Sleman Kembangkan Potensi Energi Mikrohidro

Sleman – Kabupaten Sleman mulai mengembangkan energi mikrohidro atau pembangkit listrik tenaga air. Namun, pengembangan mikrohidro tersebut masih berskala kecil.

Pengembangan mikrohidro telah dilakukan di Desa Girikerto Kecamatan Turi dan Desa Sendangrejo Kecamatan Minggir.

Menurut Kepala Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Dinas Sumber Daya Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) Sleman, Fauzan Darmadi, energi mikrohidro belum dapat berkembang sehingga dapat bernilai ekonomi. “Pengembangan energi sumber daya air masih skala kecil,” ujarnya Senin (24/3).

Untuk menghasilkan energi, pembangkit listrik di Girikerto dan Sendangrejo masih membutuhkan biaya tinggi. Listrik yang dihasilkan pun baru cukup untuk penerangan masyarakat sekitar. “Pemeliharaan juga belum dilakukan dalam standar yang baku” ungkap Fauzan.

Potensi energi mikrohidro di Sleman dinilai masih tinggi. Dinas SDAEM telah memetakan sejumlah wilayah untuk pengembangan energi mikrohidro. Pengembangan energi mikrohidro rencananya akan dibuat di aliran Sungai Opak di Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan.

Pembangkit listrik tersebut masih mengandalkan aliran sungai untuk menggerakkan turbin. Listrik yang dihasilkan di Desa Selomartani nantinya untuk pengembangan perkebunan rakyat. “Warga bisa menggunakan listrik dari pembangkit untuk penyiraman dan penerangan perkebunan,” kata Fauzan.




Lahan Konservasi Air Di Kabupaten Sleman Masih Kurang

Sleman – Konservasi lahan air di Kabupaten Sleman masih jauh dari aturan perundangan. Kepala Dinas SDAEM Sleman Sapto Winarno mengatakan bahwa seharusnya di Sleman 30 persen dari lahan merupakan wilayah konservasi.

Tapi sekarang ini baru terdapat 6 persen lahan konservasi. “Kapan idealnya terealisasi prosentase itu, kami tidak bisa menargetkan,” kata dia, Senin (24/3).

Saat ini Sleman telah memiliki 14 embung, namun penambahan embung masih sangat diperlukan. Lahan konservasi air di Sleman masih 6 persen dari lahan, jauh dari ketetapan pemerintah yang mengaharuskan 30 persen lahan untuk konservasi. Tiap embung berkapasitas volume rata-rata meter kubik air.

Bupati Sleman Sri Purnomo menyatakan, pemerintahnya meningkatkan daya dukung lingkungan, salah satunya berupa konservasi sumber daya air. Embung yang sudah ada dimanfaatkan untuk pertanian, perikanan dan  pariwisata. “Ke depan, embung atau konservasi air itu akan dikembangkan menjadi salah satu sumber air minum pedesaan,” ujarnya.

Dia menegaskan, tak boleh ada kelompok masyarakat yang memonopoli sumber daya air karena sumber daya air milik bersama. “Semua kepentingan masyarakat harus bisa terpenuhi secara adil dan merata,” katanya.

Sedangkan 11 embung yang sudah direncanakan itu dapat bermanfaat bagi masyarakat baik di sisi  ekologi, ekonomi, dan sosial. “Selain bisa dimanfaatkan sebagai kebutuhan air bersih, juga untuk pertanian, perikanan dan bisa menjadi  air minum dalam kemasan,” kata dia.

Untuk membangun satu buah embuh dibutuhkan dana sebesar Rp 3 miliar hingga Rp 4 miliar. Namun untuk kawasan berpasir butuh dana lebih besar, sekitar Rp 8 miliar. Lokasi yang akan dibuat embung juga bisa dimanfaatkan sebagai lokasi wisata tetapi harus disinergikan antara kebutuhan konservasi dan wisata.




BKD Sleman Lakukan Pemberkasan CPNS Honorer K2

Sleman – Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Sleman, Senin (24/3), melakukan pemberkasan CPNS Honorer Kategori 2 yang dinyatakan lolos seleksi CPNS tahun 2014. Sebelumnya para CPNS tersebut telah melakukan tes kesehatan di RSUD Murangan Sleman dari tanggal 12 hingga 19 Maret 2014.

Pemberkasan ini dimaksudkan sebagai upaya seleksi administrasi bagi tenaga honorer K2 yang lolos tes tertulis untuk diusulkan pengangkatan CPNS ke Kantor Regional 1 BKN di Yogyakarta.

Mengingat sanksi administrasi maupun sanksi pidana yang cukup berat apabila terbukti melakukan pemalsuan data, maka Kepala BKD Kabupaten Sleman  berpesan agar petugas korektor ataupun verifikator pemberkasan melakukan penelitian dan verifikasi dengan cermat dan teliti jangan sampai ada rekayasa ataupun pemalsuan data dan dokumen.

Pemberkasan ini rencananya akan berlangsung selama 5 hari, dijadwalkan setiap hari rata-rata 100 orang yang akan melakukan pemberkasan CPNS. Banyak di antara para honorer tersebut membawa tumpukan berkas yang sangat tebal, karena banyaknya berkas yang dilampirkan dan lamanya mereka mengabdi.

Biasanya banyak ditemui kasus pemberkasan tenaga honorer, seperti kehilangan SK Pengangkatan Honorer, daftar hadir dan daftar penerimaan gaji  tidak lengkap dsb.

Setelah proses pemberkasan ini selesai kemudian akan ditentukan berkas yang memenuhi syarat untuk di usulkan pengangkatan CPNS. Proses pengusulan CPNS ini sudah memakai sistem online yang dikenal dengan SAPK (Sistem Aplikasi Pelayanan Kepegawaian) yang berbasis web.




Koperasi Di Sleman Tunjukkan Trend Peningkatan

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tetap mendorong aktivitas koperasi untuk menyangga kegiatan ekonomi masyarakat, dalam upayanya menumbuhkan ekonomi kerakyatan.

Perkembangan perkoperasian di Kabupaten Sleman terlihat dari jumlah koperasi yang ada, menunjukkan trend yang semakin meningkat, yaitu 598 koperasi pada tahun 2010 menjadi 623 koperasi pada tahun 2013.

“Jumlah koperasi aktif, juga meningkat dari 526 koperasi pada tahun 2010 menjadi 573 pada tahun 2013. Jumlah anggota semakin meningkat dari orang pada tahun 2010 menjadi orang pada tahun 2013,” kata Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI di Sleman, Senin (24/3).

Menurut Sri Purnomo dari hasil usaha koperasi juga mengalami peningkatan. Dilihat dari jumlah modal sendiri mengalami peningkatan, yaitu dari Rp142,56 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp 255,38 miliar pada tahun 2013.

Jumlah volume usaha sebesar Rp20,09 miliar pada tahun 2010 meningkat menjadi Rp972,77 miliar pada tahun 2013. Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar  Rp15,89 miliar pada tahun 2010 meningkat menjadi Rp22,14 miliar pada tahun 2013.




Boyong Tirta Kautaman Tandai Hari Air Dunia Ke 22 Di Sleman

211_20140324123201

Sleman – Peringatan Hari Air Dunia ke-22, Sabtu (22/3) di Kabupaten Sleman sekaligus menjadi momen pencanangan ”Boyong Tirto Kautaman”. Hal ini di maksudkan agar masyarakat mampu menjadi pengelola air yang merupakan anugrah alam.

“Air harus dimanfaatkan bersama sehingga ketenteraman hidup dapat dicapai melalui pengelolaan air yang benar dan tepat,” kata  Bupati Sleman Sri Purnomo saat memperingati Hari Air Dunia di Embung Kali Aji di Wonokerto Turi Sabtu (22/3).

Kegiatan peringatan sebelumya didahului dengan sarasehan dan dilanjutkan dengan penyerahan dua buah kendi berisi air bersih yang dikirab oleh Bregodo Prajurit Simo Merapi kepada Bupati dan Ketua DPRD Sleman, serta penebaran benih ikan nila di embung Kaliaji dan penanaman pohon buah-buahan di sekitar embung.

Pemkab Sleman senantiasa berupaya untuk mengelola sumber daya air sesuai dengan tiga pilar utama yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yaitu konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.

Sejalan dengan tema Hari Air Dunia ke-22, yaitu water and energy, Pemkab Sleman juga berupaya untuk meningkatkan daya dukung lingkungan melalui upaya konservasi sumber daya air.

Di Kabupaten Sleman saat ini sudah terdapat 14 embung yang berfungsi dengan baik, dan telah dimanfaatkan untuk pertanian, perikanan dan pariwisata. Bahkan nantinya dapat dikembangkan menjadi salah satu sumber air minum pedesaan. Kedepan, Sleman akan menambah 11 embung lagi dan telah mempunyai digarap DED pembangunannya.

Saat ini, sumber air di lereng Merapi dimanfaatkan oleh banyak orang, tidak hanya sebagai air bersih namun juga untuk pertanian, perikanan bahkan air minum dalam kemasan.

Oleh karenanya, tidak boleh ada kelompok masyarakat yang memonopoli sumber daya air ini karena pada hakekatnya sumber daya air ini adalah milik bersama sehingga semua kepentingan masyarakat harus bisa terpenuhi secara adil dan merata.

Selain konservasi dan pendayagunaan sumber daya air, Kabupaten Sleman juga berupaya untuk mengendalikan dampak negatif dari sumber daya air yang berlebih. Dampak erupsi Merapi tahun 2010 lalu masih dirasakan dampaknya oleh sebagian kecil masyarakat petani di Sleman.

Saat ini ini terdapat 182 sumber mata air di Kabupaten Sleman. Namun masih terdapat bendung irigasi yang belum dapat diperbaiki, termasuk tanggul sungai yang mengkhawatirkan jika terjadi banjir  lahar dingin.

Sejumlah daerah irigasi/bendung dan pada tahun 2013, telah dbangun dan diperbaiki sebanyak 150 bendung. Pada tahun 2014 ini akan dibangun/diperbaiki sebanyak 92 buah.

Upaya lain yang kami lakukan adalah menjaga kualitas sumber daya air dengan tidak membuang limbah baik limbah padat maupun limbah cair ke sumber-sumber air seperti sungai, saluran irigasi, embung dan lain sebagainya.

Saat ini Pemkab Sleman juga telah menyusun Perda pengelolaan air tanah  yang saat ini tengah dalam pembahasan dengan DPRD, yang didalamnya terdiri dari 4 esensi, yaitu konservasi, pendayagunaan, pengendalian dan penyusunan sistem informasi air tanah.

Dalam perda tersebut, disebutkan bahwa hotel-hotel di Sleman diharapkan dapat menggunakan air PDAM sebagai upaya pendayagunaan, sedangkan air tanah/sumur hanya digunakan untuk mensuplai air bila terjadi gangguan pada jaringan PDAM.

Upaya-upaya tersebut diatas memerlukan komitmen bersama oleh seluruh komponen masyarakat dan institusi pemerintah bukan hanya Pemkab dan masyarakat Sleman namun juga Pemkab dan masyarakat lain yang berada di wilayah DIY.

Pemkab Sleman juga mengajak untuk bersama-sama memperbaki dan melakukan konservasi Lereng Merapi sehingga sumber-sumber air di lereng Merapi dapat dipertahankan.