Cintai Satwa Karena Satwa Punya Hak yang Sama

Gamping – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta menyelenggarakan Festival Satwa Hasil Penangkaran, Sabtu (4/11) pukul WIB di Pendopo Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Gamping.

Hadir dalam acara ini, Kepala Balai BKSDA Yogyakarta Ir. Junita Parjanti, Kepala Kantor PPPEJ diwakili Dr. Dwi Widiastuti, Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Kepala Desa Ambarketawang, Sumaryanto, Babinsa Ambarketawang, Sumardjo, dan perangkat desa.

Dalam sambutannya, Kepala BKSDA menyampaikan festival tahun ini mengangkat tema ‘Melaraskan Konservasi dan Budaya’. Masyarakat diharapkan senantiasa mencintai satwa dan lingkungannya, salah satunya Gelatik Jawa karena satwa juga mempunyai hak yang sama dengan makhluk lainnya.

Gelatik Jawa adalah burung monomorfik, artinya sulit dibedakan antara burung jantan dan burung betina. Meski bisa bersarang di berbagai jenis habitat, bukan berarti jumlah Gelatik Jawa di alam banyak. Kecantikan dan nyanyian merdu Gelatik Jawa membuat masyarakat banyak yang menangkap Gelatik Jawa menggunakan jaring dan pulut (perekat) yang dipasang di dekat tempat bertengger.

Melihat kondisi ini BKSDA terus melakukan berbagai upaya untuk mengurangi penangkapan terhadap Gelatik Jawa di alam. (Adnan Nurtjahjo)




Satwa Identitas Sleman Terancam Punah

Sleman – Keberadaan burung punglor terancam punah. Populasi satwa yang dijadikan identitas Kabupaten Sleman ini jumlahnya kian menyusut. Di sisi lain, upaya penangkaran yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bersama masyarakat belum juga membuahkan hasil.

“Karakter burung yang gampang mengalami stres menjadikan proses tangkar sering kali gagal. Kami sebenarnya sudah mendorong masyarakat untuk melakukan penangkaran. Tapi tidak mudah karena karakter punglor ternyata mudah stres,” kata Kabid Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman, Sugeng Riyanta di Pres Room Humas Sleman, Jumat (20/11).

Menurut Sugeng, dari hasil analisa, terus menurunnya populasi punglor kemungkinan dipengaruhi faktor habitat. Burung yang dikenal dengan sebutan anis merah ini paling cocok hidup di areal perkebunan salak varietas Jawa. Sementara sekarang ini, nyaris sudah tidak ada lahan yang ditanami salak Jawa. Kebanyakan, lahan perkebunan ditanami salak jenis pondoh.

Upaya mengembalikan habitat punglor di alam pernah dilakukan sekitar lima tahun lalu, dengan membuat demplot perkebunan salak di wilayah Kecamatan Pakem. Tapi usaha itu ternyata juga tidak berhasil. Kedepannya, BLH akan kembali mencoba melakukan penangkaran. Lokasi kandangnya telah disiapkan di sekitar Perumahan Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Sleman.

“Tapi rencana ini masih berskala kecil. Kami siapkan sepasang punglor untuk ditangkarkan oleh warga,” kata Sugeng.

Ironisnya, meski sudah ditetapkan sebagai fauna identitas daerah berdasar SK Bupati , punglor bukan merupakan hewan yang dilindungi. Pihak pemerintah daerah Sleman juga belum berencana mengusulkan ke pusat agar burung itu dijadikan satwa lindung.

Kasubag Tata Usaha Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogja, Edy Mintaryanto mengatakan, jika menetapkan suatu satwa menjadi identitas kabupaten, seharusnya pemda bersangkutan membuat aturan pelestarian dan perlindungan binatang tersebut. Agar hasilnya efektif, sebaiknya usulan menjadikan punglor sebagai satwa terancam punah diajukan ke pusat.

“Kalau peraturannya berlaku secara nasional, kami bisa menindak secara hukum jika ada pelanggaran. Tapi jika dibuat di tingkat Kabupaten atau desa, aturan hanya berlaku di daerah itu,” terang Edy.

Edy juga mengungkapkan, jual-beli satwa punglor selama ini marak di pasaran. Namun pihaknya tidak bisa mengambil tindakan karena burung itu bukan termasuk jenis yang dilindungi. Untuk menyelesaikan persoalan ini secepatnya harus ada langkah konkrit pelestarian satwa tersebut.




TNGM Edukasi Wisatawan Tidak Memberi Makan Satwa

Sleman – Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) terus mengedukasi dan mengimbau  pengunjung objek wisata Kaliurang, Kabupaten Sleman, untuk tidak memberikan makanan kepada satwa liar di wilayah hutan setempat.

“Dampak dari memberi makan satwa liar, terutama monyet akan menyebabkan kebiasaan hewan berubah,” kata Kepala Resort Pakem dan Turi TNGM, Teguh Wardoyo, Kamis (30/4).

Menurut dia, memberikan kesadaran kepada pengunjung tidak gampang, karena setiap membawa bekal dan melihat ada satu atau dua ekor monyet pasti akan memberikan makanan.

“Namun kami harus bisa mengingatkan dan mencegah wisatawan, agar tidak memberikan bekal makanannya ke satwa,” katanya.

Ia mengatakan, kebiasaan wisatawan tersebut sampai saat ini masih ada. Satwa, seperti monyet ekor panjang di sekitar kawasan Tlogo Putri pun lebih memilih meminta makanan mereka dibandingkan harus berburu di kawasan hutan.

“Padahal stok makanan untuk satwa yang ada di hutan sangat banyak. Untuk mencukupi kebutuhan mereka pun mampu,” katanya.

Teguh mengatakan, jika memang sudah dianggap melebihi batas, pihaknya akan memasang papan imbauan. Agar seluruh pengunjung bisa melihatnya dan menaati.

“Akan terlalu banyak papan imbauan kan juga tidak bagus. Nanti kalau sudah keterlaluan, baru akan kami pasangi,” katanya.

Ia mengatakan, perilaku monyet saat ini setiap melihat pengunjung yang membawa kantung plastik, saat ini pun tak jarang dikejar oleh monyet.

“Bukan ingin menyakiti wisatawan, tapi lebih tertarik pada makanan yang dibawa. Monyet saat ini sudah semakin membaur, mereka berani untuk mengejar pengunjung, meminta makanannya,” katanya.

Selama ini, kata dia, di kawasan objek wisata Kaliurang memang belum pernah ada laporan wisatawan yang disakiti atau diserang monyet. Dalam segi keamanan, pihak TNGM juga selalu memantaunya.

“Bahkan kadang ada satu atau dua pengunjung yang meminta untuk didampingi,” katanya.