Dinamika Masyarakat Sleman Sangat Tinggi

DSC_0791Sleman – Kondisi masyarakat Kabupaten Sleman yang sangat heterogen, di satu sisi menjadi kekayaan sumber daya manusia, di sisi lain memiliki konsekuensi di bidang ketentraman dan ketertiban umum, dimana dinamikanya sangat tinggi dan mengandung potensi konflik.

“Di bidang pemerintahan umum saat ini juga masih terdapat konflik sosial dan konflik SARA di masyarakat,” kata Dra Hj Sri Muslimatun MKes, Wakil Bupati Sleman disela-sela acara pengajian pembinaan rohani bagi PNS Pemkab Sleman dan kalangan TNI/Polri di Masjid Agung Soedirohusoedo Sleman, Selasa (11/10). Dikatakan Sri Muslimatun, sebagai anggota masyarakat, pegawai Pemkab Sleman berasal dari masyarakat dan hidup di tengah-tengah masyarakat.

Sesuai pedoman etika bermasyarakat maka pegawai Pemkab Sleman sudah selayaknya siap mewujudkan pola hidup sederhana, tanggap keadaan lingkungan masyarakat, berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat, memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama, dan menumbuh kembangkan keharmonisan saling pengertian.

Dalam hal ini, pegawai dalam kehidupannya di tengah masyarakat selayaknya menjadi figur yang dapat diteladani dan dapat membimbing, sehingga apa yang diperbuat akan dipercaya dan dicontoh oleh masyarakat.

“Selain itu mereka sangat berperan dalam membina umat beragama dengan pengetahuan dan wawasannya sehingga mampu menularkan sikap saling menghormati, dan saling percaya di antara umat beragama,” kata Sri Muslimatun.

Disampaikan pula bahwa pengertian hijrah ada dua, yaitu hijrah fisik dan hijrah maknawiyah.

Hijrah fisik adalah hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah, hijrah maknawiyah adalah berpindah dari kegelapan menuju terang benderang, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebodohan menuju kepandaian, dari kemalasan menuju kerajinan, dari kekafiran menuju keimanan, dari kemusyrikan menuju ketauhidan, dari kekufuran menuju kesyukuran, dari kehinaan menuju kehormatan.

Sri Muslimatun  mengajak Peringatan Tahun Baru Hijriyah kali ini bisa dijadikan tonggak awal revolusi mental pegawai Pemerintah Kabupaten Sleman untuk membangun sumberdaya manusia yang berkualitas.

Dengan semangat Tahun Baru Hijriyah pegawai diajak untuk berhijrah atau berpindah dari sifat/tempat yang buruk ke sifat/tempat yang lebih baik sehingga dapat menjadi pegawai-pegawai yang ber-ahklak mulia, suri tauladan yang baik dan menjadi penerang baik dalam memberikan pelayanan publik di lingkungan pekerjaan maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Sedangkan  Ustad KH Muhammad Syaebani MA dalam tausiahnya  menyapaikan bahwa penyakit yang paling sulit dan bahkan belum ada obatnya adalah penyakit mata , yaitu mata duitan. Untuk itu diharapkan masyarakat lebih banyak dzikir dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan pada Tuhan Yang Maha Esa, agar terhindar dari penyakit mata tersebut.

Lebih Lnjut disampaikan bahwa disamping penyakit mata masih ada lagi penyakit  yaaitu penyakit kurang bersyukur, karena kebanyakan orang masih meraasa kurang dengan apa yang didapat.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan Baznas kabupaten Sleman  uang sejumlah Rp 5 juta kepada 8 kelompok, antara lain PAUD, Masjid, Mushala, Kelompok kerja penyuluh agama.




ABJ Ngaglik Sudah Tinggi

Sleman – Angka Bebas Jentik(ABJ) di wilayah Kecamatan Ngaglik sudah cukup tingggi dan ini  terjadi di Padukuhan Pedak Sinduharjo Ngagik yaitu 90,l %.

“Hal tersebut sesuai hasil monitoring yang dilakukan di Jumat (6/3) dari 80 KK ,terdapat 8  rumah masih dijumpai adanya jentik baik yang ada di bak mandi, tempat penampungan air, bekas kaleng maupun ban bekas,” kata Hindarti Wilujeng BSc dari Dinkes Sleman terkait pelaksanaan monitoring jentik di Ngaglik dan Depok, Minggu (8/3).

Sedangkan monitoring di  wilayah Depok dikatakan Hindari dari 107 KK ada 23 yang positif ada jentiknya hingga ABJ nya 78,5 %.

“Monitoring  melibatkan berbagai instansi tersebut antara lain Dari Dinkes Sleman sebagai leading Sektor, Polres Sleman, Kodim Sleman, Polsek , Koramil, dan Jumantik masing -masing Kecamatan, Desa dan dusun,” kata Hindari.

Menurut Hindari, dengan rendahnya ABJ tersebut menunjukkan bahwa ancaman DB masih cukup tinggi, untuk itulah peran serta semia pihak  sangaat diperlukan agar target ABJ 95 % bisa tercapai.

Dan rendahnya ABJ tersebut dimungkinkan belum rutinnya masyarakat  menguras tempat  air/bak mandi yang dua kali seminggu, untuk itu masyarakat diharapkan secara rutin menguraas tempat air tersebut. Disamping itu juga banyaknya sampah bisa berupa kaleng bekas, ban bekas maupun pot bunga yang tergenang air, dan itu perlu diwaspadai.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah bekas potongan bambu yang digenangi air,” tambahnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk mengurangi kasus DB perlu digerakkannya jumantik baik yang ada di Kecamatan, Desa maupun dusun . Dan yang perlu diketahui oleh masyarakat bahwa untuk mencapai target AJB tidak harus dengan fogging, karena disamping fogging biayanya cukup tinggi juga kurang efektif, karena yang mati hanya nyamuknya sementara jentiknya tidak. Termasuk justru binatang yang lain bisa mati seperti cicak, padahal cicak adalah predator nyamuk.

Sedangkan Camat Ngaglik Anggoro Aji Sunaryono SH yang memimpin langsung gerakan jumantik tersebut menyampaikan bahwa gerakan Jumantik harus terus ditingkatkan mengingat bahaya yang ditimbulkan bila sesorang terkena DB bisa menimbulkan kematian.

Terkait dengan hal tersebut Anggoro berharap agar masyarakat selalu peduli dengan kebersihan lingkungan. Termasuk adanya barang bekas yang berpotensi untuk genangan air, seperti pot bunga yang ada airnya, ban bekas dan lainnya. Lebih lanjut disampaikan bahwa pada bulan Februari lalu ABJ di padukuhan Pedak masih 60 % tetapi saat ini sudah naik menjadi 90,1 % dan itu perlu dipertahankan bahkan harus ditingkatkan agar target ABJ 95 % bisa tercapai.

“Yang jelas agar kasus serupa pada bulan Februari lalu di pedukuhan Pedak tidak terjadi lagi kasus kematian anak,” kata Anggoro.