Sleman Emergency Service Disiagakan 24 Jam‬

Sleman – Sejalan perkembangan teknologi, instansi pemerintah dituntut untuk terus melakukan inovasi. Kehadiran teknologi informasi yang mudah diakses masyarakat kini menjadi suatu hal yang mutlak.‬

‪Merespon tantangan itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman akan membentuk layanan darurat Sleman Emergency Service (SES). Melalui program ini, sistem informasi pelayanan kesehatan dibuat secara terintegrasi sehingga dapat dengan mudah diakses masyarakat.‬

‪“Program SES akan dioptimalkan pada tahun 2021. Sekarang sedang kami persiapkan,” kata dr Mafilindati Nuraini MKes, Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Selasa (6/12).

‪Dijelakan Linda, alur pelayanan SES nantinya dibentuk call center di tingkat dinas, dengan petugas jaga dan kesehatan yang siaga selama 24 jam. Masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan dapat langsung menghubungi nomer call center tersebut.‬

‪Jika ada panggilan, petugas jaga akan menghubungi ambulan yang ada di puskesmas terdekat. Ditargetkan, kendaraan ambulan tiba di lokasi kejadian maksimal 30 menit.‬

‪Pada tahap awal, Dinas Kesehatan rencananya bekerjasama dengan 4 rumah sakit yakni RSUD Sleman, RSUD Prambanan, RS PDHI, dan RS PKU Gamping serta 6 puskesmas rawat inap.

‪Sebagai langkah awal rintisan program ini, Dinas Kesehatan Sleman telah mengadakan workshop sistem penanggulangan gawat darurat dengan mengundang narasumber dari DIY dan luar daerah.‬

‪Kegiatan berlangsung selama dua hari diikuti 52 peserta dari kalangan rumah sakit, puskesmas rawat inap, puskesmas pra rawat inap, dan beberapa instansi terkait.‬

‪“Lewat kegiatan workshop ini, kami ingin mendorong langkah integrasi di bidang kesehatan. Selama ini layanan terutama di Puskesmas dinilai sudah cukup baik, hanya saja perlu ditingkatkan,” kata Linda.‬

‪Adapun materi yang disampaikan dalam acara workshop itu antara lain tahapan strategis penerapan sistem penanggulangan gawat darurat, serta implementasinya di beberapa daerah seperti DIY dan Tulungagung.

Disamping itu juga dibahas materi tentang upaya membangun sistem penanggulangan darurat antar rumah sakit termasuk kendala dan tantangannya.‬




Dinkes Siapkan Pelayanan Sleman Emergency Service

Sleman – Pelayanan kesehatan terutama di Puskesmas di Kabupaten Sleman sudah cukup baik, namun perlu ditingkatkan lagi  secara terintegrasi. Selanjutnya dalam pelayanan kesehatan diharapkan membuat inovasi baru yang mudah dan cepat dan akurat dengan sentuhan Teknologi Informasi yang mudah diaksep oleh masyarakat. Dan yang jelas bisa membangun pelayanan publik yang lebih baik.

“Untuk maksud tersebut Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman akan membentuk SES ( Sleman Emergency Service) agar sistem informasi pelayanan kesehatan terintegrasi yang bisa diakses masyarakat,” kata dr Mafilindati Nuraini MKes, Kepala Dinkes Sleman disela-sela Worshop Sistem Penanggulangan Gawat Darurat (SPGDT) di Hotel Prima SR Sleman, Senin (28/11). Workshop berlangsung selama dua hari (28-29 November 2016).

Worshop diikuti oleh 52 peserta dari Rumah Sakit. Puskesmas Rawat Inap /Puskesmas Pra rawat Inap dan instansi terkait. Dijelaskan Linda panggilan Mafilindati SES akan dioptimalkan pada tahun 2021, dan mulai sekarang harus dipersiapkan.

Sedangkan alur pelayanan SES nantinya dibentuk Call Center yang ada di Dinas kesehatan Kabupaten Sleman, masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan langsung menghubungi call center, di call center tersebut petugas jaga dan kesehatan stanbay 24 jam, apabila ada panggilan petugas jaga akan menghubungi ambulan terdekat yang ada di Puskesmas dan sampai lokasi panggilan/kejadian maksimal 30 menit.

Menurut Linda, untuk tahap awal Dinkes Sleman bekerjasama dengan 4 rumah sakit (RSUD Sleman, RSUD Prambanan, RS PDHI dan RS PKU Gamping dan 6 Puskesmas rawat inap.

Bertindak sebagai nara sumber pada workshop tersebut  dr Mafilindati Nunaini Kepala Dinkes Sleman,  Kudiyana SKM MSc dari Dinkes DIY dengan materi  kebijakan dalam Implementasi SPGDT di DIY, dr Supriyantoro dengan materi Tahapan strategis  penerapan SPGDT di Kabupaten sleman.

Sedang pada hari kedua Selasa (29/11) dengan materi Praktek Manajemen Emergensi di Jofja, dr Bobi Prabowo   dengan materi  Penerapan SPGDT di Kabupaten Tulungagung dan dr Handoyo Pramusinto Sp.B dengan materi membangun SPGDT antar RS-Implementasi, kendala dan tantangannya.