigasi yang berlokasi di Sleman. Ke daerah irigasi tersebut terdiri dari 955 bendung permanen di mana 415 di antaranya dalam kondisi baik sementara 540 lainnya rusak.

Selain itu ada  919 daerah irigasi terdiri dari bendung sederhana dan mata air yang dikelola Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman. Menanggapi kerusakan irigasi tersebut,  Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes mengatakan, Pemkab akan terus berupaya memperbaiki saluran irigasi yang rusak.

Menurutnya, fasilitas tersebut dinilai sangat vital karena ketersediaan air irigasi meski belum 100% sangat dibutuhkan oleh lahan pertanian. Oleh karena itu Sri Muslimatun  berharap agar masyarakat juga ikut terlibat menjaga saluran irigasi tersebut supaya bisa tetap berfungsi dengan baik.




9.722 Surat Suara Rusak Setelah Dilakukan Penyortiran

Sleman – Setelah dilakukan penyortiran surat suara selama 3 hari berturut-turut sedikitnya ada  surat suara dinyatakan rusak sehingga perlu diganti.

“Selama tiga hari kita melakukan penyortiran surat suara dan   Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman menemukan lembar surat suara yang mengalami kerusakan,” kata Komisioner KPU Sleman Divisi Logistik dan Keuangan, Aswino Wardana di Sleman, Jumat (27/11) .

Menurut Aswino, jumlah tersebut merupakan 10 persen dari total surat suara yang diterima KPU dari pihak ketiga. Dijelaskan Aswino bahwa dari total lembar surat suara yang dicetak, terdapat lembar surat suara yang salah pemotongan. Sedangkan lembar surat suara yang dianggap rusak lantaran foto pasangan calon terkena tinta, dan 818 lembar terdapat titik-titik pada foto pasangan calon.

“Karena adanya kerusakan surat suara untuk Pilkada 9 Desember mendatang, dari KPU sudah  meminta pihak ketiga untuk segera melakukan penggantian surat suara yang rusak tersebut,” tutur Aswino .




Jalan KRB II Merapi Dibiarkan Rusak

Sleman – Beberapa ruas jalan beraspal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) II Gunung Merapi di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman  kondisinya rusak parah akibat lalu lalang truk angkutan pasir, dibiarkan belum akan diperbaiki.

“Beberapa jalan memang kondisinya rusak parah, jalan yang sebelumnya beraspal saat ini sudah seperti jalan tanah. Namun kerusakan jalan itu sengaja dibiarkan, karena jika diperbaiki nantinya tidak akan bertahan lama, mengingat masih digunakan lalu-lalang truk penambangan pasir,” kata Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Kabupaten Sleman, Mirza Anfansury, di Sleman, Minggu (27/9).

Menurut Mirza, kondisi jalan yang rusak tersebut memang banyak dikeluhkan, terutama di sebelah timur Hunian Tetap (Huntap) Pagerjurang Desa Kepuharjo. Selain itu, beberapa jalur yang ada di Desa Glagaharjo dan Umbulharjo juga banyak yang rusak, katanya lagi.

Mirza menjelaskan, pada 2012 DPUP Kabupaten Sleman sempat memperbaiki kondisi jalan yang rusak akibat aktivitas penambangan pasir, namun jalan yang sudah mulus beraspal lagi tersebut juga tidak berusia lama.

“Pada tahun 2012 kami sempat melakukan perbaikan setelah jalan rusak parah akibat lalu-lintas truk pasir, namun pada 2013 jalan mulai rusak lagi karena digunakan untuk akses truk pengangkut pasir,” katanya pula.

Mirza mengatakan, pihaknya selama ini sudah menyarankan agar aktivitas truk pengangkut pasir tidak melewati jalur tersebut, namun saran tersebut tidak dilaksanakan.

“Kami sudah sarankan, tapi tetap saja dilewati. Sekarang pun masih, meski tak sebanyak dulu. Ya sudah, perbaikan jalan ditunda dulu. Kalau pun nantinya diperbaiki, hanya akan sia-sia saja, kami sampai kini belum akan melangkah. Tidak tahu pasti akan sampai kapan,” katanya lagi.

Selain itu, untuk melakukan perbaikan jalan di Kecamatan Cangkringan, sesuai prosedur harus diusulkan terlebih dahulu oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Kesepakatan ini sudah berlangsung setelah bencana erupsi Gunung Merapi 2010.

“Seluruh jalan di Cangkringan, kesepakatannya harus diusulkan oleh BPBD dulu jika akan melakukan perbaikan jalan,” katanya.

Kepala Desa Kepuharjo, Heri Suprapto mengatakan, jalan yang rusak tersebut dirasakan cukup penting karena selain untuk akses warga Sleman, juga merupakan jalur alternatif dari Klaten.

“Jalan tersebut juga digunakan untuk akses transportasi siswa sekolah. Kerusakannya sekitar empat kilometer,” katanya pula.




45 Persen Pasar Tradisional Rusak

Sleman – Sekitar 45 persen pasar tradisional di Kabupaten Sleman mengalami rusak. Hal itu dikarenakan faktor usia sehingga kebanyakan kerusakan terjadi pada atap. Secara bertahap, Dinas Pasar Sleman melakukan renovasi pasar yang rusak.

Kepala Dinas Pasar Dra Tri Endah Yitnani MSi mengatakan, total pasar di Sleman ada sekitar 40 pasar dengan kategori pasar besar 6, sedangkan sisanya pasar sedang dan kecil. Kondisi saat ini, sekitar 45 persen yang ada di Sleman mengalami rusak pada atap dan drainase.

“Tiga tahun lalu, pasar yang rusak justru 70 persen dari total pasar yang ada. Sekarang tinggal 45 persen yang rusak karena tiap tahun ada renovasi dan perawatan untuk pasar-pasar,” kata Endah, Kamis (26/2).

Adapun pasar kategori besar, yaitu Pasar Prambanan, Pasar Sleman, Pasar Gamping, Pasar Tempe, Pasar Godean dan Pasar Pakem. Pasar sedang diantaranya, Pasar Cebongan, Condongcatur, Sambilegi, Denggung, Gentan, Ngijon, Kebonagung, Minggir, Balangan dan lainnya. Sedangkan pasar kecil diantaranya, Tegalsari, Potrojayan, Gendol, Kemlongko dan lainnya.

Pasar yang rusak ini hanya dikategorikan rusak ringan karena hanya rusak pada atap dan saluran drainase. Kebanyakan pasar di Sleman dibangun pada tahun 1980 dan 1986 sehingga sudah selayaknya dilakukan renovasi.