Ubah Limbah Jadi Rupiah, Plandi’s Craft Creative Sukses Olah Sabut Kelapa dari Hulu ke Hilir

Sleman — Kesadaran akan potensi ekonomi dari limbah lingkungan terus tumbuh di wilayah Kabupaten Sleman. Plandi’s Craft Creative, sebuah unit usaha kerajinan berbasis di Sonoharjo, Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan, telah membuktikan bahwa sabut kelapa yang sering dianggap sampah dapat diolah menjadi produk bernilai jual tinggi. Melalui tangan kreatif Supriyono, limbah kelapa kini bertransformasi menjadi aneka produk ramah lingkungan yang diminati pasar nasional.
Rumah produksi ini dikenal dengan spesialisasi pengolahan sabut kelapa dari hulu hingga hilir. Produk unggulan yang paling banyak dicari konsumen adalah mainan kucing serta pot bunga artistik yang dikenal dengan sebutan cocodama. Berbeda dengan pot biasa, cocodama buatan Supriyono bersifat multifungsi, mulai dari elemen dekorasi ruangan, wadah alat tulis, hingga media tanam tanaman hias dalam berbagai ukuran.
Keberhasilan Plandi’s Craft Creative dalam menjaga eksistensinya tidak terlepas dari konsistensi inovasi dan kemitraan yang kuat. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Supriyono mengandalkan pasokan dari lingkungan sekitar, sementara untuk tempurung kelapa ia mendatangkannya langsung dari sentra minyak kelapa di Kulon Progo. Dalam proses produksinya, ia juga bersinergi dengan Omah Sabut Kelapa (Oesaka) guna menjamin ketersediaan tali sabut dan serat kelapa berkualitas.
Perjalanan usaha ini dilewati Supriyono dengan penuh tantangan. Saat mulai merintis pada tahun-tahun awal, ia sempat dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitarnya karena memilih fokus pada pengolahan limbah yang dianggap tidak memiliki prospek cerah. Namun, ketekunan pria yang dibantu tiga karyawan ini akhirnya membuahkan hasil manis dengan pesanan yang terus mengalir dari berbagai daerah.
“Dulu banyak yang meremehkan usaha sabut kelapa ini, dianggap tidak menjanjikan dan hanya bermain dengan sampah. Tapi saya yakin sejak awal bahwa jika limbah itu dikelola dengan kreativitas dan teknik yang benar, pasti punya nilai ekonomi yang tinggi. Sekarang, kerajinan ini justru menjadi sumber penghidupan kami,” ujar Supriyono saat ditemui di kediamannya pada Jumat (23/1/2026).
Sisi unik dari Plandi’s Craft Creative adalah kolaborasinya yang sangat terbuka dengan dunia akademisi. Supriyono rutin menerima mahasiswa KKN dari berbagai kampus besar seperti UGM, UII, UJB, dan UMY. Baginya, kehadiran mahasiswa bukan sekadar formalitas, melainkan membawa pembaruan dalam sistem manajemen usaha, mulai dari digitalisasi pemasaran, pembukuan keuangan, hingga pengembangan aplikasi Belanja Desa.
“Kehadiran mahasiswa KKN sangat membantu saya dalam banyak hal. Saya tidak menutup diri dari ilmu baru yang mereka bawa. Berkat kolaborasi itu, kami sekarang tidak hanya membuat kerajinan, tapi juga belajar memproduksi Virgin Coconut Oil (VCO) dan mengolah air kelapa menjadi Pupuk Organik Cair menggunakan fermentasi molase. Dulu limbah daging kelapa hanya jadi kopra, sekarang manfaatnya jauh lebih beragam,” kata Supriyono menambahkan.
Keahlian Supriyono kini telah diakui secara luas, menjadikannya satu-satunya pengrajin sabut kelapa di wilayah Sonoharjo yang sering diundang menjadi instruktur pelatihan di berbagai daerah seperti Kalimantan Timur, Bantul, hingga Purworejo. Meski telah sukses secara mandiri, ia menaruh harapan besar agar pemerintah daerah dapat memberikan dukungan berupa pengadaan mesin pencacah sabut kelapa. Fasilitas tersebut sangat dibutuhkan agar ia mampu memproduksi coco fiber dan cocopeat secara mandiri guna menekan biaya produksi dan meningkatkan skala usaha di masa depan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



