Turi Canangkan Sekolah Berbasis Budaya

Turi – Dalam rangka pengembangan dan peningkatan kualitas sekolah dan siswa, SD Negeri Turi 2 mengundang orang tua atau wali murid kelas 1 sampai dengan kelas 6 dalam Tasyakuran dan Pencanangan Sekolah Berbasis Budaya pada Kamis (14/12) di SD Negeri Turi 2.

Supriyadi dalam sambutannya mengatakan alasan diadakannya tasyakuran sebab SD Negeri Turi 2 memiliki banyak pencapaian, seperti di tahun 2017 pendidikan berjalan dengan baik tidak terjadi hal-hal yang negatif, pembangunan fisik lebih maju, jumlah siswanya bertambah menjadi 129 siswa, tenaga pendidiknya sudah cukup dengan pendidikan minimal S1, serta berdasarkan hasil akreditasi dari Tim Dinas Pendidikan Provinsi (BAP) SD Negeri Turi 2 masuk klasifikasi A.

Ditambahkan Supriyadi, SD Negeri Turi 2 mempunyai tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa dan melestarikan budaya. Karenanya, Supriyadi mempunyai impian di SD Turi 2 akan dibentuk pengurus. Impian tersebut langsung diapresiasi oleh orang tua.

Maksud dari pembentukan pengurus adalah apabila ada sesuatu hal yang kaitannya dengan siswa, guru, pelajaran, dan lain-lain, dapat untuk segera diatasi.

Dalam pencanangan yang dihadiri oleh 120 peserta ini diadakan juga pementasan seni oleh anak-anak. (Suharno)




Turi Cegah Pelajar yang Ingin Bolos Sekolah

Turi – Senin (16/10) di wilayah Kecamatan Turi diadakan operasi anak sekolah yang membolos dan tidak mengikuti pelajaran. Para petugas terdiri dari Satpol PP Kabupaten Sleman dan Kecamatan Turi, Polsek Turi, serta Koramil Turi.

Adapun lokasi yang di sasar di Embung Turi, pertigaan ke Pakem dan tempat yang lain. Jumlah personil kurang lebih ada 15 petugas. Suwandi, Sekretaris Kecamatan Turi mengatakan, acara ini dalam rangka tindakan preventif. (Suharno)




UNBK, Sekolah Harus Sediakan Genset

Sleman – Kepala Bidang Kurikulum dan Kesiswaan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Sleman, Ery Wirdayana mengatakan dalam pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputet (UNBK) di tahun ajaran 2015/2016 ini, pihaknya mewajibkan sekolah penyelenggara UNBK untuk menyediakan genset.

Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi jaringan listrik yang mengalami gangguan ketika berlangsung UNBK.

‪“Bagi sekolah yang belum memiliki genset, bisa menyewa. Sehingga pelaksanaan UNBK tidak terkendala jaringan listrik yang mati,” kata Ery, Jumat (1/4).

Kendati demikian lanjutnya, Disdikpora Sleman telah berkomunikasi dengan pihak PLN agar tidak melakukan pemadaman khususnya di area sekolah pelaksana UNBK.

Selain itu, sekolah juga diminta untuk menyediakan server cadangan agar ketika terjadi kendala teknis dapat berganti server.

“Persiapan sudah dimatangkan, mengingat pelaksanaan UNBK akan berlangsung Senin (4/4) mendatang. Selain itu, di tahun ajaran ini banyak sekolah yang baru pertama kali menyelenggarakan UNBK,” tutur Ery.

Ery juga menjelaskan, tahun ini peserta UNBK diikuti oleh 24 SMK, 5 SMA dan 5 SMP. Untuk SMA dan SMP di Sleman, ini merupakan tahun pertama mengikuti UNBK.

Sedangkan SMK, terjadi pertumbuhan signifikan dari sebelumnya hanya 6 sekolah.

“Setiap sekolah melakukan simulasi sebanyak tiga kali. Kami ingin siswa familiar dengan cara UN yang baru,” jelas Ery.




34 Sekolah di Sleman Siap Hadapi UNBK

Sleman – Sebanyak 34 sekolah peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Sleman telah melaksanakan simulasi pelaksanaan unas berbasis komputer. Terakhir, simulasi pelaksaan UNBK digelar di SMKN 1 Godean, Senin (28/3).

Menurut Kepala Bidang Kurikulum dan Kesiswaan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga, Ery Widaryana setiap sekolah peserta UNBK wajib melaksanakan simulasi. Ini dilakukan agar siswa terbiasa menghadapi karena sebelumnya pelaksanaan ujian menggunakan kertas.

“Setiap sekolah telah melakukan simulasi sebanyak tiga kali. Kami ingin siswa familiar dengan cara Ujian Nasional (UN) yang baru ini ,” jelas Ery  disela-sela kunjungan ke SMKN 1 Godean.

Tahun 2016 ini lanjut Ery, peserta UNBK diikuti oleh 24 SMK, 5 SMA dan 5 SMP. Untuk SMA dan SMP di Sleman, ini merupakan tahun pertama mengikuti UNBK. Sedangkan SMK, terjadi pertumbuhan signifikan dari sebelumnya hanya 6 sekolah.

Sementara itu untuk kesiapan sarana, Ery memastikan setiap sekolah telah memenuhi kelayakan mengikuti UNBK. Setiap sekolah, telah memenuhi kewajiban memiliki genset guna mengantisipasi kendala teknis serta cadangan server.

“Kami sudah informasikan kesekolah mengenai kewajiban menyediakan genset meskipun kami telah menyurati PLN agar selama UN tidak terjadi pemadaman listrik,” terangnya.

Sementara  Kepala Sekolah SMKN 1 Godean, Agus Waluyo menjelaskan bila terjadi mati listrik atau kerusakan pada server maka secara otomatis mesin pencatat waktu berhenti. Sedangkan komputer tidak ikut mati karena sudah terhubung dengan UPS.

Bila jaringan internet mati, pihak sekolah sudah mengatisipasi dengan sistem modem. Modem ini, cukup kuat untuk memfasilitasi jaringan inernet satu ruang laboratorium.

“Kami memiliki 102 unit komputer untuk 282 perserta. Sehingga seharinya ada 3 gelombang yang mengikuti ujian,” jelasnya.




Kesiapan Penanggulangan Bencana Dilingkungan Sekolah Diperlukan

Sleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi mengtakan  bahwa kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana dilingkungan sekolah sangat diperlukan mengingat banyaknya sekolah yang berada di wilayah rawan bencana. Untuk itu diperlukan kerjasama antar sekolah dalam upaya pengurangan resiko bencana.

Saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah dan tengah terus mengembangkan sekolah siaga bencana (SSB) dalam upaya mitigasi bencana. Pemkab Sleman juga akan mengimplementasikan konsep sister school sebagai salah satu upaya dalam pengurangan resiko bencana di Kabupaten Sleman.

”Sister school merupakan salah satu aspek yang dikerjasamakan dalam Paseduluran Desa. Paseduluran Desa sendiri merupakan kesepakatan kedua wilayah desa untuk melakukan upaya kegiatan penanggulangan bencana secara bersama-sama yang didasari oleh semangat solidaritas,” kata Gatot dalam sosialisasi  Pengurangan Resiko Bencana di RM Pring Sewu Jalan Magelang, Selasa (3/11).

Hadir dalam acara tersebut Kepala Sekolah/Guru, Wali Murid, Komite Sekolah, Yakum Emergency, Linkar Jogja  dan Perwakilan siswa.

Menurut Gatot, latar belakang implementasi sister school adalah keinginan untuk memberikan suasana belajar mengajar yang nyaman dan layak bagi siswa didik yang sekolahnya terkena dampak dari bencana, sehingga proses belajar mengajar dapat tetap berjalan dengan efektif, yakni dengan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dilokasi sekolah yang tidak berdampak bencana yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat pengungsian.

Dikatakan pula bahwa dalam konsep sister school ini terdapat beberapa poin kesepakatan antar pihak yang bekerjasama yakni, kesepakatan dalam penyelengaraan kegiatan belajar mengajar, kesepakatan penggunaan sarana dan prasarana pendidikan serta kesepakatan proses evakuasi siswa.

Diharapkan melalui penerapan konsep sister school  di Kabupaten Sleman ini dapat mengurangi resiko bencana yang timbul khususnya dalam bidang pendidikan, sehingga para siswa tetap dapat memperoleh haknya untuk mengenyam pendidikan secara baik dan layak walaupun sedang dalam kondisi bencana.

Selain upaya yang dilakukan melalui implementasi  mitigasi bencana diperlukan pula kerjasama yang baik antara semua  pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat dalam upaya mensukseskan upaya pengurangan resiko dimakasud, karena kerjasama semua pihak baik pemerintah, swasta dan tentu saja masyarakat merupakan formulasi yang sangat diperlukan dalam rangka meminimalisir resiko bencana di Kabupaten Sleman.

Oleh karena itu lanjut Gatot, pada semua pihak dihimbau  untuk mau dan mampu bekerja sama dalam upaya pengurangan resiko bencana di Kabupaten Sleman, dengan menyatukan langkah dan tujuan, merapatkan barisan serta mengukuhkan tekad dalam upaya mitigasi bencana sehingga dapat tumbuh kesolidan dalam upaya kesiapsiagaan dan pengurangan resiko bencana di Kabupaten Sleman.

Sementara Kepala BPBD .Sleman,  Julisetiono Dwi  Wasito SH MM mengatakan  penyelenggaraan bahwa Erupsi Gunung  Merapi Tahun 2010 memberikan pengalaman dan pelajaran bagi stakeholder penanggulanan bencana.

Salah satu dampak yang terjadi hancurnya sekolah dan tidak berjalannya kegiatan proses belajar mengajar, sehingga menuntut pemerintah untuk membangun sekolah-sekolah darurat demi anak didik tetap belajar.

Dari pengalaman tersebut di atas maka BPBD Sleman mengajukan usulan kegiatan Sister School ke BNPB guna kelangsungan proses Kegitan Belajar Mengajar saat kondisi darurat. Sister School adalah kegiatan  mempersaudarakan Sekolah Siaga Bencana yang berada di daerah rawan Bencana Erupsi Gunung Merapi.

Pembangunan Sister School untuk tahun  2015 ada 20 sekolahan, di 5 Kecamatan dan 10 Desa Rawan Bencana Merapi. Fasilitasi 10 Pasang sekolah yang terpilih terdiri pertama SMP Taman Dewasa Cangkringan dengan SMK N Cangkringan,  kedua SD Gungan dengan SD Umbulwidodo, Ketiga SD Kloposawit dengan SMP N 1 Turi, Keempat SD Glagaharjo dengan SD Bronggrang, Kelima SD dengan SD Kejambon 2 dengan pertemuan sebanyak 8 kali 25 orang, sampai dengan gladi.

Untuk  SD dengan SMAN 1 Pakem, SMK dengan SMK  Muh.1 Sleman, SMA N 1 Cangkringan dengan SMAN 1 Pakem, SD N Banyurip 1 dengan  SDN 1 Turi, SDN Cancangan dengan SDN Kiyaran 2. Dengan pertemuan 4 Kali 25 orang sampai dengan Dokumen Rekonti.

Pelaksanaan pelatihan Relawan Sekolah dengan peserta 100 orang 3 hari dan gladi di masing-masing sekolah dengan peserta 100 orang. Waktu pelaksanaan 8 pertemuan di Bulan November, sementara untuk pelaksanaan fasilitasi di sekolah tempat pelaksanaan berada di masing-masing sekolah.