Pemkal Banyuraden Tingkatkan Kesadaran Perempuan untuk Cegah Pernikahan Dini

Sleman — Pemerintah Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, mengambil langkah strategis dalam menekan angka pernikahan usia anak melalui pelatihan dan penyuluhan pemberdayaan perempuan. Kegiatan yang diselenggarakan di Ruang Rapat Kalurahan Banyuraden pada Senin (12/1/2026) ini menegaskan pentingnya peran ibu dan remaja putri dalam memahami dampak luas dari praktik pernikahan dini, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun pendidikan.

Acara ini menghadirkan perwakilan perempuan dari berbagai padukuhan, kader PKK, tokoh masyarakat, hingga kelompok remaja. Guna memberikan pemahaman yang komprehensif, pihak kalurahan menghadirkan narasumber ahli yakni Yuni Murniati dari Puskesmas Gamping II dan Swandara Pratiwi dari Kantor Urusan Agama (KUA) Gamping. Keduanya memaparkan materi yang memperkuat kapasitas perempuan sebagai agen perubahan di lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

Lurah Banyuraden, Sudarisman, menyatakan bahwa pencegahan pernikahan dini merupakan tanggung jawab kolektif yang tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak. Menurutnya, perempuan memiliki posisi sentral dalam memberikan edukasi kepada anak-anak mereka mengenai perencanaan masa depan dan kesehatan reproduksi. Ia berharap melalui pelatihan ini, para ibu mampu membangun pola komunikasi yang lebih terbuka dengan anak remaja mereka.

“Perempuan memiliki posisi strategis dalam memberikan edukasi sejak dini kepada anak dan remaja terkait perencanaan masa depan. Melalui pelatihan ini, kami menekankan penguatan keterampilan hidup agar perempuan mampu membimbing remaja dalam mengambil keputusan yang tepat. Peserta harus didorong untuk membangun komunikasi yang sehat dan terbuka di dalam keluarga sebagai upaya preventif utama terhadap pernikahan usia anak,” ujar Sudarisman dalam sambutannya.

Penyampaian materi dilakukan secara partisipatif melalui metode diskusi dan studi kasus yang relevan dengan realitas di masyarakat. Yuni Murniati dari Puskesmas Gamping II menyoroti risiko medis yang menghantui ibu dan anak jika persalinan terjadi pada usia yang terlalu muda. Sementara itu, Swandara Pratiwi dari KUA Gamping membedah aspek hukum mengenai batas usia perkawinan sesuai undang-undang yang berlaku guna memberikan perlindungan hukum bagi hak-anak.

Swandara Pratiwi menegaskan bahwa selain faktor kesehatan, kemandirian ekonomi dan pendidikan tinggi harus menjadi prioritas sebelum memutuskan untuk berkeluarga. Ia mendorong para peserta untuk berani melakukan advokasi di lingkungan sekitar agar stigma mengenai pernikahan dini dapat terkikis. Perempuan, menurutnya, harus menjadi benteng utama dalam menciptakan ruang tumbuh kembang yang optimal bagi generasi muda tanpa dibatasi oleh tanggung jawab rumah tangga di usia yang belum matang.

“Perempuan perlu didorong menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak dan remaja secara optimal. Dengan pemahaman hukum dan kesehatan yang kuat, mereka tidak akan ragu lagi untuk menyuarakan penolakan terhadap pernikahan dini di lingkungannya. Kita ingin menciptakan generasi yang matang secara psikologis dan ekonomi sebelum melangkah ke jenjang rumah tangga,” tandas Swandara Pratiwi.

Kamituwa Banyuraden, Agus Nurdalmadi, menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen penuh untuk terus memperkuat program edukasi berkelanjutan seperti ini. Ia meyakini bahwa sinergi antara pemerintah kalurahan, lembaga masyarakat, dan orang tua adalah kunci utama dalam melindungi masa depan generasi muda di Banyuraden. Upaya ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang lebih berkualitas, sehat, dan siap menyongsong masa depan yang lebih cerah tanpa dibayang-bayangi dampak negatif pernikahan dini. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Persiapan Matang Sarasehan Digitalisasi UMKM Tempel, KIM Perkuat Literasi Digital di Tingkat Lokal

Sleman — Transformasi digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tingkat lokal memerlukan kolaborasi lintas komunitas, pendampingan berkelanjutan, serta penguatan literasi digital di tingkat akar rumput. Hal tersebut menjadi poin utama dalam Rapat Persiapan Tunggal Sarasehan Digitalisasi UMKM Tempel yang digelar pada Selasa (6/1/2026) di Pringkuning 16, Gundengan, Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman.

Rapat tersebut dihadiri oleh penggagas kegiatan Sadhono Hadi, perwakilan Forum Komunikasi (Forkom) UMKM Kapanewon Tempel, serta Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Senyum Tempel, Muryana. Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan peran para aktor lokal dalam membangun ekosistem digital UMKM yang inklusif serta berkelanjutan di wilayah Tempel.

Dalam pertemuan tersebut, para peserta membahas kesiapan teknis pelaksanaan sarasehan dengan menitikberatkan pada kebutuhan riil para pelaku usaha. Sejumlah tantangan klasik masih dihadapi UMKM, mulai dari keterbatasan literasi teknologi, pemanfaatan media sosial yang belum optimal, hingga sistem pencatatan keuangan yang masih bersifat konvensional. Kondisi ini dinilai sangat memengaruhi kemampuan UMKM dalam memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing mereka di era modern.

Sadhono Hadi menegaskan bahwa rapat persiapan tunggal ini merupakan tahapan krusial agar kegiatan yang akan dilaksanakan tidak hanya bersifat seremonial belaka. Ia ingin memastikan bahwa sarasehan yang akan datang benar-benar memberikan dampak praktis bagi kemajuan ekonomi warga.

“Rapat ini kami gunakan untuk memetakan kebutuhan UMKM secara langsung. Sarasehan harus bersifat aplikatif dan memberi solusi konkret, terutama dalam hal strategi pemasaran, pengelolaan usaha, serta pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kapasitas para pelaku UMKM lokal,” ujar Sadhono Hadi di sela-sela rapat.

Senada dengan hal tersebut, Widyarsih selaku perwakilan dari Forkom UMKM Kapanewon Tempel menambahkan bahwa potensi UMKM di wilayahnya sangat besar namun masih memerlukan sentuhan literasi digital yang lebih mendalam. Ia berharap sarasehan ini menjadi titik awal kolaborasi yang lebih kuat antara pelaku UMKM, tenaga pendamping, dan pemangku kepentingan di tingkat lokal.

Konsultan UMKM dari Telkom Indonesia, Widarto, yang turut merancang materi untuk sarasehan tersebut, menekankan bahwa transformasi digital bagi pelaku usaha kecil perlu dilakukan secara bertahap dan terukur. Menurutnya, digitalisasi tidak harus dimulai dengan hal-hal yang kompleks, melainkan bisa melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten.

“Digitalisasi tidak harus rumit. UMKM bisa memulai dari pencatatan keuangan berbasis aplikasi, memaksimalkan media sosial sebagai etalase produk, serta memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar. Kuncinya adalah konsistensi dan pendampingan. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh perubahan pola pikir, pemahaman perilaku konsumen, serta kualitas konten promosi yang dihasilkan,” tutur Widarto.

Ketua KIM Senyum Tempel, Muryana, menegaskan komitmen organisasinya sebagai jembatan informasi dan penggerak literasi digital di masyarakat. KIM diproyeksikan sebagai aktor kunci dalam membangun ekosistem digital yang adaptif melalui penyebarluasan informasi dan edukasi yang berbasis komunitas.

“KIM siap mendukung penuh sarasehan ini melalui penyebarluasan informasi dan pendampingan berbasis komunitas. UMKM perlu didorong agar tidak sekadar menggunakan teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya secara cerdas, produktif, dan berkelanjutan untuk meningkatkan taraf hidup mereka,” tegas Muryana.

Rapat tersebut menyepakati bahwa Sarasehan Digitalisasi UMKM Tempel akan dilaksanakan pada Senin, 12 Januari 2026, bertempat di Kopi Sormindi, Nglengkong, Sumberrejo, Tempel. Acara ini direncanakan dihadiri oleh sekitar 20 pelaku UMKM terpilih serta jajaran Pemerintah Kapanewon Tempel dengan format materi yang mengedepankan praktik langsung dan studi kasus. (SBD/KIM Senyum Tempel)




KIM Pararta Guna Dukung Penguatan Literasi Santri Melalui Donasi Buku

Sleman — Donasi buku bacaan dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung peningkatan literasi anak sejak usia dini. Hal tersebut tercermin dalam kegiatan penyerahan donasi buku bacaan untuk Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Rutbatul Huda Banyuraden yang dilakukan oleh Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Pararta Guna Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo, kepada Pengasuh TPQ Rutbatul Huda di Cokrowijayan, Sleman, pada Senin (5/1/2026).

Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca santri sejak dini tersebut disambut antusias oleh pengelola serta para santri. Donasi berupa buku bacaan anak dan literatur edukatif sebanyak 165 buku ini diharapkan mampu memperkaya sarana belajar sekaligus menumbuhkan kebiasaan membaca di lingkungan pendidikan keagamaan nonformal. Langkah ini dipandang sebagai upaya konkret untuk mengimbangi paparan gawai pada anak-anak.

Adnan Iman Nurtjahjo menyampaikan bahwa donasi buku merupakan bentuk kepedulian nyata terhadap penguatan sumber daya manusia, khususnya generasi muda. Menurutnya, akses terhadap bahan bacaan yang layak dan menarik menjadi fondasi penting dalam membangun karakter, wawasan, serta kecakapan literasi anak-anak sebagai bekal masa depan mereka.

Ia pun menegaskan bahwa TPQ Rutbatul Huda yang berdiri sejak 21 April 2011 dan telah resmi terdaftar di Kementerian Agama Kabupaten Sleman ini memiliki peran ganda. Lembaga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembelajaran kitab suci Al-Qur’an, namun juga sebagai ruang pembentukan akhlak, nalar kritis, dan kebiasaan positif bagi anak-anak di wilayah Banyuraden.

“Kehadiran buku bacaan yang variatif kami nilai mampu melengkapi proses pendidikan yang sudah berjalan selama ini. Kami ingin para santri tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga memiliki wawasan umum yang luas melalui literatur edukatif yang kami berikan. Melalui literasi, kita sedang membangun fondasi berpikir mereka agar lebih kritis dan terbuka terhadap informasi yang bermanfaat,” ujar Adnan Iman Nurtjahjo saat menyerahkan bantuan tersebut secara simbolis.

Kegiatan donasi ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan KIM Pararta Guna Gamping dalam mendorong peran aktif masyarakat terhadap pembangunan pendidikan berbasis komunitas. KIM berkomitmen untuk terus menginisiasi kegiatan sosial-informatif yang memberikan dampak langsung serta meningkatkan kualitas informasi di tingkat akar rumput.

Sementara itu, Pengasuh TPQ Rutbatul Huda Banyuraden, Achmad Shofi, menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian dan dukungan yang diberikan oleh KIM Pararta Guna Gamping. Ia mengakui bahwa selama ini ketersediaan buku bacaan pendukung di lembaga yang dipimpinnya masih cukup terbatas, sehingga bantuan ini datang di waktu yang sangat tepat.

“Bantuan buku tersebut sangat bermanfaat bagi kami, mengingat keterbatasan fasilitas buku bacaan yang selama ini ada di TPQ. Kami akan memanfaatkan buku-buku ini sebagai media pendukung pembelajaran dan kegiatan literasi santri di sela-sela waktu mengaji. Kami berharap keberadaan pojok baca kecil ini dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, interaktif, dan tentunya tetap edukatif bagi seluruh santri,” tutur Achmad Shofi.

Sinergi antara organisasi masyarakat dan lembaga pendidikan keagamaan ini dinilai penting untuk menjawab tantangan pendidikan di era informasi. Pembangunan literasi bukan hanya tugas sekolah formal, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat demi mencetak generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)