Bangun Ketahanan Pangan Sejak Anak Usia Dini

Sleman – Sanggar Anak Mandhira merupakan salah satu dari sekian lembaga swadaya masyarakat yang konsen dalam pendidikan lingkungan anak usia dini. Bekerjasama dengan SDN Kaliurang 1, program ini kami beri nama kelas konservasi. Kami mencoba untuk belajar bersama dengan media utama adalah alam lingkungan sekitar. Dengan mengambil lokasi outdoor, kami berharap proses pembelajaran ini tidak membosankan.

Dilaksanakan tiap hari sabtu minggu pertama dan minggu ketiga kelas konservasi hadir untuk membawa isu lingkungan ke dunia anak didik secara lebih apik. Sabtu, 3 Maret 2018 materi adalah Ketahanan pangan edisi Makanan pokok pengganti nasi. Mengenalkan berbagai makanan pokok pengganti nasi untuk usia dini sangatlah perlu, demi terjaganya ketahanan pangan untuk masyarakat lereng merapi pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Masyarakat akan cenderung tidak mudah terpengaruh dengan berbagai perubahan harga kebutuhan bahan pokok.

Selain mengenalkan tatacara budidaya pohon ketela, kami juga mengenalkan berbagai makanan olahan dari ketela, seperti getuk, cenil, growol, dan sebagainya.

Kami berharap besar jikalau anak didik tumbuh kembang menjadi dewasa dan menjadi para pengambil kebijakan, mereka tidak begitu mudahnya untuk menentukan kebijakan tentang pangan, dengan keberagaman makanan pokok selain nasi tentunya isu ketahanan pangan dapat terwujud.

Sebagai bagian dari masyarakat lereng merapi, isu ketahanan pangan sangatlah perlu diterapkan di segala umur. Di saat masyarakat kembali dari pengungsian karena erupsi merapi, mereka tidak perlu panik manakala tidak ada bantuan makanan dari luar, dengan berbekal sumber makanan penganti nasi, mereka dapat mandiri. (Anggara Daniawan, Tenaga Pengajar Kelas Konservasi Sanggar Anak Mandhira Kaliurang)

 

 




Gelar Kreativitas Anak Usia Dini

DSC_0584nil (1)Sleman – Gelar kreativitas anak usia dini yang berlangsung di Gedung Serbaguna, Kamis (4/6)  sangat meriah, karena diikuti ribuan anak usia dini yang ada di Kabupaten Sleman. Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI yang ditandai dengan pengguntingan buntal dan memainkan alat musik angklung. Ikut mendampingi Bupati Sleman pada kesempatan tersebut antara lain Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sleman, Arif Haryono SH, Ketua TP PKK Kabupaten Sleman Hj Kustini Sri Purnomo.

Dalam kesempatan ini diadakan kegiatan mewarnai, melukis pada gerabah, pentas seni anak-anak PAUD, Kelompok Bermain dan anak-anak TK se Kabupaten Sleman sekitar 1000 anak. Pada kesempatan ini juga dilakukan penyerahan hadiah dan piagam penghargaan berbagai lomba lembaga PAUD Inovatif dan lomba pamong PAUD berprestasi tahun 2015, yaitu kategori kelompok bermain juara I Kelompok bermain Vanda Pertarini dari Kalasan, juara II kelompok bermain Mentari dari Berbah , juara III kelompok bermain Putra Sembada I Sleman. Kategori Lembaga taman Pengasuhan Anak juara I TPA Al Hikmah Godean, juara II TPA Teratai Berbah, juara III TPA Jogja Kids Park Depok. Kategori Lembaga Satuan PAUD Sejenis (SPS) juara I SPS Tunas Bangsa Ngemplak, juara II SPS Sekar Arum Godean , juara III SPS Asparagus 2 Depok.

Kategori Pamong PAUD Berprestasi tahun 2015 juara I Lim Shoimah SPd I (KB Aisyiah Ulul Azmi Pakem) , juara II Esthik Komariyah (KB Melati Mlati), juara III Hema Dwi Indrianingsih, SH (KB Aisyiah Taman Fitria Minggir), juara harapan I Tri Rahayuningsih, S,Pd (KB Aisyiah Nurul Ilmi Cangkringan) juara harapan II Sri Wahyuningsih (TPA Anak Mulia Dua Ngemplak).

Sementara itu Sri Purnomo menyampaikan bahwa gelar kreatifitas anak usia dini ini adalah momen yang strategis untuk meningkatkan rasa percaya diri anak-anak dalam menunjukkan kreativitasnya. Upaya ini diharapkan mampu mempersiapkan generasi yang berkualitas dengan pendidikan yang tepat pula bagi anak-anak. Pada pendataan tahun 2014, Kabupaten Sleman telah memiliki 545 TK/RA dengan jumlah siswa , dan pengajar. Sedangkan  untuk lembaga PAUD terdapat 82 lembaga sejenis dengan jumlah peserta didik anak.

Jumlah Kelompok Bermain meningkat dari tahun 2013 sebesar 224 lembaga dengan jumlah peserta didik sebesar anak naik menjadi 231 lembaga pada tahun 2014 dengan jumlah peserta didik sebesar anak. Lebih lanjut disampaikan bahwa kreativitas anak usia dini adalah kreativitas alamiah yang dibawa dari sejak lahir dan merupakan kemampuan untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang asli, tidak biasa, dan sangat fleksibel dalam merespon dan mengembangkan pemikiran dan aktivitas.

“Kreativitas alami seorang anak usia dini terlihat dari rasa ingin tahunya yang besar. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada orang tuanya terhadap sesuatu yang dilihatnya,” kata Sri Purnomo.

Oleh karena itu kreativitas perlu dikembangkan sejak dini karena kreativitas mempengaruhi dan meningkatkan kecerdasan seseorang. Kreativitas merupakan salah satu aspek penting. Seorang anak lahir membawa potensi kreatif. Dengan potensi kreatif yang dimilikinya, anak akan senantiasa membutuhkan aktivitas yang sarat dengan ide – ide kreatif. Secara alami rasa ingin tahu telah dikaruniai oleh sang pencipta.

Maka secara alami pula anak memiliki kemampuan untuk mempelajari sesuatu dengan caranya senantiasa tumbuh dan berkembang. Mereka menampilkan ciri-ciri fisik dan psikologis yang berbeda untuk tiap tahap perkembangannya. Masa anak-anak merupakan masa puncak kreativitasnya, dan kreativitas mereka perlu terus dijaga dan dikembangkan dengan menciptakan lingkungan yang menghargai kreativitas itu sendiri. Mengingat sedemikian kreativitas usia dini maka kita, para orangtua serta para pendidik anak usia dini dituntut untuk memahami bahwa tiap anak memiliki pribadi berbeda, dan tiap anak adalah unik.

Tujuan gelar kreativitas anak usia dini itu sendiri bertujuan menumbuhkembangkan daya kreasi dan inovasi anak dalam kegiatan edukatif, mensinergikan unsur pendidikan anak usia dini, yaitu guru/pendidik, anak usia dini, pemerintah dan masyarakat untuk berupaya memberikan kontribusi yang terbaik demi masa depan anak, serta mempererat jalinan kerjasama antara pemerintah, praktisi, dan masyarakat terhadap kegiataan pendidikan anak usia dini.