Tetap Jaga Budaya dan Tradisi Kenduri Supaya Lestari

Turi – Rabu (24/1), masyarakat Dusun Wonosari Bangunkerto Turi mengadakan tradisi kenduri dalam rangka hajatan salah satu warga. Acara kenduri ini selalu dilakukan dan diikuti oleh semua warga setiap ada hajatan seperti pernikahan, sunatan, merti dusun, dan peringatan hari besar agama Islam.

Adapun keunikan dari tradisi kenduri di Dusun Wonosari yang masih dilakukan seperti sejak zaman dahulu ini yaitu semua warga yang hadir harus membawa wadah atau tempat sendiri dari rumah.

Sebelum warga datang pihak yang punya hajat sudah mempersiapkan berbagai macam perlengkapan yang diperlukan untuk kenduri seperti jenang merah dan putih, nasi tumpeng, nasi ambeng, nasi gurih, iwak/ayam ingkung.

Sedangkan sayur, gudangan, tempe, telur, krupuk, peyek kacang, peyek keper, kolak apem, dan jajanan pasar sudah siap terbungkus rapi.

Setelah semuanya hadir baru tuan rumah menyerahkan kepada tokoh agama sekaligus mengutarakan maksud dan tujuannya.

Setelah itu, baru didoakan oleh tokoh agama dan diamini oleh semua yang hadir. Selesai didoakan baru tumpeng dipotong dan dibagi rata ke semua yang hadir.

Acara ini biasa dilaksanakan pada pukul WIB. Adapun tujuan kenduri adalah suatu bentuk berbagi rezeki atau sedekah yang diberikan ke tetangga dan wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberi rezeki, kesehatan, kelancaran, dan keselamatan dalam pelaksanaan hajatan tersebut. (Harman)




Merti Dusun Gadung Upaya Lestarikan Adat

Turi – Dalam rangka melestarikan adat dan tradisi yang adiluhung, masyarakat Dusun Gadung Bangunkerto Turi mengadakan acara merti dusun, Minggu (5/11).

Acara dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Gadung bekerja sama dengan pemerintah dan pengurus Desa Budaya Bangunkerto. Hadir dalam acara tersebut, Kepala Desa Bangunkerto. Camat Turi, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, dan pendamping Desa Budaya Bangunkerto.

Dusun Gadung memiliki banyak peninggalan situs sejarah yang melegenda dan memiliki nilai sejarah tinggi, di antaranya Situs Watu Gedhe dan Situs Tuk Umbul.

Acara yang berlangsung dari pukul WIB ini, diawali dengan kirab tumpeng keliling dusun dengan dikawal oleh Bregada Magul Wulung Dusun Gadung, Kobro Siswo, Jatilan Sekar Gadung dan karawitan dari ibu-ibu Dusun Gadung.

Setelah sampai di Tuk Umbul, tumpeng yang berisi berbagai hasil bumi dan jajanan pasar diperebutkan oleh warga dan acara diakhiri dengan pentas Jatilan Sekar Gadung. (Harman)




Seni Tradisi, Aspek Penting Gali Potensi

Gamping – GKR Hemas didampingi GKR Mangkubumi melakukan sosialisasi lembaga DPD RI dan penyerapan aspirasi masyarakat, Sabtu (4/11) pukul WIB di Dusun Salakan, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Sleman.

Para undangan yang hadir, antara lain Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Eko Suryo Maharsono, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Aris Riyanta, Camat Gamping, Abu Bakar, Kapolsek Gamping, Kompol Herwinedi, Wadanramil 17/Gamping Kapten Chb. Suwardi, Kepala Desa Trihanggo, Herman Budi Pramono, Dukuh Salakan, Suyana, beserta tokoh masyarakat Padukuhan Salakan.

Masyarakat sangat antusias menyambut kehadiran anggota DPD RI perwakilan DIY ini. Terbukti dengan adanya Bregada Kyai Surengpati dan pemasangan spanduk selamat datang beserta umbul-umbul di sepanjang jalan masuk padukuhan.

Dari gapura utama Salakan GKR Hemas menaiki kereta kuda menuju Masjid Al Mukharom. Dilanjutkan penyerapan aspirasi atau sambung aspirasi oleh GKR Hemas didampingi para kepala dinas terkait.

Menurut GKR Hemas, sektor pertanian perlu digarap secara maksimal dan budaya adiluhung melalui seni tradisi menjadi aspek penting untuk menggali potensi di Dusun Salakan sehingga tercipta masyarakat yang mandiri dan berbudaya.

Pada kesempatan ini juga, Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, meresmikan talud Sungai Bedog di Keditan Rt 01 Rw 26 Trihanggo.

Di akhir perbincangan GKR Hemas menyampaikan bahwa diperlukan sinergi antara masyarakat dengan pemerintah DIY dan Kabupaten Sleman agar masyarakat yang sejahtera, mandiri, dan berbudaya benar-benar dapat terwujud. (Adnan Nurtjahjo)




Disbudpar Apresiasi Masyarakat Yang Pertahankan Tradisi

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman memberikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat Sleman yang masih mempertahankan tradisi dan adat istiadat masyarakat setempat.

“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat yang masih mempertahankan tradisi dan adat istiadat masyarakat setempat. Hal ini tentunya menggambarkan kontribusi positif dan partisipasi aktif masyarakat dalam upaya melestarikan seni budaya lokal serta turut memperkuat jati diri masyarakat dalam konteks keistimewaan DIY,” kata Sekretaris Disbudpar Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA dikantornya, Jumat (2/9).

Menurut Endah, masyarakat di Sleman banyak memiliki tradisi yang sangat menarik untuk terus dilestarikan. Beberapa tradisi itu antara lain selain pentas seni juga ada tradisi Merti Dusun atau Merti Desa. Beberapa Dusun di Sleman sudah memiliki agenda Merti Dusun sehingga agenda tersebut bisa menarik wisatawan.

Seperti yang sedang berlangsung sekarang ini di Dusun  Tlacap – Grojogan Pandowoharjo Sleman yaitu  Merti Dusun selama sepekan lebih mulai 1 – 10 September 2016 di dusun setempat.

Dalam acara merti dusun ini segenap potensi yang ada ditampilkan, mulai dari kesenian rakyat, kesenian tradisional, aneka lomba, karawitan, pentas dolanan anak, upacara adat “Tedun”, upacara adat “Wiwit”, bahkan ada juga pemilihan Dimas Diajeng Desa Pandowoharjo serta pagelaran wayang kulit oleh dalang Bayu Sugati.

Demikian seperti diungkapkan oleh Ketua Panitia Merti Dusun Tlacap – Grojogan, Aditya Nur Salandri dikantor Disbudpar Sleman. Aditya menambahkan bahwa rangkaian kegiatan acara tersebut sudah dimulai sejak Kamis, 1 September 2016  berupa doa bersama dan tabur bunga sebagai kegiatan pembuka.

Sedangkan mulai Sabtu 3 September 2016 pukul WIB berupa Kirab Merti Dusun dan pembukaan acara serta pertunjukan kesenian rakyat Topeng Ireng Cahaya Rimba, Minggu 4 September 2016 pukul WIB Lomba Mewarnai Tingkat Anak di SDN Tlacap.

Kemudian pukul  WIB di Persawahan Timur Dusun berupa Upacara Adat “Tedun” dilanjutkan pada pukul WIB dengan pertunjukan jathilan Sureng Logo Toino.

Hari Selasa 6 September 2016 pukul WIB pertunjukan jathilan – reog Turonggo Seto Manding, Rabu 7 September 2016 pukul WIB penanaman pohon penghijauan, Kamis 8 September 2016 pukul WIB penyuluhan pertanian, Jumat 9 September 2016 pukul WIB di panggung utama berupa Konser Karawitan Sanggar Sasi Kirana dan Pemilihan Dimas Diajeng Desa Pandowoharjo

Sedangkan Sabtu 10 September 2016 pukul WIB merupakan malam puncak kesenian dengan berbagai atraksi yaitu pentas dolanan anak, pertunjukan tari Sanggar Putri Budaya Asri, pertunjukan kesenian Bregada Mego Ngampak, pementasan Ogoh-ogoh Sureng Logo, pentas kolaborasi antara wayang kulit, tarian api, kethoprak, bregada, ogoh-ogoh, dolanan anak yang dikemas oleh Dalang Ki Bayu Sugati dengan tajuk “Tlacap Sumunar”.