Filosofi Lumbung Mataraman: Petani Tempel Sleman Sukses Terapkan Kemandirian Pangan dan Ekonomi

Sleman — Konsep Lumbung Mataraman sebagai wujud kearifan lokal Yogyakarta dalam menjaga ketahanan pangan kini kembali dihidupkan secara nyata oleh masyarakat. Konsep ini merupakan sistem pertanian terpadu yang menyatukan sektor tanaman pangan, peternakan, perikanan, hingga pengembangan UMKM berbasis rumah tangga. Mengusung filosofi utama “nandur sing dipangan, mangan sing ditandur” atau menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam, program ini terbukti ampuh memperkuat kedaulatan pangan tingkat desa.
Selain berfungsi sebagai lumbung hidup keluarga, penerapan Lumbung Mataraman di lapangan juga bertransformasi menjadi sarana edukasi, agrowisata, serta motor penggerak ekonomi lokal. Salah satu sosok yang konsisten menerapkan pola ini adalah Tri Supatno, seorang petani kreatif asal Dusun Domban, Mororejo, Tempel, Sleman. Di lahan miliknya, ia mengelola pembibitan padi, budidaya edamame, peternakan entok, hingga kolam lele secara terintegrasi.
Penerapan sistem ini membuat siklus panen di lahan Tri Supatno terjaga secara berkelanjutan. Ia mengungkapkan bahwa diversifikasi komoditas merupakan kunci agar pendapatan petani tidak hanya bergantung pada satu musim atau satu jenis tanaman saja. Dengan pengelolaan yang tepat, lahan yang terbatas sekalipun bisa memberikan hasil yang maksimal untuk mencukupi kebutuhan harian maupun pasar.
“Saya bisa memanen sayuran setiap hari, pepaya California setiap minggu, serta padi dan lele setiap dua sampai tiga bulan sekali. Untuk tanaman keras seperti mangga dan manggis, hasilnya bisa dinikmati setiap tahun. Dengan pola ini, ketersediaan pangan di rumah selalu aman dan sisanya menjadi nilai tambah ekonomi yang sangat berarti,” ujar Tri Supatno saat ditemui di kediamannya, Kamis (8/1/2026).
Tri Supatno juga dikenal sebagai petani yang cerdas dalam strategi pemasaran. Setiap pukul pagi, ia membawa hasil buminya ke kios kecil di Pasar Jalan Kaliurang. Untuk meningkatkan daya saing, ia mengemas produknya dalam ukuran kecil siap jual sehingga pembeli tidak perlu lagi menimbang atau menawar harga. Inovasi ini membuat dagangannya kerap ludes terjual bahkan sebelum pukul pagi.
Kreativitasnya tidak berhenti di komoditas sayur dan buah. Saat masa panen lele tiba, Tri Supatno melakukan proses nilai tambah dengan membersihkan dan mengemas ikan-ikan tersebut secara rapi. Hal ini memberikan kemudahan bagi pembeli, terutama ibu rumah tangga, karena ikan yang dibeli bisa langsung diolah tanpa repot. Strategi ini terbukti efektif meningkatkan efisiensi usaha dan kepuasan pelanggan.
“Kalau ada barang yang tersisa sedikit, saya biasanya tinggal saja di pasar. Tetangga sesama pedagang dengan sukarela membantu menjaga dan menjualkannya. Prinsip gotong royong ini membuat usaha jadi lebih ringan. Bagi saya, kenyamanan pembeli adalah nomor satu, itulah mengapa lele pun saya bersihkan dulu agar mereka praktis saat memasak di rumah,” tambahnya.
Pola kerja yang ditunjukkan oleh Tri Supatno membuktikan bahwa Lumbung Mataraman bukan sekadar wacana atau konsep teoretis. Praktik nyata di Dusun Domban ini menunjukkan bahwa kemandirian pangan, efisiensi usaha, dan kesejahteraan keluarga petani dapat tercapai melalui kerja keras yang dipadukan dengan manajemen yang cerdas dan kearifan lokal. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)

