Warga Sleman Sadar Nilai Ekonomis Sampah

Sleman – Masyarakat Kabupaten Sleman sudah mulai berubah dalam memperlakukan sampah di wilayahnya. Kalau dulu sampah hanya dipandang sebagai kotoran, tapi sekarang sudah dilihat sebagai barang yang bernilai ekonomis.

“Sekarang sudah ada perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat dari yang selama ini melihat sampah sebagai sesuatu yang tidak berharga menjadi seperti melihat uang,” kata Camat Kalasan Drs Samsul Bachri, di kantornya, Jumat (4/4).

Setidaknya di Kecamatan Kalasan telah memiliki 12 Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) mandiri. “Itu justru berawal dari kesadaran masyarakat. Pemerintah lalu memfasilitasi bantuan alatnya,” kata Samsul Bachri.

Katena itu, lanjut Samsul, keberadaan TPS 3R “Purwo Berhati” di Purwomartani Kalasan, yang baru dilaunching Bupati Sleman, Jumat (4/4) lalu, mampu menambah motivasi pengelolaan sampah secara mandiri.

 “Secara bertahap nantinya diharapkan setiap dukuh bisa memiliki pengelolaan sampahnya sendiri,” katanya.

TPS 3R “Purwo Berhati” mampu menampung sampah rumah tangga dari 600 kepala keluarga (KK). Bangunannya merupakan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum senilai Rp 275 juta.

Pengolahan sampah daun menjadi pupuk organik, nantinya bukan hanya dimanfaatkan warga sekitar, melainkan juga dipasarkan. Namun demikian pemasaran pupuk hasil olahan sampah ini baru dilakukan menunggu hasil uji laboratorium.