Perkuat Mutu Layanan, Puskesmas Ngaglik II Gelar Lokakarya Integrasi Layanan Primer

Sleman — Puskesmas Ngaglik II Kabupaten Sleman mengambil langkah proaktif dalam mendukung transformasi sistem kesehatan nasional dengan menggelar Workshop dan Lokakarya Mini Puskesmas pada Kamis (22/1/2026). Bertempat di Crystal Lotus Hotel, Sleman, pertemuan ini mengusung tema “Peningkatan Mutu Pelayanan Puskesmas di Era Integrasi Layanan Primer (ILP)” sebagai upaya penguatan layanan kesehatan di tingkat akar rumput yang lebih terpadu dan berkualitas.

Kegiatan ini dihadiri oleh 45 peserta yang merupakan tenaga kesehatan Puskesmas Ngaglik II serta perwakilan lintas sektor di wilayah Kapanewon Ngaglik. Kehadiran lintas sektor ini menjadi poin krusial mengingat keberhasilan layanan kesehatan primer kini tidak lagi hanya bertumpu pada aspek medis, tetapi juga dukungan kebijakan dan sinergi kewilayahan. Sekretaris Daerah Sleman, Susmiarto, hadir sebagai narasumber utama untuk memberikan penguatan kebijakan strategis daerah.

Dalam paparannya, Susmiarto menegaskan bahwa puskesmas memegang peran sentral sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat. Ia menggarisbawahi bahwa efektivitas transformasi kesehatan sangat bergantung pada seberapa solid komitmen para pemangku kepentingan dalam menjalankan layanan yang terintegrasi dan merata. Menurutnya, koordinasi yang kuat akan memastikan setiap warga mendapatkan hak pelayanan kesehatan yang optimal tanpa terkecuali.

“Transformasi kesehatan tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan komitmen seluruh pemangku kepentingan, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah daerah, hingga lintas sektor agar layanan primer benar-benar terintegrasi, merata, dan berkualitas. Puskesmas harus mampu menjadi motor penggerak yang dinamis dalam merespons kebutuhan kesehatan masyarakat,” ujar Susmiarto di hadapan para peserta.

Sejalan dengan hal tersebut, Seruni Angreni Susila yang turut menjadi narasumber teknis menjelaskan bahwa fondasi utama ILP adalah pelayanan yang berkesinambungan dan berorientasi pada pencegahan. Di era baru ini, puskesmas dituntut untuk lebih menonjolkan fungsi promosi kesehatan daripada sekadar mengobati. Hal ini memerlukan perencanaan berbasis data yang akurat agar setiap intervensi kesehatan yang dilakukan tepat sasaran dan berdampak nyata bagi produktivitas masyarakat.

Kepala Puskesmas Ngaglik II, Sri Mugianto, menyampaikan bahwa lokakarya selama tiga hari ini merupakan fase krusial bagi jajarannya untuk beradaptasi dengan perubahan sistem. Seluruh petugas kesehatan kini mulai menyusun Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) tahun 2026 yang berbasis klaster layanan. Diskusi lintas sektor dalam kegiatan ini bertujuan untuk memetakan tantangan penilaian kinerja serta menyelaraskan program prioritas dengan agenda nasional.

“Melalui lokakarya ini, kami ingin memastikan seluruh petugas siap menjalankan layanan terintegrasi sesuai kebijakan nasional, sehingga mutu pelayanan kepada masyarakat semakin meningkat. Kami ingin menghadirkan wajah baru pelayanan kesehatan yang lebih proaktif dan terkoordinasi,” kata Sri Mugianto menjelaskan tujuan besar dari pertemuan tersebut.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, seluruh peserta dan pemangku kepentingan melakukan penandatanganan komitmen bersama. Kesepakatan tertulis ini menjadi landasan kuat bagi implementasi Integrasi Layanan Primer di wilayah Ngaglik. Dengan semangat kolaborasi tersebut, Puskesmas Ngaglik II optimistis dapat menjadi pilar utama yang menyukseskan transformasi kesehatan nasional demi terwujudnya masyarakat Sleman yang lebih sehat dan sejahtera. (ESK/KIM DSN)




Bangun Imunitas dan Solidaritas, PKK Ngentak Sleman Jadikan Senam Sehat sebagai Gaya Hidup

Sleman — Upaya membangun budaya hidup sehat kini semakin masif tumbuh dari tingkat komunitas terkecil melalui gerakan aktif masyarakat. Hal ini ditunjukkan secara nyata oleh ibu-ibu PKK RT 03 Padukuhan Ngentak, Kalurahan Pondokrejo, Kapanewon Tempel, Sleman, yang menggelar kegiatan senam sehat bersama pada Minggu sore (18/1/2026). Selain bertujuan menjaga kebugaran fisik, kegiatan ini menjadi instrumen penting dalam menjaga kesehatan mental dan mempererat tali silaturahmi antarwarga di tengah kesibukan sehari-hari.

Kegiatan yang dimulai pada pukul WIB tersebut sempat mengalami kendala teknis akibat cuaca yang kurang bersahabat. Meski rencana awal akan dilakukan di ruang terbuka, panitia dengan sigap mengalihkan lokasi ke area dalam ruangan di kediaman warga setempat, Lia Mulyati. Perubahan lokasi ini terbukti tidak menyurutkan antusiasme peserta, bahkan menciptakan suasana olahraga yang lebih intim, hangat, dan penuh semangat kekeluargaan.

Instruktur senam, Anjar Trisna Ningsih, memandu jalannya kegiatan dengan gerakan yang dinamis dan iringan musik yang energik. Menurutnya, manfaat senam bagi masyarakat, khususnya kaum ibu, sangat luas karena mampu melepaskan hormon endorfin yang memicu perasaan bahagia. Dengan rutin bergerak, risiko penyakit tidak menular akibat gaya hidup sedentari dapat ditekan secara signifikan sekaligus meningkatkan kualitas tidur dan konsentrasi dalam mengurus rumah tangga.

“Yang luar biasa, semangat ibu-ibu hari ini benar-benar menular dan luar biasa positif. Meski tempat harus dialihkan ke dalam ruangan karena cuaca, energinya justru semakin menyala. Gerakan senam ini dirancang agar mudah diikuti namun efektif untuk membakar kalori dan merelaksasi otot yang kaku. Kita ingin menunjukkan bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang untuk tetap aktif dan bugar,” ujar Anjar Trisna Ningsih dengan penuh semangat di sela-sela kegiatan.

Dukungan penuh juga datang dari Ketua PKK Padukuhan Ngentak, Minahul Musyarofah, yang hadir memantau jalannya kegiatan. Ia menegaskan bahwa peran PKK sangat strategis dalam mendukung program kesehatan nasional yang dimulai dari unit terkecil yaitu keluarga. Bagi Minahul, ibu-ibu adalah fondasi kesehatan keluarga, sehingga jika sang ibu memiliki kebiasaan hidup aktif, maka pola hidup sehat tersebut akan lebih mudah ditularkan kepada suami dan anak-anak di rumah.

“Senam sehat ini memang terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi ketahanan sebuah lingkungan. Ibu-ibu yang rutin olahraga cenderung lebih sehat secara fisik dan memiliki suasana hati yang lebih ceria, sehingga kebersamaan warga tetap terjaga dengan baik. Dari sinilah keluarga yang kuat dan masyarakat yang tangguh bisa dibangun. Kami ingin budaya hidup aktif ini menjadi bagian dari kebutuhan harian, bukan sekadar agenda bulanan,” tutur Minahul Musyarofah menekankan pentingnya konsistensi.

Gerakan “Sehat Bersama, Ceria Selamanya” yang diusung oleh PKK RT 03 Ngentak ini menjadi contoh nyata bahwa investasi kesehatan tidak harus mahal atau rumit. Inisiatif berbasis komunitas ini membuktikan bahwa dengan kemauan kuat dan kebersamaan, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih berdaya dan sehat secara mandiri. Langkah sederhana ini diharapkan terus berkelanjutan guna menekan angka risiko penyakit degeneratif dan memperkokoh solidaritas sosial di wilayah Kabupaten Sleman. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Pemeriksaan Awal Kunci Keberhasilan Terapi, KDK Donoharjo Hadirkan Layanan Kinesioterapi YAKKUM

Sleman — Pemeriksaan awal terhadap kondisi kesehatan dan fungsi gerak dinilai menjadi faktor krusial sebelum dilakukannya tindakan atau terapi lanjutan bagi penyandang disabilitas. Hal ini menjadi fokus utama dalam pertemuan rutin Kelompok Difabel Kalurahan (KDK) Donoharjo yang dirangkaikan dengan pemeriksaan kesehatan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) bersama Puskesmas Ngaglik dua serta layanan kinesioterapi dari YAKKUM di Aula Kalurahan Donoharjo, Sleman, pada Sabtu (17/1/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh para penyandang disabilitas beserta keluarga, Tenaga Pendamping Sosial Desa (TPSD), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), serta tim medis dari Puskesmas Ngaglik dua. Hadir pula Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Cabang Ngaglik untuk mendampingi proses pemeriksaan. Sinergi lintas lembaga ini bertujuan untuk memberikan akses layanan kesehatan yang lebih inklusif dan berkualitas bagi warga berkebutuhan khusus di wilayah Donoharjo.

Petugas kinesioterapi dari YAKKUM, Suryati, menekankan bahwa setiap tindakan fisik harus didahului dengan penilaian medis yang mendalam. Pemeriksaan awal ini berfungsi untuk memetakan kondisi otot, sendi, dan jangkauan gerak tubuh pasien secara akurat. Langkah tersebut sangat penting guna menghindari kesalahan prosedur penanganan yang justru berisiko menimbulkan cedera baru atau memperparah keterbatasan gerak yang sudah ada.

“Kinesioterapi selalu kami awali dengan pemeriksaan mendetail pada pergerakan sendi dan otot untuk melihat sejauh mana keterbatasan gerak yang dialami pasien. Dari hasil pemeriksaan awal tersebut, tim medis baru dapat menentukan apakah diperlukan terapi lanjutan dan jenis terapi apa yang paling sesuai dengan kebutuhan pasien. Kami tidak ingin memberikan tindakan tanpa dasar data medis yang kuat,” ujar Suryati di sela-sela kegiatan.

Dalam kesempatan tersebut, Suryati juga menginformasikan bahwa Pusat Rehabilitasi YAKKUM memberikan subsidi khusus dengan sistem pembayaran sukarela bagi penyandang disabilitas yang mengikuti program ini. Layanan yang disediakan mencakup penanganan gangguan tulang belakang, postur tubuh tidak simetris, hingga manajemen nyeri kronis. Selain kinesioterapi, tersedia pula layanan rehabilitasi pasca stroke, fisioterapi, hidroterapi, hingga konseling medis yang semuanya wajib melalui tahapan asesmen awal.

Salah satu layanan unggulan yang diperkenalkan adalah Panti Sehat Kinesio yang menawarkan metode Rain Drop Therapy. Metode ini menggunakan tetesan minyak khusus untuk membantu relaksasi, mengurangi tingkat stres, serta meningkatkan daya tahan tubuh pasien. Suryati menegaskan bahwa meskipun sifatnya relaksasi, metode ini tetap didahului dengan pemeriksaan kondisi fisik agar memberikan hasil yang optimal bagi kebugaran penyandang disabilitas.

“Seluruh layanan yang kami berikan, termasuk terapi relaksasi, wajib diawali dengan asesmen atau pemeriksaan medis yang ketat. Hal ini adalah standar prosedur kami untuk memastikan setiap tindakan yang diberikan benar-benar aman dan sesuai dengan kondisi fisik pasien saat itu. Dengan pemeriksaan yang benar, proses pemulihan atau peningkatan fungsi gerak akan berjalan lebih efektif dan tepat sasaran,” pungkas Suryati. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Perkuat Sinergi 2026, Puskesmas Depok II Gelar Rakordasi Bersama Puluhan Kader Posyandu

Sleman — Puskesmas Depok II menyelenggarakan Rapat Koordinasi dan Evaluasi (Rakordasi) tahunan sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (10/1/2026) di Aula Puskesmas Depok II ini dihadiri oleh 40 kader posyandu dari wilayah Kalurahan Condongcatur serta jajaran terkait. Pertemuan ini bertujuan untuk mengevaluasi capaian tahun sebelumnya sekaligus memantapkan koordinasi pelayanan kesehatan di masa mendatang.

Kepala Puskesmas Depok II, Endang Sulistyowati, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para kader dan seluruh pihak atas dedikasi serta kerja sama yang solid sepanjang tahun 2025. Ia menegaskan bahwa peran kader di tingkat akar rumput merupakan faktor kunci keberhasilan berbagai program kesehatan pemerintah, terutama dalam menjangkau masyarakat secara langsung.

“Kami sangat berterima kasih atas bantuan dan dukungan para kader yang luar biasa selama setahun kemarin. Sinergi yang kita bangun bersama adalah kekuatan utama sehingga program Puskesmas Depok II dapat berjalan lancar. Saya sangat berharap kerja sama ini tidak hanya bertahan, tetapi semakin meningkat di tahun 2026 agar manfaat layanan kesehatan kita benar-benar dirasakan maksimal oleh warga,” ujar Endang Sulistyowati dalam sambutannya.

Kegiatan Rakordasi ini menjadi momentum krusial untuk mempererat kolaborasi dan menyelaraskan langkah antara pihak Puskesmas dan kader posyandu. Selain menjadi wadah evaluasi, forum ini juga berfungsi sebagai tahap awal dalam menyusun rencana kerja terpadu guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di wilayah kerja Depok II pada tahun yang baru.

Pertemuan tersebut dipandu oleh tim ahli yang terdiri dari Pramija Ujiana, Pramidya Ujiana, serta Dwi Anisa Purnamasari. Dalam sesi koordinasi teknis, dibahas berbagai agenda mendalam dan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam satu bulan ke depan. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa setiap program kesehatan yang turun ke masyarakat bersifat terarah, terjadwal, dan terintegrasi dengan baik antara layanan medis dan kegiatan posyandu.

“Koordinasi yang solid di awal tahun sangat penting agar setiap langkah kita dalam satu bulan ke depan dan seterusnya tidak tumpang tindih. Kita ingin memastikan bahwa jadwal imunisasi, pemantauan gizi, hingga edukasi kesehatan lingkungan berjalan sesuai rencana dan tidak ada warga yang terlewatkan dalam mendapatkan hak kesehatannya,” tambah Pramija Ujiana di sela-sela memandu sesi diskusi.

Melalui penyelenggaraan Rakordasi ini, Puskesmas Depok II optimis dapat mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. Sinergi yang kuat antara tenaga kesehatan dan para kader diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi terciptanya masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera di wilayah Condongcatur pada tahun 2026. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Peringati HUT ke-50, SD Babarsari Gelar Aksi Kemanusiaan Donor Darah Bersama PMI Depok

Sleman — Sekolah Dasar (SD) Babarsari memperingati hari ulang tahunnya yang ke-50 atau usia emas dengan cara yang menyentuh sisi kemanusiaan. Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kapanewon Depok, sekolah tersebut menyelenggarakan aksi donor darah yang melibatkan guru, orang tua siswa, serta masyarakat sekitar pada Sabtu (10/1/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk memupuk jiwa sosial di lingkungan sekolah sekaligus membantu mengamankan stok darah di wilayah Depok dan sekitarnya.

Aksi sosial yang berlangsung di lingkungan sekolah ini mendapat sambutan hangat dari para pendaftar. Berdasarkan data panitia, terdapat 49 calon pendonor yang mendaftarkan diri. Setelah melalui pemeriksaan kesehatan yang ketat, sebanyak 43 orang dinyatakan lolos dan memenuhi syarat untuk diambil darahnya. Tingginya antusiasme ini menunjukkan besarnya kepedulian komunitas sekolah terhadap sesama.

Pengurus PMI Kapanewon Depok, Hening, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak sekolah yang telah memilih aksi donor darah sebagai bagian dari perayaan ulang tahun. Menurutnya, kontribusi sekecil apa pun dari masyarakat sangat berarti bagi mereka yang sedang membutuhkan transfusi darah di rumah sakit.

“Kami sangat senang dan bangga dapat berpartisipasi dalam acara ini. Langkah SD Babarsari patut dicontoh karena membantu masyarakat yang sedang berjuang dan sangat membutuhkan darah. Satu kantong darah yang didonorkan hari ini bisa menyelamatkan nyawa orang lain di luar sana,” ujar Hening di sela-sela kegiatan.

Kepala Sekolah SD Babarsari, Sudarman, mengungkapkan bahwa pemilihan kegiatan donor darah ini disengaja agar perayaan ulang tahun ke-50 sekolah tidak hanya bersifat hura-hura, tetapi juga membawa manfaat nyata. Ia ingin mengajarkan kepada para siswa secara tidak langsung tentang pentingnya berbagi dan menolong orang lain melalui aksi nyata yang bisa dilihat langsung di lingkungan sekolah.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut secara rutin dan menjadi agenda tahunan. Momentum usia emas ini kami gunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya donor darah bagi kesehatan pendonor itu sendiri dan manfaatnya bagi orang lain. Kami ingin SD Babarsari terus hadir memberikan dampak positif bagi lingkungan di usianya yang ke-50 tahun ini,” tutur Sudarman.

Perayaan ulang tahun ke-50 SD Babarsari ini menjadi titik balik penting bagi sekolah untuk semakin aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Keberhasilan acara donor darah ini diharapkan dapat memicu semangat lembaga pendidikan lainnya di wilayah Depok untuk turut serta melakukan aksi serupa demi kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. (Lidya/KIM Depok)