Gelar Potensi Budaya, Tolak Ukur Kematangan Desa Budaya

Sleman – Gelar Potensi Budaya kabupaten Sleman kembali digelar, Sabtu (30/9). Acara yang digelar di Area Parkir Utara Lapangan Denggung ini menampilkan 12 Desa Budaya dari Kabupaten Sleman.

Markus Suwarisman, selaku kepala panitia acara ini menuturkan Gelar Potensi Budaya diselenggarakan dalam rangka evaluasi budaya se Provinsi DIY. “Dengan diadakan Gelar Potensi Budaya bisa ditampilkan seni budaya yang menjadi potensi desa budaya tersebut, untuk bisa dipertontonkan kepada khalayak bahwa di desa budaya ada beberapa aktifitas yang mendukung kehidupan berbudaya masyarakat,” tutur Kepala Seksi Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan DIY ini.

Pada dasarnya, acara ini juga merupakan tolak ukur perkembangan sebuah desa budaya. Menurut Markus, kematangan desa budaya memiliki 3 tingkat yakni, embrio, berkembang, dan maju. Maka dengan diselenggarakannya acara ini, masyarakat dan juga Dinas Kebudayaan bisa menilai perkembangan dari desa budaya yang ada di Kabupaten Sleman tersebut. Jika kualitas dari desa budaya tersebut menurun bisa jadi tingkatan tersebut turun maupun title desa budaya dicopot.

Pada kesempatan kali ini, masing masing desa budaya mengisi stand yang sudah disediakan panitia untuk menampilkan ciri khas desa budaya tersebut, contohnya Desa Bangunkerto yang mengisi stand dengan olahan salak dan Desa Banyurejo yang mengisi standnya dengan olahan bebek. Selain itu, setiap desa budaya juga diberi kesempatan untuk melakukan pentas seni dari daerahnya masing-masing.

Gelar Potensi Budaya ini diharapkan mampu menjadi acara yang menimbulkan hal-hal positif terhadap perkembangan budaya di Sleman seperti yang dituturkan Markus di sela-sela wawancaranya. “Saya punya cita-cita bahwa jumlah budaya di Sleman akan bertambah, kedua menjadi daerah daerah unggulan, yang mana daerah akan menjadi daerah binaan di Dinas Kebudayaan untuk menjadikan percontohan daerah lain,” tutur Markus.

Acara yang rutin diselenggarakan setiap tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebab pada tahun ini, momen Gelar Potensi Budaya dibarengkan dengan peluncuran website desa budaya () oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo dan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono. Website ini diserahkan Kabupaten Sleman untuk kemudian dikelola oleh Dinas Kebudayaan DIY.

Website dibuat agar masyarakat lebih mengenal dan mengetahui potensi dari 12 Desa Budaya Kabupaten Sleman.




Festival Garis Imajiner Sarana Uri-uri Budaya

Sleman – Dinas Kebudayaan Sleman kembali menggelar festival budaya bertajuk Festival Garis Imajiner. Festival yang rencananya diadakan dari 21-23 September ini resmi dibuka pada Kamis (21/9).

Penyelenggaraan Festival Garis Imajiner ini dipusatkan di Bantara Sungai Code Bawah Jembatan Baru UGM, mengingat lokasi ini dianggap sebagai titik bertemunya garis imajiner antara Laut Selatan, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Tugu Jogja dan Gunung Merapi.

Dalam Festival Garis Imajiner terdapat 3 bentuk kesenian yang akan ditampilkan. Pertama, Kirab Megangampak Hangrangin atau pawai seni budaya. “Yang melibatkan 38 grup kesenian dan bregada,” terang Aji Wulantara, Kepala Dinas Kebudayaan Sleman. Dalam pawai ini, Aji menambahkan bahwa Dinas Kebudayaan Sleman menggandeng Polres Sleman untuk ikut memeriahkan pawai melalui pawai kebangsaan.

Pawai dimulai dari tiga titik, yakni dari Hotel Tentrem untuk zona selatan, dari Pasar Kutu untuk zona barat, dan dari Jalan Monjali untuk zona utara. “Semua peserta akan bertemu di Jembatan Sardjito atau jembatan baru UGM,” tutur Aji Selasa (19/9) di Ruang Bidang Humas Pemkab Sleman.

Selain Kirab Megangampak Hangrangin, ada agenda Sleman Hanengsemi, yakni pergelaran seni budaya tradisional kerakyatan dengan 21 grup yang berpartisipasi. Selanjutnya adalah Mataram Mangarsi atau pementasan tiga genre bentuk seni yang berbeda dalam satu rangkaian cerita. Tiga genre tersebut adalah sendratari, kethoprak, dan wayang kulit.

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, yang hadir dalam pembukaan acara ini menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pelaku seni. Sebab, kegiatan yang baru pertama kali digelar ini dapat menjadi upaya untuk nguri-uri (melestarikan-red) budaya juga untuk mengenang kembali sejarah masa lalu yakni kisah perjalanan Panembahan Senopati, yang dapat menjadi teladan dan diambil hikmah dari kepemimpinan para pendahulu.

Ke depannya, Sri Muslimatun berharap acara ini dapat dikemas menjadi agenda acara yang lebih menarik lagi.




Seabad Sleman Diisi Bakti Sosial dan Seni Budaya

Bupati Sleman Serahkan Bantuan Bedah RumahSleman – Hari Jadi 1 Abad Sleman, selain diisi dengan kegiatan seni dan budaya, aneka lomba dan bentuk kegiatan lain juga diisi dengan kegiatan bakti sosial bagi masyarakat Sleman yang kurang mampu.

Bakti sosial disampaikan bantuan langsung berupa 100 rehab rumah masing-masing Rp 12 juta, bantuan 100 unit sepeda untuk siswa SMP dan SMA/SMK, bantuan 150 kacamata bagi anak SD/MI, bantuan alat bantu dengar untuk 100 penderita gangguan pendengaran, pembuatan 1000 KTP dan akte kelahiran serta bantuan buku khutbah Jumat untuk 2100 masjid di Rumah Dinas Bupati, Jumat (13/5).

Selain itu menurut Drs Agung Armawanto selaku Ketua Panitia Bakti Sosial kegiatan lain yang telah dilakukan yakni sunatan masal, operasi katarak, KB, bantuan bagi anak panti dan lainnya. Bantuan diserahkan oleh Bupati Sleman, Drs Sri Purnomo MSI serta anggota DPRD Sleman disaksikan Ketua Panitia Hari Jadi Soekarno SH.

Sri Purnomo mengatakan kegiatan ini bukan semata-mata bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Sleman namun menjadi momen untuk saling berbagi dan berempati kepada seluruh masyarakat Sleman.

“Melalui kegiatan ini saya berharap terjalin keharmonisan hubungan dan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat,” kata Sri Purnomo.

Diharapkan Sri Purnomo bahwa diawali dengan kegiatan ini menjadi pioner terselenggaranya kegiatan-kegiatan sejenis di masa-masa mendatang.

“Kepada para penerima bantuan saya berharap bantuan ini dapat digunakan sebagai modal untuk kegiatan yang lebih produktif,” tuturnya.

Pada para penyandang difabel yang menerima bantuan, semoga bantuan ini dapat membantu keseharian saudara menjadi lebih produktif dari sebelumnya.

Penanganan masalah kemiskinan memerlukan pena­nganan secara terpadu oleh seluruh instansi dan lembaga, baik pemerintah maupun swasta yang ada di Sleman serta dari warga masyarakat yang bersangkutan.

Penanganan tersebut hendaknya juga meliputi berbagai aspek, baik sikap mental, permodalan maupun kesempatan berusaha. Agar penanganan kemiskinan di Sleman memberikan hasil yang optimal, maka penanganannya harus memperhatikan kondisi masyarakat.***




Lomba Lukis Untuk Tumbuhkan Peduli Anak SD Terhadap Seni Budaya

melukisSleman – Untuk menggali potensi dan menumbuh kembangkan sikap peduli anak Sekolah Dasar terhadap seni dan budaya, memperkenalkan ikan sejak usia dini dan manfaatnya serta mengenalkan produk perikanan kepada masyarakat.

Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY mengadakan lomba lukis tingkat Sekolah Dasar di KPI Mina Murakabi, Cibuk Kidul, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Rabu (11/5). Lomba tersebut diikuti 170 siswa dari 17 kecamatan di Kabupaten Sleman yang diadakan.

Tim Juri lomba berasal dari P4TK Seni Budaya Yogyakarta. Kategori A peringkat I dengan poin 285 diraih oleh SD Muh Dadapan mendapat tropi Bupati dan 1 buah sepeda, peringkat II dengan poin 280 diraih oleh SD Muh Ngabean 1 mendapat tropi kepala Dinas Kedaulatan dan Perikanan DIY dan 1 buah sepeda.

Sedangkan peringkat III dengan poin 275 diraih oleh SDN Triharjo mendapat tropi kepala dinas pertanian, perikanan dan kelautan Kabupaten Sleman dan 1 buah meja belajar.

Dan, untuk kategori B peringkat I dengan poin 290 diraih oleh SDN Klegung 1 mendapat tropi Bupati dan 1 buah sepeda, peringkat II dengan poin 285 diraih oleh SD Klegung 1 mendapat tropi kepala Dinas Kedaulatan dan Perikanan DIY dan 1 buah sepeda, peringkat III dengan poin 280 diraih oleh SDN Triharjo mendapat tropi kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sleman dan 1 buah meja belajar.




Sleman Lestarikan Seni Budaya Melalui Pembinaan Sanggar

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman memiliki komitmen yang tinggi untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya lokal. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mewujudkan komitmen tersebut adalah kegiatan pembinaan sanggar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman. 

Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Sri Murni Rahayu, SH, MM terkait dengan telah dilakukannya pembinaan sanggar tahun 2015 bersamaan dengan pembinaan sanggar yang perdana di Sanggar Tari “Sekar Laras” di Pondok Wonolelo Widodomartani Ngemplak Sleman, Senin (3/8).

Sri Murni Rahayu juga mengungkapkan bahwa keberadaan sanggar memiliki peran yang strategis dalam upaya untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya lokal. Upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya lokal menjadi suatu hal yang penting saat berbicara masalah globalisasi. Dalam hal ini melalui pendalaman dan kecintaan terhadap seni dan budaya lokal akan dapat menjadi filter yang kuat terhadap derasnya pengaruh arus globalisasi.

“Oleh karenanya kesadaran dan kecintaan terhadap seni budaya lokal hendaknya ditanamkan sedini mungkin kepada generasi muda,” kata Sri Murni.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MM menambahkan dalam pembinaan sanggar yang pertama kali tersebut juga ditampilkan beberapa kesenian diantaranya Hadroh, Tari Gambyong, Tari Pudyastuti, Tari Klana Radja, Srandul, Karawitan Remaja, Jathilan dan Fragmen “Babad Alas Malelo”.

Dikatakan Ayu pembinaan sanggar berikutnya akan dilakukan tanggal 11 Agustus 2015 di Sanggar Karawitan “Luhur Wiromo Budoyo Krajan Sidoluhur Godean, 14 Agustus 2015 di Sanggar Tari Cakra Kembang” Pangukan Tridadi Sleman, 15 Agustus 2015 di Sanggar Kobra Siswa “Tunas Muda” Gadung Bangunkerto Turi, dan 25 Agustus 2015 di Sanggar Kethoprak “Mudho Budhoyo” Ngrajeg Wetan Tirtoadi Mlati.