Pemkab Gencarkan Mitigasi Bencana Dengan Sister School

IMG_0040Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus menggencarkan mitigasi bencana dengan gladi lapang paseduluran sekolah atau Sister schol. Ditunjuk sebagai lokasi gladi lapang sister school adalah SD Muhammadiyah Pakem, Selasa (8/11).

Dalam gladi lapang digambarkan empat siswa SD Pandanpura II Hargobinangun Pakem mengalami luka, ada yang patah tulang dan yang paling banyak mengalami luka ringan serta memar-memar karena berebut menyelamatkan diri saat terjadi bencana erupsi Merapi, kemarin.

Untungnya karena para guru SD tersebut menenangkan siswa untuk tidak panik dan teratur untuk menyelamatkan diri dengan dievakuasi menggunakan beberapa mobil bak terbuka. Hingga akibat yang lebih parah tidak terjadi.

Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI yang menyaksikan kegiatan gladi lapang tersebut menyampaikan bahwa gladi lapang menjadi momen strategis bagi sekolah terdampak bencana SD Pandanpuro II dan sekolah penyangga bencana SD Muhammadiyah Pakem  untuk meningkatkan  kesiapsiagaan dan kewaspadaan segenap elemen sekolah terkait bencana erupsi Gunung Merapi.

Menurut Sri Purnomo semua  elemen sekolah harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam kondisi kedaruratan.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa Kabupaten Sleman dianugerahi karakteristik wilayah yang beragam, setiap wilayah memiliki potensi bencana yang berbeda. Namun demikian hal tersebut bukan menjadi alasan  untuk tidak mensyukuri keistimewaan wilayah yang dimiliki.

“Kita semua tidak mengharapkan terjadinya bencana namun kita harus siap menghadapinya bila hal itu terjadi. Kata kuncinya adalah kita harus memiliki kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi resiko bencana yang mungkin terjadi,” kata Sri Purnomo.

Menyadari kondisi tersebut Pemkab Sleman berupaya melakukan langkah mitigasi bencana. Tidak hanya meminimalisir jumlah korban namun juga memastikan proses belajar mengajar anak didik tidak terhambat akibat terjadinya bencana.

Berlatarbelakang hal tersebut, Pemkab Sleman melaksanakan kegiatan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat dengan mengembangkan sister school atau paseduluran sekolah.

Melalui kegiatan tersebut sekolah terdampak dipersaudarakan melalui pembuatan MOU paseduluran sekolah dengan sekolah penyangga yang berada di wilayah yang relatif aman.

Dengan demikian, saat terjadi kondisi darurat dimana tidak memungkinkan dilaksanakannya proses belajar mengajar maka untuk menjamin tetap terlaksananya kegiatan belajar, seluruh komponen sekolah yang terdampak bencana akan dipindahkan ke sekolah penyangga.

Pada kesemptan gladi lapang tersebut juga dilakukan penandatangan MOU antara Kepala Sekolah  SD Pandanpuro II Sunaryo dan Kepala Sekolah SD Muhammdiyah Pakem,  Nur Hayati SAg MM terkait Sekolah yang berdampak erupsi Merapi dan SD Muhammdiyah Pakem sebagai sekolah penyangga.




Gladi lapang Paseduluran Sekolah ”Sister School”

DSC_0980Sleman – Beberapa siswa SD Tarakanita Ngrembesan  Kecamatan Turi Sleman mengalami luka, ada yang patah tulang dan yang paling banyak mengalami luka ringan serta memar-memar karena berebut menyelamatkan diri saat terjadi bencana erupsi Merapi, Senin (7/11).

Masih untung karena para guru SD tersebut menenangkan siswa untuk tidak panik dan teratur untuk menyelamatkan diri dengan dievakuasi menggunakan beberapa mobil bak terbuka. Hingga akibat yang lebih parah tidak terjadi.

Hal tersebut sebagai gambaran saat gladi lapang penanggulangan  bencana /paseduluran Sekolah di  Sister School di SMP Santo Asloysius Turi Sleman.

Sementara Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes disela-sela gladi lapang  menyampaikan bahwa gladi lapang menjadi momen strategis bagi sekolah terdampak bencana SD Tarakanita Ngrembesan dan sekolah penyangga bencana SMP Santo Aloysius Turi untuk meningkatkan  kesiapsiagaan dan kewaspadaan segenap elemen sekolah terkait bencana erupsi Gunung Merapi.

Segenap elemen sekolah harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam kondisi kedaruratan.

Disampaikan Sri Muslimatun bahwa Kabupaten Sleman dianugerahi karakteristik wilayah yang beragam, setiap wilayah memiliki potensi bencana yang berbeda.

“Namun demikian hal tersebut bukan menjadi alasan bagi kita untuk tidak mensyukuri keistimewaan wilayah yang kita miliki. Kita semua tidak mengharapkan terjadinya bencana namun kita harus siap menghadapinya bila hal itu terjadi. Kata kuncinya adalah kita harus memiliki kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi resiko bencana yang mungkin terjadi,” kata Sri Muslimatun.

Menyadari kondisi tersebut Pemkab Sleman berupaya melakukan langkah mitigasi bencana. Tidak hanya meminimalisir jumlah korban namun juga memastikan proses belajar mengajar anak didik tidak terhambat akibat terjadinya bencana.

“Berlatarbelakang hal tersebut, Pemkab Sleman melaksanakan kegiatan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat dengan mengembangkan sister school atau paseduluran sekolah,” tambahnya.

Melalui kegiatan tersebut sekolah terdampak dipersaudarakan melalui pembuatan MOU paseduluran sekolah dengan sekolah penyangga yang berada di wilayah yang relatif aman.

Dengan demikian, saat terjadi kondisi darurat dimana tidak memungkinkan dilaksanakannya proses belajar mengajar maka untuk menjamin tetap terlaksananya kegiatan belajar, seluruh komponen sekolah yang terdampak bencana akan dipindahkan ke sekolah penyangga.

Usai gladi lapang dilakukan penandatangan MOU antara Kepala Sekolah  SD Tarakanita Turi dan Kepala Sekolah SMP Aolysius  Donokerto Turi terkait Sekolah yang berdampak erupsi Merapi dan SMP Aloysius Turi sebagai sekolah penyangga.




BPBD Sleman Sosialisasikan Penerapan Sister School

Sleman – Ancaman bencana letusan gunung Merapi terus diwaspadai dengan menyiapkan berbagai sarana dan prasarana baik bagi para warga, khususnya anak sekolah serta prasarana fisik lainnya. 

Seperti halnya yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman dengan melakukan sosialisasi penerapan sister school yang dilaksanakan, Selasa (27/9) di Hotel Prima dengan peserta 50 orang dari SKPD terkait, sekolah, dunia usaha serta pemangku kepentingan.

Dikatakan  Kunto Riyadi, Pj Pelaksana tugas BPBD Sleman kegiatan ini merupakan upaya  menyiapkan personil dalam penerapan Sister School yang akan dilanjutkan dengan fasilitasi sosialisasi di 4 sekolah sebagai sasaran yakni SD Tarakanita Ngembesan Turi dengan sekolah persaudaraannya SMP Alosius Turi, serta SD Pandanpuro II dengan sekolah persaudaraannya SD Muh Pakem.

Selanjutnya juga akan diteruskan dengan gladi lapang di 4 sekolah sasaran. Kegiatan ini dilakukan agar sekolah yang masuk dalam KRB III bila suatu saat terjadi bencana tidak terganggu dalam belajar mengajarnya serta sekolah sasaran siap menerima siswa yang terkena dampak erupsi Merapi.

Hal ini juga diungkapkan  Jazim Sumirat SH yang mewakili Bupati Sleman disela-sela membuka sosialisasi, bahwa Kabupaten Sleman merupakan satu dari 136 kota yang memiliki indeks resiko bencana tinggi. Menyadari hal ini, Pemkab Sleman berupaya melakukan langkah mitigasi bencana.

Tidak hanya meminimalisir jumlah korban namun juga memastikan proses belajar mengajar tidak terhambat akibat terjadinya bencana. Berlatarbelakang hal tersebut, Pemkab Sleman melaksanakan kegiatan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat dengan mengembangkan sister school atau sekolah penyangga.

Melalui kegiatan ini sekolah terdampak dipersaudarakan melalui pembuatan MOU persaudaraan dengan sekolah penyangga yang berada di wilayah yang relatif aman. Dengan demikian, saat terjadi kondisi darurat dimana tidak memungkinkan dilaksanakannya proses belajar mengajar maka untuk menjamin tetap terlaksananya kegiatan belajar, seluruh komponen sekolah yang terdampak bencana akan dipindahkan ke sekolah penyangga.

“Sosialisasi ini menjadi langkah pertama, sarana menyiapkan kesiapsiagaan komponen sekolah dalam menghadapi kemungkinan kondisi kedaruratan,” kata Jazim.

Melalui sosialisasi lanjutnya, diharapkan akan semakin memantapkan langkah dan upaya dalam melakukan penanganan bencana di wilayah Kabupaten Sleman. Dengan berbekal pengetahuan yang memadai dalam menghadapi bencana maka akan dapat bertindak tepat dan efisien. Sampai saat ini di Sleman telah terbentuk 20 sister school, 8 sekolah siaga bencana dan 39 organisasi relawan dengan jumlah relawan 1512 orang.

Selain itu juga telah memetakan potensi kerawanan bencana, serta pemasangan early warning system. Hingga Februari 2016 BPBD Sleman bekerjasama dengan Dishubkominfo dan warga masyarakat telah mengelola sejumlah 88 EWS banjir lahar dingin, 4 EWS awan panas, 3 EWS tanah longsor dan 1 EWS curah hujan.
Dengan fasilitas-fasilitas tersebut, diharapkan dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa maupun korban materiil saat terjadinya bencana.




Pemkab Adakan Gladi lapang Paseduluran Sekolah ‘Sister School’

Gladi LapangSleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mengadakan Gladi lapang paseduluran sekolah “Sister School”  dan penandatangan MOU sister school yang berlangsung di lapangan Pemda , Sabtu (28/11).

Kegiatan tersebut dibuka oleh Plt Sekretaris Daerah Drs Iswoyo Hadiwarno mewakili Penjabat Bupati Sleman. Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Kepala BPBD Kabupaten Sleman Drs Julisetiono  Dwi Wasito SH, MM, Kasubdit mitigasi dan standardisasi BNPB Elir Irawati , SKM MM,  dan para Camat yang berdampak langsung erupsi Merapi.

Jalannya gladi lapang tersebut antara lain masing-masing sekolah melakukan aktivitas belajar mengajar seperti biasa, dan tiba-tiba  status Merapi  naik dari waspada ke siaga hingga para siswa dan guru  harus mengungsi di sekolah penyangga, hingga suasanya pada waktu tersebut ramai terjadi kepanikan, namun berkat kesiapan guru dan aparat terkait hingga bisa diantisipasi dengan baik, meskipun pada kesempatan tersebut terjadi beberapa siswa yang terluka.

Pada gladi lapang juga dilakukan penandatangan MOU paseduluran sekolah sister school tahun 2015  terhadap 20 sekolah. Dalam gladi lapang yang melibatkan  20 sekolah  mulai dari SD sampai dengan SMA/SMK di Kabupaten Sleman.

Ke 20 sekolah tersebut merupakan sekolah yang berdampak langsung kena erupsi Merapi dan sekolah sebagai penyangga. 20 sekolah yang kena dampak dan penyangga tersebut  SMK Muhammadiyah Pakem dengan SMK Muhammadiyah 1 Sleman, SMA N 1 Cangkringan dengan SMAN 1 Pakem, SDN Banyu Urip 1 Turi dengan SDN Turi 3, SD Muhammdiyah Cepitsari dengan SDN Kejambon 2 Ngemplak.

Dan, SDN Kloposawit Tuti dengan SMPN 1 Turi, SMP Taman Dewasa dengan SMKN 1 Cangkringan, SDN Cancangan dengan SDN Kiyaran 2 Cangkringan, SD Muhammadiyah Balerante dengan SDN Klegung 2 Tempel, SDN  Glagaharjo Cangkringan dengan SDN Bronggang Cangkringan, dan  SDN Gungang Cangkringan dengan SDN Umbulmartani Ngemplak.

Penandatangan dilakukan oleh kepala sekolah masing-masing  berdampak erupsi dan kepala sekolah penyangga, yang disaksikan Sekda Sleman Drs Iswoyo Hadiwarno, juga sebagai saksi Kepala BPBD Sleman dan Dikpora.

Penjabat Bupati Sleman dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan  Iswoyo Hadiwarno menyampaikan bahwa dalam setiap mitigasi bencana, dukungan dari masyarakat dan dukungan tim relawan mutlak diperlukan. Masyarakat juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam meng­ha­dapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

Oleh karena itu melalui kegiatan gladi lapang paseduluran sekolah “Sister School”, antara sekolah terdampak dan sekolah penyangga akibat erupsi gunung Merap dapat meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi erupsi gunung Merapi.

“Yang jelas kita harus menyadari bersama bahwa, mitigasi bencana harus menjadi bagian dari budaya dan local wisdom masyarakat Sleman. Oleh karena itu pembinaan dan pelatihan cara penanggulangan bencana harus dimulai sejak dini,” kata Iswoyo membacakan sambutan Penjabat Bupati Sleman.

Mitigasi bencana lanjutnya harus diperkenalkan dan diajarkan di bangku sekolah, bahkan sejak jenjang yang paling bawah. Siswa-siswa sangat perlu diberi pemahaman dan pembinaan bagaimana cara penanggulangan dan mitigasi bencana.

Disampaikan bahwa Pemkab Sleman selain akan terus mengembangkan SSB di wilayah yang memiliki potensi bencana, juga membentuk desa tangguh bencana yang saat ini berjumlah 5 desa, diantaranya Desa  Pakembinangun, Purwobinangun dan Hargobinangun di Kecamatan Pakem, Desa Glagaharjo di Kecamatan Cangkringan dan Desa  Donoharjo di Kecamatan Ngaglik.

Sementara itu Kepala BPBD Sleman Julisetiono melaporkan bahwa tujuan gladi lapang dan MOU tersebut dalam rangka mengantisipasi bila terjadi bencana khususnya erupsi merapi, agar masyarakat dan terutama siswa dan perangkat sekolah lebih siap bila terjadi bencana.

Dikatakan Julisetiono bahwa kedepan gladi lapang seperti ini juga akan dilakukan meskipun kondisi gung merapi cukup aman. Akan tetapi untuk mengantisipasi kejadian seperti tahun 2010 harus terus diwaspadai, maskipun kita tidak mengharapkan.