Dukung Fase Golden Age, Bupati Sleman Kukuhkan Ibu PAUD dan Pokja PAUD Periode 2026-2030

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman mempertegas komitmennya dalam memperkuat pondasi pendidikan anak usia dini sebagai investasi jangka panjang sumber daya manusia. Bupati Sleman, Harda Kiswaya, secara resmi mengukuhkan Ibu PAUD dan Ibu Kelompok Kerja (Pokja) PAUD Kabupaten Sleman Masa Bakti 2026-2030 di Pendopo Parasamya Pemkab Sleman pada Senin (26/1/2026). Dalam kepengurusan baru ini, Parmilah Harda Kiswaya dipercaya menjabat sebagai Ibu PAUD Kabupaten Sleman, sementara Sari Danang Maharsa mengemban amanah sebagai Ketua Ibu Pokja PAUD Kabupaten Sleman.

Acara pengukuhan tersebut berlangsung khidmat dengan dihadiri oleh Ketua Pokja Bunda PAUD DIY, GKBRAA Paku Alam atau Gusti Putri, serta jajaran perwakilan Forkopimda Sleman. Momentum ini menjadi titik tolak bagi para pengurus baru untuk segera menyusun langkah taktis dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi anak-anak di wilayah Sleman. Kehadiran tokoh-tokoh penting ini menunjukkan bahwa koordinasi lintas tingkat pemerintahan menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem pendidikan anak yang komprehensif.

Dalam sambutannya, Harda Kiswaya menyampaikan ucapan selamat dan menekankan bahwa amanah ini membawa tanggung jawab besar bagi masa depan generasi penerus di Sleman. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah memberikan perhatian penuh pada pendidikan anak usia dini untuk memastikan kesiapan mereka memasuki jenjang sekolah dasar. Namun, Harda menyadari bahwa peran pemerintah tidak akan optimal tanpa adanya motor penggerak dari Ibu PAUD dan Pokja PAUD yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan satuan pendidikan.

“Semoga amanah yang diberikan dapat dijalani dengan komitmen, penuh tanggung jawab, dan semangat pengabdian demi masa depan anak-anak kita. Peran Ibu PAUD dan Pokja Ibu PAUD sangat strategis dalam membangun ekosistem ramah anak di Kabupaten Sleman, sekaligus menjadi motor penggerak sinergi antara pemerintah kabupaten, masyarakat, satuan pendidikan, hingga unit terkecil yaitu keluarga,” ujar Harda Kiswaya di hadapan para pengurus yang baru dikukuhkan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Pokja Bunda PAUD DIY, Gusti Putri, mengingatkan bahwa pendidikan anak usia dini bukan sekadar soal pengajaran membaca dan berhitung secara mekanis. Ia menekankan bahwa fase ini adalah masa keemasan atau golden age yang sangat menentukan karakter dan kemampuan anak di masa depan. Gusti Putri berharap pengukuhan ini tidak berhenti pada prosesi seremonial semata, melainkan harus segera diikuti dengan aksi nyata di lapangan untuk menyisir anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan layak.

“Saya berharap pelantikan ini diikuti dengan aksi nyata di lapangan. Sleman memiliki potensi luar biasa dengan budaya gotong royongnya, sehingga mari kita pastikan tidak ada satupun anak di wilayah masing-masing yang terlewat dari layanan pendidikan yang layak. Anak-anak di sekitar kita adalah anak-anak kita semua. Jadikanlah PAUD di setiap wilayah sebagai tempat yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang bagi mereka,” tegas Gusti Putri dalam arahannya.

Melalui pengukuhan ini, Pemerintah Kabupaten Sleman berharap terciptanya kolaborasi yang lebih solid dalam memantau tumbuh kembang anak serta menurunkan angka stunting melalui integrasi layanan kesehatan dan pendidikan di tingkat PAUD. Para pengurus yang baru dilantik diharapkan mampu menggerakkan potensi lokal dan kearifan budaya Sleman untuk menciptakan model pendidikan usia dini yang unggul dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.




Hidupkan Literasi di Teras Rumah, Sekolah Desa Jlegongan Jadi Ruang Belajar Alternatif yang Berpihak pada Alam

Sleman — Belajar tidak harus selalu terkungkung di dalam ruang kelas dengan bangku dan papan tulis. Di Dusun Jlegongan, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, sebuah gerakan literasi bernama Sekolah Desa membuktikan bahwa alam dan lingkungan sekitar adalah guru terbaik. Dengan semboyan “Semua orang adalah guru, alam raya sekolahku”, ruang pendidikan alternatif ini tumbuh menjadi oase bagi anak-anak desa untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan secara merdeka.

Inisiatif ini digerakkan oleh Syaeful Cahyadi, seorang tenaga kependidikan di Universitas Gadjah Mada yang mendedikasikan hidupnya untuk literasi sejak sepuluh tahun lalu. Berawal dari perpustakaan umum tingkat padukuhan di teras rumahnya, Syaeful mulai mengumpulkan beragam koleksi mulai dari buku pengetahuan umum, novel, hingga majalah anak. Baginya, akses terhadap bacaan adalah kunci utama untuk menumbuhkan minat belajar anak secara organik tanpa paksaan.

“Saya ingin anak-anak tahu bahwa belajar itu tidak harus selalu di ruang kelas. Alam, lingkungan sekitar, dan siapa pun di desa ini bisa menjadi guru. Dari situlah Sekolah Desa ini saya bangun agar anak-anak memiliki ruang belajar yang ramah dan menyenangkan tanpa merasa terbebani oleh tembok sekolah,” ujar Syaeful saat ditemui pada Minggu (25/1/2026).

Eksistensi gerakan ini pun mulai diakui secara luas, mulai dari tingkat provinsi hingga nasional. Syaeful yang aktif dalam Forum Taman Baca Masyarakat (TBM) berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi, seperti Pemuda Pelopor DIY 2019 dan Apresiasi TBM Kreatif Rekreatif Kemendikbud 2021. Konsistensi tersebut juga mengantarkannya menjadi anggota Dewan Pendidikan Sleman periode 2025–2030. Transformasi dari perpustakaan menjadi Sekolah Desa pada tahun 2022 semakin memperluas cakupan kegiatannya, tidak hanya sekadar layanan pinjam buku, tetapi juga pembelajaran terjadwal.

Setiap hari Sabtu, sekitar 12 hingga 14 anak usia sekolah dasar berkumpul untuk mengikuti berbagai kelas, mulai dari bahasa Inggris, tari klasik, hingga kelas umum. Sekolah Desa juga menjadi wadah kolaborasi dengan pihak luar, seperti kegiatan pengenalan serangga bersama Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dukungan pun mulai mengalir, termasuk hibah dari lembaga swadaya masyarakat asal Australia pada tahun 2024 yang digunakan untuk memperbaharui sarana prasarana serta memberikan insentif bagi para pengajar.

Meski telah menorehkan banyak prestasi, Syaeful mengakui bahwa perjalanan mengelola pendidikan di desa masih menemui jalan terjal. Salah satu tantangan terberat adalah mengubah pola pikir sebagian masyarakat yang masih memandang sebelah mata pentingnya pendidikan nonformal. Selain itu, belum adanya regulasi yang mendukung pemanfaatan dana desa untuk kegiatan literasi dan sekolah alternatif juga menjadi hambatan dalam pengembangan program secara berkelanjutan.

“Tantangan terbesarnya adalah cara pandang masyarakat yang masih menganggap pendidikan belum terlalu penting bagi masa depan anak. Harapan saya, ke depan ada dukungan kebijakan yang nyata serta keterlibatan lebih banyak pihak, termasuk Karang Taruna, untuk mendorong pendidikan anak-anak desa agar lebih maju,” ungkap penulis buku “Dari Balik Pusara” tersebut.

Kini, Sekolah Desa di Jlegongan terus berupaya memperluas jaringan kolaborasinya untuk memfasilitasi kreativitas anak-anak melalui program kepemudaan. Dari sebuah teras rumah sederhana, gerakan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan bermakna dapat lahir dari niat tulus dan keyakinan bahwa setiap sudut ruang adalah tempat untuk menimba ilmu. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Kekuatan Riset Jadi Kunci Penulisan Sastra

Sleman — Kualitas sebuah karya sastra, baik berupa cerita pendek (cerkak), novelet, maupun novel, sangat ditentukan oleh kedalaman riset yang dilakukan oleh penulisnya. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam workshop penulisan yang digelar oleh Paguyuban Sastra Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi pada Minggu (25/1/2026). Bertempat di Ruang Rapat Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Yogyakarta, kegiatan ini bertujuan membekali para penulis lokal agar mampu menghasilkan karya yang lebih berbobot dan memiliki latar belakang cerita yang kuat.

Kepala Sekolah Sastra Sleman, Budi Sarjono, menegaskan bahwa riset mendalam mampu menghidupkan suasana cerita sehingga pembaca merasa terlibat di dalamnya. Ia memperkenalkan metode praktis bagi penulis dalam melakukan riset lapangan yang disebut dengan akronim ADIT, yakni amati, dengarkan, imajinasikan, dan tulis. Menurutnya, mendatangi lokasi yang menjadi latar cerita dan berinteraksi langsung dengan narasumber atau penduduk setempat akan memberikan detail-detail yang tidak bisa didapatkan hanya melalui imajinasi semata.

“Saat melakukan riset pada suatu tempat, yang harus dilakukan adalah mempergunakan metode ADIT. Amati lingkungan sekitar, dengarkan kisah dari narasumber atau penduduk setempat, lalu imajinasikan bagaimana kejadian itu berlangsung, setelah itu baru tulis menjadi cerita. Riset adalah fondasi agar cerita tidak terasa dangkal,” ujar Budi Sarjono di hadapan para peserta workshop.

Selain riset, Budi Sarjono yang telah menerbitkan puluhan buku ini mengingatkan pentingnya pembuatan kerangka karangan atau outline, terutama untuk tulisan panjang seperti novel. Kerangka tersebut berfungsi agar alur cerita tetap fokus dan tidak melebar ke mana-mana. Ia menyarankan agar penulis membagi naskah dalam sub-sub judul untuk mempermudah navigasi pembaca dan menjaga konsistensi penceritaan. Sastra yang baik, menurutnya, harus diawali dengan judul dan paragraf pertama yang mampu “menggigit” atau memikat perhatian pembaca sejak awal.

Senada dengan hal itu, sastrawan senior Nyadi Kasmoredjo yang akrab disapa Ki Jenggot Kucir menambahkan bahwa penulis sastra Jawa menghadapi tantangan khusus dalam penguasaan kosakata atau bausastra. Ia menekankan bahwa seorang penulis harus menjadi pembaca yang tekun terlebih dahulu guna memperkaya perbendaharaan kata. Khusus dalam bahasa Jawa, ketelitian dalam penulisan sangat krusial karena terdapat perbedaan antara bunyi pengucapan dengan ejaan tulisan yang bermakna beda.

“Ada perbedaan mendasar antara pengucapan dan tulisan dalam sastra Jawa yang harus dipahami penulis. Misalnya, untuk kata ‘loro’ yang berarti sakit dan ‘lara’ yang berarti dua, penulisannya harus tepat agar tidak mengubah makna. Seorang penulis harus rajin membaca karya orang lain dan membuka kamus agar tidak salah kaprah dalam memilih diksi,” kata Nyadi menjelaskan kompleksitas penulisan sastra daerah.

Workshop ini merupakan agenda pembekalan bagi anggota Pasbuja Kawi Merapi yang berencana menerbitkan tiga buku antologi cerkak pada tahun ini. Meski demikian, organisasi tetap mendorong para anggotanya untuk berani menerbitkan buku tunggal sebagai bentuk peningkatan kualitas individu. Melalui pembekalan ini, diharapkan lahir karya-karya sastra Jawa kontemporer yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga mengandung pesan moral yang kuat dan riset yang dapat dipertanggungjawabkan secara faktual. (Kusnadi/KIM Berbah)




DPP IKA UNY Bedah Peluang dan Tantangan AI dalam Pendidikan

Sleman — Perkembangan pesat kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) memicu transformasi besar dalam sektor pendidikan nasional. Merespons hal tersebut, Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Alumni Universitas Negeri Yogyakarta (DPP IKA UNY) menggelar Karangmalang Education Forum (KEF) di Ballroom Gedung IKA UNY, Sleman, pada Sabtu (24/1/2026). Forum diskusi strategis bertajuk “AI dan Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Semua” ini menjadi wadah kolaborasi lintas sektor guna memastikan teknologi digital dapat meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa mengesampingkan nilai kemanusiaan.

Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini mempertemukan para akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk merumuskan langkah nyata dalam menghadapi disrupsi teknologi. Ketua DPP IKA UNY, Suyanto, menegaskan bahwa KEF merupakan wujud nyata kontribusi para alumni untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan Indonesia. Ia menilai bahwa pemanfaatan AI harus dilakukan secara terarah dan beretika agar dampak yang dihasilkan benar-benar memberikan manfaat bagi peningkatan kompetensi peserta didik maupun tenaga pendidik di seluruh penjuru negeri.

“Forum ini kami rancang sedemikian rupa untuk mempertemukan berbagai gagasan serta praktik terbaik di lapangan. Kami ingin memastikan bahwa pemanfaatan AI benar-benar berdampak nyata pada peningkatan kualitas pembelajaran. Meski teknologi terus berkembang, DPP IKA UNY mendorong penggunaan AI yang beretika dengan tetap menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh proses pendidikan itu sendiri,” ujar Suyanto di sela-sela acara.

Rektor UNY, Sumaryanto, turut memberikan pandangannya mengenai pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan alumni dalam mengawal transformasi digital. Menurutnya, pemanfaatan AI harus diarahkan untuk memperkuat fondasi pendidikan nasional yang inklusif. Ia menekankan bahwa teknologi harus menjadi jembatan untuk memperluas akses pendidikan bagi mereka yang selama ini sulit terjangkau, sembari tetap menjaga nilai-nilai humanistik agar karakter bangsa tetap terjaga di tengah arus modernisasi.

Perspektif budaya belajar di era digital dipaparkan oleh Staf Ahli Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Ismunandar. Ia mengulas bagaimana paradigma belajar telah berubah akibat kecepatan akses informasi digital. Ismunandar mendorong masyarakat pendidikan untuk membangun budaya belajar yang kritis dan kreatif, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai kebudayaan bangsa agar teknologi tidak justru mencabut identitas lokal peserta didik.

Senada dengan hal tersebut, Rektor Universitas Siber Muhammadiyah, Bambang Riyanta, memberikan penegasan mengenai batasan kemampuan kecerdasan buatan. Dalam paparannya mengenai posisi AI terhadap profesi guru, ia menyatakan bahwa secanggih apa pun teknologi yang dikembangkan, AI tidak akan pernah bisa menggantikan sentuhan personal seorang pendidik. Guru memiliki peran vital dalam menanamkan empati, pembentukan karakter, dan penyampaian nilai-nilai moral yang tidak dimiliki oleh algoritma komputer mana pun.

“AI memang sangat cerdas dalam mengolah data, namun AI hanyalah alat bantu. Peran guru tetap tidak tergantikan, terutama dalam memberikan empati dan membentuk karakter peserta didik. Teknologi bisa memberikan informasi, tetapi guru memberikan inspirasi dan nilai kemanusiaan. Inilah yang harus kita jaga agar pendidikan tetap memiliki jiwa,” tegas Bambang Riyanta saat memaparkan materinya.

Forum diskusi ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah dan lembaga pendidikan dalam mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum. Melalui sinergi yang terbangun dalam KEF, DPP IKA UNY optimistis bahwa ekosistem pendidikan Indonesia akan semakin adaptif, berkeadilan, dan siap bersaing di kancah global tanpa kehilangan jati diri. (Athiful/KIM Depok)




Mendikdasmen Tegaskan Guru Tetap Jadi Pilar Utama Pendidikan di Tengah Arus AI

Sleman — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam sistem pendidikan nasional tidak akan pernah menggantikan peran sentral guru. Hal tersebut disampaikan dalam agenda Karangmalang Educational Forum (KEF) yang berlangsung di Ballroom Gedung IKA UNY, Sleman, pada Sabtu (24/1/2026). Di hadapan ratusan guru, akademisi, dan praktisi pendidikan dari berbagai wilayah, ia memastikan pemerintah menempatkan teknologi hanya sebagai instrumen pendukung kualitas pembelajaran.

Dalam forum tersebut, Abdul Mu’ti menyatakan bahwa transformasi digital merupakan keniscayaan yang harus disambut secara positif. Namun, ia memberikan catatan kritis bahwa proses pendidikan formal melibatkan aspek moralitas dan karakter yang tidak dimiliki oleh mesin. AI dipandang mampu mempercepat pengolahan data serta memperluas akses informasi, tetapi kendali penuh dalam pengambilan keputusan serta penanaman nilai-nilai kemanusiaan tetap berada di tangan pendidik.

“AI memang semakin populer, tapi manusia tetap menjadi raja pendidikan. AI hanyalah alat yang membantu, bukan pengganti guru atau tenaga pendidik lainnya. Teknologi ini memproses informasi dengan sangat cepat, namun tetap perlu diarahkan oleh pendidik yang memahami konteks pembelajaran serta karakter unik dari setiap peserta didik,” ujar Abdul Mu’ti dalam pemaparannya.

Sebagai langkah konkret menghadapi tantangan digital, pemerintah mulai memperkenalkan materi AI dan coding sebagai mata pelajaran pilihan bagi siswa kelas V sekolah dasar. Kebijakan ini diambil untuk membangun literasi teknologi sejak dini tanpa membebani kurikulum secara drastis. Abdul Mu’ti menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah penguatan kompetensi guru terlebih dahulu agar mereka siap mendampingi siswa dalam penggunaan teknologi secara etis dan bertanggung jawab.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah sedang mendorong pendekatan deep learning yang mengintegrasikan aspek kognitif, nilai, dan teknologi secara utuh. Strategi ini bertujuan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesantunan digital dalam berinteraksi di ruang siber. Menurutnya, tanpa intervensi manusia yang memahami konteks sosial dan budaya, teknologi AI tidak akan mampu menghasilkan proses pendidikan yang benar-benar bermartabat.

“Kami memulai dengan materi pilihan agar guru memiliki waktu dan dukungan pelatihan yang memadai. Setelah kompetensi pendidik terbangun kuat, mata pelajaran ini akan dievaluasi untuk kemungkinan dijadikan wajib. Kami ingin menciptakan ekosistem pendidikan yang adaptif dan inklusif, di mana teknologi menjadi modal untuk membuka peluang belajar yang lebih luas dan merata di seluruh pelosok negeri,” tambah Abdul Mu’ti.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga memperkenalkan prinsip 3A dalam arah kebijakannya, yakni alam sebagai modal sumber daya, akal sebagai kemampuan berpikir manusia, serta akses untuk menjangkau informasi. Dengan sinergi tersebut, AI diharapkan dapat berkontribusi signifikan dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional tanpa mengabaikan etika dan tanggung jawab sosial. (Athiful/KIM Depok)