200 Siswa SMA/SMK Ikuti Kemah Budaya

Sleman – Sebanyak 200 Siswa SMA/SMK se-Kabupaten Sleman akan melakukan kemah budaya selama tiga hari mulai tanggal 2–4 September 2016 di Desa Wisata Pulesari Wonokerto Sleman. Kemah budaya kali ini mengambil tema “Dengan kemah budaya kita tingkatkan jati diri dan karakter generasi muda”. Demikian dikatakan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA dikantornya, Senin (29/8).

Endah menambahkan bahwa dalam acara kemah budaya ini 25  sekolah SMA/SMK masing-masing mengirimkan 1 regu putra/putri dengan komposisi 2 orang anggota ambalan dan 6 orang non ambalan.

Adapun maksud dan tujuan diselenggarakannya kemah budaya tersebut adalah sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal dan nilai-nilai adiluhung yang terkandung didalamnya. Selain itu juga sebagai sarana untuk bersilaturahmi antar siswa antar sekolah untuk meminimalisir kekerasan satu friksi diantara siswa.

“Selama kegiatan tersebut juga diagendakan diskusi tentang Pendidikan berbasis budaya dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga, Narkoba dan generasi muda dari BNNK, Budaya bersih dan lingkungan dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman,” kata Endah.

Selain itu lanjutnya juga diagendakan materi tentang Bahasa dan pakaian jawa dari TVRI Jogja, Makna Hantaran oleh Prof Suwarno Pringgodigdo, Tradisi lokal masyarakat Pulesari oleh pengelola Desa Wisata Pulesari dan Sustainable Tourism Development oleh Dra Shavitri Nurmala Dewi MA.

“Tidak hanya ada diskusi, dalam acara kemah budaya tersebut juga dilengkapi dengan Praktik pembuatan hantaran, penjor, dan sesorah bahasa Jawa, sehingga para peserta kemah budaya dapat melihat bagaimana praktek dan proses pembuatannya secara langsung,” tutur Endah.

Ditambahkan Endah,  generasi muda merupakan tulang punggung bangsa, oleh karenanya masa depan bangsa dan negara sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda. Terlebih lagi dengan adanya arus deras globalisasi dan kebebasan informasi dari berbagai negara asing serasa tidak dapat dibendung lagi.

Oleh karenanya generasi mudalah yang harus memiliki filter yang kuat dan selektif terhadap berbagai pengaruh tersebut. Karena pengaruh tersebut akan mempengaruhi pembentukan karakter generasi muda itu sendiri. Pengaruh positif sudah barang tentu dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa dan meningkatkan daya saing, akan tetapi pengaruh negatif musti dihindarkan.

“Generasi muda tidak boleh terlena terhadap arus globalisasi yang sangat deras ini,” tuturnya.




100 Siswa SMA/SMK Dapat Pembinaan Karakter dan Wawasan Kebangsaan

Memakaikan TopiSleman – Sebanyak 100 siswa SMA/SMK di Kabupaten Sleman mendapat pembinaan karakter dan wawasan kebangsaan. Pembinaan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman berlangsung di Aula Lantai III Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Dikpora) Sleman, Jumat (13/11).

Asekda Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih Mpd menyampaikan bahwa penyelenggaraan sosialisasi wawasan kebangsaan dan pemantapan ideologi negara ini merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan serta memperkokoh ide­o­logi negara dan rasa kebangsaan bagi anak-anak. Terlebih bagi generasi muda yang merupakan penerus langkah pembangunan dimasa depan.

Dikatakan Suyamsih, memudarnya nasionalisme dan patriotisme disebabkan oleh tiadanya penghayatan atas arti perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Perayaan hari Sumpah Pemuda, yang sebenarnya adalah modal awal persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia jauh sebelum kemerdekaan, kini seolah hanya merupakan pelajaran sejarah yang tidak pernah dihayati dan diamalkan.

Disampaikan bahwa semangat dan jiwa kebangsaan yang ditanamkan melalui Kebangkitan Nasional harus dijadikan momentum untuk melakukan penataan-penataan diberbagai bidang seraya terus meningkatkan komitmen dari seluruh bangsa dan rakyat Indonesia untuk mewujudkan Indonesia yang damai, adil dan sejahtera.

“Oleh karena itu Pemkab Sleman  menaruh harapan besar di pundak generasi muda  untuk mengkonstruksikan masa depan kita bersama. Tentu saja apa yang kita tata dan bangun kembali ini tetap bertumpu dan merujuk serta mengacu pada nilai, jati diri, dan konsensus dasar kebangsaan, yaitu Pancasila, yang diletakkan oleh para pendiri negara kita ini,” tutur Suyamsih.

Sementara Kepala Dikpora, Sleman Arif Haryono melaporkan bahwa tujuan pembinaan tersebut antara lain untuk mendidik , mendampingi, mengarahkan kepada peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak muliam sehat, berilmu, cakap, kreatif dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Mengembangkan potansi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat dan kreativitas.

Haasil yang diharapkan dari pembinaan tersebut adalah terbentuknya forum komunikasi siswa SMA/SMK, terselenggaranya kegiatan kolaboratif diantara para siswa daan tersedianya fasilitasi ekspresi kompetensi diri siswa baik di bidang akademis maupun non akademis.

Ditambahkan Arif Haryono bahwa sebagai kegiatan pendukung dalam pembinaan karakter tersebut antara lain pembinaan pemuda pelopor, sweeping siswa pada jam-jam efektif belajar, lomba paduan suara lagu-lagu perjuangan untuk siswa SD, SMP, SMA/SMK, gerakan pembersihan corat coret vandalisme, dan lainnya.