Upacara Adat Umbul Kamulyan Tempatkan Sleman Sebagai Penampil Terbaik Ke – III

IMG_8208Sleman – Seiring dengan perkembangan global, kebudayaan daerah makin tergerus oleh kebudayaan asing. Untuk itu kebudayaan lokal yang mempunyai nilai – nilai luhur sejak nenek moyang perlu dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan. Hal tersebut diharapkan mampu menggugah generasi muda untuk selalu memiliki rasa bangga kepada kebudayaan dan kearifan lokal.

“Pelestarian kebudayaan sebagai penghargaan kepada kelompok pemerhati kebudayaan adat yang masih mempertahankan nilai luhur untuk masyarakat. Dan, diharapkan mampu memberikan manfaat yang optimal bagi partisipasi masyarakat dalam memajukan kebudayaan yang ada di DIY”, kata Kadin Kebudayaan DIY, Drs. Umar Priyono dalam sambutannya saat Festival Upacara Adat se-DIY di Parkir Utara Lapangan Denggung Kabupaten Sleman, Minggu (24/7).

Festival Upacara Adat se-DIY terlaksana berkat kerjasama antara Dinas Kebudayaan DIY dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman. Festival dilaksanakan dengan cara pawai dan display dari Lapangan Denggung melewati jalan KRT Pringgodiningrat sampai parkiran utara Lapangan Dengggung.

Festival tersebut diikuti oleh 5 kabupaten dan kota se-DIY, yaitu Kabupaten Sleman dengan upacara adat Umbul Kamulyan, Nyadran oleh Kabupaten Gunungkidul, Tinalah oleh Kabupaten Kulon Progo, Pancuran oleh Kabupaten Bantul dan Merti Kali Code oleh Kota Yogyakarta.

Dalam Festival Upacara Adat se-DIY tersebut, perwakilan kontingen Kabupaten Sleman dari Purwomartani, Kalasan, Sleman menampilkan upacara adat umbul kamulyan yang menceritakan tentang mata air yang berada di Desa Purwomartani. Mata air tersebut berada di suatu tempat di desa yang menyebabkan tidak bisa ditemukan mata air ditempat lain.

Oleh karena itu, pada suatu saat mata air tersebut ditutup dengan menggunakan sebuah bom. Sehingga sejak saat itu warga Desa Purwomartani dapat membuat mata air baru atau lebih dikenal dengan sumur. Cerita tersebut ditampilkan dengan tarian kolosal saat Festival Upacara Ada Se-Kabupaten Sleman. Dan, Kontingen Kabupaten Sleman berhak atas penampilan terbaik ke III.

Sedangkan untuk penampilan terbaik ke – I diraih oleh Kabupaten Kulon Progo, Bantul (II), Sleman (III), dan harapan ke I Gunungkidul, serta harapan ke II Kota Yogyakarta.




2 Warga Korban Erupsi Merapi Lulus Terbaik SUPM Negeri Tegal

Sleman– Sekolah Umum Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Tegal, belum lama ini, mengadakan audiensi dengan Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, yang dalam kesempatan tersebut didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman Ir Widi Sutikno MSi.

Adapun maksud dan tujuan dilaksanakannya audiensi tersebut karena SUPMN Tegal yang pada tahun ajaran 2011/2012 menerima siswa-siswi yang berjumlah 25 orang, yang merupakan korban erupsi Merapi tahun 2010, bantuan pendidikan tersebut diberikan kepada korban bencana alam.

Bantuan pendidikan tersebut juga diberikan kepada anak-anak korban bencana lainnya seperti korban bencana tsunami Mentawai dan juga korban bencana banjir bandang Wasior.

Rombongan SUPMN Tegal tersebut dipimpin oleh Kepala SUPM Tegal Anasri.  Ia melaporkan bahwa siswa-siswi korban erupsi Merapi 2010 yang menempuh pendidikan di SUPM Tegal tahun ajaran 2011/2012  dari 25 orang siswa-siswi yang dibina di SUPMN Tegal, 14 orang berhasil lulus dan akan diwisuda, sementara 11 orang mengundurkan diri selama proses belajar mengajar berlangsung.

Dari 11 orang yang mengundurkan diri tersebut karena masih mengalami trauma terhadap kejadian erupsi Merapi tahun 2010, sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri sehingga dapat bersama keluarga mereka masing-masing.

Dari 14 orang yang meneruskan pendidikan hingga lulus, 2 peserta didik yang berasal dari korban erupsi Merapi tersebut menjadi lulusan terbaik, Lulusan terbaik pertama adalah Uswatun Khasanah dan lulusan terbaik kedua adalah Winarni.

Pihak SUPMN Tegal kemudian menyalurkan lulusan terbaik I-III untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, Uswatun Khasanah melanjutkan ke Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, sedangkan Winarni memilih tidak meneruskan studi karena sudah diterima bekerja pada Perusahaan bergerak pada industri hasil pengolahan perikanan yang ada di Jakarta.

Selain itu siswa-siswi yang lulus juga disalurkan ke perusahaan-perusahaan yang telah menjadi mitra pihak SUPMN Tegal, bahkan ada 2 orang siswa korban erupsi Merapi  yang langsung diterima oleh perusahaan pengolahan ikan yang ada di Jepang.

Kepala SUPMN Tegal, Anasri mengundang Bupati Sleman Sri Purnomo agar dapat menghadiri wisuda 14 siswa-siswi tersebut sekaligus menerima penyerahan siswa-siswi korban erupsi Merapi tersebut oleh Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sleman Sri Purnomo menyatakan sangat berterima kasih kepada pihak SUPMN Tegal yang telah membimbing siswa-siswi korban erupsi merapi hingga dapat menyelesaikan studi.

Bahkan ada salah satu siswa menjadi lulusan SUPMN Tegal, tentunya hal tersebut sangat membanggakan. Walaupun demikian, Sri Purnomo tetap menyayangkan adanya 11 siswa yang mengundurkan diri, tetapi hal tersebut memang bisa dimaklumi karena memang kondisi mental anak-anak tersebut masih sangat trauma akibat erupsi Merapi 2010.

Sri Purnomo berharap agar kerjasama SUPM Tegal dapat terus terjalin dan dapat ditingkatkan pada masa mendatang.