Gladi Lapang Penanggulangan Bencana Tanah Longsor di Prambanan

Menolong Korban BencanaSleman – Tujuh orang mengalami luka berat, tiga orang patah tangan dan empat orang mengalami luka berat patah kaki dan dua orang mengalami luka ringan saat terjadi bencana alam tanah longsor di padukuhan Cepet Bokoharjo Prambanan Sleman, Jumat (15/4).

Sedangkan tiga rumah mengalami rusak berat, empat rumah mengalami rusak sedang dan lima rumah mengalami rusak ringan. Bencana tanah longsor tersebut akibat hujan yang terus menerus yang mengguyur wilayah Prambanan.

Saat terjadi  hujan tersebut  sebetulnya masyarakat padukuhan Cepet yang terdiri 180 KK dengan 682 jiwa tersebut sudah bersiap siap dengan segala kemungkinan.

Tetapi bencana datang tiba-tiba yang membuat gundukan dan tebing yang ada di padukuhan mengalami keretakan dan akhirnya longsor menimpa beberapa rumah dan warga yang posisi rumahnya ada di bawah. Demikian antara lain yang tergambar dalam gladi lapang penanggulangan bencana tanah longsor di Cepet Bokoharjo Prambanan.

Dalam gladi lapang tersebut ikut hadir Bupati sleman Drs H Sri Purnomo MSI,  Kepala Bidang pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD DIY  Ir Hari Siswanto, Kepala BPBD Kabupaten Sleman Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM, Camat Prambanan Abu Bakar. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pengukuhan Forum pengurangan resiko bencana Desa Bokoharjo Prambanan oleh Bupati Sleman.

Sri Purnomo menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman merupakan daerah yang diberi anugerah Tuhan dengan berbagai potensi yang dimiliki. Namun, di balik itu, dari komposisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis, Kabupaten Sleman menyimpan potensi bencana baik akibat faktor alam maupun non alam.

Untuk itu, formulasi yang tepat dalam menghadapi kondisi wilayah tersebut adalah dengan memastikan bahwa masyarakat yang merupakan subyek, obyek, sekaligus sumber pokok dalam usaha pengurangan resiko bencana memiliki kesiapsiagaan.

Disampaikan pula bahwa dalam setiap mitigasi bencana, Pemerintah tidak dapat sukses mewujudkan upaya tersebut jika tidak didukung oleh masyarakat dan tim relawan. Untuk itu Sri Purnomo  menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Sleman dan seluruh pihak yang telah turut serta berkontribusi dalam upaya mitigasi bencana yang selama ini digalakkan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Dikatakan Sri Purnomo  bahwa pelaksanaan gladi lapang tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan kesiapsiagaan dan keterampilan warga masyarakat dalam menghadapi bencana longsor, khususnya di Desa Bokoharjo Prambanan.

Diharapkan dengan adanya gladi lapang ini, jatuhnya korban jiwa akibat longsor dapat diantisipasi, karena masyarakat telah mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan pada saat kondisi darurat.

Gladi lapang tersebut menjadi sarana yang efektif untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mensikapi kondisi darurat. Dengan bekal tersebut, diharapkan seluruh warga masyarakat menjadi paham langkah.

Sementara  Hari Siswanto mewakili Kepala BPBD DIY menyampaikan bahwa masyarakat adalah penerima dampak langsung dari bencana dan sekaligus pelaku langsung yang akan merespon bencana disekitarnya.

Sedang berdasarkan pemetaan yang telah dilaksanakan pada tahun  2012 DIY terdapat 12 potensi ancaman bencana, dari 438 desa yang ada di DIY 301 desa merupakan desa raawan bencana, diantaranya terdapat di Kabupaten Sleman.




Warga Nawung Ikuti Gladi Lapang Tanah Longsor

DSC_1905BernasSleman – Sekitar 250 warga Nawung dan Lemah Bang Desa Gayamharjo Prambanan terpaksa diungsikan ke tempat aman yakni lapangan Desa Gayamharjo akibat kejadian tanah longsor karena hujan lebat yang terjadi selama 3 jam. Daerah perbukitan terjal di wilayah Prambanan dengan kuntur batuan sedimen berlapis pasir tanah, batu apung, batu lempeng berselang seling dengan ketebalan bervariasi di musin penghujan rawan longsor.

Berkat kecepatan dan tanggapnya aparat mulai dari Camat, Kades, SAR, Tim Medis Puskesmas, BPBD dan didukung Sukarelawan Bandung Bondowoso berhasil mengevakuasi warga yang terkena tanah longsor. Pengungsi rentan meliputi lansia, ibu hamil dan balita mendapat prioritas untuk penanganannya, dilanjutnya warga yang lain secara keseluruhan.

Tim SAR dan relawan Bandung Bondowos berupaya membuka jalan yang terkena tanah longsor dan pepohonan yang tumbang menghalangi jalan sehingga memperlancar proses evakuasi warga. Hal itu merupakan proses gladi lapang penanggulangan tanah longsor yang dilakukan BPBD Sleman kerjasama dengan Pemerintah Desa Gayamharjo di lapangan Desa Gamyamharjo, Kamis (26/2).

Pelaksanaan Gladi dipimpin oleh Kepala Desa Gayamharjo Sugiyanto SE, Selaku Ketua Unit Pelaksana Penanggulangan Bencana Desa Gayamharjo., diikuti oleh perwakilan 7 dusun yang ada di Gayamharjo meliputi Nawung, Lemah Bang, Jontro, Jali Gayam, Kalinongko lor dan kidul. Wakil Bupati Sleman DR Yuni Satia Rahayu SS ., Kepala BPDB Sleman Yuli etiono, Camat Prambanan serta jajaran Musipka ikut menyaksikan gladi ini.

Usai Gladi dilanjutkan dengan pengukuhan Pengurus Unit Pelaksana Penanggulangan Bencana Desa Gayamharjo oleh Wakil Bupati Sleman. Dalam kesempatan ini Wakil Bupati Yuni berpesan kepada warga apabila nanti benar-benar ada kejadian bencana supaya berhati-hati bila menumpang mobil bak terbuka untuk mengangkut pengungsi.

Hal ini disampaikan karena bila menumpang mobil bak terbuka dipinggir bak akan sangat berbahaya, jangan sampai mau mengungsi ketempat yang aman malah terjadi kecelakaan. Hal ini juga mengingat bila kejadian benar semua akan panik dan mungkin terburu-buru termasuk sopir kendaraan. Dengan adanya gladi lapang ini harapannya masyarakat tidak perlu panik dalam menghadapi musibah.

Yuni juga mengungkapkan bahwa dalam setiap penanggulangan bencana, dukungan dari masyarakat mutlak diperlukan. Masyarakat juga dituntut harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam meng­ha­dapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan upaya yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

Hal ini dikarenakan Kabupaten Sleman merupakan daerah yang diberi anugerah  berbagai potensi yang dimiliki termasuk potensi bencana yang diakibatkan faktor alam maupun non alam.