Pusteklim Kenalkan Teknologi Insinerator Fluidized Bed yang Efisien dan Ramah Lingkungan

Sleman — Persoalan sampah yang kian kompleks menuntut hadirnya solusi teknologi yang tidak hanya canggih, tetapi juga ekonomis dan berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Pusat Teknologi Limbah (Pusteklim) memperkenalkan teknologi Insinerator Fluidized Bed atau unggun terfluidasi sebagai metode pemusnah sampah masa depan. Inovasi ini dipaparkan dalam kegiatan lokakarya yang berlangsung di Aula Kalurahan Sendangtirto, Berbah, Sleman, pada Sabtu (24/1/2026).

Kegiatan ini menghadirkan pakar teknologi limbah, Nao Tanaka, yang telah mendedikasikan diri selama lebih dari 20 tahun dalam pengembangan sistem pengolahan limbah di Indonesia. Selain memaparkan keunggulan teknologi pembakaran, pertemuan ini juga dihadiri oleh Lurah Sendangtirto Amir Junawan, Ketua Pusteklim Agus Haitami, serta puluhan praktisi, akademisi, dan penggiat bank sampah yang mencari solusi praktis atas tumpukan sampah di wilayah masing-masing.

Nao Tanaka menjelaskan bahwa Insinerator Fluidized Bed bekerja dengan prinsip material padat berbentuk butiran yang dibuat bersifat seperti fluida atau cairan mendidih. Hal ini terjadi karena hembusan udara berkecepatan tinggi dari bagian bawah tungku, sehingga memaksimalkan transfer panas secara merata. Teknologi yang lazim digunakan pada industri batubara dan kilang minyak ini diklaim mampu memusnahkan sampah secara total tanpa menyisakan polusi udara yang berbahaya bagi lingkungan.

“Teknologi ini bekerja seperti magma atau lava panas yang keluar dari gunung berapi dengan suhu sangat tinggi, melahap sampah sampai tidak bersisa. Karena terjadi pembakaran yang sempurna, proses ini tidak menyebabkan polusi udara yang mengganggu kesehatan. Ini adalah jawaban bagi pengolahan sampah yang bersih di pemukiman,” ujar Nao Tanaka saat mendemonstrasikan prinsip kerja alat tersebut.

Keunggulan utama dari teknologi ini terletak pada aspek efisiensi biaya operasional. Berbeda dengan insinerator konvensional yang memerlukan asupan bahan bakar fosil secara terus-menerus, sistem Fluidized Bed hanya membutuhkan bahan bakar pada tahap awal pemanasan. Setelah suhu optimal tercapai, proses pembakaran akan terjaga secara mandiri oleh material sampah itu sendiri, sehingga penggunaan bahan bakar menjadi sangat minim.

“Artinya, bahan bakar yang digunakan menjadi sangat sedikit karena hanya digunakan di awal proses. Ini sangat menghemat biaya operasional dan membuatnya lebih efisien secara ekonomi bagi pengelola sampah di tingkat daerah maupun industri,” tambah Nao Tanaka menekankan aspek penghematan biaya.

Selain limbah padat, Pusteklim juga memproduksi inovasi untuk pengolahan limbah cair melalui teknologi RBC Lattice Tiga Dimensi. Teknologi ini merupakan pengembangan dari sistem Rotating Biological Contactors (RBC) yang sudah ada, namun dengan keunggulan fabrikasi lokal yang lebih mudah dan efisiensi empat kali lipat lebih tinggi dibanding model konvensional. Produk-produk ramah lingkungan ini kini mulai dipasarkan secara luas melalui Koperasi Jasa Multi Pihak Pusteklim sebagai upaya memperkuat kemandirian teknologi dalam negeri.

Melalui lokakarya ini, pemerintah desa dan pegiat lingkungan diharapkan dapat mulai mengadopsi teknologi yang tepat guna untuk memutus mata rantai permasalahan sampah. Sinergi antara riset mendalam dari Pusteklim dan implementasi di lapangan oleh masyarakat diharapkan mampu menciptakan ekosistem lingkungan yang bersih, sehat, dan berdaya saing. (Kusnadi/KIM Berbah)




Gagas Koperasi Universal, Pusteklim Hadirkan Inovasi Pengolahan Limbah Berbasis Ekonomi Kerakyatan

Sleman — Upaya transformasi koperasi menuju entitas modern yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan terus diperkuat di wilayah Kabupaten Sleman. Koperasi Jasa Multi Pihak Pusat Pengembangan Teknologi Limbah (KJMP Pusteklim) menyelenggarakan lokakarya strategis bertajuk pengembangan “Koperasi Universal” di Aula Balai Desa Kalurahan Sendangtirto, Berbah, pada Sabtu (24/1/2026). Peristiwa ini menjadi sorotan karena memperkenalkan model koperasi inovatif yang memadukan pengelolaan limbah cair dan padat dengan sistem kemitraan yang lebih inklusif.

Kegiatan ini menghadirkan tokoh penting dari Jepang, Nao Tanaka, yang merupakan pencetus awal konsep Koperasi Universal. Selain itu, hadir pula Ketua Pusteklim Agus Haitami, Lurah Sendangtirto Amir Junawan, perwakilan JPSM Sehati Sleman Emanuel Sigit Harjuno, serta puluhan peserta yang terdiri dari akademisi, kader pemerhati lingkungan, dan penggiat bank sampah. Kehadiran para pakar ini bertujuan untuk merumuskan solusi atas masalah persampahan yang semakin kompleks di tingkat kalurahan.

Lurah Sendangtirto, Amir Junawan, menyambut baik inisiatif Pusteklim yang fokus pada jasa pengolahan limbah. Ia mengungkapkan bahwa meskipun BUMDes Makmur Mandiri melalui unit TPS 3R telah melayani lebih dari pelanggan, tantangan sampah di wilayahnya belum sepenuhnya tuntas. Menurutnya, sinergi dengan koperasi yang memiliki pendekatan teknologi dan manajemen modern sangat diperlukan untuk menutup celah kendala operasional yang selama ini dihadapi di lapangan.

“Kami sangat mengapresiasi workshop ini karena masalah sampah membutuhkan solusi yang tidak hanya murah dan mudah, tetapi juga harus efisien secara teknologi. Saat ini masih banyak kendala yang kami hadapi dalam menuntaskan masalah persampahan di Sendangtirto, sehingga kolaborasi dengan Pusteklim melalui model koperasi barunya diharapkan bisa menjadi jawaban nyata bagi masyarakat,” ujar Amir Junawan saat memberikan sambutan.

Ketua KJMP Pusteklim, Agus Haitami, menjelaskan bahwa Koperasi Universal yang mereka kembangkan sejak tahun 2023 memiliki perbedaan mendasar dengan koperasi konvensional. Jika koperasi biasa menganut prinsip satu anggota satu suara, Koperasi Universal lebih mengedepankan pembagian kewenangan dan keuntungan berdasarkan kontribusi masing-masing anggota. Model ini dinilai lebih adil karena menghargai kontribusi modal maupun non-modal, seperti tenaga ahli atau penyedia lahan, dalam porsi yang proporsional.

“Prinsip dasar Koperasi Universal adalah kerja sama berdasarkan kemampuan masing-masing anggota. Kewenangan dibagikan tergantung kontribusi nyata, di mana baik modal maupun tenaga serta pemikiran sama-sama dihargai secara profesional. Evaluasi terhadap jalannya koperasi dilakukan oleh tim yang anggotanya dipilih secara demokratis, namun tetap menjunjung tinggi rasa keadilan bagi mereka yang berkontribusi lebih besar,” tutur Agus Haitami menjelaskan konsep inovatif tersebut.

Kelebihan lain dari model ini adalah sifatnya yang inklusif sehingga memungkinkan masuknya investor luar untuk memperkuat modal usaha. Dengan fleksibilitas tersebut, koperasi ini dapat mencakup beragam jenis usaha, mulai dari pengolahan limbah skala kecil di pemukiman hingga industri pengolahan limbah skala besar yang lebih kompleks. Keberadaan Koperasi Universal diharapkan mampu menciptakan ekosistem bisnis lingkungan yang sehat, di mana pemberdayaan masyarakat berjalan beriringan dengan profitabilitas usaha.

Agus Haitami menambahkan bahwa pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dalam sistem ini juga disesuaikan dengan rekam jejak kontribusi anggota sepanjang tahun berjalan. Melalui lokakarya ini, Pusteklim berkomitmen untuk terus menyempurnakan sistem manajemen koperasi tersebut agar dapat diadopsi secara lebih luas di Indonesia, guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan melalui teknologi limbah yang tepat guna. (Kusnadi/KIM Berbah)




Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman Gandeng Halmahera Timur Kelola Air Hujan

Sleman — Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening yang berlokasi di Tempursari, Kabupaten Sleman, menjadi pusat perhatian melalui kegiatan “Sinau Bareng” pemanfaatan air hujan pada Sabtu (24/1/2026). Peristiwa ini menarik perhatian nasional karena dihadiri oleh pemangku kepentingan dari wilayah timur Indonesia, yakni Anggota DPRD Kabupaten Halmahera Timur, Daud Muhammad Ali, serta Kepala Desa Dakaino, Ira Fajriah Hamzah. Pertemuan ini mempertegas pentingnya kolaborasi lintas daerah dalam mencari solusi alternatif penyediaan air bersih yang berkelanjutan dan berbasis komunitas.

Pendiri SAH Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa forum ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan sebuah ruang dialog untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap air hujan. Menurutnya, pemanfaatan air hujan sering kali dianggap remeh, padahal memiliki potensi besar untuk mengatasi kelangkaan air bersih. Melalui metode edukasi dan pendampingan, masyarakat diajak untuk memahami filosofi air hingga menguasai praktik pengolahan air hujan agar layak dikonsumsi dan digunakan untuk kebutuhan domestik dengan aman.

“Pendekatan edukasi dan pendampingan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan pemanfaatan air hujan. Teknologi sederhana yang kami kembangkan di sini hanya akan berdampak nyata apabila disertai pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk terlibat aktif dalam setiap proses pengelolaannya. Kami ingin menunjukkan bahwa air hujan adalah anugerah yang bisa menjadi sumber kemandirian air jika dikelola dengan ilmu yang benar,” ujar Sri Wahyuningsih di sela-sela kegiatan.

Ketertarikan perwakilan dari Halmahera Timur ini didasari oleh kondisi geografis wilayah kepulauan yang memiliki curah hujan tinggi namun sering menghadapi kendala akses air bersih yang berkualitas. Kepala Desa Dakaino, Ira Fajriah Hamzah, menyatakan bahwa pihaknya berencana menjadikan kantor desa sebagai lokasi percontohan sistem pemanenan air hujan. Ia juga melihat peluang strategis melalui jalur Posyandu untuk mengedukasi warga mengenai kaitan antara konsumsi air bersih hasil olahan air hujan dengan upaya pencegahan stunting.

“Kantor desa akan kami jadikan lokasi percontohan agar praktik pemanfaatan air hujan ini dapat dilihat dan ditiru oleh masyarakat secara lebih luas. Kami sadar bahwa praktik ini sangat sesuai dengan kondisi desa kami di Halmahera Timur. Tantangan berikutnya adalah memastikan pendampingan berkelanjutan agar masyarakat mampu membangun, merawat, dan mengelola sistem penampungan air mereka secara mandiri dalam jangka panjang,” tegas Ira Fajriah Hamzah dalam diskusi tersebut.

Apresiasi senada juga datang dari legislatif Halmahera Timur. Daud Muhammad Ali menilai model edukasi berbasis komunitas yang diterapkan di Sleman sangat relevan untuk diterapkan di daerah pedesaan dan kepulauan. Ia berkomitmen untuk membawa hasil pembelajaran ini ke dalam ruang diskusi kebijakan di DPRD agar pengelolaan air hujan dapat masuk ke dalam regulasi daerah yang mendukung keberlanjutan sumber daya air di wilayahnya.

Kegiatan sinau bareng ini diharapkan menjadi embrio terbentuknya jejaring komunitas pengelola air hujan di seluruh penjuru tanah air. SAH Banyu Bening Sleman terus berupaya memperluas dampak edukasi lingkungannya agar kearifan lokal dalam memanen air hujan menjadi gerakan nasional demi mewujudkan keadilan akses air bagi seluruh rakyat Indonesia. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




PMA Transport Jadi Pilar Strategis Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Sleman Barat

Sleman — Keberadaan jasa pengumpul sampah mandiri memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas lingkungan dan keberlangsungan sistem pengelolaan sampah di tingkat daerah. Di wilayah Kapanewon Seyegan dan sekitarnya, PMA Transport telah mengukuhkan diri sebagai pilar penting yang melayani pengambilan sampah dari ribuan rumah tangga, toko, hingga instansi perkantoran. Eksistensi layanan ini menjadi mata rantai yang menghubungkan produsen sampah dengan sistem pembuangan akhir yang lebih teratur di wilayah Sleman Barat.

Hingga saat ini, PMA Transport melayani sekitar pelanggan yang tersebar di wilayah Kapanewon Mlati, Seyegan, hingga Depok. Usaha yang dirintis oleh Sutrisno sejak tahun 2005 ini terus berkembang di tengah tantangan menyempitnya lahan pembuangan dan meningkatnya volume residu. Sutrisno memandang bahwa bisnis pengelolaan sampah memiliki prospek jangka panjang karena ketergantungan masyarakat terhadap jasa kebersihan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan pemukiman.

“Sampah, terutama sampah rumah tangga, akan selalu ada dan jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi masalah serius bagi lingkungan. Di situlah jasa pengambilan sampah akan selalu dibutuhkan sebagai solusi bagi warga. Apalagi dengan keterbatasan umur teknis Tempat Pembuangan Akhir atau TPA, peran jasa pengelola seperti kami menjadi sangat penting dalam siklus pengelolaan sampah terpadu,” ujar Sutrisno saat ditemui di kediamannya pada Senin (19/1/2026).

Dalam menjalankan operasionalnya, Sutrisno didukung oleh dua armada truk, satu kendaraan pick up, serta enam orang karyawan. Inovasi menjadi kunci bagi Sutrisno dalam menghadapi penutupan TPA Piyungan beberapa waktu lalu. Ia membangun tungku pembakaran khusus sejak Juni 2023 untuk menangani sampah kering yang tidak memiliki nilai jual. Teknologi ini dikembangkan secara mandiri dengan mengadopsi prinsip ramah lingkungan guna meminimalkan polusi udara di sekitar lokasi pengolahan.

“Tungku pembakaran yang kami bangun menggunakan sistem kondensasi sehingga asap yang dihasilkan sangat minim dan tidak mengganggu lingkungan. Inovasi ini sangat membantu operasional kami dalam menangani residu sampah yang sudah tidak bisa didaur ulang. Kami ingin membuktikan bahwa penyedia jasa mandiri pun bisa menerapkan teknologi yang bertanggung jawab terhadap alam,” jelas Sutrisno menambahkan.

Selain mengelola usahanya, Sutrisno saat ini dipercaya menjabat sebagai Ketua Paguyuban Sleman Manunggal Roso, sebuah wadah bagi sekitar 25 penyedia jasa layanan pengelola sampah di Kabupaten Sleman. Namun, ia menyayangkan hingga kini belum ada pelibatan secara resmi oleh pemerintah daerah terhadap paguyuban tersebut. Menurutnya, kelompok jasa pengumpul sampah mandiri memiliki basis data yang akurat mengenai volume sampah harian yang dapat digunakan pemerintah dalam menyusun kebijakan strategis.

“Kami ini bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu yang bersentuhan langsung dengan warga setiap hari. Kami bisa menjadi sumber data penting terkait jumlah sampah yang terkelola dalam satuan waktu. Kami berharap ke depan terjalin kemitraan dengan pemerintah, terutama dalam hal dukungan dan fasilitasi alat pengolah sampah yang sering menjadi kendala utama kami di lapangan,” tegas Sutrisno.

Di sisi lain, ia juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya. Meskipun slogan pemilahan sering didengar, implementasinya di tingkat rumah tangga masih bersifat sementara dan belum menjadi budaya. Sutrisno berharap wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) pada tahun 2028 dapat terealisasi sebagai solusi permanen, sembari mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle demi menekan volume residu yang dibuang ke TPA. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




DLHK DIY Tinjau Penanaman Bibit Proklim Menuju Kategori Lestari di Padukuhan Santren

Sleman — Padukuhan Santren, Kalurahan Caturtunggal, terus berbenah dalam upaya pelestarian lingkungan melalui Program Kampung Iklim (ProKlim). Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Daerah Istimewa Yogyakarta melaksanakan monitoring dan evaluasi penanaman bibit sebagai langkah strategis untuk mendorong wilayah ini naik kelas menuju kategori Lestari pada Rabu (14/1/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Rumah Dukuh Santren tersebut kemudian dilanjutkan dengan peninjauan lapangan guna melihat kondisi pertumbuhan bibit di area pemukiman warga.

Perwakilan DLHK DIY dalam sambutannya menekankan bahwa pemantauan ini sangat penting untuk memastikan setiap bibit yang telah diberikan mampu tumbuh optimal dan memberikan manfaat nyata. Pihak dinas menyatakan bahwa keberhasilan ProKlim sangat bergantung pada keterlibatan aktif warga dalam merawat tanaman agar fungsi penghijauan dan ketahanan iklim dapat tercapai secara maksimal. Tujuan utama dari evaluasi ini adalah memastikan pelaksanaan di lapangan selaras dengan visi besar perlindungan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

“Kegiatan ini kami maksudkan untuk memberikan dukungan penuh kepada padukuhan dengan mendorong partisipasi aktif masyarakat. Kami ingin warga tidak hanya menanam, tetapi juga merawat sehingga mereka benar-benar siap dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan menjalankan program ini secara berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah dan warga menjadi kunci agar Padukuhan Santren segera meraih predikat kategori Lestari,” tegas perwakilan DLHK DIY di hadapan para tokoh masyarakat.

Apresiasi tinggi disampaikan oleh Dukuh Santren, Yanuar Eko Hartanto, atas bantuan dan pendampingan yang diberikan oleh DLHK DIY serta Yayasan Relung Indonesia. Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah mendistribusikan sebanyak 54 bibit tanaman secara merata ke seluruh wilayah RW di Padukuhan Santren. Bibit-bibit tersebut telah ditanam pada lokasi strategis, mulai dari pemanfaatan pekarangan rumah warga hingga area konservasi di sepanjang tepi Sungai Pelang.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan bibit ini. Seluruh bibit sudah kami sebar dan ditanam oleh warga di berbagai titik, termasuk di pekarangan rumah serta di tepi Sungai Pelang sebagai langkah nyata penghijauan. Kami berkomitmen untuk menjaga tanaman ini agar wilayah Santren menjadi lebih asri dan mampu menjaga kelestarian air serta lingkungan bagi generasi mendatang,” ujar Yanuar Eko Hartanto memberikan penjelasan.

Dalam sesi tanya jawab, warga juga proaktif menyampaikan aspirasi terkait kebutuhan peningkatan kapasitas. Perwakilan RW 01 Padukuhan Santren, Triman, mengusulkan agar DLHK DIY mengadakan bimbingan teknis atau sosialisasi khusus mengenai pengelolaan ProKlim yang lebih mendalam. Menanggapi usulan tersebut, pihak DLHK DIY menyambut positif dan berjanji akan mempertimbangkannya agar pemahaman masyarakat mengenai mitigasi perubahan iklim semakin kuat dan komprehensif.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan kunjungan langsung ke lokasi penanaman bibit di kawasan Sungai Pelang serta area pemukiman di RW 03 dan RW 04. Tim penilai melakukan pengamatan mendalam terhadap tingkat keberhasilan pertumbuhan bibit yang menjadi sampel representatif di lapangan. Melalui monitoring ini, diharapkan program lingkungan di Padukuhan Santren dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Yogyakarta dalam membangun kemandirian ekologi berbasis partisipasi masyarakat. (Oktaviana/KIM Caturtunggal)