Kepedulian Penggiat Budaya pada Kelestarian Kebudayaan

Gamping – Jumat (8/6/2018) mulai pukul WIB Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menggelar Sarasehan Budaya di Savita Garden Inn. Sarasehan dihadiri oleh penggiat budaya se-Kabupaten Sleman termasuk pengurus kebudayaan Kecamatan Gamping. Narasumber kali ini yaitu Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Sleman (DKS) Tumaryadi dan anggota DKS Prof. Suwarno.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Aji Wulantara, yang sekaligus memberikan pesan bahwa sebagai insan penggiat kebudayaan harus peduli, membina, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan.

“Jika tidak di uri-uri pasti kebudayaan akan punah,” ungkap Aji.

Bahkan menurut Aji, saat ini budaya instanisme tengah berkembang di masyarakat serta sudah merambah di segala bidang termasuk bidang pendidikan.

“Masyarakat inginnya instan alias tidak mau berusaha, serta budaya tata krama sudah mulai luntur,” lanjut Aji.

Kemudian, Aji menyampaikan bahwa konsep kewilayahan kebudayaan kabupaten Sleman berdasar pada kiblat 4, 5 pancer yakni utara (Merapi sebagai sumber inspirasi), timur (Prambanan sebagai pusat budaya masa lampau), selatan (pesanggrahan Ambarketawang), barat merupakan simbol masyarakat pedesaan yaitu Kecamatan Seyegan dan Minggir, serta Pancer (Sleman kota, Kecamatan Depok dan Ngaglik sebagai historis).

Sarasehan diakhiri oleh paparan dari Prof. Suwarno mengenai tata nilai Kabupaten Sleman yang mencakup ketuhanan, kepemimpinan, kemasyarakatan serta kealaman. Di dalam kluster ketuhanan terdapat prasaja, welas asih, sembada, dan tembayatan. (Adnan Nurtjahjo)




SMAN I Turi Gelar Sarasehan Budaya

Sleman – Kepala Sekolah SMAN 1 Turi, Kristya Mintarja SPd MEd mengatakan, sarasehan budaya bertajuk ‘Menjadi pelajar berprestasi dan berkesadaran’ tersebut sebagai upaya untuk mendukung pencanangan sekolah berbasis budaya.

“Kegiatan seperti ini perlu dilakukan karena siswa dan seluruh civitas sekolah merupakan pilar utama yang cukup strategis bagi nilai-nilai peradaban. Untuk itu, kami ingin agar generasi muda ini diubah mental budayanya. Hingga menghasilkan generasi muda yang baik dan berkarakter,” kata Kristya di Sleman, kemarin.

Menurut Kristya dalam sarasehan yang digelas SMAN I Turi ini menghadirkan narasumber Wimbadi Jakaprasena, pemerhati budaya dan penulis yang juga sutradara film. Dalam kesempatan tersebut Wimbadi yang berbicara dihadapan pelajar SMAN I Turi, mengibaratkan pelajar sebagai perusahaan kecil yang harus dikelola dengan baik. Jika tidak dikontrol atau dikelola akibatnya bisa fatal dikemudian hari.

“Perusahaan kecil artinya diri kita sendiri. Sebagai contoh, jika kita menebar benih kebaikan, maka kita juga akan menuai kebaikan. Itulah hukum alam dan gravitasi,” kata Wimbadi.