Gali Tata Nilai Sleman dari Rangkuman Sejarah

Dinas Kebudayaan Sleman menyelenggarakan sarasehan bersama Profesor Suwarno untuk menggali tata nilai Kabupaten Sleman, Kamis (5/4) bertempat di Ruang Rapat Rukun Kompleks Kantor Dinas Kebudayaan Sleman.
Acara ini diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman bersama para tokoh, pelaku, dan pemerhati budaya di Kabupaten Sleman di antaranya ketua desa budaya dan pengurus acara adat seperti merti dusun dan acara adat lainnya.
Adapun tujuan sarasehan ini adalah untuk menggali tata nilai Kabupaten Sleman dengan mengumpulkan cerita atau sejarah dari berbagai sumber yang nantinya akan dirangkum dan ditulis menjadi sebuah buku sejarah. Dengan adanya dokumen yang dibukukan ini cerita ataupun sejarah yang ada di Kabupaten Sleman ini tidak hilang.
Adapun tata nilai budaya Kabupaten Sleman meliputi berbagai aspek, yakni:
- Ketuhanan yang meliputi aspek narimo ing pandum dan ngunduh wohing pakarti sumarah
- Kepemimpinan yang meliputi aspek prasaja, sembada, welas asih, waskita, waspada, wicaksono, mumpuni, adil, ngayomi, lembah manah/andap asor, tinarbuka, dan nanjing ajur ajer
- Kemasyarakatan meliputi aspek tanpa pamrih, tembayatan, lilo legowo, guyup rukun, gotong royong, setia, dan tepa salira
- Kealaman, meliputi aspek merti dan keseimbangan
Semua tata nilai budaya ini akan dicari dan dipadukan dengan cerita atau sejarah serta upacara adat yang sudah ada selama ini. Nantinya, semua cerita dan acara adat, seperti merti desa bisa dikelompokan dalam berbagai aspek tersebut. Contohnya, aspek Ketuhanan yang mempunyai nilai narimo ing pandum, uraiannya adalah menerima takdir dan pemberian Tuhan dengan ikhlas serta senantiasa bersyukur atas rahmad dari Tuhan.
Selain itu, bersumber dari ajaran Ki Ageng Wonolelo pada Upacara Saparan, rejeki seseorang telah ditentukan oleh Allah namun manusia harus berusaha. Ini dilambangkan dengan berebut apem. (Harman)
