Wujudkan Lansia Mandiri dan Produktif, Muslimat NU Ngaglik Luncurkan Madrasah Husnul Khotimah

Sleman — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat Nahdlatul Ulama Kapanewon Ngaglik secara resmi meluncurkan Madrasah Husnul Khotimah Bina Aswaja pada Jumat (23/1/2026). Peristiwa ini ditandai dengan kegiatan soft opening yang berlangsung khidmat di PKBM Bina Karya Hikmah Assalam, Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman. Kehadiran madrasah khusus lansia ini menjadi tonggak baru dalam upaya pemberdayaan warga senior di wilayah tersebut melalui pendidikan keagamaan dan pelatihan kecakapan hidup.

Program unggulan pertama PAC Muslimat NU Ngaglik ini mengusung semboyan “Bersama Madrasah Lansia, Senja Menjadi Bahagia”. Konsep utama dari madrasah ini adalah menyediakan ruang pembelajaran sepanjang hayat yang inklusif bagi para lansia agar tetap aktif, mandiri, dan produktif. Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi, di mana jumlah santri yang mendaftar pada hari pertama mencapai 52 orang, jauh melampaui target awal panitia yang hanya mematok minimal 30 peserta dari enam ranting di Ngaglik.

Ketua Madrasah Husnul Khotimah Bina Aswaja, Zainah, menjelaskan bahwa kurikulum yang disiapkan tidak hanya berfokus pada aspek teologis semata, tetapi juga menyentuh aspek pemberdayaan sosial. Hal ini bertujuan agar para lansia memiliki kesibukan positif yang bermanfaat bagi kesehatan mental dan fisik mereka. Madrasah ini diproyeksikan menjadi wadah bagi para lansia untuk saling berinteraksi dan berbagi pengalaman di masa senja.

“Pendidikan bagi lansia sangat penting untuk menjaga kualitas hidup mereka, baik secara spiritual maupun sosial. Belajar tidak dibatasi oleh usia, dan kami berharap madrasah ini dapat membantu lansia di Ngaglik tetap mandiri, produktif, dan berdaya, sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal di masa depan,” ujar Siti Hinduniyah saat membuka secara resmi kegiatan tersebut.

Selain penguatan nilai-nilai keislaman ala Ahlussunnah wal Jamaah, para santri lansia juga akan dibekali dengan berbagai pelatihan keterampilan dan kerajinan tangan. Perwakilan PC Muslimat NU Kabupaten Sleman, Arina Fuaziyah, menyebutkan bahwa ke depan madrasah ini akan menjalin sinergi dengan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD), seperti Dinas Sosial dan Kementerian Agama. Kerja sama lintas sektoral ini diharapkan mampu memperkaya materi pembelajaran, termasuk edukasi kesehatan dan hak-hak lansia.

Melengkapi materi pembekalan, Salamun Sodri memberikan tausiyah dan doa sebagai penyemangat bagi para santri baru. Ia menekankan bahwa selain bekal agama dan kemasyarakatan, pelatihan kecakapan hidup yang mengacu pada program pemerintah akan menjadi daya tarik tersendiri. Para lansia didorong untuk tetap menghasilkan karya kreatif meskipun sudah tidak berada di usia produktif secara formal.

“Program ini adalah bentuk perhatian nyata kami agar para orang tua kita mendapatkan akses pendidikan yang layak di usia senja. Kami ingin membuktikan bahwa di madrasah ini, setiap detik waktu yang dihabiskan adalah investasi kebahagiaan dan kemuliaan hidup,” kata Salamun Sodri dalam pesan penutupnya.

Acara peluncuran tersebut diakhiri dengan penyerahan alat tulis kantor (ATK) secara simbolis kepada perwakilan santri sebagai tanda dimulainya kegiatan belajar mengajar secara rutin. Dengan dimulainya Madrasah Husnul Khotimah Bina Aswaja, Kapanewon Ngaglik kini memiliki pusat pengembangan potensi lansia yang diharapkan mampu menjadi percontohan bagi wilayah lainnya di Kabupaten Sleman. (Andy Ahmad/KIM DSN NGAGLIK)




BKL Cemara Layani Puluhan Lansia Agar Tetap Tangguh dan Produktif

Sleman — Kesadaran akan pentingnya menjaga kualitas hidup di usia senja terus tumbuh melalui gerakan Bina Keluarga Lansia (BKL) di Kabupaten Sleman. Di Padukuhan Ngentak, Kalurahan Pondokrejo, Kapanewon Tempel, sebuah kelompok bernama BKL Cemara secara konsisten memberikan pelayanan terpadu bagi puluhan warga lanjut usia. Program yang berada di bawah naungan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana ini menjadi bukti nyata bahwa lansia tetap bisa hidup sehat, mandiri, dan produktif.

Kelompok ini menjadi wadah aktif bagi sekitar 80 lansia dari berbagai wilayah padukuhan, dengan komposisi peserta laki-laki mencapai 20 persen. Sejak tahun 2017, BKL Cemara dipimpin oleh Jamiatun Mufidah yang akrab disapa Jamiatun atau Mbak Jam. Bersama 21 kader aktif serta dukungan dari istri dukuh setempat, ia menghidupkan kembali organisasi ini agar menjadi ruang aman dan nyaman bagi para lansia untuk bersosialisasi sekaligus mendapatkan layanan kesehatan primer.

Saat ditemui di Sekretariat BKL Cemara pada Minggu (18/1/2026), Jamiatun menjelaskan bahwa fokus utama kegiatan mereka adalah pemantauan kesehatan secara rutin setiap bulan. Layanan yang diberikan mencakup Posyandu Lansia yang meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, cek gula darah, hingga pemeriksaan kesehatan gratis dan pengobatan oleh dokter dari Puskesmas Tempel dua. Selain itu, mereka juga mendapat dukungan dari apotek swasta setempat guna memastikan ketersediaan obat-obatan bagi lansia.

“BKL Cemara melayani sekitar 80 lansia dari seluruh padukuhan. Setiap bulan kami mengadakan Posyandu Lansia yang komprehensif mulai dari timbang badan hingga pengobatan oleh dokter puskesmas. Alhamdulillah, berkat pemantauan rutin ini, kondisi para lansia di wilayah kami relatif sehat dan terpantau dengan baik perkembangan kesehatannya,” ujar Jamiatun menjelaskan rincian kegiatan rutin tersebut.

Tidak hanya urusan medis, BKL Cemara juga memperluas kegiatannya dengan aspek psikososial. Setiap tiga bulan sekali, para lansia diajak untuk mengikuti penyuluhan kesehatan, bermain musik angklung, hingga membuat kerajinan tangan. Prestasi kelompok ini pun tidak main-main, tim angklung lansia binaan BKL Cemara tercatat pernah meraih juara tingkat kabupaten dan kerap diundang tampil dalam berbagai acara resmi. Selain itu, mereka juga menyelenggarakan Sekolah Lansia yang telah berhasil meluluskan peserta pada jenjang Standar 1 dan Standar 2.

“Setiap tiga bulan, kegiatan kami perluas dengan penyuluhan, musik, hingga kerajinan agar para lansia tidak jenuh. Bahkan, kelompok angklung lansia kami pernah menjadi juara tingkat kabupaten dan sejak itu beberapa kali diundang tampil di berbagai acara. Kami ingin menunjukkan bahwa usia senja bukan halangan untuk terus berkarya dan beraktivitas positif bersama rekan-rekan sebaya,” imbuh Jamiatun dengan penuh semangat.

Untuk mendukung operasional, kelompok ini menunjukkan kemandirian ekonomi yang luar biasa. Mereka mengelola sebuah warung kecil yang keuntungannya digunakan sepenuhnya untuk mendukung kegiatan kelompok. Warung ini bahkan dipercaya menjadi agen pembayaran non-tunai bagi penerima bantuan sosial di wilayah tersebut. Jamiatun mengaku bahwa semua dedikasi ini lahir dari kepedulian pribadinya setelah pengalaman merawat orang tua, yang kemudian ia transformasi menjadi gerakan sosial untuk memastikan lansia di desanya tetap bahagia dan berdaya. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Perkuat Kepedulian Sosial, Lintas Komunitas Yogyakarta Gelar Bakti Sosial Massal di Kalasan

Sleman — Lintas Komunitas Yogyakarta (LKY) menunjukkan komitmen kemanusiaan dengan menggelar aksi bakti sosial besar-besaran yang dipusatkan di Pendopo Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, pada Minggu (18/1/2026). Kegiatan yang dimulai sejak pukul WIB ini tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya para pegiat komunitas, tetapi juga menghadirkan manfaat kesehatan nyata bagi warga sekitar melalui rangkaian senam massal, donor darah bersama PMI Kalasan, hingga layanan cek kesehatan gratis dari Puskesmas Kalasan.

Sebanyak 20 komunitas yang tergabung dalam wadah LKY bersatu padu menyukseskan acara ini bersama ratusan warga. Kehadiran Panewu Kalasan di lokasi acara memberikan dukungan moral bagi para relawan. Ia menilai gerakan yang diinisiasi oleh kelompok masyarakat sipil ini sangat membantu pemerintah dalam menjangkau layanan kesehatan dasar serta mempererat tali persaudaraan antarwarga di wilayah Kalasan.

Panewu Kalasan menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif kolaboratif yang ditunjukkan oleh para pemuda dan penggerak komunitas tersebut. Menurutnya, sinergi lintas elemen ini menjadi kunci utama dalam membangun ketahanan sosial di tingkat kapanewon. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus tumbuh dan menginspirasi wilayah lain untuk saling peduli terhadap kondisi kesehatan sesama.

“Kegiatan seperti ini sangat positif karena melibatkan banyak komunitas untuk bersama-sama membantu masyarakat, khususnya dalam bidang kesehatan dan kepedulian sosial. Kami sangat mendukung gerakan yang lahir dari inisiatif warga sendiri seperti ini, karena dampak langsungnya sangat terasa bagi masyarakat luas, terutama bagi mereka yang membutuhkan layanan kesehatan cepat dan terjangkau,” ungkap Panewu Kalasan di sela peninjauan kegiatan.

Ketua Lintas Komunitas Yogyakarta, Ajeng Srimuktini, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan manifestasi dari rasa tanggung jawab sosial para anggota komunitas terhadap lingkungan sekitar. Melalui kegiatan ini, LKY ingin membuktikan bahwa komunitas hobi atau sosial bisa memberikan kontribusi konkret di luar aktivitas rutin kelompok mereka. Ajeng menegaskan bahwa kolaborasi antar komunitas di Yogyakarta kini semakin solid dan terarah pada kegiatan produktif bagi kemaslahatan umum.

“Melalui kegiatan bakti sosial ini, kami ingin menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat sinergi dan kolaborasi antar komunitas di Yogyakarta. Ini adalah wujud nyata kepedulian kami. Ke depan, Lintas Komunitas Yogyakarta berencana melaksanakan kegiatan serupa secara bergilir di seluruh wilayah Kabupaten Sleman sebagai bentuk komitmen berkelanjutan kami dalam menjaga hubungan baik dengan masyarakat,” ujar Ajeng Srimuktini.

Suasana di Pendopo Kapanewon Kalasan semakin meriah dengan kehadiran Trondol Entertainment yang memberikan hiburan kepada warga dan para pendonor darah. Selain layanan medis, panitia juga menyalurkan bantuan sosial berupa paket bahan pokok bagi warga prasejahtera yang membutuhkan. Sinergi yang terbangun antara LKY, pemerintah setempat, serta instansi kesehatan diharapkan menjadi model kolaborasi positif dalam mendukung program kemanusiaan di Kabupaten Sleman pada masa mendatang. (Ratna/KIM Tempel)




Tingkatkan Kualitas Gizi Siswa, Sosialisasi SPPG Digelar di Banyurejo

Sleman — Upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan gizi peserta didik terus digencarkan di wilayah Kabupaten Sleman. Bertempat di Aula Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menggelar sosialisasi intensif sebagai langkah awal implementasi layanan pemenuhan gizi bagi siswa lintas jenjang pendidikan pada Kamis (15/1/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari jajaran Kapanewon Tempel, Komandan Rayon Militer, Kapolsek Tempel, hingga para pimpinan kalurahan setempat. Turut hadir pula perwakilan Puskesmas Tempel serta para kepala sekolah dari tingkat PAUD, TK, SD, hingga SMP.

Lurah Banyurejo, Saparjo, menilai program ini sebagai bentuk nyata perhatian negara terhadap masa depan generasi muda. Ia menekankan bahwa inisiatif tersebut merupakan amanah besar yang harus dikawal secara kolektif agar manfaatnya benar-benar sampai kepada siswa yang membutuhkan. Saparjo menyatakan kesiapan pemerintah kalurahan dalam memfasilitasi setiap hambatan yang mungkin muncul selama proses pelaksanaan di lapangan.

“Kami memandang program ini sebagai berkah yang patut disyukuri bagi warga Banyurejo. Jika dalam pelaksanaannya nanti ditemukan kendala dari para penerima manfaat, kami membuka ruang komunikasi seluas-luasnya. Kalurahan bersama puskesmas dan SPPG siap menjadi pusat koordinasi agar program pemenuhan gizi ini benar-benar dirasakan dampaknya oleh anak-anak kita,” ujar Saparjo di depan para peserta sosialisasi.

Ketua SPPG Banyurejo, Aryo Bagus Ikhsan Asdana, menjelaskan secara terperinci mengenai teknis operasional program, mulai dari mekanisme distribusi makanan hingga sistem pemantauan kesehatan siswa. Ia menyebutkan bahwa pihak sekolah memegang peran sebagai mitra strategis yang bersentuhan langsung dengan peserta didik setiap harinya. Sekolah tidak hanya bertugas memastikan penyaluran bantuan tepat sasaran, tetapi juga memberikan edukasi mengenai pola makan sehat kepada para siswa.

“Sekolah adalah ujung tombak kami di lapangan. Selain memastikan penyaluran berjalan tertib, pihak sekolah juga berperan penting dalam edukasi pola makan sehat dan pemantauan kondisi fisik peserta didik secara berkala. Kolaborasi ini bertujuan memastikan intervensi gizi bagi siswa berjalan terencana, terukur, dan tepat sasaran sehingga prestasi akademik mereka juga meningkat,” kata Aryo Bagus Ikhsan Asdana memberikan penjelasan.

Tahap awal pelaksanaan program Makan Bergizi (MBG) melalui SPPG Banyurejo dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 19 Januari 2026. Pada penyaluran perdana ini, tercatat sebanyak siswa akan menjadi penerima manfaat. Sasaran program mencakup peserta didik dari jenjang PAUD hingga SMP yang tersebar di wilayah Kalurahan Banyurejo dan Kalurahan Sumberrejo. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi peningkatan konsentrasi belajar serta daya tahan tubuh siswa.

Secara nasional, program pemenuhan gizi di lingkungan pendidikan merupakan strategi pemerintah untuk menghadapi tantangan kesehatan di kalangan remaja dan anak-anak. Melalui pendekatan berbasis komunitas seperti SPPG, kebijakan pusat diterjemahkan dalam praktik nyata yang menyentuh akar rumput. Dengan dimulainya program ini, Banyurejo menegaskan perannya dalam gerakan nasional membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif. (Farisah/KIM Senyum Tempel)




Adi Yananta: Menjadi Relawan Seumur Hidup Demi Kemanusiaan

Sleman — Bagi Adi Yananta, kerelawanan bukan sekadar aktivitas sosial musiman, melainkan sebuah jalan hidup yang ditempuh dengan kesadaran penuh dan ketulusan hati. Pria kelahiran Gunungkidul, 25 Januari 1970 ini telah mengakrabkan diri dengan dunia kemanusiaan sejak usia sekolah. Perjalanannya dimulai dari Palang Merah Remaja saat duduk di bangku SMP, berlanjut ke Korps Sukarela di tingkat SMA, hingga kini aktif sebagai Tenaga Sukarela di Palang Merah Indonesia Kapanewon Depok dan Kabupaten Sleman.

Keterlibatan panjang tersebut bukanlah sebuah kebetulan semata. Sejak awal, Adi memandang kerja kemanusiaan sebagai kebiasaan yang tumbuh dari kepedulian mendalam terhadap sesama. Setiap kali ada kegiatan PMI, baik di tingkat kapanewon maupun kabupaten, ia selalu hadir tanpa banyak pertimbangan. Baginya, panggilan jiwa untuk membantu orang lain adalah dorongan yang paling kuat dibandingkan alasan apa pun.

“Menjadi relawan sudah seperti bagian dari hidup saya yang tidak bisa dipisahkan. Ketika ada kebutuhan kemanusiaan di lapangan, saya merasa terpanggil secara alami untuk ikut terlibat. Semua saya jalani dengan prinsip sederhana, yaitu membantu sesuai kemampuan tanpa mengharapkan pamrih sedikit pun,” ujar Adi Yananta saat ditemui pada Senin (12/1/2026).

Sebagai relawan senior di PMI, Adi telah terlibat dalam berbagai tugas pelayanan yang kompleks. Mulai dari menjaga pos kesehatan saat Natal dan Tahun Baru, pengamanan jalur Lebaran bersama lintas instansi, hingga pendirian pos PMI untuk berbagai kegiatan skala daerah maupun nasional. Ia juga aktif dalam penanganan darurat kebencanaan dan promosi donor darah untuk memastikan ketersediaan stok darah bagi masyarakat yang membutuhkan.

Pengalaman yang paling membekas dalam ingatannya adalah saat terjun langsung dalam dua bencana besar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika gempa bumi melanda Bantul pada 2006, Adi turun bersama relawan lainnya untuk menghimpun bantuan dan mendampingi warga yang kehilangan tempat tinggal. Empat tahun berselang, saat Gunung Merapi meletus hebat pada 2010, ia kembali berada di garis depan untuk membantu pengamanan jalur evakuasi di kawasan rawan bencana Kaliurang.

“Saat Merapi meletus, situasi sangat mencekam namun kami harus tetap tenang. Kami berjaga siang dan malam agar warga tetap aman dan alur evakuasi berjalan tertib. Di saat seperti itulah kerja sama tim dan kedisiplinan yang dibentuk sejak masa pramuka sangat terasa manfaatnya. Hidup menjadi lebih bermakna ketika kehadiran kita, sekecil apa pun, mampu menumbuhkan kembali semangat orang lain yang sedang tertimpa musibah,” tutur Adi mengenang masa-masa sulit tersebut.

Kesiapan Adi di lapangan memang didukung oleh pelatihan dasar kepalangmerahan dan pertolongan pertama yang ia tekuni sejak muda. Baginya, kerja relawan tidak hanya memberi dampak langsung bagi masyarakat terdampak, tetapi juga memicu tumbuhnya kesadaran kolektif warga untuk saling membantu secara mandiri. Meski sering menghadapi perbedaan pandangan di lapangan, ia selalu kembali pada niat awal bahwa kerja kemanusiaan harus dijalani dengan hati yang lapang.

Kepada generasi muda, Adi menitipkan pesan reflektif yang mendalam. Ia menekankan bahwa pendidikan formal memang penting, namun kepekaan sosial dan rasa kemanusiaan adalah hal yang harus diasah melalui interaksi langsung di tengah masyarakat. Ia berharap semangat tolong-menolong tetap lestari di tengah dunia yang kini cenderung semakin individualistik. Kiprah Adi Yananta menjadi bukti nyata bahwa pengabdian tanpa batas masih ada dan terus dirawat oleh mereka yang memilih untuk hadir bagi sesama. (Athiful/KIM Depok)