Boneka Lukis Berbahan Kayu Lereng Merapi

Sleman – Sejak tahun 2002, Ahmad Barokah telah menggeluti seni kerajinan boneka kayu lukis. Boneka kayu handmade produksinya mengangkat tema tradisi jawa, seperti wayang yang dipadukan dengan motif modern, misalnya motif bunga, alam, bahkan motif kesebelasan sepak bola.

Mengusung nama Gangsar Barokah Art & Craft, Ahmad ditemani 9 karyawannya, memanfaatkan kayu-kayu dari sekitaran lereng Merapi untuk diubah menjadi karya seni bernilai.

“Kayu Mahoni, Kayu Wadang, kadang ada Jati juga tapi sedikit,” ujar pria berusia 45 tahun ini.

Ahmad menuturkan untuk memproduksi satu buah boneka, kayu harus melewati proses yang cukup panjang.

“Digergaji lalu dibentuk pakai mesin bubut, dioven, diamplas, didempul untuk menutup pori-pori kayu, diamplas lagi baru dilukis kemudian finishing,” jelas Ahmad.

Meski proses terbilang cukup panjang Ahmad mengungkap dengan bantuan seluruh karyawannya, ia bisa menghasilkan 150-200 boneka dengan ukuran kecil setiap minggunya. Sementara itu, setiap bulannya ia memerlukan tiga kubik kayu agar jadi 600 buah boneka per bulannya.

Untuk boneka kecil, Ahmad mematok harga 30 ribu hingga 50 ribu per buahnya. Para pembeli boleh langsung memilih boneka yang sudah jadi ataupun memesan dengan desain sendiri.

Tak perlu khawatir boneka pesanan jadi lebih lama karena Ahmad mengakui bahwa proses pembuatan boneka akan diprioritaskan bagi para pemesan.

“Jadi kalau tidak ada pemesanan kita juga ada inovasi desain baru, yang penting prioritas pertama kita harus menangani pesanan dulu,” terang lelaki yang tinggal di Dusun Ngipiksari Kaliurang Selatan, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Kamis (4/10).

Selain melalui pemesanan, Ahmad mengatakan bahwa ia memasarkan produknya melalui para pengusaha yang kulak dari produk boneka kayu buatannya. Jadi, ia tak perlu repot memasarkan sendiri produknya.

“Jadi ini tempat untuk kulakan kemudian mereka jual sendiri sendiri. Kadang ada desain dari mereka juga, ada desain yang dari kami. Jadi mereka penjualannya menggunakan bendera mereka sendiri-sendiri kita hanya urusan dapur, hanya tempat kulakan,” tambah Ahmad.

Produk buatannya ini sudah tersebar hampir ke seluruh kota-kota besar di Indonesia.

“Selain ke Jakarta, ke Bali juga, di kota-kota besar,” kata Ahmad.

Meski demikian, ia masih menghadapi beberapa kendala, terutama pada pencarian tenaga kerja yang mumpuni.

“Itu paling sulit mencari tenaga kerja, jadi dari sektor lain sama-sama berjuang. Dari sektor kerajinan, sektor pariwisata, itu programnya sama, mencari tenaga kerja sama-sama semakin sulit,” ungkap Ahmad.

Padahal menurutnya, ia bersedia memberikan pelatihan bagi tenaga kerja yang mau bergabung.  Selain tenaga kerja, Ahmad juga terkendala masalah daya beli masyarakat yang menurun.

“Waktu setelah kenaikan bbm itu drop sekali, hingga saat ini,” tutur Ahmad.

Karenanya, Ahmad selalu berupaya untuk melakukan inovasi pada desain sehingga desainnya dapat selalu memenuhi permintaan pasar.

“Kita kembali ke desain, desainnya itu kita berusaha untuk inovasi terus, memperbaiki terus yang bisa diterima pasaran,” imbuhnya.




Potensi Seni dan Budaya Semarakkan Merti Dusun Biru

Gamping – Kirab Seni dan Budaya dalam rangkaian Merti Dusun Biru, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping tahun 2017 digelar pada Minggu (1/10) pukul WIB di jalan utama Padukuhan Biru. Camat Gamping Abu Bakar, ., membuka Kirab Seni dan Budaya ini dengan memukul gamelan (bendhe). Dalam sambutannya Abu Bakar menyatakan apresiasinya dan berharap Dusun Biru mampu mengembangkan potensinya sehingga dapat berkembang menjadi desa seni dan budaya.

Kirab diikuti oleh tiga bregodo keprajuritan Dusun Biru, lima gunungan hasil bumi dan beragam kreasi seni yang ada di Dusun Biru antara lain ogoh-ogoh, lele raksasa sepanjang 9 meter, replika sepeda motor tua, tank dan bendera merah putih raksasa berukuran 25 meter. 

Selain itu kelompok-kelompok di segala usia turut tampil di kirab ini antara lain penampil seni rupa, karang taruna, kasepuhan, anak-anak, kelompok senam, kelompok tani, kelompok olahraga, kelompok pengajian, gejog lesung, dan lain-lain. Camat Gamping Abu Bakar, ., dan Kepala Desa Trihanggo Herman Budi Pramono turut mengikuti kirab ini dengan menaiki andong.

Rangkaian acara Merti Dusun Biru Tahun 2017 ini telah dimulai sejak 9 September lalu dan akan ditutup pada Sabtu (7/10) dengan menggelar wayang kulit semalam suntuk bersama dalang Ki Wisnu Hadi Sugito yang membawakan lakon “Gatotkoco Mbangun Kesatrian”.




Kudapan Ini Andalkan Manfaat Baik Tanaman Kelor

Sleman – Setiap tahun Kabupaten Sleman memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober. Untuk tahun ini Hari Pangan Sedunia ke-37 digelar oleh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman pada Selasa (19/9) di Halaman Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman.

Ada beberapa agenda yang dirancang Dinas Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman dalam rangka memeriahkan Hari Pangan Sedunia ini, seperti mengadakan pameran, bazar, dan aneka lomba olahan makanan. Salah satu olahan kudapan yang menjadi perbincangan pokok adalah yang berbahan dasar tanaman kelor.

Menu, Ketua Paguyuban Kelompok Wanita Tani (KWT) Pa-Ri Merapi Sembada, Kecamatan Pakem menuturkan bahwa acara ini diikutinya secara rutin setiap tahun.

“Untuk olahan daun kelor sendiri, dipelopori oleh Dinas Pertanian. Nah, karena itu saya mengajak teman-teman untuk mengolah daun kelor. Ini juga baru mulai sekitar 5 bulan yang lalu, untuk olahannya sendiri ada cendol kelor, puding kelor, dan juga pepes kelor,” terang Menu

Untuk olahan lain yang dapat diolah dari daun kelor, yakni botok, pasta kelor ayam, kue tar kelor, permen kelor, nugget, stik daun kelor, puding, pepes, dan kue bawang kelor.

Menu mengakui bersemangat dalam melakukan inovasi produknya karena mengetahui bahwa daun kelor memiliki banyak manfaat baik. Hal ini juga diamini oleh Prof. Dr. Nurfina Aznam. SU. Apt, yang di kesempatan yang sama berlaku sebagai narasumber dalam Sarasehan Manfaat Daun Kelor.

“Manfaat daun kelor begitu banyak, bahkan di luar negeri pun membuat obat dengan bahan kelor tersebut, dan kita dengan bangganya malah membeli dengan harga yang mahal. Ya maka dari itu sebisa mungkin kita mengolah tanaman ini dengan baik lagi,” ungkap dosen Jurusan Kimia, Universitas Negeri Yogyakarta ini.

Nurfina menuturkan bahwa selain daun kelor yang mempunyai banyak manfaat, bunga, maupun akar kelor pun bisa dijadikan obat-obatan dan vitamin. Tak hanya itu, tumbuhan kelor juga berguna antara lain sebagai anti inflamasi, pencahar, pengobatan luka, obat sakit kepala, rubefacient, vesicant, penyakit mata, pencegah tumor, kanker maupun bisul, dan penyeimbang gula darah. Fungsi dari tumbuhan yang kaya akan vitamin C, D, B1, B2, B12 dan E pun juga ada kaitannya dengan perawatan kesuburan baik bagi pria maupun wanita.

Di event yang berlangsung sejak pukul WIB ini, olahan daun kelor milik KWT Sekar Melati maju sebagai juara setelah bertarung dengan 22 KWT lain yang ada di Kabupaten Sleman. Pemenang berhak mendapatkan hadiah dan trofi yang diserahkan langsung oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo.




Lomba Lukis Ukur Intelektual dan Moralitas Anak Sleman

Sleman – Untuk pertama kalinya Dinas Kebudayaan Sleman menyelenggarakan festival seni budaya yang dikemas dalam lomba lukis tingkat Kabupaten Sleman tahun 2017. Bertempat di Museum Gunung Api Merapi, lomba tersebut diikuti oleh 300 peserta yang tebagi dalam kategori SD/MI, SMP, dan SMA/SMK. 

Mengusung tema “Cinta Seni dan Budaya”, Dinas Kebudayaan Sleman mengajak anak untuk lebih mengenal dan mengetahui budaya yang ada disekitarnya.

“Lomba lukis ini untuk memberikan ruang ekspresi bagi anak dan mengukur tingkat moralitas dan intelektual anak terhadap budayanya sendiri. Hal ini dapat kita lihat dari ekspresi anak dalam menuangkan emosinya kedalam lukisan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, HY. Aji Wulantara, S.H, , Minggu (17/9).

Selain itu, dengan budaya diera modernisasi sekarang  ini anak akan mengetahui siapa jati dirinya. Dan, anak akan siap dalam menghadapi lingkungan dan masyarakat yang berbeda –  beda budayanya dikemudian hari, tambah Aji.

Sedangkan untuk pemenang lomba lukis untuk kategori SD/MI berhasil diraih oleh Violet Kana Haya Naomi dari SD N Bongkol (juara I), Tiara Yusita Wijayanti dari SD N Gentan (juara II), Ghery Setia Adi Nugroho dari SD N Taraman (III), Abimanyu Ramadhan Flatditia dari SD N Karangmloko (harapan I), dan Anananda Tahta Swastono dari SD N Sukomulyo (harapan II).

Untuk kategori SMP dimenangkan oleh Mareta Zahra Kartika dari SMP N 1 Depok (juara I), Yohanes Doni Yoga K. dari SMP K st. Aloisius Sleman (juara II), Jovinca Amarisa Claudia dari SMP Budi Utama (juara III), Raynor Tisti Maharsi Kumudhani (harapan I) dan Venawa Vania dari SMP N 1 Ngemplak (harapan II).

Dan, kategori SMA/SMK dimenangkan oleh Sofia Rizky dari SMK Penerbangan AAG (juara I), Siti Nurhana dari SMK Penerbangan AAG (juara II), SMA Nor Tobias Imal Gamalliel dari SMA Kolase De Brito (juara III), Karol Bimoseno dari SMA Kolase De Brito (harapan I) dan Muhammad Irfan Hando dari SMK N I Cangkringan (harapan II).

Selanjutnya, lomba lukis tingkat Kabuapaten Sleman ini diharapkan mampu menjadi salah satu cara untuk mengolah tingkat emosi generasi penerus baik tingkat intelektual dan moralitasnya.




Sleman Jamin Pasokan Elpiji 3 Kg

Sleman – Baru-baru ini, isu kelangkaan gas elpiji 3 kg di Sleman kembali terdengar. Pemkab Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) mengemukakan kondisi riil terkait isu ini, pada Rabu (13/9) di Kantor Bagian Humas dan Protokol Setda Sleman.

Kepala Disperindag Sleman, Tri Endah Yitnani, mengemukakan bahwa tidak ada pengurangan kuota gas elpiji 3 kg untuk Sleman. Justru selama tahun 2017 ini, kuota gas elpiji 3 kg di Sleman berjumlah tabung. Pun, kuota tersebut khusus untuk bulan September masih akan ditambah dengan kuota fakultatif sebanyak tabung

Dengan adanya penambahan bukan pengurangan kuota ini, menurut Endah semestinya tidak akan ada kelangkaan. “Tersedianya tersedia tapi kenapa langsung habis?” ujar Endah.

Dari hasil diskusi yang Endah jalani dengan PT Hiswana Migas DIY, fenomena ini terjadi karena adanya peak season kebutuhan gas. “Karena sekarang itu bulan baik, bulan besar, banyak penggunaan untuk catering dan untuk makanan itu banyak,” terang Endah.

Selain itu, panic buying yang disebabkan adanya isu penarikan gas elpiji 3 kg juga memberi kontribusi pada langsung habisnya stok gas elpiji 3 kg pada pangkalan yang sudah didrop oleh agen.

Padahal menurut Endah, penyaluran gas elpiji 3 kg di wilayah Kabupaten Sleman sudah dilaksanakan oleh 17 agen dan pangkalan. Dari hasil pemantauan terhadap sampel agen dan pangkalan yang ada di wilayah Sleman pun menyatakan, agen telah menerima kenaikan kuota sebesar 4% pada bulan Agustus.  Pangkalan yang disampel juga tetap mendapatkan kuota sesuai dengan kuota regulernya.

Yos Widihapsoro selaku Koordinator Elpiji Wilayah Sleman menambahkan apabila di kemudian hari pihaknya menemukan ada pangkalan yang menyalahgunakan kewenangannya, atau menyalahgunakan distribusi maka akan ia tindak tegas. “Itu pasti karena sudah ada kontrak, rambu-rambu yang harus kita tepati,” tutur Yos.

Namun sebelumnya, Yos akan melakukan pengecekan dengan pangkalan sebelum sanksi Pemutusan Hubungan Usaha (PHU) diturunkan. “Kita ada satgasnya dan kita selalu sidak juga,” imbuh Yos.