Upacara Adat Saparan Bekakak Ambarketawang

Sleman – Warga Desa Ambarketawang menggelar upacara dan kirab pusaka adat dalam Saparan Bekakak di Lapangan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Jumat (27/11). Bekakak tersebut merupakan sesaji berbentuk boneka sepasang pengantin yang terbuat dari tepung dan berisi gula merah.
Ketua Panitia Saparan Bekakak, Frans Haryono menyampaikan upacara dan kirab pusaka adat setiap bulan sapar hari jumat. Sekarang ini Saparan Bekakak merupakan tradisi untuk menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara, tambahnya.
Pelaksanaan Upacara Saparan Bekakak terbagi menjadi beberapa tahap, seperti midodareni pengantin bekakak, kirab bekakak, penyembelihan bekakak, dan sugengan ageng. Midodareni pengantin bekakak merupakan prosesi pengambilan air suci Tirto Donojati dan kirab pengantin bekakak mengelilingi desa menuju ke Balai Desa Ambarketawang. Sesampainya di Balai Desa Ambarketawang warga menggelar tirakatan seperti halnya pesta pengantin. Pada malam tersebut tirakatan ditampilkan pentas wayang semalam suntuk.
Siang harinya setelah Shalat Jumat, warga menggelar kirab bekakak dari Balai Desa Ambarketawang menuju Gunung Gamping dan Gunung Kliling untuk prosesi penyembelihan pengantin bekakak. Kirab tidak hanya diikuti oleh warga Desa Ambarketawang saja, akan tetapi warga dari desa lain seperti bergada dari bantul juga turut meramaikan tradisi upacara saparan bekakak tersebut.
Dalam kirab Saparan Bekakak akan dijumpai sekelompok anak dan sepasang ogoh – ogoh berupa genderuwo dan banaspati dibelakang arak – arakan pengantin bekakak. Sekelompok anak menggambarkan anak genderuwo yang bersukaria dan bahagia karena mendapatkan korban berupa sepasang pengantin. Peran anak genderuwo merupakan tradisi turun temurun, jika orang tuanya dulu berperan sebagai anak genderuwo maka anaknya pun akan berperan menjadi anak genderuwo.