SAH Banyu Bening Tingkatkan Kesadaran Ekologis Berkelanjutan Siswa SMAN 2 Sleman

Sleman — Edukasi lingkungan sejak dini menjadi kunci krusial dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Hal ini melatarbelakangi pelaksanaan kegiatan edukasi bertajuk Sekolah Air Hujan yang digelar di SMA Negeri 2 Sleman pada Senin (12/1/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mengubah paradigma pelajar mengenai pemanfaatan air hujan sebagai sumber daya yang bernilai tinggi dan berkelanjutan.

Program ini mendapatkan dukungan penuh dari Organization for Industrial, Spiritual and Cultural Advancement (OISCA), sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional yang konsisten mendorong pelestarian lingkungan. Perwakilan OISCA, Nur Partiningsih, memberikan bantuan nyata berupa pemasangan instalasi pemanen air hujan di lingkungan sekolah sebagai sarana praktik mandiri bagi para siswa. Menurutnya, sekolah harus menjadi pusat laboratorium alam yang mampu mengajarkan kemandirian sumber daya air kepada para siswanya.

“Air hujan memiliki potensi besar sebagai sumber air bersih yang melimpah jika dikelola dengan sistem yang tepat. Pelibatan generasi muda dalam isu lingkungan seperti ini merupakan investasi jangka panjang. Kami ingin sekolah menjadi ruang pembelajaran nilai-nilai keberlanjutan yang dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat nantinya,” ujar Nur Partiningsih di sela-sela pemasangan instalasi.

Pendiri Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, hadir sebagai narasumber utama yang mengupas tuntas konsep pemanenan air hujan. Dengan bahasa yang mudah dipahami, ia menguraikan proses mulai dari penampungan, penyaringan bertahap, hingga teknik pemurnian agar air hujan layak dikonsumsi bahkan digunakan sebagai air terapi. Para siswa diajak memahami siklus hidrologi dan tantangan krisis air bersih dunia melalui pendekatan yang interaktif.

Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga dilengkapi dengan simulasi pengujian kualitas air secara langsung. Siswa melakukan pengujian kadar partikel atau zat terlarut pada berbagai sampel, mulai dari air tanah sumur, air mineral kemasan, hingga air hujan. Hasilnya menunjukkan bahwa air hujan yang ditampung dan difilter dengan benar memiliki kadar partikel yang rendah dan berada dalam batas sangat aman untuk dikonsumsi. Momen ini dimanfaatkan beberapa siswa untuk langsung mencoba meminum air hujan hasil olahan tersebut.

“Forum ini adalah momentum penting dalam mengubah pandangan siswa terhadap air hujan yang selama ini sering dianggap tidak layak konsumsi atau bahkan dianggap penyebab penyakit. Kita harus menunjukkan dengan data dan praktik bahwa air hujan adalah anugerah yang bisa menjadi solusi krisis air jika kita tahu cara mengolahnya secara bijak,” tegas Sri Wahyuningsih.

Edukasi ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran ekologis yang mendalam dan membentuk perilaku bertanggung jawab terhadap alam di lingkungan sekolah maupun rumah tangga. Pemahaman mengenai potensi air hujan sebagai sumber air alternatif diharapkan menjadi bagian dari komitmen kolektif pelajar dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup demi mendukung pembangunan berkelanjutan di masa depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Sutarto Agus Raharjo dan Ikhtiar Panjang Membenahi Hulu Persampahan di Sleman

Sleman — Persoalan sampah di Kabupaten Sleman telah lama melampaui batas isu teknis dan menjelma menjadi tantangan sosial serta kultural yang menuntut perubahan cara pandang masyarakat. Di tengah kompleksitas tersebut, seorang bernama Sutarto Agus Raharjo memilih mengambil peran yang jarang dilirik orang, yakni bekerja di tingkat paling dasar untuk membenahi perilaku rumah tangga sebagai hulu utama persoalan sampah.

Pria berusia 60 tahun ini memandang sampah bukan sekadar sisa konsumsi, melainkan cermin relasi manusia dengan lingkungannya. Berbekal latar belakang pendidikan dari UPN Veteran Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada, Sutarto membawa teori akademik langsung ke ruang sosial. Ia menyadari bahwa sistem angkut-buang konvensional tidak lagi relevan dan sampah rumah tangga tidak bisa terus-menerus diserahkan sepenuhnya kepada tempat pembuangan akhir.

“Masalah sampah adalah masalah perubahan perilaku. Tidak cukup diselesaikan hanya dengan sosialisasi atau penyediaan sarana prasarana. Yang paling krusial adalah pendampingan masyarakat secara konsisten untuk mengubah kebiasaan lama menjadi budaya baru,” ujar Sutarto di Perumahan Puri Margomulyo Asri, Jamblangan, Margomulyo, Seyegan, pada Minggu (11/1/2026).

Langkah awal Sutarto dimulai sebagai relawan penyuluh di tingkat RT, RW, hingga padukuhan di lingkungan terdekatnya. Ia tidak membangun forum baru, melainkan memanfaatkan ruang-ruang yang sudah dipercaya warga seperti pertemuan dasa wisma, kelompok tani, dan forum warga lainnya. Pendekatan ini membuat edukasi pengelolaan sampah tidak terasa seperti instruksi pemerintah, melainkan diskusi warga yang membumi.

Dalam praktiknya, Sutarto mengakui bahwa mengajak warga memilah sampah organik, anorganik, dan residu adalah proses rekayasa sosial yang menantang. Setiap wilayah memiliki karakter sosial dan tingkat pendidikan yang berbeda, sehingga metode pendampingan harus disesuaikan. Ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah di sumbernya membutuhkan kesabaran luar biasa karena tidak bisa terjadi secara instan.

“Ini bukan pekerjaan instan yang hasilnya bisa dilihat dalam satu malam. Perubahan perilaku tidak bisa bim salabim, butuh waktu panjang dan konsistensi. Saya memulai dari lingkungan terkecil agar pesan ini bisa benar-benar meresap ke dalam aktivitas harian warga,” tuturnya.

Kiprah Sutarto kian meluas dengan keterlibatannya sebagai fasilitator program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang diinisiasi puskesmas. Selain itu, ia tercatat sebagai pengurus Jejaring Pengelolaan Sampah Mandiri (JPSM) Kabupaten Sleman selama tiga periode. Sejak 2014, ia juga memimpin gerakan Sedekah Sampah Margo Lestari di Margomulyo, sebuah inisiatif yang memadukan pengelolaan lingkungan dengan nilai-nilai sosial.

“Melalui sedekah sampah, warga tidak hanya belajar memilah dan mengelola, tetapi juga merasakan manfaat ekonomi dan sosial secara langsung. Perubahan perilaku tersebut akhirnya memberikan dampak positif bagi kas warga yang bisa digunakan untuk kepentingan sosial bersama,” tegas Sutarto.

Sutarto mendorong adanya regulasi pemerintah yang tegas terkait pemilahan sampah di sumber, termasuk memastikan bahwa sampah yang masuk ke tempat pengolahan akhir hanya berupa residu. Menurutnya, kolaborasi antara kelembagaan masyarakat yang kuat, pemimpin yang berkomitmen, serta dukungan kebijakan pemerintah adalah kunci utama penyelesaian masalah sampah.

Ia meyakini bahwa sampah akan selalu menjadi bagian dari peradaban manusia, sehingga membangun tanggung jawab kolektif adalah hal yang mutlak. Ia menitipkan pesan kepada generasi muda agar melihat pengelolaan sampah sebagai ruang inovasi dan kreativitas demi masa depan bumi yang lebih baik.

“Kita semua adalah produsen sampah setiap harinya. Maka dari itu, secara moral kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita hasilkan sendiri. Merawat lingkungan adalah tanggung jawab etis manusia demi keberlanjutan masa depan bersama,” pungkasnya (Athiful/KIM Depok).




Penguatan Literasi Lingkungan Dorong Budaya Kelola Sampah Anak Usia Dini di Sleman

Sleman — Penguatan literasi lingkungan pada anak usia dini kini menjadi langkah strategis dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan sejak dari hulu. Nur Cholimah, seorang akademisi dari Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Yogyakarta, menjelaskan bahwa pengenalan pengelolaan sampah di level prasekolah merupakan bagian integral dari pendidikan karakter serta pembiasaan perilaku bertanggung jawab terhadap alam. Menurutnya, persoalan sampah tidak boleh hanya dipahami sebagai isu teknis semata, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari anak di rumah, sekolah, dan masyarakat.

Nur Cholimah menegaskan bahwa literasi lingkungan pada jenjang ini diarahkan untuk membentuk kemampuan anak dalam memahami, menafsirkan, dan bertindak secara sederhana namun bermakna terhadap lingkungan sekitarnya. Upaya ini merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang lebih peduli pada kebersihan lingkungan di masa depan. Pendidikan lingkungan tersebut tidak dirancang untuk menambah beban hafalan siswa, melainkan untuk menumbuhkan rasa peduli melalui pengalaman yang menggembirakan.

“Pada tahap usia prasekolah, proses pembelajaran dinilai paling efektif apabila dilakukan melalui pengalaman konkret, aktivitas bermain, dan interaksi sosial yang mengaitkan hubungan sebab-akibat secara langsung. Anak-anak perlu melihat langsung apa yang terjadi jika sampah dibuang sembarangan dan bagaimana manfaatnya jika dikelola dengan benar. Kami ingin nilai-nilai ini tertanam secara berkelanjutan dalam memori mereka melalui cara-cara yang menyenangkan,” ujar Nur Cholimah saat memberikan paparan di Gedung Sasana Anglocita Tama, Sabtu (10/1/2026).

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa penguatan literasi pengelolaan sampah dapat dikembangkan melalui tahapan memahami bahasa lingkungan, diskusi kelompok, hingga bermain peran. Pendekatan tersebut dinilai sangat selaras dengan cara anak belajar dan berkembang, baik dari aspek kognitif maupun sosial-emosional. Dengan mengenalkan simbol-simbol lingkungan sejak dini, anak akan memiliki kepekaan yang lebih tajam terhadap kondisi kebersihan di sekitarnya.

Dalam proses ini, guru memiliki peran strategis sebagai arsitek pembelajaran lingkungan. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga wajib menjadi teladan, fasilitator, dan motivator dalam membangun pembiasaan perilaku positif. Lingkungan belajar yang kaya akan literasi visual dan aktivitas kontekstual menjadi faktor penentu keberhasilan internalisasi nilai-nilai peduli lingkungan pada diri anak didik.

“Guru adalah role model utama bagi anak-anak di sekolah. Jika guru menunjukkan kebiasaan memilah sampah secara konsisten, anak akan mengikuti tanpa merasa terbebani. Lingkungan sekolah yang bersih dan tertata secara visual akan mendukung anak untuk terus mempraktikkan hal yang sama di rumah mereka masing-masing. Inilah yang kita sebut sebagai membangun ekosistem literasi lingkungan yang hidup,” tambah Nur Cholimah.

Langkah penguatan literasi lingkungan sejak usia dini ini juga dinilai sangat relevan dengan arah kebijakan pendidikan nasional dalam membangun karakter perilaku berkelanjutan. Melalui penguatan pada satuan PAUD, diharapkan fondasi budaya pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya dapat segera terbangun. Hal ini sekaligus mendukung upaya pembangunan berkelanjutan berbasis pendidikan karakter yang kokoh sejak masa emas pertumbuhan anak. (Athiful/KIM Depok)




Akademisi UNY Dorong Penguatan Karakter Peduli Lingkungan Lewat Media Edukasi Ramah Anak

Sleman — Dosen Departemen Pendidikan Nonformal (PNF) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Fitriana Tjiptasari, memberikan pembekalan strategis bagi guru dan tenaga kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kapanewon Depok, Sleman, pada Sabtu (10/1/2026). Dalam forum tersebut, ia menekankan bahwa ketersediaan media pembelajaran yang tepat merupakan kunci utama dalam menanamkan nilai kepedulian lingkungan, khususnya terkait pengelolaan sampah sejak usia emas.

Fitriana menyampaikan bahwa pendekatan edukatif pada anak usia dini harus dirancang secara sederhana, kontekstual, dan menyenangkan. Hal ini bertujuan agar nilai-nilai pelestarian alam tidak hanya menjadi teori di sekolah, tetapi tertanam secara berkelanjutan dalam perilaku sehari-hari. Menurutnya, persoalan sampah adalah bagian dari realitas hidup anak, baik di lingkungan rumah maupun sekolah, sehingga edukasinya harus menyentuh sisi pengalaman nyata mereka.

“Persoalan sampah tidak dapat dipandang semata sebagai isu teknis lingkungan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari anak yang tumbuh di lingkungan penghasil sampah. Pembelajaran pada anak usia dini tidak diarahkan agar anak menghafal istilah-istilah sulit, melainkan untuk menumbuhkan sikap dan perilaku positif melalui pengalaman belajar yang menggembirakan. Kami ingin anak-anak merasa bahwa menjaga kebersihan adalah bagian dari cara mereka bermain dan berinteraksi,” ungkap Fitriana Tjiptasari di hadapan para pendidik.

Ia menambahkan bahwa pendidik perlu menghadirkan aktivitas belajar yang kreatif dengan mengintegrasikan unsur bercerita, bernyanyi, bergerak, dan berkarya. Media pembelajaran seperti buku saku harus disusun menggunakan bahasa yang ramah anak, struktur materi yang jelas, serta didukung ilustrasi visual yang menarik. Penggunaan bahan-bahan sehari-hari yang ada di sekitar anak juga sangat dianjurkan agar materi yang disampaikan terasa nyata dan mudah diaplikasikan secara mandiri.

“Aktivitas pembelajaran yang efektif justru yang memanfaatkan benda-benda di dekat kehidupan anak. Hal ini membuat mereka sadar bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan adalah tugas sederhana yang bisa mereka lakukan kapan saja. Dengan ilustrasi yang edukatif, anak akan lebih cepat mengenali jenis sampah dan merasa bangga saat berhasil membuang atau memilahnya dengan benar,” tambah Fitriana.

Strategi edukasi lingkungan ini dinilai memiliki signifikansi yang kuat dalam pembentukan karakter dasar manusia. Pembiasaan mengenali jenis sampah dan menjaga kebersihan secara tidak langsung berkontribusi pada penguatan karakter disiplin serta kepedulian sosial anak. Fitriana menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting dalam menyiapkan generasi masa depan yang berwawasan lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

Melalui pendampingan ini, UNY menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan karakter di tingkat daerah. Upaya kolaboratif antara akademisi dan pendidik di lapangan diharapkan mampu melahirkan generasi baru yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral yang tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan hidup di Kabupaten Sleman. (Athiful/KIM Depok)




Papah Sani, Strategi Kapanewon Depok Sleman Edukasi Pilah Sampah Sejak Dini

Sleman — Pemerintah Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, terus memperkuat tata kelola sampah dari hulu melalui inovasi bertajuk Papah Sani atau Pilah Sampah Sejak Dini. Program ini menempatkan anak usia dini sebagai sasaran strategis dalam pembentukan budaya peduli lingkungan di wilayah perkotaan. Inovasi Papah Sani dirancang sebagai penguatan sekaligus kelanjutan dari Gede Lampah atau Gerakan Depok Memilah Sampah yang telah dilaksanakan sebelumnya di Kapanewon Depok.

Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Depok, Isti Fajaroh, menjelaskan bahwa Papah Sani memperluas intervensi kebijakan dengan menyasar jalur pendidikan formal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Strategi ini merupakan bagian dari visi jangka panjang pengelolaan sampah berkelanjutan di Sleman. Menurutnya, fase anak usia dini adalah periode fundamental bagi pembentukan karakter dan nilai dasar kehidupan seseorang.

“Apabila program Gede Lampah sebelumnya berfokus pada perubahan perilaku masyarakat usia produktif hingga lanjut usia, kini Papah Sani hadir menyasar anak usia dini. Pada usia ini, anak-anak sangat mudah menerima pembiasaan baru. Edukasi pilah sampah sejak dini merupakan investasi sosial jangka panjang untuk membangun perilaku masyarakat yang bertanggung jawab terhadap lingkungan di masa depan,” ujar Isti Fajaroh di Gedung Sasana Anglocita Tama, Sabtu (10/1/2026).

Isti menegaskan bahwa Papah Sani merupakan inovasi pengelolaan sampah yang unik dan belum diterapkan di wilayah lain di Kabupaten Sleman. Melalui pendekatan edukatif yang sederhana dan aplikatif, anak-anak PAUD mulai dikenalkan pada jenis-jenis sampah serta dibiasakan untuk menyelesaikan masalah sampah langsung dari sumbernya, baik di sekolah, rumah, maupun di tempat bermain. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun sikap disiplin dan tanggung jawab.

“Melalui inovasi ini, Kapanewon Depok menegaskan arah kebijakan pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada penanganan teknis saja, tetapi juga pada perubahan perilaku fundamental. Kami mengemas edukasi ini ke dalam aktivitas bermain dan belajar agar selaras dengan tahapan perkembangan motorik serta kognitif anak-anak,” tambahnya.

Implementasi Papah Sani mencerminkan komitmen sistematis Kapanewon Depok dalam menyelesaikan persoalan sampah dari hulu. Pemerintah setempat juga mendorong penguatan regulasi yang mendukung integrasi edukasi lingkungan ke dalam satuan pendidikan, termasuk pengembangan kurikulum berbasis lingkungan. Sinergi terus dibangun dengan berbagai pemangku kepentingan guna memastikan keberlanjutan program demi terciptanya lingkungan yang bersih dan nyaman.

Isti Fajaroh berharap pendekatan ini menjadi fondasi kuat dalam menyiapkan generasi masa depan yang memiliki kesadaran lingkungan tinggi. Dengan membekali karakter peduli lingkungan sejak usia emas, diharapkan masyarakat Sleman di masa depan akan lebih aktif berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. (Athiful/KIM Depok)