Sleman Layak Diferivikasi Tim Kabupaten Sehat Pusat

DSC_0999bernas Tim saat di TK Budi Mulia 2Sleman – Setelah mempelajari laporan pelaksanaan kegiatan Kabupaten Sehat di Kabupaten Sleman, maka tim merasa bahwa Kabupaten Sleman layak untuk di ferivikasi Tim Kabupaten Sehat Pusat. Hal tersebut disampaikan Edison Siagian selaku ketua Tim Kabupaten Sehat Pusat saat diterima Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi sebelum melakukan ferivikasi ke lapangan, di  Pemkab Sleman, Rabu (19/8)

Tim ferivikasi Kabupaten Sehat Pusat terdiri dari Kementrian Kesehatan dan Kementrian Dalam Negeri. Untuk itu kesempatan ferivikasi ini  digunakan tim untuk mencocokan data yang telah disampaikan dengan kenyataan yang ada di lapangan, apakan benar, apakah lebih baik dari kenyataannya atau sebaliknya.

Karena selama ini terjadi laporan yang disampaikan tentu dibuat dan disusun dengan sebaik-baiknya namun setelah diferivikasi dilapangan hasilnya beda, namun ada pula laporan yang karena waktunya mendesak sehingga tidak bisa dibuat maksimal ternyata di lapangan malah lebih bagus.

Sementara  Gatot Saptadi menyampaikan selama ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus berupaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan mencanangkan program dan kegiatan yang dapat mendukung terwujudnya masyarakat Sleman yang sehat.

Beberapa program dan kegiatan yang dilakukan disamping untuk penjaminan kesehatan masyarakat, difokuskan pada peningkatan sarana prasarana pelayanan, pengelolaan sampah serta peningkatan peran serta dan kemandirian masyarakat. Namun tidaklah cukup keinginan mewujudkan masyarakat Sleman sehat jika tidak didukung dengan  kesadaran dan dukungan masyarakat Sleman sendiri, untuk itu dibutuhkan kesadaran masyarakat akan pola hidup yang sehat.

Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat ini ditempuh dengan cara gerakan masyarakat sehingga pembangunan kesehatan dilaksanakan oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Gatot juga menyampaikan kegiatan ini merupakan kali keempat kunjungan Tim Verifikasi ke Kabupaten Sleman dalam penilaian Kabupaten Sehat.

Pada tahun 2009 lalu Kabupaten Sleman memperoleh Swasti Saba Padapa untuk Kabupaten Sehat klasifikasi pemantapan dengan tatanan yang terpilih yaitu ketahanan pangan dan gizi serta kehidupan masyarakat yang sehat dan mandiri, kemudian pada tahun 2011 Kabupaten Sleman memperoleh Swasti Saba, dengan klasifikasi pembinaan (Wiwerda) untuk 4 tatanan terpilih yaitu ketahanan pangan dan gizi, kehidupan masyarakat yang sehat dan mandiri, kawasan permukiman sarana prasarana sehat dan  kawasan pariwisata sehat.

Pada tahun 2013 Kabupaten Sleman kembali memperoleh Swasti Saba Wiwerda dengan 5  tatanan yang terpilih yaitu kawasan permukiman sarana prasarana sehat, ketahanan pangan dan gizi, kawasan pariwisata sehat, kehidupan masyarakat yang sehat dan mandiri serta kehidupan sosial yang sehat.

Pada tahun 2015 ini Kabupaten Sleman berupaya agar memperoleh Swasti Saba untuk Kabupaten Sehat. Klasifikasi pengembangan (Wistara) dengan mengajukan 7  tatanan yaitu, kawasan permukiman sarana prasarana sehat, kawasan tertib lalu lintas dan transportasi, kawasan pariwisata sehat, kawasan industri dan perkantoran sehat, ketahanan pangan dan gizi, kehidupan masyarakat yang sehat dan mandiri, serta kehidupan sosial yang sehat.

Ketujuh tatanan tersebut masing-masing memiliki program unggulan yang telah dilaksanakan dan telah memenuhi indikator yang telah ditetapkan dalam pedoman penyelenggaraan Kabupaten Sehat, selain itu masing-masing dari tatanan tersebut telah memperoleh penghargaan dari berbagai pihak.

Seperti untuk kawasan permukiman sarana prasarana sehat, Pemkab Sleman memperoleh penghargaan MDG award dalam kategori layanan air bersih dan sanitasi serta penghargaan dalam tatanan lainnya. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan paparan oleh Ketua Forum Kabupaten Sehat Sleman Drs P Suyanto, tentang pelaksanaan Kabupaten Sleman.

Selanjutnya tim melakukan ferivikasi ke lapangan yakni 7 tatanan sebagai program unggulan. Untuk unggulan tatanan lalu lintas tertib dan transportasi dengan program unggulan pelayanan pemeriksaan kendaraan atau kir di Dinas Perhubungan Kominfo dilanjutkan ke ketatanan kehidupan sosial yang sehat dengan lokasi unggulan di TPA An Nur Triharjo Sleman.

Tatanan permukiman sarana dan prasarana sehat dengan lokasi TK Budi Mulia 2 Condongcatur dan pelayanan pos pembinaan terpadu di pasar sehat Sambilegi Depok. Tatanan Industri dan perkantoran sehat yang diunggulkan yakni Khansa snak di Condongcatur Depok yakni industri olahan abon tuna, lele, bakso, nugget dan otak-otak, kemudian tatanan kehidupan masyarakat sehat yang mandiri dengan PIK R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) Genderang Kecamatan Ngaglik.

Pengelolaan lingkungan permukiman di Nglempong Surodadi Girikerto Turi (pengelolaan sampah mandiri). Untuk tatanan ketahanan pangan dan gizi dengan program unggulan budidaya tanaman hortikultura oleh kelompok masyarakat di dusun Cancangan Wukirsari Cangkringan. Dan yang terakhir tatanan pariwisata sehat dengan unggulan desa wisata Pulesari Wonokerto Turi.




Sleman Hadapi Tantangan Persaingan Global

Sleman – Kabupaten Sleman menghadapi tantangan besar dan tantangan yang dihadapi saat ini bukan hanya di tingkat regional. Akhir tahun ini Sleman juga akan menghadapi persaingan global dengan diberlakukannya MEA. Hal tersebut menuntut revolusi mental bagi seluruh masyarakat untuk meningkatkan kualitas diri menghadapi persaingan yang lebih berat.

“Perubahan besar-besaran ini juga berlaku bagi aparat PNS penyelenggara negara yang memiliki tanggung jawab moral maupun konstitusional untuk bekerja jujur, tanpa pamrih, melayani rakyat secara paripurna,” kata penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi dalam resepsi kenegaraan yang berlangsung di Pendopo Parasamya Pemkab Sleman, Selasa (18/8) malam.

Gatot juga  mengajak kepada seluruh masyarakat Sleman untuk terus memupuk semangat kebersamaan dan kegotogroyongan yang telah menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat.

Disampaikan Gatot bahwa tahun ini, Kabupaten Sleman telah berhasil menunjukkan sejumlah prestasi ber-skala nasional diantaranya terbaik ke-2 penghargaan Pangripta Nusantara dalam bidang Perencanaan Pembangunan.

Di bidang informatika, Sleman meraih sejumlah predikat di IDSA Award Pada kategori E-Health, Sleman memperoleh peringkat ke-2, pada kategori E-Education memperoleh peringkat ke-1, pada kategori E-Tourism memperoleh peringkat ke-2, dan pada kategori E-government memperoleh peringkat ke-1.

“Pada awal bulan ini kita juga menerima langsung penghargaan Satya Lencana Wira karya Kencana di bidang KB serta penghargaan Kabupaten Layak Anak Tingkat Madya. Di bidang koperasi, kita juga mendapat penghargaan Satyalancana Pembangunan,” kata Gatot. Berbagai penghargaan ini lanjutnya bukan tujuan utama dari pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan di Kabupaten Sleman. Namun demikian berbagai prestasi yang telah dicapai tetap harus dipertahankan bahkan ke depan perlu ditingkatkan lagi.

“Selain itu, masih banyak pe-er yang harus kita selesaikan dan teruskan di tahun 2015 ini dan di tahun-tahun ke depan,” katanya.

Disisi lain juga  dituntut untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan harus dipastikan semua anak di Sleman harus sekolah minimal hingga jenjang SMA. Mempertahankan dan berupaya meningkatkan ketahanan pangan Sleman dengan difersifikasi pangan dan mengendalikan hilangnya lahan sawah. Serta menjaga agar masyakarat Sleman selalu sehat, dengan berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.

“Pola hidup bersih harus menjadi budaya masyarakat kita,” tutur Gatot.

Pada kesempatan tersebut juga diserahkan berbagai hasil kejuaraan/lomba antara lain  festival Reog dan jathilan sebagai juara I tingkat DIY Reog Sindu Toh Pati dari Nduri Tirtomartani Kalasan. SD Susukan Margokaton Seyegan sebagai juara I Festival dolanan anak tingkat Kabupaten Sleman. Sanggar Kembang Sakura, Sinduadi Mlati sebagai juara I kategori tanpa alat dalam festival  dolanan anak tingkat DIY.

Sedang dalam lomba peserta KB Lestari 10 tahun tingkat nasional juara I Suryati/H Sugeng Rohmadi dari Kejambon Lor Sindumartani Ngemplak. Sri Sukarti/Tukino dari Jalan Lele I Perum Minomartani Ngaglik sebagai juara I tingkat nasional sebagai peserta KB lestari 20 tahun.

Sedang dalam lomba Koperasi konsumen sebagai juara I tingkat DIY Koperasi mahasiswa UGM. Dalam lomba koperasi jasa sebagai juara I  tingkat DIY koperasi jasa Kolapura Avia dari PT Angkasapura  bandara Adisucipto. Dalam lomba koperasi pemasaran juara I tingkat DIY diraih Koperasi karyawan Taman Wisata Candi.

Sementara itu dalam lomba PKB/PLKB tingkat kabupaten sleman dan tingkat DIY sebagai juara I Drs Akhiz Isa Anshori dari Kecamatan Gamping. PIK R Prayogo dari Sawahan Pendowoharjo Sleman sebagai juara I baik tingkat Kabupaten maupun tingkat nasional.

Dalam lomba Kader BKB juara I tingkat kabupaten dan tingkat DIY diraih Mutiara Bunda dari Pringwulung Condongcatur Depok. Lomba kader BKR juara I tingkat Kabupaten dan DIY diraih Lentera Biru dari Biru Trihanggo Gamping. Lomba BKR (Bina Keluarga Remaja) juara I tingkat Kabupaten dan DIY diraih Lentera Biru dari Biru Trihanggo Gamping, Lomba BKL juara I tingkat kabupaten dan DIY diraih Ngudi Saras dari Panggungan Trihanggo Gamping.

Lomba desa baik ditingkat kabupaten maupun DIY juara I diraih Desa Triharjo Sleman, dan dalam  lomba kabupaten layak anak tingkat Kabupaten  tingkat DIY diraih Madya  dari Kabupaten Sleman.




Sleman Masuk Kategori Kekeringan Ekstrim

Sleman– Kepala Stasiun Geofisika Kelas 1 Jogja, Tony Agus Wijaya SSi mengatakan saat ini DIY termasuk Sleman berasa di musim kemarau yang diperkirakan sifat hujannya dibawah normal yaitu jumlah curah hujan berkurang 50 – 70 persen dari kondisi rata – ratanya. Hal ini salah satunya disebabkan adanyua anomali atau gangguan iklon selama musim kemarau 2015 berupa peristiwa El Nino.

“Dalam kondisi normal, musim kemarau di Sleman terjadi pada bulan Mei hingga Oktober. Namun dengan adanya El Nino diperkirakan awal musim hujan menjadi mundur dan diperkirakan akhir November 2015 dan jumlahj curah hujan dibawah normal yaitu jumlah curah hujan berkurang lebih dari 15 persen dari rata – ratanya,” kata Tonykepada wartawan di Ruang Sekda B Pemkab Sleman, Selasa (11/8).

Dijelaskan Tony dari hasil monitoring sampai tanggal 10 Agustus 2015, seluruh wilayah Sleman mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan berturut – turut dan masuk dalam kategori kekeringan ekstrim. Daerah byang mengalami hari tanpa hujan berturut – turut yang terpanjang adalah di Dolo Wedomartani Ngemplak yaitu 74 hari dan terpendek di Beran Tridadi Sleman yaitu 60 hari.

Menurut Tony di musim kemarau tetap terjadi potensi cuaca berawan dan hujan ringan dengan durasi singkat disiang hari dan sore hari, karena bariasi dan dinamika cuaca lokal.

“Bulan Agustus adalah puncak musim kemarau diwilayah Sleman yaitu jumlah curah hujan paling sedikit selama satu tahun terjadi di bulan Agustus,” tutur Tony.

Karena itu lanjutnya perlu kesiapsiagaan dan langkah antisipasi saat menghadapi potensi bencana kekeringan yaitu dengan menghemat air, mencari sumber air baru, penyediaan pompa air penyediaan pipa distribusi air, droping air bersih dan menyesuaikan jenis komoditas tanaman pertanian yang sesuai dengan curah hujan yang sedikit.

Sementara mengantisipasi musim kemarau panjang di wilayah Sleman ini Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi mengatakan ada dua hal yang perlu diantisipasi selama musim kemarau panjang selama enam bulan yang akan datang.

“Dua hal tersebut adalah pelayanan air minum masyarakat dan kemungkinan adanya kebijakan pertanian sebab Sleman merupakan lumbung padinya DIY,” kata Gatot.

Dikatakan Gatot, tahun ini kemarau panjang karena ada el nino moderate sehingga perlu dilakukan antisipasinya terutama selalu memantau sumber air di Sleman, mewaspadai sumur dalam. Dalam bidang pertanian dipilih kearifan lakal dnegan memanam palawija dimusim kemarau dan perikanan memilih ikan yang membutuhkan air sedikit.




Sleman Tak Terdampak Harga Daging Sapi

Sleman – Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman, Ir Widi Sutikno MSi mengatakan di Sleman tidak terdampak terhadap harga daging sapi yang tinggi. Sebab harga daging sapi di Sleman masih normal berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu per kg.

“Dari hasil pantauan yang kami lakukan harga daging sapi di Sleman tidak seperti di Jakarta yang cukup tinggi. Di Sleman harganya masih normal sehingga tidak perlu dikhawatirkan,” kata Widi kepada wartawan di Pemkab Sleman, Selasa (11/8).

Dijelaskan Widi, populasi sapi di Sleman mencapai 51 ribu ekor yang tersebar di 17 Kecamatan  di Sleman dan populasi ini merupakan potensi alamiah. Dengan demikian Sleman tak terdampak dengan harga daging yang tinggi.

Widi memperkirakan kenaikan harga daging sapi ini karena ada permainan pedagang besar untuk menahan sapi menjelang Idul Adha sehingga yang terjadi permintaan menjadi banyak persediaan kurang. Namun untuk Kabupaten Sleman lanjut Widi, persediaan sapi untuk beberapa bulan ke depan masih banyak apalagi populasinya juga cukup banyak.

“Harapan kita kepada masyarakat, sapi di Sleman dipertahankan utamanya yang betika karena betina merupakan pabrik sapi,” kata Widi.

Selain itu antisipasinya dalam jangka panjang dilakukan dengan pola gertak birahi pada sapi betina yaitu dengan melakukan inseminasi buatan. Sehingga populasi sapinya lebih banyak lagi.

Widi juga menambahkan akan mengembalikan populasi sapi putih meski sapi metal juga masih bisa dikembangkan. Disisi lain juga akan membatasi transaksi sapi yang luar biasa sehingga ketersediaan sapi masih banyak di Sleman.




Pilkades 35 Desa di Sleman Lancar

Perhitungan SuaraSleman – Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 35 Desa di Kabupaten Sleman berjalan lancar, tanpa hambatan berarti, Minggu (9/8). Pelaksanaan Pilkades serentak tersebut juga dipantau Sekretaris Daerah dr Sunartono MKes yang pada kesempatan tersebut didampingi Asekda Bidang Pembangunan Dra Suyamsih, Kepala Bagian Pemerintahan Desa Drs Mardiyana, Kepala Bagian humas Dra Sri Winarti.

Untuk rombongan Sekda pemantauan dilakukan di Desa  Sidoarum Kecamatan Godean, Sumbersari Moyudan, Ambarketawang Gamping dan  Sendangadi Mlati. Sedang untuk tim kedua yang dipimpin Asekda Bidang Pemerintahan Sunaryo SH yang didampingi antara lain Kepala Bagian Tata Pemerintahan Dra Endang Wedowati, Kepala Bagian Hukum Hery Dwi Kuryanto SH, Kepala Bagian Umum Sukarno SH melakukan pemantauan di desa Madurejo dan Bokoharjo Kecamatan Prambanan, Desa Condongcatur Depok, Selomartani Kalasan dan Bimomartani Ngemplak.

Saat dijumpai disela-sela pemantauan Sekda Sleman  Sunartono antara lain menyampaikan bahwa pelaksanaan Pilkades di 35 Desa di Kabupaten Sleman dengan 112 calon Kepala Desa tersebut berjalan lancar. Dari data calon kepala desa tersebut mayoritas masih didominasi kaum laki-laki yaitu 103 orang sedang wanitanya hanya 9 orang.

Dari 112 calon kepala desa tersebut yaang berpendidikan S2 ada 6 orang, S1 ada 11 orang, D3 ada 5 orang, berpendidikan SLTA ada 85 orang dan yang berpendidikan SMP ada 5 orang.

Lebih lanjut disampaikan bahwa meskipun pelaksanaan Pilkades secara serentak tersebut berjalan lancar namun diharapkan pengamanan tidak hanya saat pelaksanaan Pilkades saja, namun diharapkan pasca pelaksanaan Pilkades harus juga tetap ada pengamanan. Hal tersebut untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

“Yang jelas kepada semua calon Kepala Desa yang maju dalam pemilihan tersebut diharapkan untuk menjaga situasi yang kondosif baik yang menang maupun yang kalah,” kata Sunartoni.

Dan yang lebih penting tanbah Sunartono, bagi calon Kepala Desa yang menang jangan umuk, tetapi sebaliknya yang kalah juga jangan ngamuk, karena pada prinsipnya pemilihan tersebut bukan seperti pertandingan diatas ring. Tetapi yang menang sebagai amanah dan memikul bebang tanggung jawab yang lebih besar, sebaliknya yang kalah diharapkan mendukung yang menang agar program pembangunan di desa bisa berjalan dengan baik.

Disampaikan pula bahwa dalam pemilihan tersebut semua calon diharapkan tetap siap, artinya siap kalah dan siap menang, yang kalah harus mendukung yang menang agar roda pemertintahan di desa tetap berjalan lancar.

Pelaksanaan Pilkades di beberapa TPS yang sempat disambangi Sunartono cukup menggembirakan, karena antusias masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya cukup tinggi, seperti yang terjadi di salah satu TPS di Ambarketawang Gamping pada pukul WIB jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya sudah mencapai dua pertiga, dan harapannya di TPS yang lain juga seperti itu.