Donokerto Terapkan Sistem Sedekah Sampah

Turi -Pemerintah Desa Donokerto dan Puskesmas Turi sangat peduli dengan permasalahan sampah rumah tangga karena itu Pemerintah Desa Donokerto sangat gencar mensosialisasikan cara pengelolaan sampah. Sosialisasi tentang pengelolaan sampah hasil kerjasama Puskesmas Turi dengan Pemerintah Desa Donokerto ini berlangsung, Selasa (31/10) di Dusun Turi Lor.

Sebagai narasuumber dalam sosialisasi tersebut, Suharman, penggiat lingkungan dari Wonosari Bangunkerto Turi, dan Kepala Dukuh setempat.

Di Desa Donokerto sendiri, sudah ada dusun yang mengelola sampanya dengan baik dan ada pula yang belum mengelolanya. Selain itu, ada yang mengelola dengan sistem sedekah sampah, yaitu pemuda di dusun tersebut mengambil dan mengelola sampah kemudian hasilnya untuk kegiatan pemuda.

Tak hanya itu, ada pula model bank sampah di mana sampah dipilah sendiri dan diantar sendiri ke pengumpul sampah di dusun setempat lalu hasilnya sebagian untuk pengurus sampah dan sebagian untuk pemilik sampah. Kegiatan ini telah berlangsung di Dusun Gabugan, Turi Lor, dan Perumahan Gamasri, yang semua padukuhan tersebut masuk di dalam Desa Donokerto.

Kegiatan ini melibatkan ibu-ibu setempat dan kader-kader kesehatan. Adapun kendala yang dihadapi, pemasaran hasil kerajinan dan pembuangan residu (sampah yang tidak terpakai-red).

Dalam program Desa Donokerto ke depannya akan membuatkan Tempat Penampungan Sampah (TPS) di tingkat RW dan akan membuat TPS yang besar untuk menampung sampah se-Desa Donokerto. (Harman)




Turi Ikuti Cara Atasi Sampah dengan 3R

Turi – Dalam rangka mengatasi sampah, Pemerintah Desa Donokerto menyelenggarakan Pelatihan Pengelolaan Sampah Mandiri pada Jumat (27/10) hingga Minggu (29/10) di Aula Desa Donokerto, Turi. Kegiatan ini dibuka oleh Basuki Kasihono, Perangkat Desa Donokerto mewakili Kepala Desa Donokerto, R. Jati Waluyo.

Adapun isi sambutannya, menjelaskan maksud dan tujuannya acara, macam-macam sampah, jenis sampah yang tidak dapat diolah, serta himbauan agar masyarakat betul-betul menangani sampah.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pelatihan yang menghadirkan Sri Martini dari Jejaring Pengolahan Sampah Mandiri (JPSM) Yogyakarta sebagai narasumber. Dalam penjelasannya Sri menerangkan secara detail tentang macam atau jenis sampah, lamanya sampah membusuk, sumber sampah, sistem pengolahan sampah, peran masyarakat dan swasta, serta cara mengatasi sampah.

Dalam mengatasi sampah dituturkan Sri perlu menggunakan cara 3R yaitu Reuse, Reduce, dan Recycle.  

Kegiatan ini diikuti oleh 2 orang dari masing-masing padukuhan. Jadi, jumlah peserta 32 orang, terdiri dari 21 orang laki-laki dan 11 orang perempuan.

Dalam pelatihan ini peserta juga belajar membuat kerajinan tas dari bahan limbah. (Suharno)




PKK Desa Sardonoharjo Ubah Sampah Jadi Kerajinan Tangan

Ngaglik – Ternyata ibu-ibu PKK Desa Sardonoharjo mempunyai bakat terpendam. Para ibu-ibu ini diberi pelatihan kerajinan tangan membuat bunga dari sampah yang sudah tidak ada gunanya.

Setelah mencari banyak informasi dan mengikuti pelatihan membuat bunga dari sampah ternyata ibu-ibu PKK Desa Sardonoharjo berhasil membuat vas bunga yang bagus dan enak dipandang mata.

Kepala Desa Sardonoharjo, Herjuno Wiwoho. SE menyambut baik atas prakarsa ibu-ibu PKK dalam pengembangan dirinya. Melalui pelatihan kerajinan ini, ibu-ibu PKK dapat meningkatkan nilai tambah, yang tadinya sampah tidak ada nilainya setelah diubah menjadi bunga yang cantik menawan dan menjadi berharga bahkan bernilai jual lebih.

Herjuno sangat bangga ibu-ibu PKK sangat senang dan mau menekuni pelatihan ini. Harapanya ke depan terus ditingkatkan inovasi dan kreativitas ibu-ibu PKK. Pemerintah Desa Sardonoharjo berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan yang punya dampak yang sangat positif ini. (Suripto)




KPSM Atras Triharjo Sleman Berhasil Kelola Sampah Secara Mandiri‬

Sleman – Berbicara soal sampah memang seolah tidak ada habisnya. Sampah dari hari ke hari semakin bertambah seiring pertambahan populasi penduduk, sementara tempat pembuangan sampah, pertumbuhannya stagnan. 

Melihat kondisi seperti ini, warga Dusun Temulawak, Triharjo Sleman memutuskan untuk mengelola sampah mereka secara mandiri. Dari sampah-sampah yang dipilah tersebut menghasilkan pupuk kompos dan barang daur ulang yang bisa di jual.‬ Sehingga sampah memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

‪Adalah Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) “Atras” Dusun Temulawak Triharjo Sleman. Sejak didirikan 2008 silam, keberadaan KPSM Atras masih tetap eksis hingga sekarang. Meskipun, pengelolanya selalu menyusut dari tahun ke tahun.‬

‪“Awalnya ada sepuluh orang pengelola, namun sekarang hanya tinggal enam orang,” kata Ketua BUMDes KPSM Atras, Sigit Purwanto ditemui di pengelolaan KPSM Mandiri, Jumat (29/7).‬

‪Mengelola sampah mandiri, memang bukan hal prestise. Hasilnya pun tidak sebesar yang diharapkan.  Menurut Sigit, penghasilan dari mengelola sampah bersih sekitar Rp 7 juta per bulan. Dari penghasilan tersebut masih harus digunakan untuk membantu pendidikan anak usia dini di Desa Triharjo.‬

‪“Dari hasil yang apa adanya ini kami tetap memberdayakan masyarakat,” kata Sigit.‬

Sigit menuturkan, awal pembentukan KPSM ini secara swadaya oleh masyarakat. Ketika itu, sampah diambil oleh Dinas Pekerjaan Umum Sleman. Namun lambat laun retribusi naik, sehingga pihak desa untuk mengelola sampah mandiri.‬

‪Sigit juga menjelaskan per minggu, kurang lebih 600 kilogram sampah dikelola dari sekitar kk di Triharjo. Setelah sampah-sampah ditampung, petugas akan memilah dan memilih sampah organik dan anorganik. Keberadaan sampah organik hanya 15 persen saja dari yang terkumpul.‬

‪“Dari sampah organik inilah nantinya menjadi kompos. Sementara sampah anorganik dijual kembali,” paparnya.‬

‪Dijelaskan, proses pengelolaan sampah untuk menjadi kompos memerlukan waktu sekitar 1,5 bulan. Sampah organik yang telah dipilah diletakkan di sebuat tempat berbentuk segitiga memanjang bernama open windro.

Alat tersebut berguna untuk mamatangkan sampah melalui proses alami, untuk kemudian sampah dicacah dan dipak.‬Setiap bulan, jelasnya, KPSM menghasilkan sekitar 200 kilogram kompos.‬

“Setiap kilogram Rp 500 kalau dipakai kelompok sendiri. Kalau dijual keluar bisa mencapai Rp 1000 perkilo,” tandasnya.

Sementara Kepala Desa Triharjo, Irawan mengatakan ‪keseluruhan ada sekitar KK yang sampahnya masuk ke KPSM Atras. Setelah limbah ditampung lalu dipilah antara yang organik dan anorganik.

Sampah organik kemudian diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan anorganik dijadikan barang kerajinan. Tiap bulan, KPSM ini bisa menghasilkan dua kuintal kompos. Produk pupuk itu dijual ke gapoktan dan kelompok tani dengan harga Rp per wadah ukuran lima kilogram.‬

‪Jika dikalkulasi, pendapatan dari penjualan pupuk rata-rata Rp 200 ribu per bulan, sedangkan rosokan Rp . Pengembangan kelompok tidak hanya mengandalkan pengolahan, tapi juga dari retribusi pengambilan sampah.‬ ‪

Masing-masing KK ditarik iuran Rp per berbagai pemasukan itu, BUMDes ini mampu meraup laba bersih bulanan Rp 7 juta. Sebagian dari keuntungan digunakan untuk membantu pendidikan anak usia dini di Desa Triharjo.‬

Tahun ini, pemerintah desa akan kembali membuka unit pengolahan sampah. Lokasi yang dipilih adalah Dusun Sucen. Anggaran Rp 675 juta bantuan dari pemerintah provinsi dan ADD telah disiapkan untuk membangun fasilitas tersebut.‬




Dinas Pasar “Gropyokan” Sampah di Pasar Godean‬

Sleman – Dinas Pasar Kabupaten Sleman bersama paguyuban pedagang melakukan “gropyokan” atau bersih-bersih kios di Pasar Godean, Kamis (14/4).‬‪”Dari kegiatan `gropyokan` sampah tersebut diketahui ternyata masih banyak pedagang yang kurang bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan sendiri dan masih cukup kotor,” kata Kepala Pembinaan dan Pengembangan Dinas Pasar Kabupaten Sleman, Haris Martapa, Jumat (15/4).‬

‪Menurut Haris, selain kotor, ada juga beberapa kios yang dari luar kelihatan bersih, namun di dalamnya setelah dibongkar ternyata dipenuhi sampah.‬ ‪Contohnya kios E4, dari depan kelihatan rapi tapi ternyata setelah dibongkar untuk dibersihkan, ada banyak sampah.‬

‪Petugas kebersihan dari Dinas Pasar dan Paguyuban Pasar Godean melakukan pembersihan itu sekitar pukul WIB. Mereka menyasar secara khusus yang dimungkinkan terdapat sampah dan butuh untuk dirapikan.‬

‪Salah satu los di Blok E4, misalnya, petugas mendapati sejumlah barang dagangan bekas yang tidak sempat dibuang pemiliknya. Petugas membersihkan sela-sela los terutama di sisi bawah yang dijadikan sarang tikus.‬

‪Bahkan ada sejumlah barang dagangan yang rusak karena binatang pengerat itu. Kotoran yang ada di lantai los tersebut juga disapu hingga bersih.‬ ‪Hanya di satu los milik pedagang saja petugas kebersihan mendapatkan sampah beberapa karung plastik.‬

‪”Masih ada beberapa kios pedagang yang terdapat sampah yang tidak dibersihkan. Dari keseluruhan kios diperkirakan sekitar 20 persen kios maupun los yang belum sepenuhnya bersih alias di dalamnya banyak sampah,” katanya.‬

Haris ‪mengatakan, pemilik kios seperti di Blok E4, akan diikutsertakan sekolah pasar yang dalam programnya selama 12 kali pertemuan. Dia akan diajari tata cara mengatur dagangan, penampilan diri sampai pada bertanggungjawab terhadap sampahnya.‬

‪”Selain itu, dari hasil pantauan, masih ditemukan banyak pedagang yang asal membuang sampah di sekitarnya meski sekecil apapun,” tutur Haris.‬

Haris menambahkan kegiatan kebersihan pasar tersebut sebenarnya sudah berjalan dikelola paguyuban. Tetapi, pihaknya sengaja turun langsung untuk meningkatkan efektifitas penataan pasar terutama agar bersih dari sampah.‬

‪”Pada awalnya pedagang, teman paguyuban turun membersihkan, karena sudah siang kami ambil alih untuk menyempurnakan. Pekan depan ke sini lagi. Kami upayakan pemberdayaan pedagang agar berpola pada standar kebersihan dan keteraturan, mulai dari diri pedagang masing-masing,” tuturnya.‬

‪Sementara Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Godean, Wawan mengakui jika aktifitas gotong royong membersihkan pasar tergolong jarang dilakukan. Karena kebersihan itu diserahkan ke pemilik kios masing-masing.‬

‪”Tetapi dalam praktiknya masih banyak pedagang yang tidak mengelola sampahnya dengan baik. Meski sudah ada petugas pemungut sampah yang datang ke tiap kios,” kata Wawan.‬

‪Wawan mengatakan, meski demikian, tidak sedikit pula pedagang yang sudah rapi menjaga tertib kebersihan.‬

‪”Dalam berbagai kesempatan maupun pertemuan pedagang, kami terus mengingatkan pedagang agar selalu menata dagangan dengan rapi sekaligus menjaga kebersihan,” katanya.‬

‪Menurut Wawan, khusus untuk pedagang yang berusia lanjut, memang butuh diberikan bantuan secara bersama untuk membersihkan kiosnya.‬

‪”Pedagang yang sudah tua karena fisiknya sudah tidak kuat, memang itu butuh untuk dibantu, seperti gropyokan saat ini kami bisa menyasar pedagang tersebut,” tambahnya.