Merti Desa Prosesi Membersihkan Diri Lahir dan Batin

Turi – Untuk menandai puncak acara Wonokerto Expo 2017, dilaksanakanlah Upacara Adat Merti Desa Wonokerto, Minggu (12/11). Acara ini dihadiri oleh jajaran Muspika Kecamatan Turi dan Camat Turi, Siti Anggraeni Susilaprapti.

Upacara Adat Merti Desa Wonokerto diawali dengan arak-arakan gunungan dari masing masing padukuhan di wilayah Wonokerto. Gunungan ini diarak mengelilingi Desa Wonokerto.

Para peserta arak-arakan memakai berbagai macam kostum, seperti kostum daerah dan kostum rakyat untuk memikat masyarakat umum. Hal ini menambah semarak dan menarik prosesi arak-arakan.

Arak-arakan dimulai dari Lapangan Puntuk melewati beberapa dusun di wilayah Desa Wonokerto dan berakhir di halaman Desa Wonokerto yang merupakan tempat prosesi upacara adat. Tumpeng dan gunungan yang diarak mengelilingi dusun di wilayah Desa Wonokerto diserahkan oleh perwakilan peserta arak-arakan kepada Kepala Desa Wonokerto.

Dalam sambutannya Kepala Desa Wonokerto, Tomon Haryowirosobo memaparkan bahwa dengan kegiatan merti desa dalam rangkaian acara Wonokerto Expo ini, seluruh masyarakat diharapkan bisa membersihkan diri secara lahir dan batin.

Wonokerto Expo 2017 yang mengambil tema “Semangat Bela Negara Meningkatkan Potensi Desa” ini diawali dari tanggal 4 hingga 12 November 2017, dengan menampilkan beberapa produk UMKM dan pentas kesenian. (Ari Herliyanto)




Rapat Koordinasi Prosesi Upacara Adat Bekakak Gamping

Gamping – Selasa, (31/10) berlangsung rapat koordinasi (rakor) pelaksanaan Upacara Adat Saparan Bekakak Gunung Gamping. Rakor yang bertempat di Balai Desa Ambarketawang ini dihadiri oleh seluruh panitia dan Muspika Gamping terdiri dari Camat Gamping Abu Bakar, Kapolsek Gamping, Kompil Herwinedi, Danramil 17/Gamping Mayor Inf, Sri Wiyanto.

Rapat yang dipimpin oleh Kepala Desa Ambarketawang Sumaryanto membahas tentang proses pelaksanaan upacara adat bekakak serta pengalihan lalu lintas.

Upacara adat saparan bekakak dimulai pada Kamis (2/11) pukul WIB dengan pembuatan bekakak, kenduri penyembelihan bekakak, dan pengambilan Tirto Dono Jati oleh Ki Lurah Magersari dari Umbul Tlogosari Gunung Gamping untuk pelengkap sesaji bekakak, yang selanjutnya akan dibawa dan disemayamkan di Kademangan (Balai Desa Ambarketawang-red).

Puncak acara upacara adat penyembelihan bekakak akan dilangsungkan pada Jumat, (3/11) pukul WIB. Acara dimulai dengan penyampaian laporan panitia pelaksana dilanjutkan sambutan Bupati Sleman, Sri Purnomo dan kirab budaya menuju lokasi penyembelihan bekakak di Gunung Gamping. (Adnan Nurtjahjo)




Turi Gelar Mubeng Dusun Saat Tahun Baru Hijriah

Turi –  Dalam rangka menyongsong Tahun Baru Hijriah, warga Kembangarum wetan kali mengadakan tirakatan dan mubeng (keliling-red) dusun yang dimulai dari pukul WIB, Kamis (21/9).

Malam tirakatan ini dihadiri Kepala Desa Donokerto, Kepala Dusun Turi 13, Babinkamtibmas Donokerto Aiptu Slamet, dan seluruh warga wetan kali. Jumlah yang datang ada 100 orang.

Usai tirakatan, acara dilanjutkan dengan tahlil kemudian upacara adat. Selesai upacara adat dilanjutkan dengan mubeng dusun, lalu kembali ke tempat semula dengan membagikan doorprize. Acara ditutup dengan doa.




Upacara Adat Umbul Kamulyan Tempatkan Sleman Sebagai Penampil Terbaik Ke – III

IMG_8208Sleman – Seiring dengan perkembangan global, kebudayaan daerah makin tergerus oleh kebudayaan asing. Untuk itu kebudayaan lokal yang mempunyai nilai – nilai luhur sejak nenek moyang perlu dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan. Hal tersebut diharapkan mampu menggugah generasi muda untuk selalu memiliki rasa bangga kepada kebudayaan dan kearifan lokal.

“Pelestarian kebudayaan sebagai penghargaan kepada kelompok pemerhati kebudayaan adat yang masih mempertahankan nilai luhur untuk masyarakat. Dan, diharapkan mampu memberikan manfaat yang optimal bagi partisipasi masyarakat dalam memajukan kebudayaan yang ada di DIY”, kata Kadin Kebudayaan DIY, Drs. Umar Priyono dalam sambutannya saat Festival Upacara Adat se-DIY di Parkir Utara Lapangan Denggung Kabupaten Sleman, Minggu (24/7).

Festival Upacara Adat se-DIY terlaksana berkat kerjasama antara Dinas Kebudayaan DIY dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman. Festival dilaksanakan dengan cara pawai dan display dari Lapangan Denggung melewati jalan KRT Pringgodiningrat sampai parkiran utara Lapangan Dengggung.

Festival tersebut diikuti oleh 5 kabupaten dan kota se-DIY, yaitu Kabupaten Sleman dengan upacara adat Umbul Kamulyan, Nyadran oleh Kabupaten Gunungkidul, Tinalah oleh Kabupaten Kulon Progo, Pancuran oleh Kabupaten Bantul dan Merti Kali Code oleh Kota Yogyakarta.

Dalam Festival Upacara Adat se-DIY tersebut, perwakilan kontingen Kabupaten Sleman dari Purwomartani, Kalasan, Sleman menampilkan upacara adat umbul kamulyan yang menceritakan tentang mata air yang berada di Desa Purwomartani. Mata air tersebut berada di suatu tempat di desa yang menyebabkan tidak bisa ditemukan mata air ditempat lain.

Oleh karena itu, pada suatu saat mata air tersebut ditutup dengan menggunakan sebuah bom. Sehingga sejak saat itu warga Desa Purwomartani dapat membuat mata air baru atau lebih dikenal dengan sumur. Cerita tersebut ditampilkan dengan tarian kolosal saat Festival Upacara Ada Se-Kabupaten Sleman. Dan, Kontingen Kabupaten Sleman berhak atas penampilan terbaik ke III.

Sedangkan untuk penampilan terbaik ke – I diraih oleh Kabupaten Kulon Progo, Bantul (II), Sleman (III), dan harapan ke I Gunungkidul, serta harapan ke II Kota Yogyakarta.




Upacara Adat Saparan Bekakak Ambarketawang

IMG-20151129-WA0003Sleman – Warga Desa Ambarketawang menggelar upacara dan kirab pusaka adat dalam Saparan Bekakak di Lapangan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Jumat (27/11). Bekakak tersebut merupakan sesaji berbentuk boneka sepasang pengantin yang terbuat dari tepung dan berisi gula merah.

Ketua Panitia Saparan Bekakak, Frans Haryono menyampaikan upacara dan kirab pusaka adat setiap bulan sapar hari jumat.  Sekarang ini Saparan Bekakak merupakan tradisi untuk menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara, tambahnya.

Pelaksanaan Upacara Saparan Bekakak terbagi menjadi beberapa tahap, seperti midodareni pengantin bekakak, kirab bekakak, penyembelihan bekakak, dan sugengan ageng. Midodareni pengantin bekakak merupakan prosesi pengambilan air suci Tirto Donojati dan kirab pengantin bekakak mengelilingi desa menuju ke Balai Desa Ambarketawang. Sesampainya di Balai Desa Ambarketawang warga menggelar tirakatan seperti halnya pesta pengantin. Pada malam tersebut tirakatan ditampilkan pentas wayang semalam suntuk.

Siang harinya setelah Shalat Jumat, warga menggelar kirab bekakak dari Balai Desa Ambarketawang menuju Gunung Gamping dan Gunung Kliling untuk prosesi penyembelihan pengantin bekakak. Kirab tidak hanya diikuti oleh warga Desa Ambarketawang saja, akan tetapi warga dari desa lain seperti bergada dari bantul juga turut meramaikan tradisi upacara saparan bekakak tersebut.

Dalam kirab Saparan Bekakak akan dijumpai sekelompok anak dan sepasang ogoh – ogoh berupa genderuwo dan banaspati dibelakang arak – arakan pengantin bekakak. Sekelompok anak menggambarkan anak genderuwo yang bersukaria dan bahagia karena mendapatkan korban berupa sepasang pengantin. Peran anak genderuwo merupakan tradisi turun temurun, jika orang tuanya dulu berperan sebagai anak genderuwo maka anaknya pun akan berperan menjadi anak genderuwo.