Disbudpar Lirik Wisata Minapadi di Seyegan

Pengunjung Memberi MakanSleman – Meski baru saja dikembangkan di Sleman, sektor pertanian minapadi mulai dilirik oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman untuk dijadikan destinasi wisata baru di Sleman.

“Metode pertanian minapadi di wilayah Seyegan ini memiliki potensi untuk dikembangkan dalam bidang pariwisata,” kata Kepala Disbudpar Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Senin (4/1).

Ada unsur rekreatif dan dikembangkan potensi wisata terapi dari keberadaan pertanian mina padi itu. Namun perlu pendukung lain seperti penyediaan fasilitas gazebo dan olahan kuliner ikan yang‬ dibudidayakan.‬

Ayu juga mengatakan metode pertanian yang menggabungkan cocok tanam padi dengan budidaya ikan itu belum banyak ditemui di daerah lain. Dengan demikian, minapadi dinilai dapat menarik minat wisata di Kabupaten Sleman.

“Potensi minapadi sebagai lokasi wisata sangat besar. Sebab budidaya ikan serta padi cukup jarang ditemui, sehingga masyarakat cukup antusias melihat sistem bercocoktanam ini,” tutur Ayu.

Menurut Ayu  ketika masyarakat mengunjungi minapadi, akan mendapatkan pemandangan hamparan sawah dan gerombolan ikan yang berenang di antara tanaman padi. Dengan demikian, wisata ini dinilai ampuh untuk dijadikan rujukan untuk melepas stres setelah disibukkan dengan rutinitas kerja setiap hari.

Selain itu, minapadi juga dapat menjadi wisata edukasi bagi anak-anak sekolah  agar lebih dekat dengan profesi petani.

“Melihat sawah dan memberikan makan ikan ini bisa jadi penghilang stres. Tanpa menganggu lahan budidaya, perlu juga ada pelibatan petani yang berinteraksi dengan pengunjung untuk edukasi,” papar Ayu.

Sementara menurut Ketua Kelompok Tani Murakabi Cibuk Kidul yang menerapkan minapadi, Sigit, hasil panen meningkat dengan sistem minapadi. Pada pertanian padi biasa, ia mampu menghasilkan gabah kering sebanyak 7 kuintal/hektar. Namun dengan minapadi,  panen padi mencapai 9,3 kuintal/hektar. Untuk ikan sekali panen 5,4 kuintal nila/1000 meter persegi.‬

‪”Panen padi meningkat. Ada panen ikan juga yang bisa dijual,” kata Sigit yang telah menerapkan minapadi sejak 2011 itu.‬

‪Dia menuturkan penebaran ikan harus dilakukan pada waktu yang benar-benar ideal yakni setelah tangkai padi cukup kuat dan besar pada usia 17 sampai 20 hari. Jika lahannya diberi air dan ikan saat usia padi masih sangat muda, padi bisa terserang hama. Dicontohkan saat dikejar waktu proyek ujicoba dari FAO, penebaran ikan saat padi usia 10 hari, akibatnya ada serangan hama keong. Namun kini sudah dapat diatasi.‬




Masyarakat Seyegan Sleman Berhasil Kembangkan Mina Padi

Sleman – Masyarakat di Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman berhasil mengembangkan budi daya ikan air tawar di lahan sawah pertanian padi atau mina padi. Panen perdana budidaya mina padi di Dusun Kandangan, Desa Margodadi, Seyegan, Sleman dilakukan oleh Perwakilan FAO Indonesia Mark Smulder, Dirjen Perikanan Budi Daya, Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Subiakto, Kepala Badan Ketahanan Pangan Garjito Budi, Rabu (16/12).

Menurut konsultan mina padi, Dr Fajar Basuki dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang, keuntungan total bersih mina padi mencapai Rp 2,4 juta per meter persegi atau Rp24 juta per hektare. Sementara kalau padi saja hanya Rp1 juta per meter persegi atau Rp10 juta per hektare.

Dikatakan Fajar, kelebihan mina padi tidak perlu “matun” atau penyiangan gulma, serangan hama dan penyakit berkurang.

“Ini karena telur hama sebelum menetas sudah dimakan ikan, sehingga tidak sempat berkembang,” katanya.

Menurut Fajar, hama tikus juga tidak masuk ke lahan padi karena ada genangan air. Kemudian mina padi juga tidak mengurangi jumlah rumpun padi, produk padi bisa mencapai delapan ton per hektare, sedangkan kalau padi saja kurang dari enam ton per hektare.

Sementara Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan kehutanan Kabupaten Sleman, Ir Widi Sutikno MSi mengatakan pihaknya mengembangkan dua dusun di Kecamatan Seyegan sebagai sentra mina padi.

“Metode mina padi ini dikembangkan di Dusun Kandangan, Desa Margodadi dan Desa Cibuk Kidul, Desa Margoluwih. Saat ini sudah ada sekitar 25 hektare sawah yang dikelola sebagai mina padi,” kata Widi.

Menurut Widi dalam metode ini petani dianjurkan menggunakan padi varietas Ciherang dan ikan yang dibudidayakan jenis ikan nila.

“Ada kemungkinan ke depan ikan yang dibudidayakan jenis lainnya, seperti gurami,” katanya.

Widi menambahkan, dalam mengembangkan metode mina padi tersebut pihaknya bekerja sama dengan badan dunia FAO dan masyarakat.

“Anggaran untuk `pilot project` mina padi ini berasal dari APBD Sleman senilai Rp1,3 miliar dan bantuan melalui FAO senilai RP975 juta lebih serta dana swadaya masyarakat Rp345 juta,” katanya.

Sedangkan perwakilan dari FAO Indonesia, Mark Smulder yang dalam kesempatan tersebut mengajak perwakilan dari 15 negara menyatakan bahwa metode mina padi yang dikembangkan di Seyegan Sleman ini sangat “excellent”.

“Ini dapat menjadi percontohan budi daya mina padi di daerah-daerah dan negara lainnya,” katanya.




Dua Dusun Di Seyegan Ditunjuk Jadi Sentra Minapadi

Mina PadiSleman – Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Sleman telah menunjuk dua dusun di Kecamatan Seyegan sebagai sentra pengembangan minapadi. Metode tanam tersebut diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

“Minapadi  merupakan metode menanam padi yang dipadupadankan dengan budidaya ikan dalam satu lahan. Dalam metode ini, lahan sebagai media tanam padi dijadikan sebagai kolam budidaya ikan,” kata Kepala DPPK Sleman, Ir Widi Sutikno MSi di Sleman, Senin (14/12).

Dijelaskan Widi bahwa sebagai pilot project, motede ini dikembangkan di Dusun Kandangan, Desa Margodadi, dan Dusun Cibuk Kidul, Desa Margoluwih, Seyegan. Sedikitnya telah ada 25 hektare sawah dikelola sebagai mina padi.

Melalui metode ini, petani akan mendapatkan hasil dari panen ikan dan panen padi. Dalam metode ini lanjutnya, petani diminta menggunakan padi varietas ciherang, sedangkan ikan yang dibudidayakan adalah nila. Rencananya ke depan, metode ini akan dikembangkan dengan varietas padi dan ikan lainnya seperti gurameh.

“Sebagai tahap awal, jumlah ikan yang ditebar sebanyak 7,8 ton atau 312 ribu ekor. Sementara benih padi yang disemai sebanyak 50 Kg per Ha, atau 1,25 ton. DPPK menargetkan hasil produksi pada musim panen nanti sebanyak 7,5 ton per Ha gabah kering dan dua ton per Ha ikan nila,” paparnya.

Widi menjelaskan untuk mengembangkan teknik pertanian tersebut, DPPK Sleman menggandeng Food and Agriculture Organization (FAO) dan masyarakat dalam melakukan pengembangannya. Sementara anggaran pilot project ini dibiayai oleh APBD Sleman sebesar RP 1,3 miliar dan bantuan Rp 957,12 juta melalui program FAO.

Selain itu, pilot project yang menjadi percontohan nasional ini juga didukung dana swadaya masyarakat sebesar Rp 345 juta. Harapannya bisa dipanen di minggu ketiga atau keempat bulan Desember. Nanti akan kami pasarkan di wilayah DIY dan sekitarnya.




Merti Dusun dan Pameran Sejarah Perjuangan Digelar di Seyegan

2807 SLEMAN MERTI DUSUNSleman – Bupati Sleman diwakili Camat Seyehan, Budi Sutamba membuka acara Merti Dusun sekaligus Pameran Sejarah Perjuangan Nasional dari Museum Benteng Vrederburg di Dusun Cibok Lor Desa Margoluwih Kecamatan Seyegan, Selasa (28/7). Kegiatan merti dusun yang dilaksanakan setiap 2 tahun ini bekerja sama dengan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Ketua Panitia Merti Dusun, Agus Sulistyo dan  Dra Zaimul Azzah Kepala Museum Benteng Vredeburg Jogja mengatakan bahwa tujuan merti dusun dan pameran untuk menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dan melestarikan adat budaya masyarakat.

Dalam pameran kali ini ditampilkan berbagai produk  di stand gubuk-gubukan  hasil UKM  seperti Kerajinan, Batik dan Lurik, Kuliner, Masakan  Tradisional dll yang diselenggarakan mulai tanggal 28 Juli hingga 1 Agustus 2015.

Dalam sambutan Bupati yang dibacakan Budi Sutamba mengatakan Bupati menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan pameran keliling Museum Benteng Vrederburg, yang juga turut berperan serta dalam rangka memeriahkan merti dusun Cibuk Lor Desa Margoluwih Kecamatan Seyegan, melalui pameran keliling Museum Benteng Vrederburg.

Penyelenggaraan pameran keliling Museum Benteng Vrederburg ini, merupakan bentuk inovasi sosialisasi, publikasi dan eksibisi kegiatan museum dalam upayanya untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Sejalan dengan perkembangan paradigma ilmu permuseuman, Museum
berusaha mencari peluang untuk dapat lebih melibatkan masyarakat dalam pengembangan museum dan kegiatan-kegiatannya.

Melalui inovasi dan perkembangan keilmuan, museum mulai menerapkan paradigma baru ilmu permuseuman, yaitu paradigma partispatori. Dalam hal ini museum berupaya meningkatkan keterlibatan dan partisipasi mayarakat yang sebelumya sebatas hanya sebagai penerima produk, namun pada paradigma ini, masyarakat sudah diajak untuk membuat produk.

Keterlibatan mereka sudah pada tahap turut merencanakan dan menyusun produk-produk museum. Keberadaan masyarakat dengan berbagai event-event yang dimilikinya dan menjadi unggulan daerahnya menjadi peluang museum untuk mengadakan kerjasama kemitraan dalam berkegiatan.

Salah satu kegiatan yang menjadi unggulan masyarakat di beberapa daerah di Kabupaten Sleman adalah kegiatan merti dusun. Dengan pola pikir seperti itulah maka kegiatan Pameran Keliling Museum di Kabupaten Sleman dilaksanakan dengan menggabungkan event-event yang diselenggarakan oleh masyarakat.

Diharapkan kerjasama antara masyarakat desa dengan museum untuk berkegiatan bersama dalam bentuk kemitraan dapat terlaksana dengan
baik tanpa ada yang kehilangan esensi kegiatannya. Justru sebaliknya kedua kegiatan tersebut saling mendukung satu dengan lainnya.

“Saya berharap agar even pameran keliling museum ini kedepannya bisa dijadikan agenda rutin sehingga tidak hanya menggabungkan diri dengan even-even budaya saja namun juga dapat digabungkan dengan even-even yang lain yang ada di Kabupaten Sleman. Dengan demikian, kegiatan semacam ini, dapat mendukung Kabupaten Sleman sebagai pusat pariwisata, kebudayaan dan  juga edukasi,” kata Sri Purnomo dalam sambutannya.

Menurutnya, museum selain sebagai wahana edukasi juga memiliki fungsi rekreasi.  Museum berpotensi menjadi wahana bagi masyarakat untuk meningkatkan intelektualnya, emosinya dan semangatnya. Disamping itu museum juga berperan sebagai wahana rekreasi /hiburan.

Informasi tentang koleksi-koleksi museum disajikan dalam nuansa edutainment, hiburan yang mendidik atau pendidikan yang menghibur. Museum dapat diartikan sebagai sekolah kedua bagi masyarakat, dimana bedanya dengan sekolah biasa adalah dalam proses belajarnya yang bisa dilakukan dalam nuansa hiburan.

Museum dan masyarakat keberadaanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Museum memerlukan partisipasi dan keterlibatan masayarakat dalam tumbuh dan berkembangnya. Demikian juga masyarkat dapat memanfaatkan museum untuk mengembangkan dirinya menuju masyarakat yang guyub dan berkarakter.

Museum dan masyarakat merupakan dua unsur yang saling membutuhkan satu sama lain untuk berkembang.