Masyarakat Wonosari Belajar Membuat Keset dari Biji Salak

Turi – Senin (12/3), Warga Dusun Wonosari belajar membuat keset yang berbahan dasar biji salak. Kegiatan ini diadakan oleh Warga Wonosari bekerja sama dengan mahasiswa UPN Yogyakarta yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dusun Wonosari, Bangunkerto, Turi. Selama satu bulan dimulai dari tanggal 15 Februari sampai tanggal 15 Maret 2018, sebanyak sembilan mahasiswa UPN Yogyakarta menginap di rumah warga.

Selama berada di Dusun Wonosari banyak program dan kegiatan yang dilaksanakan, salah satunya adalah memberikan pelatihan cara membuat keset dari biji salak. Pelatihan diselenggarakan di rumah Suharman, warga Dusun Wonosari.  Pelatihan diikuti dengan antusias oleh ibu-ibu di Dusun Wonosari yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT).

Biji salak dipilih sebagai bahan dasar karena melihat potensi biji salak sangat melimpah dan belum dimanfaatkan oleh masyarakat. Pelatihan ini merupakan kegiatan pelatihan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat, selain bahannya melimpah, cara pembuatannya pun sangat mudah.

Pelatihan ini nantinya diharapkan dapat menambah keterampilan bagi masyarakat di Dusun Wonosari khususnya. Sebab, hasil kerajinan keset ini selain digunakan sendiri juga bisa dipasarkan sehingga dapat menambah penghasilan masyarakat. (Harman)




Pelaku Usaha Perlu Ikuti Kemajuan Teknologi

Ngemplak – Dalam rangka pengenalan dan peningkatan kemampuan berbisnis dengan media internet di masyarakat Wedomartani, Ngempak, Sleman dan sekitarnya yang berbasis UMKM, Pemerintah Desa Wedomartani bekerjasama dengan Karang Taruna Parikesit Wedomartani mengadakan seminar yang bertajuk “Strategi Branding dengan Blogging untuk Bisnis UMKM”, Minggu (11/3) di Aula Kantor Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman.

Acara ini diampu oleh Andri Wisnu yang merupakan Pengajar dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta dan Jumadi Jonet Pemilik Jogja Dekor yang juga merupakan praktisi di bidang bisnis online.

Kepala Desa Wedomartani, Teguh Budianto dalam pembukaan seminar mengatakan bahwa, seiring dengan semakin majunya teknologi, kita sebagai pelaku usaha harus bisa mengikuti dan menyesuaikan. “Yang dulu masih berbasis offline atau konvensional sekarang sudah bergeser ke bisnis berbasis online atau internet maka kita perlu optimalkan fasilitas yang kita punyai semisal smartphone,” pesan Teguh.

Acara yang dimulai pukul WIB ini diikuti oleh 57 peserta. Pemerintah Desa Wedomartani melalui Kasi Pelayanan Desa Wedomartani, Mujiburahman mengharapkan acara-acara seperti ini dapat kembali diadakan mengingat besarnya manfaat untuk masyarakat. “Karena masyarakat Desa Wedomartani banyak pelaku UMKM, tidak menutup kemungkinan untuk membranding Desa Wedomartani sebagai desa budaya yang juga berbasis UMKM,” tutur Mujiburahman. (Bibit Babe Widayoko)




UKM Belajar Kembangkan Usaha Lewat Kelas Managemen Keuangan

Gamping – Kecerdasan finansial atau FinQ merupakan ukuran kemampuan seseorang dalam memahami pentingnya perencanaan dan tata kelola keuangan yang baik. Hal ini disampaikan oleh Direktur akses perbankan Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Restog Krisna Kusuma, SH, , Ak., dalam kegiatan bertajuk Kelas Manajemen Keuangan Usaha bagi UKM Kreatif di Yogyakarta.

Acara ini terselenggara atas kerjasama Bekraf Indonesia dengan DPR RI Komisi X di Hotel Grand Mercure Yogyakarta Selasa (17/10) pukul WIB. Peserta pelatihan ini sebanyak 120 orang pengusaha UKM kreatif yang telah terseleksi dari 600 orang pendaftar.

Sebagai narasumber Bekraf menghadirkan CEO Financial Wisdom, R. Adjie Wicaksana, Bank BRI, Sigit, dan Head of Community Manager Bukalapak Muhammad Fikri.

KIM Kecamatan Gamping mengikuti kegiatan ini dimaksudkan agar bisa mengembangkan usaha dengan menaikkan omset penjualan dan membuat laporan keuangan usaha sebagai persyaratan   pengajuan kapitalisasi.

Lebih lanjut Bekraf menghimbau kepada seluruh peserta untuk mendaftarkan usahanya di Bekraf Information System on Mobile Application (BISMA). Dengan bergabung di BISMA, pengusaha UKM kreatif akan mendapatkan bimbingan dari Bekraf baik berupa bimtek, workshop, pameran, maupun fasilitasi permodalan. (Adnan Nurtjahjo)




Olahan Wingko Kembangkan Potensi Lokal

Sleman –  Mengolah bahan dasar menjadi suatu produk olahan makanan lebih diminati oleh banyak UMKM dewasa ini. Hal ini karena produk olahan makanan memiliki daya jual yang lebih tinggi ketimbang bahan dasar itu sendiri.

Kelapa, siapa yang menyangka jika diolah dengan cara yang lebih kreatif dan dicampur dengan bahan-bahan tambahan unggulan bisa menghasilkan olahan wingko yang lezat? Dengan bantuan pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar yang diketuai oleh Siswanti memutuskan untuk memulai usaha wingko kelapa pada tahun 2014.

Bernama Wingko Ayu, KWT Mekar memulai usaha wingko dengan 8 anggota di dalamnya. Olahan wingko ini dipilih karena kelapa sendiri dinilai oleh para anggota sebagai bahan dasar yang familiar dan memiliki ketersediaan sangat tinggi.

“Karena di sini banyak kelapa dan untuk wingko di sini belum ada kalau ada kan juga jauh belinya,” ujar Siswanti.

Siswanti mengatakan bahwa wingko dari KWT Mekar punya kelebihan dibandingkan wingko-wingko yang ada di pasaran.

“Tanpa pengawet, manis dari gula asli, semuanya asli tanpa tambahan bahan lainnya,” bocor wanita 49 tahun ini.

Meski begitu, dituturkan Siswanti wingko KWT Mekar ini hanya tersedia dalam satu varian rasa, yakni original. Siswati mengakui bahwa anggotanya masih menilai bahwa penggunaan bahan tambahan lain seperti pewarna dan perasa justru dapat mengurangi cita rasa wingko itu sendiri.

“Selain itu kan, pewarna itu enggak bagus untuk kesehatan,” tambahnya.

Dengan bahan dasar 2 kg kelapa, tepung ketan, margarin, dan gula, setiap dua hari KWT Mekar bisa memproduksi 100 buah wingko. Siswati menuturkan bahwa dirinya dan para anggota memproduksi rutin wingko setiap hari hanya jika ada pesanan.

“Kalau ada pesanan itu tiap hari kalau enggak ada pesanan ya nanti setor saja ke warung,” ungkap Siswanti.

Pun, Siswanti berpikir wingko hanya layak konsumsi hingga tiga hari sehingga lebih baik diproduksi saat akan dijual saja.

“Kira-kira yang di warung menipis baru tambah produksi tanpa nyetok, ada pesanan langsung bikin saja jadi fresh,” tambahnya.

Selama tiga tahun memproduksi wingko, KWT Mekar memasarkan wingkonya sekadar melalui mulut ke mulut. Sebab, para anggota belum paham benar mengenai media sosial. Hal ini tentu berimbas pada jumlah penjualan yang jika dihitung per minggu hanya berkisar antara 600 hingga 700 buah wingko.

Dengan harga per buah wingko Rp ,00, per bulan untung bersih yang didapat KWT yang beralamatkan di Desa Balong Rt 09 Pakembinangun Sleman ini kurang lebih Rp 500 ribu.

Ke depannya, Siswanti dan para anggota berharap dapat memperluas pasarnya. Cara termudah yang disebut Siswanti adalah dengan mengikutsertakan ibu-ibu muda di daerahnya dalam kegiatan kelompoknya ini, utamanya dalam hal pemasaran.

“Ingin mengajak ibu-ibu muda untuk meneruskan dan membantu pemasaran lewat online kan mereka lebih mengerti,” kata Siswanti.




UMKM dan Pariwisata Miliki Eksistensi Penting Dalam Bidang Perekonomian

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes mengatakan pelaku usaha yang memiliki eksistensi penting dalam pembangunan perekonomian daerah di Kabupaten Sleman adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan sektor kepariwisataan. Selain itu juga sektor pendidikan dan Pertanian.

“Keberadaan sektor-sektor ini memiliki hubungan positip dalam program pengurangan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, dan memberikan sumbangan besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sleman,” kata Sri Muslimatun ketika menghadiri Deklarasi Alumni Stembayo (Sekolah Teknologi Menengah Pembangunan 4 tahun Yogyakarta) di Auditorium SMKN 2 Depok, Senin (29/2).

Menurut Sri Muslimatun, pada sektor pariwisata tercatat di tahun 2014 terdapat 99 obyek dan daya tarik wisata, yang terdiri dari wisata alam, wisata candi, wisata agro, wisata desa, wisata museum, wisata pendidikan, wisata monumen, dan wisata sejarah.

Sedangkan usaha sarana wisata di Kabupaten Sleman, terdiri dari hotel bintang dan hotel melati sebanyak 171 hotel, yang didukung oleh jasa kuliner sebanyak 65 restoran dan 236 rumah makan. Sedangkan pada sektor industri, jumlah usaha industri yang ada di Kabupaten Sleman pada tahun 2014 tercatat sebanyak. terdiri dari industri kecil dan Rumah Tangga dan 144 Industri Besar dan Menengah.

“Potensi yang cukup besar tersebut bila tidak didukung dengan kualitas pengelolaan manajemen yang meliputi SDM maupun produksi yang profesional, tentunya tidak akan memberikan dukungan signifikan terhadap kemajuan perekonomian daerah,” tutur Sri Muslimatun.

Deklarasi tersebut dilakukan oleh 6 alumni yaitu  Muh Wardiyanto, Putut Santoso  (Alumni tahun 1972), Wachyu Nugroho (Alumni tahun 1975), Bambang Dwi Rumboko (alumni tahun 1980), Mufid Nuryadi (alumni tahun 2012) dan  Sulistyani (alumni tahun 2001). Para deklarator tersebut bermacan profesi, ada yang menjadi PNS/Guru, juga pengusaha.***