Syawalan Ajang Mempererat Tali Silaturahmi dan Saling Memaafkan

IMG_7534Sleman – Syawalan sudah menjadi tradisi keagamaan dikalangan masyarakat yang biasanya dilaksanakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Syawalan merupakan momen untuk saling memaafkan, bersilaturahmi, berbagi rizki, dan bertukar informasi.

“Permasalahan dalam berbangsa dan bernegara tidak lepas dari silaturahmi dan saling memaafkan antar sesama”, kata Kepala Dinas Hubkominfo Kabupaten Sleman, Drs. Agoes Soesilo Endiarto, dalam acara Syawalan di Aula Kantor Dinas Hubkominfo Sleman, Selasa (19/7).

Sedangkan pengisi ceramah, Drs. H. Thoyib Hidayat, MM menyampaikan keluarga sakinah pandai mensyukuri nikmat, berbakti kepada orang tua, segala amal ibadah diniatkan untuk mencari ridho Allat SWT, anak yang soleh, hidup harus ada perubahan, dan berpegang teguh atas nama agama dikutip dari Q.S Al Ahqaf ayat 15.

Syawalan tersebut mengangkat tema mempererat silahturami menciptakan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah dan dihadiri segenap pegawai Dinas Hubkominfo, Darma Wanita, dan Pensiunan. Selain itu, disampaikan pula tali asih kepada Staf Seksi Angkutan dan Terminal Bidang Sarana dan Prasarana Lalu Lintas Dishubkominfo, Suwito.




FKUB Berupaya Pihak Bersengketa Dapat Saling Memaafkan

Sleman – Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sleman, tengah merancang agar pihak yang berkonflik dapat saling memaafkan. Langkah tersebut dinilai lebih bagus dibandingkan harus ada pihak yang memaafkan dan dimaafkan.

Hal tersebut diungkapkan Ketua FKUB Suwarso kepada wartawan di Sleman, kemarin. Menurut Suwarso pasca kejadian yang terjadi di Sleman, dibutuhkan proses rehabilitasi. Terutama untuk menghilangkan rasa trauma. Pihak yang bersengketa akan ditemukan guna agar dapat berbicara dari hati ke hati untuk kepentingan yang lebih besar. Inti dari pertemuan tersebut diharapkan mereka dapat saling memaafkan. “Bukannya memaafkan dan dimaafkan,” kata Suwarso.
Suwarso juga mengharapkan peran serta dari pemerintah terkait hal ini. Sebab untuk rehabilitasi sosial juga dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Selama ini untuk kegiatan yang bersifat sosial cenderung kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, terutama dari segi pendanaan. Dalam beberapa tahun terakhir, alokasi anggaran lebih fokuskan untuk rehabilitasi pasca erupsi Gunung Merapi.
FKUB juga tengah berupaya mengajukan anggaran yang lebih besar di tahun 2015 nanti. Tahun lalu, FKUB hanya memberikan dana Rp 50-60 juta. Ditambah dari Kemenag Rp 25 juta dan itu tidak cukup untuk proses verifikasi tempat ibadah dan rehabilitasi sosial.
Minimnya anggaran untuk kegiatan sosial karena selama ini dinilai kurang penting. Berbeda dengan pembangunan fisik yang dapat langsung dilihat saat itu juga.
“Untuk kejadian yang terjadi di Sleman dalam beberapa waktu terakhir, kami tegaskan bukan konflik agama karena bersifat spontan. Kami juga menghimbau kepada semua masyarakat jika mau melakukan kegiatan keagamaan di tempat tinggal dapat berkoordinasi dengan tetangga sekitar guna menghindari kesalahpahaman,” jelasnya